TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 73


__ADS_3

Happy reading 🥰🥰


-


❤️❤️❤️


"Kenapa dengan Tuan besar Andes Tuan?" tanya mereka saat melihat tubuh yang diam tak bergerak itu.


"Dia sudah meninggal," ucap Deval menatap Papanya, tanpa sadar air matanya keluar dan menetes.


"Apa! Tidak mungkin!" ucap mereka terbelalak.


Mereka pun nangis berjamaah di dengan mengelilingi tubuh Andes.


"Kalian hubungi suami masing-masing untuk segera pulang," ucap Deval kepada Mama Mia dan Mama Gladis.


"Iya," jawab mereka menyeka air matanya sambil mengambil ponsel untuk menghubungi suami mereka.


Tak lama, para anak sekolah pulang. Grameisya dan ke 4 sepupunya sampai di rumah.


Dari dalam rumah terdengar suara tangis.


"Pak Ahmad, ada apa dengan rumah?" tanya Gladis.


"Tidak tahu Nona, mari kita lihat," ucap pak Ahmad. Mereka turun dari mobil dan segera masuk rumah.


Yang mereka lihat Tuan besar Andes yang terbaring di tengah-tengah para pelayan dan mereka yang mengelilinginya menangis.

__ADS_1


"Ada apa Pa?" tanya Grameisya terbelalak.


"Kakek mu meninggal Nak," jawab Deval yang berlinang air mata.


Grameisya mendekati Deval sambil melihat Andes yang terbujur kaku.


Ia terus menatap Andes, entah mengapa air mata itu jatuh.


'Apa ini adalah reaksi pemilik tubuh itu? Mungkin dia juga sedih karena kehilangan salah satu anggota keluarganya,' batin Grameisya.


Mia dan Gladis ikut menangis duduk di lantai menyaksikannya kepergian sang kakek.


Suasana menjadi haru dan duka yang di penuhi oleh suara tangisan.


Ketiga anaknya pulang ke rumah, hanya Heru saja yang tidak pulang karena ponselnya di hubungi tidak aktif.


"Papa! Papa! Bangun Papa!" teriak Defgi menggoyang bahu Andes.


"Mana mungkin Papa pergi, dia ... dia cuma pingsan saja kan?" tanya Defgi lagi.


"Kakak harus terima kenyataan jika Papa sudah meninggal," ucap Deval.


"Tidak, mana bisa aku terima Papa pergi begitu saja, aku tidak rela," ucap Defgi dengan tangis sesenggukan.


"Sudah, ayo kita makamkan jasad Papa," ucap Deval.


"Iya, lebih cepat lebih bagus," ucap Defgi lagi.

__ADS_1


Para tetangga, teman dan kenalan mereka di beri tahu. Mereka pun datang melayat. Tak lupa Alneozro pun datang sebagai bela sungkawa.


Para anak-anaknya pun segera memakamkan Tuan besar Andes.


Mereka semua berkumpul di makam Tuan besar Andes dan mengirimkan doa.


Hujan rintik-rintik turun dari langit, orang-orang pun berangsur-angsur pergi dari makam tersebut.


Kini hanya tinggal anak-anak mereka yang masih setia berdiri di sana.


Grameisya juga ikut menaburkan bunga mawar di atas makam kakeknya. Ia memberi penghormatan terakhir untuk sang kakek.


"Ya udah, kita pulang yuk," ajak Deval.


Grameisya mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan makam Andes.


Kini Andes tinggal sendirian di dalam kuburan tanpa ada yang menemani.


Di rumah juga masih banyak orang-orang yang datang, tak lupa juga para wartawan juga datang untuk meliput berita tersebut.


"Papa, kenapa kakek meninggal?" tanya Grameisya.


"Inilah yang ingin Papa cari tahu dulu, Soalnya Papa belum bertanya pada sekretaris Adel. Tunggu semuanya sudah sedikit mereda baru kita usut masalahnya," ucap Deval.


Grameisya mengangguk.


'Tapi aku orangnya tidak sesabar itu, aku akan cari tahu,' batin Grameisya.

__ADS_1


Grameisya pun mendekati sekretaris Adel yang saat itu ia juga datang.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2