
Kapal Peti Kemas itu terus berlayar bahkan Pelabuhan Tanjung Periok sudah mulai tidak terlihat lagi karena kapal berlayar. Walau cuaca di laut pagi ini sangat terang, namun untuk angin masih kencang berhembus hingga menusuk kekulit.
Untuk penembak jitu yang sudah menyerang Kamila ternyata team bayangan suruhan Fano. Fano sengaja tidak membawa senjata apinya karena Fano sudah merencanakan bahwa team bayangan suruhannya telah menyediakan senjata api. Ketika Fano ikut membantu team bayangannya untuk menyerang Pak Sutan. Harusnya Fano tidak mau mengotori tangannya sendiri, namun melihat leher istrinya sudah dicekik oleh Pak Sutan.
“Paman, kau memang bukan manusia” pekik Fano sambil mengepalkan tangannya.
“Sayang ... bertahanlah” batin Fano sembari melihat sekitar, Fano pun berlari mengejar team bayangan yang sudah berdiri disudut atap kapal.
“Berikan padaku” ucap Fano pada team bayangannya.
“Silahkan Presdir” ucap salah satu team bayangan itu. Fano pun meraih senjata api dari team bayangannya. Tidak menunggu sampai 30 detik, Fano sudah menarik pelatuk dari senjata api yang dia pegang. Sasaran senjata api milik Fano langsung tepat sasaran pada kaki Pak Sutan. Tidak sampai disitu saja team bayangan pun mulai membantu Fano untuk menghabisi anak buah Pak Sutan.
“Presdir, kenapa tidak dibunuh saja” ucap salah satu team bayangan yang masih berada disamping Fano.
“Dia sudah banyak melakukan kesalahan dengan dia mati tidak akan menyelesaikan masalah” ucap Fano. Fano pun kembali memantau istrinya dari kejauhan. Namun saat Pak Sutan menarik rambut Dakota, tangan Fano kembali mengepal bahkan emosi Fano mulai naik.
“Apa lebih baik aku bunuh saja dia” batin Fano.
“Aku mohon pada kalian ... tolong menyerahlah, kasihani anakku ... anakku sedang sakit ....” teriak Dakota.
“Kalian tidak dengar! Apa perlu aku bunuh wanita ini ....” teriak Pak Sutan mengancam agar Fano keluar.
“Aku hitung sampai 3 kali” ucap Pak Sutan. Mendengar teriakan Dakota barusan, Fano pun langsung berlari untuk menghampiri istrinya.
“Sayang ....” teriak Fano langsung meraih tubuh Dakota.
“Suamiku, anak kita ... anak kita... ayahku, mama mertua juga disekap olehnya, huhu ....” ucap Dakota dalam pelukan suaminya.
“Ternyata kalian saling mencintai, ini semakin menarik, keluarga yang bahagia sebentar lagi akan berduka. Anak kalian ada ditanganku, jangan main-main denganku” ucap Pak Sutan.
__ADS_1
“Angkat tanganmu!” bentak Irma pada Fano. Fano terpaksa melepas pelukannya dari Dakota.
“Jangan menangis sayang” bisik Fano di telinga istrinya. Fano langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya. Irma pun langsung menodongkan senjata apinya kepelipis bagian kanan wajah Fano.
Tubuh Dakota kembali ambruk kelantai. Air mata Dakota terus mengalir mengingat anaknya Alfata masih disekap dan berbaring lemah.
“Cih, kisah kalian sangat mengharukan, sayangnya aku bukan seorang produser perfiliman, kisah kalian pasti akan mendapatkan piala oskar” celoteh Pak Sutan sambil membersihkan luka dikakinya dengan air mineral yang sudah diberikan oleh anak buahnya.
“Paman ... bisa tidak kau lepaskan istriku” ucap Fano pada Pak Sutan.
“Fano ... sejak kapan aku jadi pamanmu, kau itu tidak ada hubungan darah denganku, apa lagi ayahmu Purnomo itu. Walau kau menyandang marga Reinhard, bagiku kau hanya orang luar” ucap Pak Sutan.
“Aku tidak peduli kau menganggapku sebagai orang luar, bagiku kau tetaplah Pamanku. Benar yang kakek sampaikan padaku, bahwa Paman belum meninggal. Bisa tidak akhiri saja semua ini, kakek juga sangat merindukan Paman, dia meratapi kesalahannya dengan menetap di Jeman. Kami sudah mengajaknya untuk kembali ke Indonesia. Tahu tidak Paman, apa jawaban kakek saat kami berulang kali mengajaknya kembali, agar kakek ada keluarga yang mendampingi. Kakek mengatakan dia tidak ingin membuat Paman sedih, selama ini kakek tidak pernah mendekatkan diri pada kami, karena kesalahannya dimasa lampau memiliki 2 istri. Apa Paman tidak sedih melihat kakek menyiksa dirinya, tidak ada keluarga yang bersama dengannya” ucap Fano. Air mata Fano mulai mengalir mengingat kakeknya Pak Reinhard. Sejak kecil Fano selalu ingin mengajak Pak Reinhard untuk kembali ke Inonesia. Namun hanya jawaban yang sama yang Fano dapatkan dari kakeknya.
