
Happy reading 🥰🥰
-
❤️❤️❤️
Para wartawan datang masuk ke dalam perusahaan dan mencari keberadaan Tuan Andes.
"Tuan Andes! Tuan Andes! Ayo cepat cari sebelum dia kabur," ucap wartawan itu.
Mereka pun menemukan sebuah ruangan di depannya ada tulisan ruang CEO.
"Ini dia," ucap mereka senang. Mereka pun menggedor pintu ruangan tersebut.
"Tuan Andes! Tuan Andes! Bisakah Anda keluar sebentar untuk memberi keterangan!" teriak mereka.
"Hey berhenti! Kalian seperti ini sudah melanggar privasi seseorang!" teriak petugas keamanan.
Para petugas keamanan berusaha untuk menghalangi para wartawan itu, sayangnya para wartawan itu seperti haus akan berita sehingga tidak kenal itu privasi.
Mereka pun membuka pintu ruangan tersebut dan menyerbu masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung melayangkan pertanyaan.
"Tuan, apa benar menantu Anda bernama Mila adalah pelakor?"
"Tuan, Kenapa menantu Anda ada di luar menjadi pelakor?"
"Tuan, apa Nyonya Mila sudah tidak menjadi menantu Anda?"
"Tuan, apa permasalahan keluarga Anda?"
"Tuan, Tuan, Tuan."
Tiba-tiba saja kepala Andes pusing, suara mereka semakin lama semakin melambat dan berputar-putar.
Ia merasakan jantungnya berdegup kencang dan mendadak ia sesak nafas.
"Tuan Anda kenapa?" tanya sekretarisnya terkejut dan akhirnya Andes tidak sadarkan diri.
"Tuan! Tuan!" teriak sekretaris itu. Akan tetapi tubuh Andes tidak bergerak lagi.
"Cepat telpon ambulan!" teriak sekretaris itu panik.
Petugas keamanan itu langsung menghubungi ambulans.
__ADS_1
Para wartawan spontan terdiam.
"Kalian semua keluarrrrr!" teriak sekretaris itu murka.
"Ayo, ayo cepat keluar!" ucap mereka berbondong-bondong keluar dari ruangan tersebut.
Tak lama Ambulans datang, tubuh Andes di masukkan ke dalam dan para perawat segera memberi pertolongan pertama.
Sekretarisnya naik mobil sendiri dan segera menghubungi Deval, karena saat itu Deval sedang tidak di kantor, melainkan di lapangan.
Sedangkan Heru sedang berada di club malam dan nggak pulang dari kemaren.
Defgi pergi sebentar ke perusahaan, setelah itu ia entah pergi kemana.
Begitu juga Papa Gladis dan Papa Mia, mereka tidak ada di kantor.
Sesampainya di rumah sakit, Andes segera di tangani.
"Apa! Papa masuk rumah sakit? Baiklah, aku ke sana sekarang," ucap Deval buru-buru. Ia pun terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Deval segera keluar dari mobilnya dan menghampiri sekretaris Papanya.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Deval gugup dan panik.
Deval menarik nafasnya dan berusaha untuk tenang.
"Di mana Defgi dan yang lain?" tanya Deval.
"Tidak tahu Tuan, mereka semua tidak ada di kantor tadi," jawab Adel.
"Sial! Di saat seperti ini mereka malah tidak ada, apa yang mereka kerjakan sih?" tanya Deval geram.
Deval mengambil ponselnya untuk menghubungi saudaranya yang lain, akan tetapi dokter keluar dari ruang UGD.
Terpaksa Deval menyimpan kembali ponselnya dan menghampiri dokter tersebut.
"Dokter! Dokter! Bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Deval cepat.
"Anda keluarga Tuan Andes?" tanya Dokter itu.
"Iya, saya anaknya," jawab Deval mengangguk.
"Maaf Tuan Sayangnya, nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Tuan Andes sudah meninggal," ucap dokter tersebut.
__ADS_1
"Apa!! Tidak! Tidak mungkin!" teriak Deval. Ia berlari ke dalam ruangan dan melihat Andes tak bergerak sama sekali.
"Papa! Papa! Bangun Papa! Papa jangan pergi!" teriak Deval mengguncang tubuh Andes yang sudah terbujur kaku.
Deval menangis sambil memeluk tubuh Andes.
"Papa," lirihnya penuh dengan penyesalan.
"Maaf Tuan, jenazahnya akan segera kami pindahkan ke ruang mayat," ucap salah satu petugas kamar mayat.
"Tidak, bawa pulang saja ke rumah," ucap Deval menyeka air matanya.
"Baik Tuan," ucap mereka.
Tubuh Andes pun di bawa masuk ke dalam ambulans kembali dan tubuhnya di bawa ke rumah duka.
Wi wi wi wi
Suara sirine mobil ambulans datang ke rumah besar. Para orang yang ada di rumah itu sangat terkejut.
"Siapa itu?" tanya mereka yang langsung keluar dari rumah.
"Jangan-jangan ambulans ini salah rumah nggak?" tanya para pelayan tersebut.
"Kita lihat dulu, siapa yang ada di ambulans," ucap mereka.
Para petugas itu mengeluarkan tubuh Andes dari ambulans.
"Ayo bawa masuk saja," ucap Deval dengan mata yang sembab.
Petugas itu membawa masuk dan meletakan di atas sofa.
"Kalian siapkan kasur!" perintah Deval kepada pelayan.
Para pelayan menyiapkan kasur dan meletakkan di tengah-tengah rumah.
Tubuh Andes pun di bawa ke atas kasur tersebut.
"Kami pamit dulu Tuan," ucap petugas rumah sakit itu.
"Terima kasih," ucap Deval mengangguk.
Para petugas rumah sakit pun kembali masuk ambulans dan meninggalkan rumah Deval.
__ADS_1
❤️❤️❤️