
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Sesampainya di rumah, Grameisya turun dari mobil, terlihat Mia dan Gladis.
"Lho? Kok dia baik-baik saja?" tanya Mia.
"Ayo kita samperin," ajak Gladis.
"Grameisya, kamu pasti di lempar pakai sampah tadi kan?" tanya Gladis tersenyum.
"Lalu?" tanya Grameisya.
"Emang enak, kami sengaja nggak bilang sama kamu sengaja biar kamu juga merasakan hal yang sama seperti kami," ucap Mia.
"Cih! Aku nggak sama dengan kalian pengecut itu, karena di lempar dengan sampah malah nggak sekolah, benar-benar payah," ejek Grameisya.
"Jadi apa kau akan tetap bersekolah dengan di lempari sampah terus?" tanya Gladis bercekak pinggang.
"Aku membuat tantangan dengan mereka jika aku menang mereka tidak akan menggangu ku. Emang kalian? Di lempar sampah diam aja? Dasar Cemen," ucap Grameisya mencibir.
Baru beberapa langkah ingin menuju ke kamarnya, tiba-tiba Mila dan Yessy datang ke rumah.
__ADS_1
Ia membawa beberapa orang datang ke rumah.
"Tante Mila, Yessy, ngapain kalian ke sini?" tanya Gladis.
"Kenapa memangnya? Ini adalah rumahmu juga. Karena si tua bangka itu sudah mati, berarti sebagian harta ini menjadi milik ku juga," ucap Mila mengipas dengan kipas tangan itu.
"Tante Mila sudah di usir, untuk apa datang lagi," ucap Mia.
"Hey! Memangnya siapa kamu! Terserah kamu mau datang ke mana. Kalian cepat bawa barang-barang yang ada di dalam rumah ini ke dalam mobil, ambil semua barang yang berharga di dalamnya," perintah Mila.
"Hey! Kalian tidak bertanya dulu pada ku apa aku menyetujui kamu membawa barang-barang di rumah ini atau tidak," ucap Grameisya.
"Heh, anak kecil ini, di singkirkan dia," ucap Mila kepada Grameisya yang menghalangi mereka.
Beberapa pria itu datang dan ingin menyingkirkan Grameisya. Akan tetapi, Grameisya tidak bergerak sedikit pun.
Grameisya memundurkan kaki kanannya lalu menarik tangan pria itu lalu melemparnya ke tembok.
Braak!
Mereka semua yang ada di sana terkejut.
"Ya ampun, dia sekuat itu?" tanya Gladis terkejut.
Pembantu di rumah itu hanya melihat dari dapur karena mereka tidak berani, karena mereka hanya ibu rumah tangga yang hanya pandai memasak.
__ADS_1
Para supir juga datang ikut membantu.
"Nona, biar kami bantu," ucap pak Ahmad.
Baru saja ia berkata begitu, perutnya di tendang membuat ia tidak bisa bicara dan menahan sakit.
"Kalau begitu, tidak perlu. Aku sendiri saja," ucap Grameisya.
"Jangan menghalangi aku Grameisya, atau kau akan rasakan akibatnya," ancam Mila.
"Siapa yang peduli dengan ancaman mu itu, maju lah kalau ingin merasakan pukulan ku, kebetulan sekali aku butuh samsak," ucap Grameisya.
"Sana kalian habisi saja dia, aku akan membayar kalian lebih," ucap Mila.
Beberapa pria ingin menangkap Grameisya, tapi Grameisya yang menangkap kepala mereka lalu membenturkan ke lantai lalu melemparnya keluar hampir mengenai Mila.
Bruk!
Bruk!
Mereka di tumpuk menjadi 2.
"Kurang ajar! Kau benar-benar membuatku marah! Bunuh saja dia!" perintah Mila.
Beberapa orang datang lagi, kali ini mereka membawa senjata tajam.
__ADS_1
Grameisya memiringkan tubuhnya lalu menendang kaki pria itu membuatnya terjatuh. Ia menginjak tangan pria yang memegang senjata tajam itu dengan kuat lalu menginjaknya lagi membuat jari-jari tangan pria itu patah.
...❤️❤️❤️❤️❤️...