TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 146


__ADS_3

...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Saat malam tiba.


Grameisya pun mengerjakan foto-foto Gladis dan Mia lalu ia masukan ke dalam toko online yang baru ia buat. Ia juga mempromosikan di media sosial termasuk foto mereka yang memakai lingerie.


Video mereka yang memalukan itu ia ganti dengan orang banyak dan ia tempatkan di sebuah panggung. Suara mereka yang mengejek itu ia hilangkan dan ia ganti dengan suara tepuk tangan.


"Oke, gini saja sudah siap," ucap Grameisya mengupload video tersebut.


Brukkk!


Terlihat Heru yang pulang dalam keadaan teler, antara sadar dan tidak karena ia dalam pengaruh minuman keras.


Para pembantu datang membantunya berdiri karena ia tadi terjatuh saat di depan pintu.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya pak Ahmad membopong Heru.


"Di mana Papa? Aku mau minta bagian sahamku, aku punya hutang judi beberapa hari ini," ucapnya ingin menuju kamar Andes.


"Tuan, maaf. Selama Anda tidak pulang, Tuan besar Andes susah meninggal," ucap pak Ahmad ragu-ragu takut jika Heru terkejut.

__ADS_1


"Apa! Papa meninggal?" tanya Heru terbelalak.


"I-iya Tuan," jawab Pak Ahmad mengangguk. Mereka saat ini takut jika Heru mengamuk jika tahu yang sebenarnya.


"Bagus kalau gitu, aku tidak perlu persetujuan dia lagi untuk meminta bagian ku. Di mana surat itu berada?" tanya Heru sambil berjalan menuju kamar Andes.


"Tuan! Tuan!" panggil pak Ahmad dan para supir yang lain mengikuti Heru dari belakang.


Heru mengendor-gedor pintu kamar itu ingin membukanya.


Pintu kamar itu terkunci dan ia pun pergi ke ruang kerja. Kebetulan tadi Deval mengantuk dan lupa mengunci pintu kamar tersebut.


Ia masuk ke dalam dan mengacak-acak ruang kerja tersebut.


"Di mana surat itu hah! Dimana!" teriaknya sambil terus mencari.


"Diam kamu!" hardiknya. Ia berkeliling dengan membuka semua laci meja itu dan mengeluarkan berkas-berkas itu hingga berhamburan.


"Hey kamu! Cepat bangunkan Tuan Deval!" perintah pak Ahmad.


Salah satu pelayan menggedor pintu kamar Deval.


Duk! Duk!


Duk! Duk!

__ADS_1


"Tuan Deval! Tuan Deval! tolong keluarlah, Tuan Heru sedang mengamuk!" teriak pelayan itu.


Dari samar-samar, Deval mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.


Ia pun bangun dan membuka pintu tersebut.


Cklek!


"Ada apa Bi?" tanya Deval dengan mata sayup.


"Anu Tuan, Tuan Heru sedang mengamuk di rumah kerja mendiang Tuan besar Andes," jawab pembantu itu panik.


Deval langsung berlari dan menuju ruang kerja tersebut. Saat ia melihat, ruangan itu sudah penuh dengan kertas berkas yang di hambur-hamburkan oleh Heru.


"Heru! Apa yang kau lakukan!" teriak Deval.


"Oh, akhirnya kau datang juga, di mana surat pemegang saham itu? Berikan padaku!" pinta Heru dengan memegang kerah baju Deval.


"Hey! Sadarlah kau Heru! Kau pengaruh minuman keras," ucap Deval.


"Tidak! Aku sadar! Cepat berikan surat itu!" teriak Heru.


"Untuk apa kau meminta surat itu? Kau selama ini entah kemana mendadak pulang minta surat saham itu. Mana bisa aku berikan begitu saja," jawab Deval membelalakkan matanya.


"Aku sudah hutang 400 juta dengan ... dengan pemilik kasino itu, aku ... Aku harus membayarnya. Maka dari itu, cepat berikan surat itu agar aku bisa membayarnya!" pinta Heru.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


[Jangan lupa like, vote, komen dan hadiah ya, terima kasih 🥰🥰]


__ADS_2