Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 34. Tidak Jadi Minta Maaf


__ADS_3

Dakota kembali kekamarnya dengan malas dia membuka pintu kamarnya. Dakota merasa seperti bukan dirinya, bila di ingat-ingat kembali perkataannya tadi pada bibi Fano, hal itu membuatnya merasa bersalah.


“Ah, aku sudah keterlaluan tadi, bibi Fano itukan tidak tahu bahwa aku istrinya Fano, kenapa aku begitu lancang tadi. Besok aku harus minta maaf padanya” batin Dakota.


Dia langsung berbaring dikasur dengan pakaian kantornya yang masih menempel, bahkan kaca mata anti radiasi itu masih bertengger di matanya. Tidak lama kemudian kaca mata itu dia lepaskan dan mencoba menutup matanya. Perasaannya hari itu bercampur aduk membuat pikiran dan hatinya harus segera diistirahatkan.


“Kring ... kring ....” nada panggilan masuk handphone Dakota berbunyi. Kebetulan handphonenya masih berada disakunya, hal itu membuatnya terbangun dan melihat kontak handphone panggilan masuk. Ternyata Fano yang menghubunginya.


“Sayang” ucap Fano dari seberang. Dakota memang sudah sadar dari tidurnya yang sebentar tadi, mengingat kejadian di kantor tadi siang membuatnya malas menghadapi Fano bicara, walau sebenarnya dia sangat rindu mendengar suara suaminya itu.


“Sayang, apa kamu sudah tidur?” tanya Fano dari seberang.


“Iya, kenapa” ucap Dakota cuek.


“Apa kamu baik-baik saja” tanya Fano memastikan keadaan istrinya.


“Ya” ucap Dakota cuek lagi.


“Sayang, aku minta maaf kemarin tidak bisa” suara Fano terpotong dari seberang, tiba-tiba ada yang mengajak Fano mengobrol yaitu seorang wanita dan percakapan mereka masih terdengar oleh Dakota.


“Fano sayang, berbaque party udah dimulai, kamu ngapain disini, party ini tidak boleh kita lewatkan, teman-teman kita sudah menunggu” ucap wanita itu.


Sementara itu panggilan Fano masih terhubung dengan Dakota. Lama Dakota menunggu suaminya itu untuk berbicara kembali, namun Dakota tidak mendengar apapun dari panggilan mereka itu, akhirnya Dakota memutuskan panggilan tersebut.


“Tega sekali dia mengabaikan percakapan kami, aku ini masih dianggap atau bukan sih, minimal dia bilang selamat malam dan menutup panggilannya” batin Dakota.


Lagi-lagi Dakota kepikiran dengan kelakuan suaminya itu, Dakota mulai tidak tenang, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 23.40 wib. Mendengar kata berbeque, Dakota langsung kepikiran bahwa berbeque party itu tujuannya untuk mempererat hubungan sesama teman, mengingat Dakota tidak pernah melakukan atau ikut acara begituan, namun dia mengetahui tujuan acara dari berbeque party, apa lagi jika dilakukan sampai larut malam.


“Dia bahkan belum tidur dijam segini, masih ikut acara berbaque party dengan seorang wanita” batin Dakota.

__ADS_1


Malam itu menjadi malam yang panjang baginya, dia tidak bisa tidur dan masih mengingat perkataan seorang wanita yang mengajak Fano tadi dengan panggilan sayang yang terdengar sangat akrab. Dia mencoba mengerjakan pekerjaan kantornya karena matanya yang tidak bisa tidur lagi.


Namun pikirannya tetap tertuju pada suaminya, dia ingat data pribadi yang diberikan oleh Fano sebagai Presdir dari Reinhard Group. Memang data itu sebagian sudah dibaca olehnya. Karena pikirannya yang tidak tenang, Dakota mengulang kembali membaca data pribadi suaminya itu berharap menemukan petunjuk apakah Fano pernah memiliki seorang kekasih atau tidak. Dari halaman per halaman dia periksa dan betapa terkejutnya dia membaca artikel tentang Presdir Reinhard Group gagal tunangan, tepatnya 5 tahun yang lalu. Dakota membaca artikel itu, dari keterangan artikel mengatakan bahwa Fano ditolak oleh gadis cantik pilihan ibu Lena, karena penolakan itu Presdir Fano gagal bertunangan di Kota x. Dalam artikel tidak ada keterangan siapa gadis yang sudah menolak suaminya itu.


“Apa mungkin wanita yang berfoto mesra dengannya kemarin adalah gadis itu” batin Dakota.


# Meja Makan


Pagi itu Dakota buru-buru, dia sudah telat berangkat kekantor. Karena tidak bisa tidur tadi malam, ternyata menjelang subuh matanya sangat mengantuk, dia hanya merebahkan tubuhnya sebentar, namun malah keterusan, bahkan alarmnya sudah berbunyi berulang kali tidak didengarnya. Untungnya Siti mengetuk pintu kamarnya, kalau tidak bisa-bisa hari itu dia tidak pergi kekantor.


