
Hari terus berjalan di iringi pergerakan waktu. Walau Fano dan Dakota tidur sudah pagi, mereka harus kembali beraktifitas seperti biasanya. Fano kembali bekerja di Reinhard Group sedang Dakota kembali bekerja di IndoBoutik.
Tidak tahu kapan serangan datang pada keluarga kecilnya baik Fano dan Dakota mulai waspada dalam bertindak. Saat Dakota sampai di IndoBoutik, Dakota sudah dikejutkan dengan serangkai bunga mawar yang masih berada di meja resepsionist. Entah bunga itu ditujukan untuk siapa, namun karena Dakota tidak menyukai bunga mawah perasaan Dakota tidak enak melihat bunga mawar berwarna merah itu bertengger di sana.
“Aku sudah buat peraturan di Butik ini, agar tidak menerima bunga mawar berwarna merah, jika itu untuk hadiah sesama karyawan aku bisa apa, aku tidak bisa memaksakan apa yang tidak kusuka untuk kularang juga pada mereka” batin Dakota memandangi bunga mawar sambil beranjak kekantornya.
“Selamat pagi Bu” ucap setiap karyawan yang lewat menyapa Dakota.
“Iya Pagi” ucap Dakota membalas sapaan karyawannya.
Dakota tetap fokus melakukan pekerjaannya mendesain gaun untuk pameran IndoBoutik yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Pagi itu semangat Dakota sudah semangat 45 bersama team desainer karena Dakota sebagai pemilik dari IndoBoutik, tugas Dakota saat ini hanya memantau kinerja dari team desainernya, namun tiba-tiba saja pelayan dari resepsionist membawa setangkai bunga mawar merah tadi menghampiri meja Dakota.
“Sepertinya ... bunga itu ditujukan untuk ku, aku harus terlihat baik-baik saja menerima bunga itu” batin Dakota menghentikan tugasnya saat melihat seorang pelayan wanita menghampirinya ruangannya. Dakota langsung keluar dari ruangan desainer menuju ruangannya.
“Ibu Dakota, bunga ini hadiah dari seseorang” ucap pelayan itu. Saat Dakota menerima bunga itu dari pelayan resepsionist wanita itu, Dakota melihat ada yang berbeda dari wanita itu. Dakotapun langsung bertindak memainkan matanya pada Siti yang sedari tadi selalu mengawasi pergerakan dari Dakota. Dengan sigap Siti menerima instruksi dari Dakota. Tubuh Siti langsung melompat berputar menghampiri pelayan itu.
“Bruk ....” telapak kaki Siti melayang pada pelayan wanita itu. Pelayan wanita itu bukannya terjatuh kelantai, dia malah kembali berdiri dari posisinya smabil menahan sakit dipunggungnya.
“Sial, ternyata dia profesional juga” batin Dakota. Dakota ikut melompat meraih tubuh wanita itu.
“Hei” pekik Dakota langsung mengunci tangan wanita itu dari belakang.
“Duak” pelayan wanita itu mencoba menendang kaki Dakota.
“Aduh” ringis Dakota menahan sakit dari tendangan wanita tadi.
“Wah, kau ternyata bukan wanita biasa, beraninya kau menyamar masuk kesini” pekik Siti memukul leher wanita itu.
“Nyonya anda tidak apa-apa” ucap bodyguard yang mendampingi Dakota masuk kedalam ruangannya.
“Kenpa kalian baru tiba” ucap Dakota menyerahkan tubuh pelayan itu pada bodyguardnya. Siti langsung bergerak mengambil obat untuk diolesi pada betis Dakota.
“Maaf nyonya” ucap bodyguard itu serentak sambil menyekap tubuh pelayan wanita tadi. Saat ini tubuh wanita itu sudah terikat.
“Cih ....” ucap wanita itu meludah pada Dakota.
“Amankan dia!” ucap Dakota. Dakota langsung melap pansusnya pakai tisue, kebetulan air liur wanita itu saat meludah tepat sasaran di kakinya.
Para bodyguard itu masih memegangi tubuh wanita itu. Mereka tidak akan memukul wanita karena bagi mereka wanita hanya bisa berhadapan dengan wanita.
“Tolong, jangan biarkan karyawan lain masuk kedalam ruangan ini” ucap Dakota. Para Bodyguardnya langsung melaksanakan instruksi dari Dakota. Saat ini tubuh dari wanita itu sudah terikat.
__ADS_1
“Berani sekali kau masuk kemari” ucap Dakota.
“Aku bertugas untuk mengantarkan bunga itu saja, kalau aku tidak menyamar, bunga itu tidak akan sampai padamu” ucap wanita itu sambil meronta-ronta untuk melepaskan ikatannya.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Dakota.
“Aku tidak tahu namanya” ucap wanita itu.
“Kau yakin?” ucap Dakota sambil mengeluarkan senjata api yang ada di dalam laci pribadinya.
“Nyonya Muda” ucap Siti dan para bodyguard itu serentak.
