Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 100


__ADS_3

Mobil Fano kembali melaju membawa mereka menuju kediaman Pak Admidjaya. Namun saat di tengah jalan ternyata bahan bakar mobil Fano habis. Terpaksa Naon yang mengemudikan mobil itu membawa ke Pertamina terdekat. Sesampainya di Pertamina, pandangan mata Dakota tetap mengarah keluar, walau dia sudah berhenti menangis, dia masih tidak ingin menatap wajah Fano. Tidak sengaja pandangan mata Dakota tertuju pada pria tua yang turun dari mobil yang ada di depan mereka, karena mereka mengantri, pria tua itu singgah di Mini Market Pertamina.


“Sepertinya, aku mengenal pria tua itu, tapi dimana ya” gumam Dakota. Karena penasaran dengan pria itu, Dakota langsung membuka jendela mobil, berharap dia bisa mengenali wajah pria itu kembali. Fano yang ada di samping Dakota juga ikut membuka jendela mobil membiarkan udara dari luar masuk, namun Fano tidak menyadari tubuh istrinya sudah gemetar karena pria tua tadi.


Tidak berapa lama karena mobil yang ada di depan mereka sudah selesai giliran pengisian bahan bakar, pria tua itu kembali beranjak menuju ke mobil, namun mata pria tua itu bertemu pandang dengan Dakota. Begitu terkejutnya Dakota melihat wajah pria tua itu, bahkan pria itu sudah tersenyum padanya. Dakota segera menutup jendela mobil itu, bahkan tubuhnya semakin gemetar. Mobil yang membawa pria tua itu sudah melaju meninggalkan Pertamina.


“Tidak salah lagi, pria itu ... pria itu. Tuhan, aku tidak salah lihat, pria itu yang masuk kekamar nenek, dia yang membunuh nenek, lalu mereka menyeret ayah” gumam Dakota. Wajah Dakota sudah terlihat pucat karena pria tua tadi.


“Sayang, kamu kenapa, kamu baik-baik saja” tanya Fano melihat tubuh Dakota sudah keringat dingin. Tangan Fano dengan sigap langsung melap keringat istrinya sembari menutup jendela mobil. Entah karena efek jalan-jalan tadi, belum istirahat yang cukup, ditambah kehadiran pria tua tadi, tubuh Dakota sudah lemas. Fano tidak tega melihat keadaan Dakota, dia hanya bisa memeluk tubuh istrinya itu, bahkan Dakota sudah menyembunyikan wajahnya di pelukan Fano.


“Aku ingin pulang, aku ingin pulang ....” teriak Dakota.


“Iya sayang, kita akan pulang” ucap Fano menenangkan tubuh Dakota.


“Seandainya saja kau ingat semuanya, masa sejak usiamu 6 tahun hingga sekarang, aku bisa dengan mudah membantu permasalahanmu” gumam Fano.


“Aku ingin pulang ... aku nggak mau keluar lagi, hiks ....” tangis Dakota, dia sudah menangis di pelukan Fano.


“Naon, cepatlah kemudikan mobil ini” perintah Fano memegangi tubuh Dakota. Naon mengangguki perintah Fano, dia langsung mengemudikan mobil itu setelah selesai pengisian bahan bakar.


“Ada apa dengannya, kenapa dia tiba-tiba menangis lagi” gumam Fano, Fano semakin cemas melihat keadaan Dakota.


“Sayang, tolong jangan menangis, kau sudah menangis tadi, beri tahu aku kenapa kau menangis, aku ini suamimu” ucap Fano menatap wajah istrinya, namun Dakota tetap menyembunyikan wajahnya di dada Fano.


“Sayang, tolong jangan menangis” ucap Fano kembali dia membelai punggung Dakota. Dakota hanya terdiam dipelukan Fano, bahkan dia sudah cegukan karena menangis tadi. Mendengar cegukan istrinya, Fano meraih minuman yang sudah disediakan oleh Naon, dia memberikan minuman itu pada Dakota. Setelah meminum minuman itu, Dakota kembali menyembunyikan wajahnya dipelukan Fano, tangan Dakota sudah erat memeluk tubuh Fano. Fano hanya bisa menghela nafas, dia belum tahu persis penyebab Dakota menangis kembali.

__ADS_1


# Kediaman Pak Admidjaya.


“Kenapa dengannya?” tanya Pak Admidjaya mencemaskan cucunya, dia melihat Fano sudah menggendong tubuh Dakota, ternyata Dakota sudah tertidur dipelukan Fano. Fano hanya terdiam tidak menyahuti ucapan Pak Admidjaya, dia membawa tubuh Dakota menuju kamar Dakota. Naon segera menghubungi Dokter Mia untuk mencek keadaan Dakota.


Sesampainya di dalam kamar, Fano sudah mengganti pakaian Dakota, dia mengatur suhu kamar, agar tubuh istrinya itu nyaman. Fano sudah memijat kening Dakota, dengan lembut Fano memperlakukan istrinya itu, dia yakin Dakota sudah merasa pusing karena lelah menangis.


“Apa yang sudah terjadi” tanya Pak Admidjaya.


