
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Grameisya pun berangkat ke sekolah, begitu juga dengan Defli.
Sesampainya di sekolah, semua melihat ke arahnya.
Grameisya tidak peduli dengan mereka, terserah mereka ingin melihatnya seperti apa, yang pastinya, setelah ia memenangkan pertandingan nanti mereka akan diam sendiri.
Grameisya ingin masuk ke dalam kelas. Tapi ada beberapa orang yang berlari masuk gang kecil perbatasan antara kelas yang bersebelahan.
"Kenapa ya? Kok aku penasaran?" tanya Grameisya.
Ia pun berjalan mendekati tempat tersebut.
Saat itu Defli di kelilingi oleh berapa orang yang menghinanya.
Dulu ia sangat keren, tapi sekarang ia malah jadi bahan ejekan.
__ADS_1
"Huuuh! Dasar Papanya pembunuh, kita jangan dekatin dia, bisa-bisa kita nanti di bunuh. Buahkan nggak jauh jatuh dari pohonnya. Papanya pembunuh anak juga pasti akan jadi pembunuh!" maki mereka.
"Mana dulu kesombongan mu? Mana dulu kekerenan mu? Huuu dasar pembunuh!" maki mereka.
Keempat teman Defli yang dulu pernah ia bawa ke rumah, mereka hanya melihat saja, sama sekali tidak menolongnya.
"Sudah tinggalkan saja dia, dari pada kita mendapat pengaruh buruk darinya," ucap Ari mengajak teman-temannya pergi.
Grameisya melihat Defli yang di kelilingi murid-murid yang sedang menghujatnya. Tapi ia diam saja, ia sadar dengan apa yang telah di perbuat oleh Papanya itu akan berdampak buruk baginya.
Ia juga sudah mendengar ucapan Gladis jika mereka di lempari dengan sampah, maka ia juga akan mengalami hal sama atau lebih.
"Heh! Datang lagi saudaranya pembunuh," ucap mereka tersenyum jahat.
"Diam kamu semua! Sudah bapak kepala sekolah katanya jangan ganggu kami! Setelah pertandingan berakhir nanti terarah kalian mau apa!" teriak Grameisya.
"Cih! Pake bawa-bawa nama kepala sekolah. Oke kami sangat ingin melihat wajah kekecewaan mu yang kalah itu nanti, sampai hari itu nanti, kami akan membully kalian habis-habisan, kepala sekolah juga tidak akan membantumu," ucap mereka tersenyum sinis.
"Cih! Kalian ini minta di pukul rupanya," ucap Grameisya mengangkat tangannya, tapi Defli menahan tangan Grameisya.
Mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan Grameisya, aku tidak apa-apa kok, aku sudah siapkan hati dan mentalku jika ada seperti ini lagi, mereka tidak salah kok. Aku yang salah," ucap Defli.
Grameisya menatap Defli sendu. "Jika ada yang berani mengusik mu bilang padaku, biar ku beri mereka pelajaran," ucap Grameisya mengepalkan tangannya.
Defli menarik nafasnya dan menghembusnya dengan pelan. "Ya udah kita masuk ke dalam kelas kita masing-masing, sebentar lagi bel berbunyi," ucap Defli.
Mereka pun berpisah, Grameisya masuk ke dalam kelasnya dan begitu dengan Defli.
Defli tersenyum getir, dulu ia yang suka menjahili Grameisya karena ia tidak suka dengan Grameisya yang menyukainya, tapi sekarang sudah berapa kali Grameisya yang datang membantunya bak pahlawan.
Dirinya sungguh bodoh tidak menerimanya sejak dulu, kenapa ia baru sadar sekarang?
Tapi Grameisya tidak bisa ia jangkau lagi, Grameisya yang sudah berubah itu membuat perbedaan dan jarak antara mereka.
Ia pun kembali masuk ke dalam kelasnya. Keempat temannya malah berbalik badan saat melihat Defli datang.
Defli duduk di kursinya dan melihat sekilas mereka berempat.
'Sudahlah Defli, saat ini tidak ada yang perlu denganmu lagi, melainkan hanya orang yang kau benci dulu,' batinnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1