
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Di sisi lain.
"Ayo bongkar! Bongkar semuanya rumah ini," ucap Heru memerintahkan pasukannya.
Mereka pun membalikkan sofa dan memecahkan Gucci dan pas bunga.
Deval keluar dari kamarnya dan melihat ada apa di luar berisik sekali.
"Hey! Apa-apaan ini!" teriak Deval berlari mendekat.
"Tangkap dia perintah Heru kepada beberapa orang itu untuk menangkap Deval.
Dengan berusaha, Deval mengambil apa yang ada di dekatnya dan melempar ke arah beberapa orang itu. Tapi mereka menangkap Deval dan memegang kedua tangannya.
"Heru! Apa lagi yang ingin kau lakukan!" teriak Deval.
"Berikan surat rumah ini atau rumah ku hancurkan kau!" jawab Heru membelalakkan matanya.
"Kau sudah gila ya! Apa yang ada di kepala mu itu! Ini adalah satu-satunya rumah peninggalan Papa! Kau sudah menjual anakmu dan pada Akhirnya dia mati! Kau tidak ubahnya seperti Defgi! Kau bukan manusia!" pekik Deval.
"Heh! Aku memang bukan manusia, cepat berikan surat rumah ini!" ucap Heru memukul perut Deval.
__ADS_1
Buk!
"Aaakhhh!" Deval kesakitan.
"Cepat berikan!" teriak Heru memukulnya lagi.
Buk!
"Akhhhhhhhhh! Aku ... aku ... tidak akan memberikannya!" ucap Deval menatap tajam Heru walau pun ia kesakitan.
"Oh, kau ingin mati rupanya," ucap Heru geram.
Bak Buk! Bak Buk!
"Akhhhhhhhhh!" Deval merintih kesakitan dan ia pun di jatuhkan ke bawah.
"Om!" teriak Gladis dan Mia datang saat pulang sekolah.
Para pembantu ketakutan dan mereka bersembunyi di balik dapur. Mereka tidak berani melawan karena salah satu di antaranya mereka membawa senjata api.
"Ya sudah, aku akan mencari surat rumah itu," ucap Mila berjalan melewati mereka semua dan masuk ke dalam kamar Deval.
"Tolong, jangan lakukan itu," ucap Deval yang saat itu mengerang kesakitan. Mila mengacak-acak kamar tersebut untuk mencari surat rumah tersebut.
"Deval!" teriak Hino menghampiri Deval.
"Untuk apa lagi kau datang ke sini lagi!" teriak Dodo.
__ADS_1
"Jangan menghardik ku! Kalau kau berani ikut campur, aku akan menembak mu!" ancam Heru menyuruh pria yang memegang senjata api itu menodong ke arah Hino.
Hino terdiam.
"Eh, ada apa ini?" tanya Dodo bingung.
"Kamu lebih baik diam di tempat kalau tidak ingin mati!" ancam Heru menujuk ke arah Dodo. Seketika Dodo terdiam melihat senjata api yang ada di tangan pria tersebut.
"Aku tidak menemukan surat rumah itu," ucap Mila keluar dari kamarnya.
"Kakak, tolong jangan ambil surat rumah itu, tapi ambil saja sahamnya," saran Hino.
"Oh benar juga, kalau begitu berikan saham mu, baru aku akan pergi," ucap Heru.
"Maaf Kak, sahamku sedang kritis, jadi walau ku berikan itu tidak akan ada untung untuk mu," ucap Hino.
"Aku juga, sebagian sahamku sudah ku jual," ucap Dodo.
Jadi, mereka semua meliah ke arah Deval.
"Jadi, hanya kamu yang punya saham kan? Kalau begitu berikan saham itu kepada ku, atau ku ledakan kepalamu!" ancam Heru.
Deval terdiam sesaat, dari pada surat rumah yang di ambil, ia lebih baik merelakan sahamnya. Untuk masalah pekerjaan, ia bisa menjadi pekerja biasa.
"Baiklah," ucap Deval mengalah.
Ia pun memberikan saham itu kepada Heru dan barulah mereka pergi.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
[Jangan lupa like, vote, komen, iklan, tips dan hadiah terima kasih]