“Pak Admidjaya, aku tidak tahu penyebab dia menangis, awalnya dia menangis karena balon yang sudah kami beli tadi terbang keudara, dia langsung menangis terisak-isak karena balon itu, aku terpaksa membawa dia segera pulang, namun saat mobil berhenti di Pertamina, dia kembali menangis” ucap Fano mempersingkat kata menjelaskan kronologi Dakota menangis di pelukannya.


“Kita tunggu saja Dokter Mia, biar lebih jelas nanti” ucap Pak Admidjaya keluar dari kamar.


Beberapa menit kemudian, dengan langkah tergesa-gesa Dokter Mia sudah tiba di kediaman itu. Fano mempersilahkan Dokter Mia untuk mencek kesehatan Dakota. Namun Dokter Mia membangunkan tubuh Dakota, Dokter Mia merasa bahwa tubuh Dakota sudah kembali seperti semula. Fano dan Pak Admidjaya hanya bisa memantau dari dalam kamar, membiarkan Dokter Mia melakukan tugasnya. Saat Dakota sudah bangun dari tidurnya, Dokter Mia menyuruh Fano dan Pak Admidjaya segera keluar dari kamar. Awalnya Fano dan Pak Admidjaya saling memandang kebingungan karena sudah disuruh keluar.


“Kenapa kami harus keluar” tanya Pak Admidjaya.


Dokter Mia sudah mengajak Dakota berkomunikasi. Dokter Mia langsung melaksanakan tugasnya, dia membaca psikologis dari Dakota. Ada banyak sekali kejadian buruk yang menimpa Dakota dari usia 6 tahun, membuat semua ingatan Dakota menumpuk. Belum lagi akhir-akhir ini Dakota menerima perlakuan kasar dari Fano karena Fano saat itu sedang mabuk. Ingatan itu kembali membuat Dakota semakin sedih, dia sudah meminta pada Fano untuk tidak melayani Fano saat itu namun Fano tetap menyerang tubuh Dakota.


Setelah mengajak Dakota berbicara baik-baik, Dokter Mia sudah selesai melakukan tugasnya, dia kembali mensugesti Dakota dengan ucapan positif sebagai dogeng agar Dakota segera tidur, karena tubuh Dakota juga terlihat lelah, harus segera di istirahatkan supaya keadaan bayinya baik-baik saja.


Fano dan Pak Admidjaya sudah cemas di luar kamar, mereka sudah memandangi jam, kurang lebih sudah ada 3 jam Dokter Mia di dalam kamar itu, namun Dokter Mia belum juga keluar. Hal itu membuat mereka semakin khawatir.


Tidak berapa lama, Dokter Mia sudah keluar dari kamar, dia langsung menutup pintu kamar. Dokter Mia segera mengusir Fano dan Pak Admidjaya dari kamar itu. Fano dan Pak Admidjaya mengikut saja perintah dari Dokter Mia.


Melihat Siti yang baru saja tiba ke kediaman itu, Dokter Mia langsung menyuruh Siti menemani Dakota, karena dalam ingatan Dakota saat Dokter Mia baca tadi, Siti merupakan orang yang baik yang bisa membawa pengaruh positif terhadap Dakota. Sitipun melaksanakan tugasnya mengawasi tubuh Dakota.

__ADS_1


Dokter Mia sudah beranjak keruang tamu untuk berbicara serius dengan Fano dan Pak Admidjaya. Baru Dokter Mia duduk di sofa.


“Bagaimana keadaan istriku, apa dia dan anakku baik-baik saja” tanya Fano penasaran.


“Kau sangat lama di dalam, apa yang sudah kau lakukan padanya” tanya Pak Admidjaya, dia sudah kesal diperlakukan sebagai orang asing di rumahnya sendiri.


“Kalian tidak bisa tenang, aku juga butuh istirahat, aku bahkan belum minum air putih, kalian pikir jadi Dokter itu mudah” tegas Dokter Mia meminum minuman yang diberikan oleh Naon.


“Siapa suruh kau jadi Dokter” sindir Pak Admidjaya pelan.


“Ingatan dari pasien sudah berangsur pulih” ucap Dokter Mia membuka suara kembali setelah meneguk air putih.


Fano dan Pak Admidjaya langsung serius mendengar ucapan Dokter Mia.


“Maksud Dokter, istriku sudah mengingat semuanya, bahkan pernikahan kami” tanya Fano.


“Benar, hal yang membuat dia memaksa memorinya untuk mengingat karena insiden hari ini, namun aku tidak tahu persis, kemungkinan besar dia sudah bertemu dengan wajah pembunuh itu” ucap Dokter Mia. Mata Fano dan Pak Admidjaya langsung terbelalak.


“Apa mungkin, dia melihat wajah pembunuh itu saat kami di Pertamina tadi, dia bahkan menyembunyikan wajahnya setelah dari Pertamina tadi. Naon segera cek hasil Rekaman cctv saat kita di Pertamina tadi” perintah Fano pada Naon. Naon langsung mengangguk melaksanakan perintah dari Fano.


BERSAMBUNG..............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah setia mampir mengikuti kisah Fano dan Dakota🙏


Jangan lupa dukung novel ini, dengan like dan komentar, Oya Sesekali Vote juga😊

__ADS_1


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2