TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 147


__ADS_3

...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


"Apa! Kau gila! Berhutang sebanyak itu hanya untuk berjudi, lalu pulang ke rumah minta surat saham untuk kau gadaikan di kasino itu. Kau benar-benar tidak waras Heru!" teriak Deval mengengam erat tangan Heru untuk melepaskan dari bajunya.


"Aku tidak peduli! Cepat berikan surat itu!" teriaknya lagi.


"Tidak akan!" teriak Deval.


Buk!


Sebuah tinju yang melayang di wajah Deval membuat luka di bibirnya.


Mendengar keributan itu, Grameisya pun keluar, ia pikir di luar hanya bercakap-cakap saja, ia juga sedang mengerjakan pembuatan toko untuk Mia dan Gladis.


"Eh, Papa," ucap Grameisya mendekati Deval.


"Cepat berikan!" teriak Heru.


"Tidak akan! Pergi kau dari rumah ini!" balas Deval.


"Kurang ajar! Kau ingin cari mati rupanya! Aku akan membunuhmu!" teriak Heru yang bersiap melayangkan tinjunya ke arah Deval.


Grameisya menghalanginya dan menangkap tangan Heru.


"Kau jangan ikut campur, oh kau juga ingin mati bersama dia? Akan ku kabulkan permintaan mu!" ucap Heru menarik tangannya.


"Kaulah yang ingin mati," jawab Grameisya menarik tangan Heru yang tadi sempat ia tarik, tapi penggangan Grameisya sangat kuat.


Grameisya pun memegang dengan kuat, membalikan kebelakang lalu mematahkannya.


"Tangan ini yang memukul Papaku kan?"


Krak!


"Aaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaa!" teriak Heru sakit yang teramat sakit.


Grameisya melepaskannya lalu membantingnya ke lantai.


Brak!

__ADS_1


Heru tak sanggup lagi untuk bangun, ia menahan sakit dan tak lama kemudian ia pun pingsan.


"Cepat bawa ke rumah sakit," ucap Deval.


Pak Ahmad mengangkat tubuh Heru lalu memasukan dia ke dalam mobil dan langsung membawanya ke rumah sakit.


Deval melihat ke arah Grameisya lalu memeluknya.


"Ah, kamu emang penyelamat Papa, Papa jadi malu," ucap Deval tersenyum.


"Kenapa?" tanya Grameisya melihat Deval.


"Haishhhh, seharusnya Papa yang melindungi mu, tapi malah kamu yang lindungi Papa," ucap Deval.


"Tidak apa-apa Pa," jawab Grameisya tersenyum.


"Ya udah, Papa mau ke rumah sakit dulu ya," ucap Deval.


Grameisya diam saja. Deval pun bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Grameisya hanya bisa menarik nafas, memang Deval tidak menyalahkan dirinya. Tapi Mak bagaimana pun Heru tetaplah saudaranya, siapa suruh Papanya punya rasa iba.


Grameisya kembali masuk ke dalam kamarnya. Para pelayan membereskan kertas-kertas yang berserakan iri dan merapikannya kembali.


☘️☘️☘️☘️☘️


Melisa melihatnya dengan menekuk alisnya.


"Apa kau iri? Lalu kenapa kau saja yang tidak tinggal di tubuh ini?" tanya Melisa.


"Tidak, jika aku pun tinggal di tubuh itu, belum tentu aku bisa mendapatkan Tuan Alneozro. Kau mendapatkan cintanya karena keberuntungan dan sifatmu yang luar biasa itu. Dan juga ... jika aku tinggal di tubuh itu belum tentu juga aku bisa menjaga Papa. Kau sangat beruntung Melisa. Teruslah tetap seperti ini dan jadilah kuat."


☘️☘️☘️☘️☘️


Grameisya terbangun. Ia melihat cahaya yang sudah memancar di balik jendela.


Ia mengusap wajahnya. "Ah mimpi dia lagi," ucap Grameisya.


"Sepertinya dia juga menyukai Alneozro, hanya saja dia merelakannya untukku," gumam Grameisya.


"Ah sudahlah. Di mana iPad ku ya?" tanya Grameisya bangun dari tempat tidurnya.


Grameisya pun mengambil iPad-nya dari dalam laci lalu melihat video yang ia upload tadi malam.

__ADS_1


"Ah, sudah ada 1.300 tayang," ucap Grameisya. Ia juga melihat komentar mereka.


"Waw, lingerienya seksi sekali."


"Sayang sekali, masih Sekolah tapi sudah jadi model pakaian orang dewasa."


"Aku mau modelnya aja gimana?"


"Aku mau beli baju yang warna coklat."


"Seksoy sekaleeee."


"Meskipun ada komentar negatif setidaknya lebih baik dari pada jadi wanita penggoda," ucap Grameisya mengembalikan iPad-nya dan menaruh kembali ke dalam laci.


Grameisya mengambil handuk dan ia pun segera mandi.


Setelah bersiap-siap. Grameisya turun ke bawah dan menuju meja makan.


"Eh Papa," ucap Grameisya melihat Deval sedang sarapan.


"Grameisya, nanti siang adalah sidang Om Defgi, kamu mau datang?" tanya Deval.


"Ya aku datang," jawab Grameisya mengangguk.


"Jadi bagaimana keadaan Heru?" tanya Grameisya.


"Ya, untung saja tangannya yang patah, bukan kakinya, mungkin beberapa hari lagi dia akan pulang," jawab Deval.


"Oh ya udah Papa sudah selesai sarapannya, Papa ke kantor dulu ya," ucap Deval berpamitan.


"Ya, Papa hati-hati," pesan Grameisya.


Gladis dan Mia perlahan-lahan mendekati Grameisya dan duduk di kursi.


"Hm ... bagaimana Grameisya Videonya?" tanya Gladis memberanikan diri untuk buka suara.


"Emang kalian nggak lihat?" tanya Grameisya mengangkat alisnya.


"Enggak, kami belum lihat," jawab Gladis menggeleng.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


[Kalo suka ceritanya jangan lupa like, komen, vote, iklan dan hadiah ya. Terima kasih 🥰🥰]

__ADS_1


__ADS_2