
🌋🌋🌋
Saat sepulang sekolah.
Gadis itu datang kembali ke kelas Grameisya.
"Awas kalau kamu tidak datang!" ancam gadis itu.
"Cih! Siapa juga yang takut, aku akan pergi sekarang," ucap Grameisya mengambil tasnya.
Ia pun berjalan melewati garis itu dan menuju mobilnya.
"Kita ke tempat latihan tinju," ucap Grameisya.
"Ha? Ke sana lagi?" tanya pak Ahmad.
"Iya, aku ada taruhan sama seseorang," jawab Grameisya melihat ke luar jendela.
"Baiklah, asalkan Nona bisa menjaga diri dengan baik," ucap pak Ahmad.
Pak Ahmad pun melajukan mobilnya di jalanan menuju ke tempat latihan tinju.
🌈🌈🌈
Tak lama kemudian, Grameisya pun sampai di tempat.
Grameisya melihat gadis itu sudah ada di depan tempat latihan tinju.
"Datang juga akhirnya kamu, karena aku berbaik hati, maka aku yang bayar," ucap gadis itu tersenyum.
"Kalau begitu aku ucapkan terima kasih," jawab Grameisya tersenyum.
__ADS_1
"Kita mulai sekarang. Ayo keluar Jost," panggil gadis itu.
Keluarlah seorang pria dengan tubuh kekar. Tubuhnya lebih tinggi dari Grameisya, ia juga sudah biasa naik di ring tinju.
"Nona, lawannya besar sekali. Lebih baik jangan!" larang pak Ahmad khawatir jika Grameisya bakal terluka.
"Jika aku tidak mendapatkan lawan yang lebih kuat, maka aku tidak akan berkembang," ucap Grameisya membuka baju sekolahnya dan meninggalkan baju kaos di tubuhnya.
Grameisya pun naik ke ring membuat lawannya itu tertawa geli.
"Ini lawanku? Apa tidak salah?" tanya pria itu tersenyum mengejek.
"Kau meremehkan ku?"
"Bukan meremehkan mu? Hanya saja rasanya tak pantas aku harus melawan mu. Tapi aku tenang saja aku akan lembut kepada mu," ucap pria itu tersenyum mesum.
"Kau salah jika memandang rendah ku? Tapi tidak masalah. Kalau begitu mari kita mulai," ucap Grameisya.
"Kamu duluan," ucap pria itu.
Grameisya pun maju dan meninju pria itu, dan benar saja. Pria itu tak bergerak sedikit pun.
Grameisya terus meninjunya akan tetapi tetapi tetap saja tak bergerak.
Gadis itu nampak tersenyum. "Dasar lemah! Begitu sok pula ingin menantang," ucap gadis itu sinis.
Pria itu menarik Grameisya lalu membantingnya membuat ia terpental dan jatuh dari ring.
"Nona!" teriak pak Ahmad yang berlari ingin menghampiri Grameisya. Akan tetapi Grameisya mengangkat tangannya menandakan jika ia baik-baik saja.
Meskipun begitu, ada luka di bibir Grameisya karena terkena ujung ring.
__ADS_1
Grameisya bangun dan ia naik kembali ke atas.
Grameisya pasang kuda-kuda dan ia menendang pria itu. Sama saja, tidak bergerak, melainkan kakinya di tangkap lalu ia di banting lagi.
[Ronde 2]
"Sepertinya aku harus serius," ucap Grameisya.
Grameisya pun pasang badan dan ia pun melayangkan tendangan tipuan.
Triring! Triring!
Triring! Triring!
Nomor yang Anda tuju tidak menjawab panggilan Anda, cobalah beberapa saat lagi.
Alneozro kembali menelpon Grameisya.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
Nomor yang Anda tuju tidak menjawab panggilan Anda, silakan beberapa saat lagi.
"Kemana dia pergi, seharusnya jam segini para murid sudah pulang sekolah," ucap Alneozro mereka khawatir.
Hatinya mulai risau, ia menatap jam di dinding dengan tatapan tidak tenang.
"Aku akan melacak nomornya," ucap Alneozro. Ia memasukan nomor ponsel Grameisya ke komputer dan mencari lokasinya terkini.
"Di tempat tinju? Apa yang dia lakukan di sana? Aku ke sana sekarang," ucap Alneozro mengambil jasnya dan bergegas pergi.
__ADS_1