
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Alneozro melihat ke arah Alina lalu melihat ke arah Mama Alina.
"Ayo keluar, akan aku jelaskan yang sejujurnya," ucap Alneozro.
"Kalian pergilah, aku akan mengurus Alina," ucap Lio. Mereka pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Lio dan berapa suster di dalamnya.
Alneozro terus mengengam tangan Grameisya saat mereka keluar sekali pun.
"Katakan apa yang ingin kau katakan! Katakan kenapa kau sampai membiarkan dia?" tanya Mama Alina mengintrogasi Alneozro.
"Jujur, dulu aku juga menyukai Alina," ucap Alneozro melihat ke arah Grameisya lalu kembali bercerita.
"Hari itu, aku mengatakan jika aku sibuk dan tidak bisa bertemu dengannya saat malam. Aku sengaja mengatakan itu karena ingin memberi kejutan untuknya dengan membawakan bunga untuknya. Sampai malam itu, aku melihat dia di kamarnya bersama produsernya melakukan hal yang tidak senonoh itu. Aku sakit hati dan langsung pergi," jelas Alneozro.
Mama Alina menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ti-tidak mungkin," ucapnya terbelalak dengan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Tante tau kan, aku paling benci yang namanya pengkhianatan, tapi anak Tante sudah mengkhianati ku, dia yang telah menguburkan perasaan ku. Kini perasaan ku sudah mati untuknya. Dia masih beruntung aku anggap seperti adik, jika dia adalah wanita lain sudah ku gantung di dengan rantai besi yang panas," ucap Alneozro.
"Tidak mungkin," ucap mama Mila terduduk di kursi sambil menangis.
Amar menarik Jun menjauh dari mereka.
"Hm ... aku tidak menyangka Alina seperti itu, pantas saja Alneozro tidak mau dengannya," ucap Jun menarik nafas berat.
"Mungkin ... dengan dia lupa ingatan itu lebih baik untuknya agar bisa melupakan masa lalu yang kelam dan melupakan Alneozro," ucap Amar.
Amar dan Jun masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana?" tanya Lio.
Mama Alina masuk ke dalam bersama Papanya. Mamanya tampak masih menangis sambil memeluk Alina.
"Kamu ...." Alina menatap Mamanya bingung.
"Aku adalah Mamamu Nak. Kau boleh melupakan semuanya, tapi tolong jangan lupakan orangtuamu," ucap mamanya sambil menangis.
Alneozro menarik nafasnya, meskipun berat tapi ia lega sudah mengatakan yang sebenarnya.
Grameisya memanyunkan mulutnya sambil memutar bola matanya.
__ADS_1
"Kamu nggak marah kan?" tanya Alneozro.
"Tidak ada yang perlu ku marah kan dengan masa lalu mu, setiap orang punya masalah masing-masing," jawab Grameisya.
"Kau memang pengertian," ucap Alneozro tersenyum.
Amar dan Jun keluar dari ruangan dan ikut bergabung dengan Alneozro dan Grameisya.
"Maaf Alneozro, selama ini kami tidak tahu masalahmu, jika seperti ini kami mengerti maksud mu," ucap Amar.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak pernah mengatakan apa pun pada kalian. Lagian dia sudah lupa ingatan, jadi ... tidak ada urusanku, beban yang ku pendam selama ini juga sudah lepas. Aku pulang dulu, mau antar Grameisya pulang," ucap Alneozro.
Amar tersenyum.
"Akhhhhhhhhh, aku sangat iri padamu, kau sudah mendapatkan orang yang kau cintai, sedangkan kami masih jomblo," ucap Jun.
"Kami? Kamu aja kali, aku nggak merasa jomblo," ledek Amar.
"Dasar! Punya teman nggak ada yang bener," ucap Jun manyun.
"Bukan teman nggak ada yang bener, tapi kamu yang nggak bener," ejek Amar.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1