
Happy reading 🥰🥰
-
❤️❤️❤️
"Mana bisa begitu, aku adalah yang tertua, jadi akulah yang paling banyak mendapatkannya! Aku tidak perlu mendapatkan persetujuan dari kalian. Kalian yang tidak setuju itu berarti kalian menyerahkan saham itu untuk ku," ucap Defgi tersenyum licik.
"Tetap saja kakak tidak boleh begitu, Papa juga sudah mewasiatkan hartanya untuk kita bagi rata! Kakak jangan serakah!" ucap Papa Mia tak setuju.
"Siapa peduli tentang ini, Papa juga sudah meninggal! Jadi aku adalah wali kalian semua, jadi terserah aku mau aku bagikan ke kalian atau tidak!" tolak Defgi.
"Wali macam apa jika sepertimu! Kamu tidak butuh wali yang serakah seperti mu! Kamu lebih baik bagi rata atau aku akan menuntut mu!" sanggah Papa Gladis.
"Kalian tidak bisa menuntut ku! Intinya begitu saja, aku akan bagi untuk kalian 1% saham untuk satu orang, sisanya untukku, jangan ada yang membantah!" ucap Defgi dengan membelalakkan matanya.
"Tapi Kak ...."
"Tidak ada tapi-tapian, kalau kamu nggak suka, kamu bisa tinggalan rumah ini dan tidak mendapatkan satu persen pun," tukas Defgi.
Defgi pun pergi dengan tersenyum dengan membawa berkas. Ia pergi untuk menemui notaris Andes.
__ADS_1
Deval duduk dengan tangan di kepalanya. "Selama ini ia yang bekerja keras yang lebih banyak dari mereka semua, ia lakukan agar ia Andes melihatnya dan mendapatkan lebih untuk memasukan Grameisya ke pendidikan jenjang yang lebih tinggi.
Tapi semuanya hilang dalam sekejap karena kematian Andes yang secara tiba-tiba itu.
Grameisya yang melihat itu turun dari tangga dan menghampiri Deval.
"Tidak apa-apa Papa, Papa akan mendapatkan apa yang Papa inginkan," ucap Grameisya.
"Tapi bagaimana?" tanya Deval tampak sedih.
"Tunggu saja waktunya," ucap Grameisya.
Ia berdiri dan berjalan masuk kamarnya dengan langkah gontai.
Para anak-anak pasti sudah menyaksikan perdebatan orang tuanya, mereka pun keluar dari tempat mereka bersembunyi untuk berangkat sekolah.
Defli berjalan dengan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka jika Papamu serakah seperti itu," ucap Grameisya membuat langkah kaki Defli terhenti.
Ia memutar badannya dan melihat Grameisya sendu.
__ADS_1
"Aku akan bicarakan masalah ini pada Papa ku," ucap Defli.
"Apa yang bisa kamu lakukan? Kalau dia sudah buta harta sekali pun kamu anaknya, tidak akan ia dengarkan," ucap Grameisya.
"Jadi ... apa yang bisa aku lakukan?" tanya Defli merasa bersalah.
"Urus saja hidupmu, karena tidak ada yang akan mengurusnya," jawab Grameisya berbalik badan meninggalkan Defli.
Defli menatap punggung Grameisya yang semakin menjauh itu. Keluarga mereka benar-benar hancur sekarang, bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
Grameisya masuk ke dalam mobil, perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan menuju sekolah.
"Apa yang bisa aku lakukan dengan saham 1% ini?" tanya Deval tampak lemas.
Ia duduk di kamarnya sambil menatap laptopnya. Ia terlihat kebingungan.
Di sisi lain.
"Asalkan kau mau merubah surat wasiat itu maka aku akan memberikan 10% saham untukmu, bagaimana?" tawar Defgi kepada notaris yang memegang surat wasiat Andes.
"Bagaimana bisa aku merubahnya Tuan Defgi, ini adalah surat wasiat Tuan besar Andes. Dan saya sudah di bayar setiap bulannya atas kepercayaannya," ucap notaris itu.
__ADS_1