
☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️
-
❤️❤️❤️❤️❤️
"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Defgi berusaha melepaskan diri.
Sirine polisi terdengar dari kejauhan membuat Defgi semakin memberontak.
Polisi pun datang mendekat. Defgi dan Ado di bawa keluar dari rumah tersebut.
"Selamat sore Tuan Alneozro," ucap komandan polisi itu memberi hormat.
"Selamat sore," ucap Alneozro membalas memberi hormat.
"Saya mendapatkan laporan dari Anda jika ada pembunuhan, apa mereka orang?" tanya komandan polisi itu melihat ke arah Defgi.
"Benar, bukan hanya pembunuhan, tapi juga pemalsuan surat wasiat di lakukan oleh notaris Tuan Andes," ucap Alneozro.
"Baik Tuan, untuk para saksi dan keluarga bersangkutan untuk datang ke kantor polisi untuk memberi keterangan," ucap komandan itu.
"Aku nggak ikut Pa, lelah banget. Aku mau istirahat saja," ucap Grameisya.
"Ya sudah, karena ada saksi jadi itu sudah cukup," ucap Deval.
__ADS_1
"Tuan Alneozro, aku benar-benar berterima kasih kepada Anda, tanpa bantuan Anda kami tidak tahu siapa pembunuh sebenarnya. Aku tidak tahu harus membalas dengan kebaikan Anda," ucap Deval.
"Apa Anda benaran ingin membalas kebaikan ku?" tanya Alneozro tersenyum.
"Iya Tuan, tapi apalah dayaku, entah aku mampu atau tidak," ucap Deval merasa sedih.
Alneozro mendekat dan merangkul Deval.
"Entah mengapa aku merasa mereka punya rencana jahat. Lupakan itu, aku lebih baik ke kamar saja," ucap Grameisya.
"Beri aku restu dengan anakmu," bisik Alneozro.
"Ah Tuan Anda …." Deval tersenyum senang mendengar bisikan Alneozro.
"Tapi Tuan … apa Anda serius? Anda adalah orang besar, rasanya tidak mungkin bisa bersanding dengan anak saya. Rasanya kalian berada di level yang berbeda," ucap Deval khawatir.
"Baiklah, asalkan Grameisya bahagia, aku juga turut bahagia. Aku hanya ingin memberikan yang tebaik dan kebahagiaan seperti yang di pinta oleh mendiang istriku. Jadi tolong jangan sakiti dia, karena hanya dia yang aku punya," ucap Deval.
"Baiklah, aku akan membuatnya bahagia, aku janji di depan Anda," ucap Alneozro yakin.
Deval menarik nafas lega dan bahagia. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
"Aku percaya karena kau pastilah orang yang memegang janji mu," ucap Deval menepuk pundak Alneozro sambil menyeka air matanya.
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Deval.
__ADS_1
"Baik." angguk Alneozro.
Deval pun masuk ke dalam mobil untuk menuju ke kantor polisi. Sedangkan Hino dan Dodo sudah pergi duluan.
Rumahnya kini tampak sepi. Masing-masing dari mereka masuk ke dalam kamar meratapi kehidupan nyata mereka.
Setelah berganti pakaian, Grameisya keluar dari kamarnya. Karena saat itu Alneozro masih di rumahnya dan belum pergi.
"Kamu belum pulang juga?" tanya Grameisya.
"Aku menunggu mu untuk mengantarkan tamu mu ini," ucap Alneozro.
"Oh, aku sudah ada di sini, jadi kamu pulanglah," ucap Grameisya.
"Kau ini … sudahlah, aku pulang dulu, hari juga sudah hampir gelap," ucap Alneozro.
"Iya, kamu hati-hati di jalan," ucap Grameisya melambaikan tangannya.
Alneozro tersenyum dan ia pun masuk ke dalam mobil.
"Kamu jangan lupa untuk tetap latihan," pesan Alneozro.
"Iya, aku nggak lupa," jawab Grameisya manyun.
Perlahan-lahan mobil Alneozro pun melaju di jalanan, Grameisya terus melihat kepergian mobil Alneozro hingga menghilang di kejauhan.
__ADS_1
Setelah kepergiannya, hatinya menjadi kosong, angin senja bertiup sepoi-sepoi membuat rambut lurusnya melambai-lambai.
❤️❤️❤️❤️❤️