TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 153


__ADS_3

☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️


☺️☺️☺️☺️☺️


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"To-tolong a-ampuni ka-kami. To-tolong lepaskan kami," punya mereka memohon sambil memegang perutnya.


"Katakan yang dengan jujur, siapa yang sudah merusak lahan bapak ini? Kalau kalian berani berbohong lagi, akan ku lempar kalian ke kandang buaya, atau ku patahkan kaki kalian biar lumpuh seumur hidup dan menjadi orang yang tidak berguna!" ancam Grameisya.


"Hu-hu-hu, me-memang ka-kami yang melakukannya, ta-tapi ka-kami di perintahkan oleh bos kami," jawab mereka sambil menangis.


"Untuk apa?" tanya Grameisya.


"Tanah Bapak ini sangat luas, uang yang ia pinjam dengan tanah itu tidak seberapa, jadi bos kami menginginkan tanah itu, dengan begitu ia untung besar. Makanya ia menyuruh kami untuk merusak tanaman cabenya, dengan begitu ia pasti tidak bisa membayar hutangnya dan tanah itu menjadi milik bos kami," jawab mereka menangis sambil memegang bagian tubuh mereka yang sakit.


"Lalu apa untungnya buat kalian?" tanya Grameisya bercekak pinggang.


"Tidak untung buat kami," jawab mereka menundukkan kepala.


"Jangan berbohong! Mau ku pecah kan mulutmu!" ucap Grameisya memegang dagu pria itu dan ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan ingin memukul mulut pria itu.


"Tidak ampuni aku, iya iya aku jujur," ucap pria itu ketakutan sambil menangis.

__ADS_1


"Katakan!" teriak Grameisya.


"Kami akan mendapatkan uang 3 juta perorangannya," jawabnya.


"Cih! Hanya 3 juta kalian sampai berbuat seperti itu. Ku pikir di bayar puluhan juta, nggak sebanding banget," jawab Grameisya mencibir.


Grameisya mengambil ponselnya lalu menelpon polisi.


Tuuut! Tuuut!


Tuuut! Tuuut!


"Halo, selamat sore," jawab salah satu polisi yang mengangkat panggilannya.


"Baiklah, kami akan kesana sekarang," jawab polisi itu.


"Baik Pak, terima kasih," ucap Grameisya.


"Sama-sama," jawab polisi itu menutup panggilannya.


Para warga barulah datang mendekat.


"Terima kasih ya Nak. Jika tidak ada kamu, entah bagaimana nasibnya, kami tidak ada berani melawan mereka karena bosnya punya senjata api, dari pada kami ikut terbunuh, kamu lebih baik menghindar saja," ucap salah satu warga itu.

__ADS_1


"Iya, terima kasih ya, kamu sangat hebat sekali," ucap seorang ibu-ibu mengacungkan jempol untuk Grameisya.


Grameisya hanya tersenyum. "Tungguin mereka sampai polisi datang, jangan sampai mereka kabur. Aku permisi dulu," ucap Grameisya.


Grameisya pun masuk ke dalam mobilnya dan melaju di jalanan menuju ke rumah Alneozro.


☘️☘️☘️☘️☘️


Sesampainya di rumah Alneozro, terlihat ia sedang menunggunya di depan rumahnya.


Saat mobil Grameisya datang, Alneozro tersenyum.


Grameisya turun dari mobilnya dan menghampiri Alneozro.


Mereka bertatapan mata dan tentu saja Grameisya menatapnya binggung.


"Mana makanan ku?" tanya Grameisya.


"Kau datang tidak menanyakan diri ku dulu kah?" tanya Alneozro kecewa.


"Kau kan sudah ada di depan mata, untuk apa ku tanya lagi?" tanya Grameisya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


[Jangan lupa like, vote, komen, iklan, dan hadiah ya, terima kasih 🥰🥰🥰]


__ADS_2