
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Nggak boleh, kau hanya melihat wajahku yang tampan ini, kalau tidak nanti kau rugi jika ketampanan ku luntur saat tua nanti," ucap Alneozro.
"Cih! Dasar anak kecil!" umpat Grameisya.
Sudah pukul 12 malam, terlihat Alneozro menguap.
"Kau sudah mengantuk, sana tidur," ucap Grameisya.
"Iya, aku mengantuk, tolong temani aku tidur juga," ucap Alneozro.
"Haishhhh, tidur tinggal tidur aja pun. Udah sana tidur, kalau kau minta di jemput besok, tidur sekarang," perintah Grameisya.
"Iya, aku tidur sekarang, selamat malam bintang ku," ucap Alneozro tersenyum dan ia pun memutuskan panggilannya sambil tersenyum.
"Wek, bintang ku? Bintang macam apa itu?" tanya Grameisya mual.
"Ah, senang sekali dia menemaniku bekerja tadi, lain kali aku minta dia menemaniku lagu," ucap Alneozro menekuk bantal peluknya dengan memejamkan matanya sambil tersenyum.
Grameisya meletakkan ponselnya di atas meja. Baru saja ia letakkan ponselnya kembali berbunyi.
__ADS_1
"Ish! Dia ini kenapa menelpon lagi sih?" tanya Grameisya dengan malas mengambil ponselnya. Tapi saat ia lihat di ponselnya bukan nomor Alneozro, melainkan nomor yang tak di kenal.
"Eh, siapa ini?" tanya Grameisya, dan ia pun mengangkatnya.
"Halo," jawab Grameisya.
"Hay Grameisya." Terdengar suara seorang perempuan. Suara itu samar-samar seperti ia kenal.
"Kau Adinda?" tebak Grameisya ragu-ragu.
"Wah, kau sangat hebat sehingga bisa mengenali suara ku," ucap Adinda tertawa.
"Kau! Untuk apa kau menelpon ku?" tanya Grameisya.
"Kau akan tahu nanti setelah aku mengirim pesan kepada mu," ucap Adinda memutuskan panggilannya.
Tririt!
Grameisya meliah jika di gambar itu adalah Papanya yang di ikat di sebuah kursi.
"Papa!" Grameisya terkejut.
"Sialan kau Adinda!" ucap Grameisya geram.
Ponselnya kembali berbunyi yang menelponnya adalah Adinda dan ia segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Hey Adinda! Kenapa kau menangkap Papaku! Apa salah Papaku!" teriak Grameisya di dalam kamarnya itu.
"Hm ... kesalahan Papamu adalah, dia tidak ingin memberi tahu kode perusahaannya, mungkin dengan kamu datang maka mungkin akan membuat Papamu untuk memberi tahunya. Jadi, jika ingin Papa mu selamat maka serahkan kode perusahaan itu," ucap Adinda.
"Bagaimana aku tahu kodenya?" ucap Grameisya.
"Masa kau tidak tahu?" tanya Adinda menyingir.
"Aku tidak tahu, aku bahkan belum pernah ke perusahaan," ucap Grameisya.
"Ya sudah kalau begitu, dengan kamu ada di sini mungkin Papa mu akan memberi tahu kode sandi perusahaannya. Tapi ingat, kau hanya boleh datang sendiri, jika ada yang mengikuti mu atau kau menghubungi polisi, maka tamatlah riwayat Papamu yang tersayang ini!" ancam Adinda.
"Baiklah, kirimkan alamatnya," ucap Grameisya.
Adinda memutuskan panggilannya dan mengirimkan alamatnya.
Tririt!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Grameisya dan ia membukanya.
"Cukup jauh juga. Tapi aku harus punya persiapan untuk masuk ke sana. Karena mereka tidak akan membiarkan aku masuk dengan mudah," ucap Grameisya.
Grameisya mengambil jaket kulit berwarna hitam. Ia juga memakai celana legging sport lalu ia menuju ke dapur.
Grameisya melihat pisau dapur mana yang harus ia bawa.
__ADS_1
Ia pun mendapati pisau buah, ia membawa beberapa buah pisau lalu mengambil sarungnya dan menyisipkan di ujung sepatu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...