
☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️
☺️☺️☺️
❤️❤️❤️❤️❤️
"Kau ... apa yang kau masukan ke dalam makanan itu?" tanya Grameisya pusing.
Penjual itu tersenyum.
Mendadak saja Grameisya tidak bisa menahan pusingnya dan ia pun jatuh ke lantai.
Beberapa orang pria keluar dari warung kecil itu.
"Cepat bawa dia!" perintahnya.
Kedua orang pria itu membawanya Grameisya ke dalam rumah tersebut.
Barang milik Grameisya tadi ia ambil kembali dan ia masukkan ke dalam estalase jualannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
1 jam kemudian.
"Nona beli minuman kok lama banget sih? Masa 1 jam?" tanya pak Ahmad.
Pak Ahmad pun keluar dari mobilnya dan berjalan kebelakang, ia melihat ke kiri dan dan dan tak lama beberapa langkah ia melihat sebuah warung kecil.
Pak Ahmad pun berjalan menuju warung itu.
"Ada apa pak?" tanya penjual itu saat melihat pak Ahmad datang.
"Nona saya tadi beli minum di sini, kemana dia ya?" tanya pak Ahmad.
"Tidak tahu Pak, tadi dia memang ada beli minum di sini, tapi setela lh itu dia pergi, tapi saya nggak lihat dia pergi ke arah mana tadi karena saya langsung bermain game ini," ucap penjual itu memperlihatkan game itu kepada pak Ahmad.
"Oh begitu ya, baiklah kalau begitu, terima kasih," ucap pak Ahmad pun segera pergi.
"Kemana sih Nona? Dia yang mencari orang malah dia yang hilang," ucap Pak Ahmad.
Pak Ahmad masuk ke dalam mobil dan mengambil ponselnya dan menelpon nomor Grameisya.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
Triring! Triring!
__ADS_1
Triring! Triring!
Pak Ahmad melihat kebelakang karena ponsel itu berdering di kursi penumpang.
"Eh, ponselnya ada di dalam mobil," ucap pak Ahmad mengambil ponsel itu.
"Ya ampun, kemana Nona pergi," ucap pak Ahmad khawatir.
☘️☘️☘️☘️☘️
Hari hampir sore, Grameisya tidak juga muncul.
"Kemana ini Nona," ucap Pak Ahmad.
Ia menarik nafasnya dan terpaksa Pak Ahmad pulang ke rumah.
Hari semakin gelap. Pak Ahmad pun sampai di rumah dan ia langsung turun dari mobil.
"Di mana Tuan Deval?" tanya pak Ahmad kepada Bi Ena.
"Dia ada di kamarnya," ucap Bi Ena menekuk alisnya karena wajah pak Ahmad berubah.
Pak Ahmad pun langsung menuju kamar Tuan Deval.
Tok! Tok!
Tok! Tok!
Cklek!
"Eh, Pak Ahmad, ada apa?" tanya Deval.
"Tuan, Tuan, Nona hilang," ucap Pak Ahmad buru-buru.
"Apa! Hilang lagi?" tanya Deval terbelalak.
"Iya Tuan, tadi kami mau mencari Tuan muda Defli karena kabur kemaren. Tapi tadi saat Nona membeli minuman di sebuah warung kecil, terus dia nggak tau perginya kemana," ucap Pak Ahmad buru-buru.
"Bapak sudah telpon dia?" tanya Deval.
"Sudah Tuan, tapi ponselnya ada di dalam mobil saya," ucap Pak Ahmad.
"Bagaimana mungkin dia bisa hilang setelah membeli minuman?" tanya Deval merasa aneh.
"Tidak tahu Tuan, tadi saat saya bertanya kepada penjualnya dia tidak melihat kemana Nona pergi setelah membeli minuman di warungnya," jawab pak Ahmad.
"Kemana lagi sih dia pergi? Mana kerjaan ku belum siap," keluh Deval.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita cari," ajak Deval mengambil jaketnya dan mengunci pintu kamarnya.
Mereka pun masuk mobil dan melaju di jalanan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Perlahan-lahan kesadaran Grameisya kembali. Ia mendengar suara yang sedikit berisik, seperti suara tangisan. Kepalanya masih sedikit pusing.
Ia mencoba membuka matanya, tapi rasanya masih berat.
'Sial! Obatnya sangat banyak mereka berikan,' batin Grameisya.
Semakin lama suara berisik itu semakin kuat, menandakan jika kesadarannya kembali pulih.
Suara tangis itu juga semakin kuat. Perlahan-lahan matanya terbuka.
Ia melihat banyak remaja seusianya ada di satu ruangan.
"Eh, di mana ini?" tanya Grameisya.
"Grameisya, kamu sudah bangun," ucap seseorang yang mengenalinya.
"Kau ...."
Grameisya terkejut karena Defli ada di sampingnya.
"Kenapa kau ada di sini juga?" tanya Defli.
"Itu karena aku harus mencari mu bodoh! Kau main kabur saja dari rumah! Lihatlah dirimu yang payah ini, kan sudah tertangkap, gitu kau sok pergi-pergi dari rumah!" omel Grameisya.
"Kau mengatai ku, kau sendiri juga terkurung di dalam sini juga," ucap Defli mencibir.
"Tapi aku nggak seperti kamu yang duduk diam berharap ada keajaiban datang. Tapi kepala ku masih sedikit pusing, aku ingin baring sebentar," ucap Grameisya kembali berbaring.
"Baring lah di sini," ucap Defli menepuk pahanya.
"Ha?" Grameisya menaikkan alisnya.
"Iya, kau bilang pusing, baring lah di sini agar pusing mu hilang," ucap Defli.
"Tidak usah, aku duduk saja dan hanya perlu memejamkan mata ku sejenak," ucap Grameisya duduk dengan menyenderkan tubuhnya ke tembok dan memejamkan matanya. Ia melipat tangannya dan menarik nafas lalu membuangnya dengan pelan.
"Giliran Taun Alneozro kau mau," ucap Defli manyun.
"Diam lah!"
Beberapa menit setelah kepalanya tidak pusing lagi dan ia merasa siap, ia pun membuka matanya.
__ADS_1
Ayo kita keluar," ajak Grameisya.
❤️❤️❤️❤️❤️