“Ah, padahal alarm sudah berbunyi tapi aku tidak mendengarnya sama sekali, kenapa aku bisa selalai ini” batin Dakota.


“Pagi mama” ucap Dakota menghampiri meja makan. Seharusnya Dakota langsung berangkat saja tanpa berbasa-basi dengan ibu Lena. Karena sudah bertekad untuk meminta maaf pada bibi Fano, dia memutuskan untuk ikut sarapan pagi.


“Tumben kamu kesiangan sayang? Apa kamu ada masalah?” tanya ibu Lena melihat menantunya itu terlihat lelah.


“Tidak apa-apa ma” ucap Dakota.


“Sayang, mama perhatikan kantung matamu sudah gelap, kamu tidak bisa tidur ya? Apa kamu ada masalah dengan suamimu?” tanya ibu Lena memastikan hubungan menantunya itu baik-baik saja dengan anaknya.


“Aku hanya mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda ma, mama tidak perlu khawatir” ucap Dakota berbohong. Dakota langsung melahap sarapan paginya. Dia melihat disekitar, mencari sosok wanita tua yaitu bibi Fano, namun belum juga muncul.


“Ya ampun, kamu benar-benar seorang Nyonya yang menumpang tanpa tahu malu, ck ... ck ....” ucap wantia itu membawa sup dari dapur. Dakota hanya diam dan mengabaikan perkataan wanita itu, dia hanya ingin menyampaikan maaf pada bibi Fano itu.


“Kakak ipar tidak perlu repot-repot, Dakota biasanya selalu membantu, kali ini dia kesiangan karena pekerjaan kantor” ucap ibu Lena membela menantunya.


“Apa dia tidak diajari orang tuanya, tidak memiliki tata kerama sama sekali, kalau dia memang menghargai aku sebagai tamu kenapa dia bangun kesiangan, apa dia sengaja bangun kesiangan agar aku yang memasak, katanya menantu dirumah ini” sindir wanita itu memandangi Dakota, wanita itu sudah duduk dikursinya.


Mendengar kata orang tua membuat hati Dakota semakin sakit, dari dulu sampai sekarang Dakota sangat benci jika ada orang yang menyinggung orang tuanya. Emosi Dakota mulai memanas.

__ADS_1


“Kenapa wanita ini terlihat memusuhiku, emang kenapa dengan orang tuaku” batin Dakota.


“Kakak ipar sudahlah, Dakota disini juga bukan untuk jadi pembantu, sudah ada pelayan dirumah ini. Justru selama ini dialah yang inisiatif turun tangan memasak sarapan pagi, karena dialah aku jadi ikut terbiasa bangun pagi membuat sarapan” ucap ibu Lena mengatakan yang sebenarnya.


“Adik ipar, apa kamu benar-benar sudah termakan pelet wanita culun ini, aku heran kenapa adik ipar begitu peduli padanya, bahkan penampilannya saja membuatku muak melihatnya” ucap wanita itu.


“Tak ....” Kedua tangan Dakota sudah dihempaskannya dimeja makan, bahkan sendoknya sudah terjatuh dari meja. Hal itu membuat ibu Lena dan wanita itu terkejut dengan sikap Dakota.


“Bibi, sebenarnya aku berniat minta maaf untuk kelancanganku kemarin, tapi kutarik lagi permintaan maafku itu, sepertinya bibi tidak pantas menerima maafku. Tau apa bibi dengan orang


tuaku, justru kerena orangtuakulah yang mendidiku untuk menyapa orang yang tidak dikenal, bukannya bibi yang menolak salamku kemarin. Aku sungguh minta maaf pada mama mertua sudah lancang terhadap tamu dirumah ini, aku sudah kenyang. Mama, bibi aku berangkat dulu” ucap Dakota langsung pamit dan meninggalkan ibu Lena dan wanita itu di meja makan.


“Ya ampun, bagaimana bisa adik ipar menganggap wanita culun itu sebagai menantumu” ucap wanita itu terheran-heran dengan sikap Dakota.


“Sudahlah kakak ipar, habiskan saja sarapan kakak ipar, kita harus berbelanja hari ini” ucap ibu Lena menenangkan wanita itu.


“Dakota aku kagum padamu yang tidak mudah ditindas oleh orang lain” batin ibu Lena.


“Wanita culun itu sangat sulit ditangani, Kamila kamu harus mencuri hati Fano, supaya wanita itu segera diusir dari rumah ini. Belum sehari aku disini, aku sudah muak dengannya” batin wanita itu.


BERSAMBUNG........


Hai Reader Wanita Presdir. Terima kasih sudah mampir.😊


Mohon like dan komentar ya.🙏🌹


Jangan lupa Vote juga😊


See You🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2