TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 149


__ADS_3

...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


☘️☘️☘️☘️☘️


Akhirnya, sidang di buka untuk Defgi. Semua keluarga datang untuk menyaksikannya kecuali Heru yang sudah lama tidak pulang ke rumah, kabarnya juga sudah tidak ada lagi.


Para wartawan juga sudah menunggu sejak pagi. Semua orang di luar berdesakkan, sedangkan di dalam sedang menantikan hukuman untuk Defgi dengan jantung berdegup kencang, terutama untuk Defli.


"Untuk sidang keputusan hari ini, Tuan Defgi di jatuhi hukuman, kurungan penjara selama-lamanya," ucap pak hakim dengan mengetuk palu 3 kali.


Defli menangis sesenggukan, ia menangis sejadi-jadinya.


Jika Papanya di kurung untuk selamanya itu berarti sama saja ia tidak punya Papa lagi.


Sedangkan Mamanya sudah menikah lagi dengan pria lain. Papa dan Mamanya sudah pisah 3 tahun yang lalu, dan kini tinggallah dirinya sendiri.


Deval memeluk Defli. "Sabar ya, kamu masih punya Om dan Grameisya. Kamu tidak perlu sedih," ucap Deval mengelus punggung Defli.

__ADS_1


Defgi pun di bawa oleh 2 orang polisi. Defli sungguh tak sanggup untuk melihat kepergian Papanya.


"Papa! Jangan pergi!" teriak Defli yang ingin menggapai Defgi yang di bawa masuk ke dalam mobil, karena ia akan menjalankan masa tahanannya di dalam jeruji besi.


"Papaaaaaaaaaaaaa!" teriak Defli yang ingin berlari mengejar mobil itu, tapi di tahan oleh Deval.


"Jangan ikuti mereka, kita akan pergi menjenguknya nanti," ucap Deval.


Defli terduduk di tanah, air matanya tumpah dan suaranya parau. Pandangan kabur karena tertutup oleh air mata.


"Defli, ayo pulang masuk mobil, kita pergi lihat Papa kamu," ucap Grameisya menarik kerah baju Defli dan mengangkatnya ke dalam mobil.


Mereka pun melaju mobilnya menuju lapas.


Sesampainya di sana, mereka pun bergegas masuk ke dalam. Di sana Defli semakin kuat menangis.


Ia berdiri di hadapan Papanya kini yang sudah ada di dalam jeruji besi.


"Papa! Papa!" ucap Defli dengan suara parau.


"Sudahlah, kamu tidak perlu menangis. Tak lama lagi Papa juga keluar," jawab Defgi.

__ADS_1


Deval memeluk alisnya. Sedikit pun ia tidak melihat di wajah Defgi ada penyesalan.


"Kau ... sama sekali tidak merasa apa yang sudah kamu perbuat itu salah kah? Kau terlihat biasa saja?" tanya Deval.


"Untuk apa aku merasa bersalah, tua bangka pelit itu emang pantas mati, jika tidak aku tidak akan mungkin dapat bagianku. Hey Deval. Kamu urus sahamku, dan gunakan sahamku untuk mengeluarkan aku dari penjara ini," ucap Defgi.


Deval menggelengkan kepalanya.


"Kak, kau sudah ada di dalam penjara seperti ini masih saja belum sadar, aku harus apa kau menyesali perbuatanmu? Kau benar-benar tidak punya hati," ucap Deval rasanya ingin menangis melihat kelakuan saudaranya seperti itu.


"Apa yang perlu ku sesali? Dia memang pantas mendapatkannya. Aku pokoknya nggak mau tahu, gunakan sahamku untuk mengeluarkan aku dari sini. Kalau tidak terima akibat mu!" ancam Defgi.


"Papa! Sadarlah!" teriak Defli sambil menangis.


"Kamu juga, sebagai anak Papa, pokoknya harus bantu Papa keluar dari sini," ucap Defgi lagi.


"Defli, ayo kita pulang," ajak Deval menarik tangan Defli. Ia sungguh tak tahan bila berlama-lama di sana yang ada membuatnya emosi saja.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


[Jangan lupa like, vote, komen iklan dan hadiah. Terima kasih 🥰🥰]

__ADS_1


__ADS_2