TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 191


__ADS_3

...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Salah satu mereka pun langsung duduk di depan dan langsung menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya di jalanan.


☘️☘️☘️☘️☘️


Triring! Triring!


Triring! Triring!


"Halo," jawab Grameisya.


"Kamu di mana sekarang Sayang?" tanya Alneozro.


"Aku sedang di jalan pulang. Kenapa?" Grameisya balik bertanya.


"Kamu langsung belok ke markas ku, ku tunggu di sini," ucap Alneozro.


"Oh baiklah," jawab Grameisya mengangguk.


"Pak Ahmad, kita belok ke kiri saja, aku mau pergi ke suatu tempat," ucap Grameisya.


"Baik Nona," jawab Pak Ahmad. Ia pun membelokkan mobilnya mengikuti petunjuk yang di berikan Grameisya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di markas milik Alneozro.

__ADS_1


"Bapak di sini dulu ya, aku masuk ke dalam dulu," ucap Grameisya.


"Baik Nona."


Grameisya turun dari mobil dan saat ingin masuk tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang. Grameisya melihat ke belakang dan ternyata Alneozro.


"Hey! Kau mengagetkan ku, untung saja nggak ku patahkan lehermu secara tiba-tiba," ucap Grameisya.


"Aku rindu padamu," ucapnya menenggelamkan wajahnya di bahu Alneozro.


Grameisya melihat Alneozro, hatinya menjadi luluh.


'Aku juga rindu padamu,' batinnya.


"Ah, sudahlah, kamu bawa aku ke sini untuk apa?" tanya Grameisya.


"Oooo."


"Ya udah, ayo kita ke dalam," ucap Alneozro merangkul Grameisya berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Pintu pun terbuka dan melihat ke dua orang itu di mana tubuhnya yang mengurus dan sangat memprihatinkan.


"Jadi bagaimana? Apa mereka masih di biarkan hidup?" tanya Alneozro.


"Josh sudah mati, untuk apa kau mempertahankan mereka, apa kau belum bosan juga bermain dengan mereka?" tanya Grameisya.


"Aku sih terserah padamu," ucap Alneozro.


"Bunuh saja kami! Ketua juga sudah mati. Hidup seperti ini pun tidak ada gunanya lagi!" ucap mereka dengan suara lemah.

__ADS_1


"Ya udah, lakukan saja itu, aku juga sudah bosan melihat mereka. Setelah ini tubuh mereka berikan saja di kandang buaya," ucap Alneozro.


"Apa! Mereka terbelalak. Mereka pikir dengan mereka mati saja sudah cukup, tapi saat mereka mati pun tubuh mereka di beri makan untuk buaya.


"Tidak! Jangan lakukan itu! Bunuh ya bunuh saja kami, tapi kami mohon jangan berikan tubuh kamu menjadi makanan buaya," pinta mereka.


"Hm ... Kurasa buaya juga nggak bakalan mau makan daging pengkhianat," ucap Grameisya.


"Iya iya, buaya pasti tidak mau," ucap mereka senang.


"Kalau buaya tidak suka, mungkin harimau suka," jawab Grameisya tersenyum melihat Alneozro.


Mendadak wajah mereka muram, buaya dan harimau apa bedanya.


"Ya sudah, karena mereka sangat ingin mati, bunuh saja mereka. Mengurung mereka tidak menghasilkan uang juga. Ya udah, ayo kita pergi," ajak Alneozro.


Mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


"Kami mohon, tubuh kami jangan berikan kepada hewan buas itu agar kami mati dengan tenang," ucap mereka memohon.


"Sampai mati pun kalian tidak akan bisa tenang."


Dor! Dor!


Dor! Dor!


Mereka berdua pun di tembak mati tepat di kepala dan di jantung mereka dan seketika mereka mati di tempat. Darah mereka mengalir dan membanjiri tempat itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2