Dakota langsung menodongkan senjata api miliknya di kening wanita itu. Siti dan para bodyguard yang ada di ruangan itu begitu syok melihat tindakan dari Dakota. Ternyata selama Dakota berada di Jerman, Pak Reinhard sudah memberikan pelatihan khusus pada Dakota untuk menggunakan senjata api serta bela diri lebih mendalam. Tidak disangka saat ini Dakota menunjukkan kebolehannya menggunakan senjata api. Senjata api itu sengaja di buat dilaci oleh Pak Admidjaya sebagai alat perlidungan yang akan digunakan oleh cucunya.
“Kau mau mati ditanganku” ancam Dakota mulai menarik pelatuknya.
“Kau hanya mengancamku” ucap wanita itu. Tangan Dakota langsung meleset pada kaki wanita itu.
“Dor ....” peluru dari senjata api milik Dakota menerobos kaki wanita itu. Mata Siti dan para bodyguard tadi langsung terbelalak dengan keberanian yang dimiliki oleh Nyonya Muda mereka.
“Arghhh ....” teriak wanita itu meringis kesakitan sambil memperhatikan kakinya yang sudah mengeluarkan darah.
“Aku tidak main-main dengan ucapanku” ucap Dakota kembali mengarahkan senjata apinya kekening wanita itu.
“Kau jangan main-main denganku!” teriak Dakota.
“Aku mohon padamu, aku sudah punya anak, aku tidak bisa mati, anakku masih kecil” ucap wanita itu memohon pada Dakota.
Sadar dari ucapan wanita itu tulus memohon padanya. Dakota langsung menyerahkan senjata api miliknya pada Siti. Sitipun langsung menyimpan senjata api itu ke tempat semula senjata itu berada.
“Saat kau mengatakan anak, apa kau tidak malu pada dirimu sendiri, kau melakukan kejahatan, anakmu yang polos dan lugu itu akan sedih mengetahui ibunya seorang penjahat” ucap Dakota sambil memegangi betisnya. Ternyata tendangan dari wanita tadi sangat kuat, membuat betis keringnya mulai bengkak walau sudah diolesi obat luar.
“Aku tidak ada pilihan lain, suamiku seorang penjudi, kami memiliki banyak hutang, aku hanya bekerja sebagai pengrajin bunga mawar” ucap wanita itu sambil menahan luka di kakinya.
“Ternyata kau dibayar, siapa yang menyuruhmu?” tanya Dakota.
“Aku hanya menerima sejumlah uang dari seorang wanita, aku tidak tahu namanya, namun aku mengenal wajahnya” ucap wanita itu.
“Untuk apa tujuanmu datang kemari?” tanya Dakota memastikan tujuan wanita itu datang ke IndoBoutik.
“Aku disuruh mengantarkan paket bunga mawar saja” ucap wanita itu.
__ADS_1
“Kau jangan bohong?” pekik Dakota.
“Aku berkata jujur, aku hanya bekerja sebagai kurir pengantar bunga datang kemari, aku dibayar dengan uang yang banyak oleh wanita itu, dia menyuruhku untuk mengantarkan bunga mawar berwarna merah padamu, aku harus menyamar masuk kesini sebagai resepsionist” ucap wanita itu.
“Bagiamana kau mendapatkan pakaian dinas ini?” tanya Dakota memperhatikan pakaian wanita itu sama dengan pakaian dinas karyawan yang ada di IndoBoutik.
“Wanita itu sudah menyediakan pakaian ini untuk kupakai” ucap wanita itu.
“Jujurlah padaku” ucap Dakota.
“Tolong maafkan aku, aku sudah mengatakan yang sebenarnya, huhu ....” tangis wanita itu.
“Dia terlihat jujur” batin Dakota.
“Kau yakin tidak tahu namanya?” tanya Dakota.
“Tidak, aku tidak tahu namanya, namun aku kenal dengan wajahnya, karena aku merasa tugasku ini sangat beresiko, aku mencoba mengenali wajahnya, saat dia mengahampiriku dia memakai kaca mata hitam, tidak sengaja aku melirik saat dia melepas kaca matanya” ucap wanita itu.
“Seperti apa ciri-cirinya?” tanya Dakota.
“Wanita itu masih muda, rambutnya panjang lurus karena dismooting, serta bentuk matanya yang cipit” ucap wanita itu.
“Cipit” batin Dakota.
“Aku rasa dia orang yang kau kenal, karena dia juga sangat mengenalmu” ucap wanita itu.
“Aku belum percaya padamu, lalu kenapa kau begitu cekatan menahan serangan dari Siti” ucap Dakota menatap Siti.
“Aku sedikit menguasai bela diri” ucap wanita itu.
“Tolong percayalah padaku, aku hanya mengantarkan bunga mawar merah itu, di dalam bunga itu ada tulisan di tujukan untukmu, aku belum membacanya” ucap wanita itu.
Siti tahu bahwa Dakota tidak menyukai bunga mawar berwarna merah, Sitipun langsung meraih surat yang ada didalam bunga itu lalu menyerahkan surat itu pada Dakota. Dakota langsung membuka isi dari surat itu.
“Jala*g ini baru permulaan, kita pasti akan bertemu” tulis dari surat itu.
“Aku sudah tahu siapa wantia ini” batin Dakota.
BERSAMBUNG..........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Mohon like dan komentar ya, di Vote juga boleh🙏
__ADS_1
See You🙋🙋🙋