TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 130


__ADS_3

...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Kukuruyuuuuuuukk!


Kukuruyuuuuuuuukk!


Terdengar juga kicauan burung yang sedang bercanda, terbang dari pohon ke pohon.


"Alneozro, ini sudah pagi, dari malam hingga sekarang kau terus melihat rumah itu, kau tidak mengantuk kah?" tanya Amar saat terbangun Alneozro tak hentinya melihat rumah itu.


"Ya sudah, aku kita pulang," ajak Alneozro menghidupkan mesin mobilnya dan kemudian meninggalkan rumah Grameisya.


☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi ini Grameisya sudah bangun, karena hari ini adalah hari pertandingan matematika tertulis.


Grameisya turun ke bawah dan ia pun seperti biasa sarapan pagi.


"Nona kok kelihatan bersemangat hari ini?" tanya Bi Ena tersenyum melihat Grameisya.

__ADS_1


"Tentu saja, karena mulai hari ini ada di adakan pertandingannya, mereka semua ingin mengeluarkan aku dari sekolah, tapi jika aku menang, kepala sekolah tidak akan mengeluarkan ku," ucap Grameisya.


"Lalu? Bagaimana dengan kami?" tanya Gladis yang tiba-tiba datang bersama Mia. Sepertinya pipi mereka tidak memerah lagi karena di kompres.


"Kalian? Terserah," jawab Grameisya mengangkat bahunya.


"Apa kamu juga ikut pertandingan itu juga biar tetap bersekolah?" tanya Gladis panik, karena ia sama sekali tidak pandai matematika.


"Terserah kalian," jawab Grameisya yang tidak perduli.


Mereka tampak frustasi sambil membaringkan kepala mereka di atas meja.


"Kamu, tetap bersekolah," ucap Grameisya kepada Defli.


Mereka pun berangkat bersama dan masuk mobil masing-masing.


Tapi untuk Defli, ia naik mobil yang ia setir sendiri, karena Papanya masuk penjara, tidak ada yang membayar supirnya lagi. Jadi ia naik sendiri saja.


☘️☘️☘️☘️☘️


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sekolah.


Para murid bersemangat.

__ADS_1


"Para seluruh peserta pertandingan harap kumpul di aula sekolah, kalian akan di beri lebel peserta pertandingan." Terdengar dari pengeras suara.


Grameisya pun berjalan menuju aula. Mereka tampak berbisik-bisik. Yang ikut adalah para murid jenius yang pernah ikut lomba di tahun kemaren.


"Jika dia kalah dia di keluarkan dari sekolah, dia adalah keluarga pembunuh. Maka dari itu jangan biarkan dia punya kesempatan untuk menang," ucap mereka berbisik.


"Jangan meragukan kepintaran ku, aku sudah adalah juara tingkat nasional," ucap seorang pria dengan bangganya.


"Sudah jelas jika kau pemenangnya," ucap mereka mengacungkan jempol.


Para peserta di minta untuk mengambil Lebel peserta lalu menyematkan di bahu sebelah kiri.


"Baiklah, karena hari ini sudah di mulai pertandingan tertulisnya, jadi pertandingannya akan di adakan di aula ini. Jadi untuk semua murid boleh melihat, tapi tidak ada yang boleh memberi tahu jawabannya. Jika ketahuan maka peserta akan didiskualifikasi," ucap pak Ali.


"Oke, untuk para peserta, akan di adakan beberapa menit lagi, kalian bersiaplah," ucap pak Ali.


"Jadi kamu ikut lomba ini?" tanya Defli mendekati Grameisya.


"Jika tidak, kita akan di keluarkan dari sekolah. Aku harus menang agar kita tetap bersekolah," ucap Grameisya.


Defli menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Maaf Grameisya, gara-gara Papa aku menjadi pembunuh, kamu kena dampaknya. Dan sekarang kamu yang harus ikut pertandingan ini agar kita tetap bersekolah," ucap Defli merasa bersalah.


"Ah sudahlah, lagian ikut pertandingan menyerukan," jawab Grameisya tersenyum.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2