“Diam kau ... jangan bahas kakek tua itu, kalau bukan karena dia, aku tidak akan jadi seperti ini” pekik Pak Sutan sambil melemparkan botol air mineralnya pada wajah Fano. Wajah Fano pun ikut basah karena air yang ada dalam botol itu.
“Paman bisa tidak menganggap kami sebagai keluarga, tapi bagaimana dengan kakek, aku yakin Paman sangat menyayangi kakek, bahkan sampai sekarang Paman tidak pernah menyentuh atau pun mengusik kakek. Paman hanya malu dihadapan kakek, makanya Paman menghilang dan menyamar sebagai Mr. Pich untuk menutupi rasa bersalah Paman pada kakek. Paman harus tahu, papaku juga selalu menganggap Paman sebagai kakaknya, untuk apa Paman masih menyimpan dendam pada papaku” ucap Fano.
“Siapa bilang aku tidak menganggap Fano bukan sebagai anak kandungku” ucap Pak Purnomo sambil mengarahkan senjata apinya pada Pak Sutan.
“Papa” ucap Fano sambil melirik pada Pak Purnomo.
“Jangan bergerak” ancam Mail pada Irma. Sementara Naon juga datang dan mengarahkan senjata apinya yang ada di tangannya pada anak buah Pak Sutan. Ada lebih dari 10 orang bawahan Pak Sutan yang masih hidup. Mereka masih kebingungan merespon teriakan dari Mail. Tidak lama pasukan kepolisian yang sudah Pak Purnomo pesan dari Jakarta Pusat sudah datang berbondong-bondong menodongkan senjata api mereka pada bawahan Pak Sutan.
“Angkat tangan kalian ... satu pun dari antara kalian tidak boleh menggunakan senjata api, kalian sudah terkepung” teriak salah seorang polisi dengan toa. Irma pun langsung melemparkan senjata apinya karena sudah diancam oleh Mail.
“Kau datang juga Purnomo, aku pikir kau akan mengabaikan anak harammu ini” ucap Pak Sutan dengan santai sambil memainkan senjata api miliknya pada Dakota.
“Aku katakan padamu untuk mengangkat tanganmu!” Bentak Pak Purnomo pada Pak Sutan. Melihat Pak Sutan sudah di kepung, Fano pun buru-buru melepaskan ikatan tali pada istrinya. Begitu juga dengan Naon ikut melepaskan ikatan tali Yoki dan Kela.
__ADS_1
“Sayang, maafkan aku” ucap Fano sambil melap air mata istrinya.
“Huhu ... bagaimana dengan anak kita, ayahku dan mama” ucap Dakota sambil memeluk suaminya.
“Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja” ucap Fano menenangkan istrinya.
“Mentang-mentang kau membawa polisi aku harus takut padamu, begitu?” ucap Pak Sutan sambil menghidupkan api rokoknya.
“Kau masih bisa bersantai, katakan dimana istri dan cucuku!” pekik Pak Purnomo sambil mencekik leher Pak Sutan.
“Dengan kau mencekik ku, apa kau bisa menemukan mereka” cengir Pak Sutan pada Pak Purnomo.
“Bajinga* ini!” pekik Pak Purnomo. Melihat cengiran Pak Sutan barusan membuat emosi Pak Purnomo semakin naik.
“Brugh ....” kaki Pak Purnomo langsung mendarat ketubuh Pak Sutan.
“Hehe ... kau masih peduli juga pada Lena. Padahal Lena sangat setia padamu. Apa kau tahu, sebelum Lena mengandung Fano, aku lah yang membayar Dokter untuk mengatakan kau mandul. Aku juga yang sudah menjebak Lena agar tidur dengan pria asing. Karena kau sangat sibuk juga cuek padanya, kau tidak sadar, aku bisa masuk dan merusak rumah tanggamu secara perlahan. Bahkan aku sangat bahagia, aku bahkan membuat cucumu sampai melarat, rasa dendam di hatiku ini tersampaikan sampai kecucumu, kalau bisa sampai keturunanmu yang lain” ucap Pak Sutan.
“Brengsek, kau memang bukan manusia, kau mau mati dengan cara seperti apa!” teriak Pak Purnomo. Saat Pak Purnomo ingin melayangkan tinjunya pada Pak Sutan.
“Tunggu dulu ....” teriak Irma pada Pak Purnomo. Teriakan Irma membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
BERSAMBUNG...............
To Reader Wanita Presdir: Terimakasih untuk dukungan kalian terhadap novel ini. Untuk kalian yang sudah memberikan vote, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Jangan lupa tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian. Saya minta maaf kalau saya sangat lama up. 🤗
Kalian bisa juga mampir kekarya author ini.☺️
__ADS_1
See You 👋👋👋