Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 131


__ADS_3

Selesai makan malam, kaum Adam yang ada di kediaman Reinhard sudah sibuk berbincang-bincang bahkan mereka mulai bermain ludo. Sementara Dakota juga sibuk menerima telvon dari keluarga terdekat.


“Kakek” ucap Dakota. Saat ini mereka sedang melalukan Video Call dengan Pak Admidjaya. Alfata langsung meraih handphone Dakota.


“Kakek Buyut” sapa Alfata sambil melambaikan tangannya.


“Alfata kau nakal ya, kapan datang kemari?” tanya Pak Admidjaya.


“Hie ... hie ... besok aku kesana dengan kakek” ucap Alfata.


“Serius, nanti kakek tunggu ternyata tidak datang” ucap Pak Admidjaya.


“Aku harus belajar dulu dengan kakek” ucap Alfata.


“Kau masih kecil sudah diberi beban pembelajaran, Pak Purnomo memang keterlaluan”’ ketus Pak Admidjaya.


“Benar kakek buyut, tolong kakek buyut marahi kakek Purnomo, aku bahkan dilarang main game” ucap Alfata memelas.


“Alfata, bunda belum bicara dengan kakek” ucap Dakota. Dakota langsung meraih handphonenya dari Alfata. Alfata pun beranjak untuk bergabung dengan ayahnya.


“Kakek baik-baik saja” ucap Dakota memperhatikan kondisi tubuh Pak Admidjaya mulai kurusan.


“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, jangan khawatir” ucap Pak Admidjaya.


“Kakek tidak mengkonsumsi santankan?” tanya Dakota.


“Sudah tidak lagi, wajar kakek mulai sakit-sakitan, kakek juga sudah berumur” ucap Pak Admidjaya.


“Kakek, nggak boleh ngomong begitu, anak Haris belum lahir, apa kakek tidak ingin melihat Haris jadi ayah, kenapa kakek menyerah menjalani hidup. Kita juga belum menemukan dimana keberadaan ayah” ucap Dakota. Mata Dakota mulai berkaca-kaca.


“Hari ini hari ulang tahunmu, kenapa kau bersedih, lupakan sejenak insiden itu” ucap Pak Admidjaya. Dakota langsung keluar dari Ruang Tamu. Karena air mata Dakota mulai mengalir, Dakota memilih tampat yang tenang. Akhirnya Dakota beranjak ke Taman Belakang yang ada di kediaman Reinhard. Sesampainya di Taman, Dakota kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Pak Admidjaya.


“Kakek harus janji untuk jaga kesehatan, besok aku akan antar makanan kesukaan kakek” ucap Dakota sambil melap pipinya yang mulai basah.


“Baiklah, kakek menelvonmu untuk mengucapkan selamat ulang tahun, kakek malah melihat cucu kakek menangis” ucap Pak Admidjaya.


“Kakek tolong jangan banyak pikiran” ucap Dakota.


“Bagaimana kakek tidak banyak pikiran, sampai saat ini kakek belum menemukan keberadaan ayahmu, kakek tidak bisa hidup tenang, anak semata wayang kakek belum juga kakek temukan, kakek tidak tahu umur kakek sampai berapa lama, tapi kakek berharap keinginan kakek sebelum kakek meninggal, kakek bisa bertemu dengan ayahmu” ucap Pak Admidjaya. Mata Pak Admidjaya pun mulai berkaca-kaca.


“Kakek ....” tangis Dakota mulai pecah mendengar keinginan terakhir kakeknya.


“Kakek nggak boleh ngomong begitu, hiks ...” ucap Dakota lagi sambil melap matanya.

__ADS_1


“Kakek tutup saja, cucu kakek malah menangis” ucap Pak Admidjaya. Panggilan Video Call itu langsung terputus.


Dakota kembali mengingat kenangan indah bersama ayahnya sewaktu kecil dulu.Dakota pun melacak galeri yang ada di handphonenya. Tidak lama air mata Dakota kembali keluar melihat foto ayahnya masih tampan sewaktu Dakota dan Elcid berfoto di taman bermain.


“Sebenarnya ayah ada dimana” batin Dakota.


Walau Fano sibuk bermain ludo bersama papanya, namun pikiran Fano tetap tertuju pada istrinya, apa lagi Dakota sudah menghilang dari ruang tamu. Fano memilih menghentikan permainannya dan dilanjutkan oleh Alfata. Fano mencari keberadaan istrinya di kamar mereka. Saat Fano buka pintu kamar, Fano tidak menemukan keberadaan Dakota. Akhirnya Fano bertanya pada Siti.


“Siti, kemana istriku?” tanya Fano.


“Presdir, tadi saya lihat Nyonya Muda sedang menelovon Pak Admidjaya, kalau tidak salah Nyonya berada di Taman Belakang” ucap Siti.


Fano pun langsung beranjak menuju Taman Belakang. Begitu terkejutnya Fano melihat istrinya menangis di dekat kursi santai sambil melihat layar handphonenya. Fano pun langsung menghampiri istrinya.


“Kenapa lagi dia menangis, tidak mungkin karena kejutan tadi” batin Fano.


“Sayang” ucap Fano. Fano langsung meraih tubuh istrinya dalam pelukannya.


“Kenapa kau menangis” bisik Fano. Dakota hanya diam, dia balas memeluk tubuh kekar suaminya itu. Dakota sudah menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Fano.


“Cerita saja, aku ini suamimu” bisik Fano kembali sambil mengelus punggung Dakota.


Dakota masih diam tidak ingin menyampaikan kesedihan dihatinya pada Fano. Fano yang inisiatif langsung meraih handphone Dakota. Fano melihat layar handphone istrinya terdapat foto ayah mertuanya sedang memeluk istrinya sewaktu kecil dulu.


“Sayang” ucap Fano.


“Hum” balas Dakota.


“Ada aku dan Alfata, cepat atau lambat kita pasti menemukan keberadaan ayah mertua, baik itu kabar duka maupun suka, kau harus siap menerima kenyataan” ucap Fano sambil merapikan rambut istrinya. Dakota pun menatap wajah suaminya.


“Suamiku ... aku sudah siap menerima kenyataan, jika ayahku sudah meninggal aku ingin melihat dimana mayat ayahku dan jika ayahku masih hidup, aku ingin memeluknya. Aku sangat sedih, barusan kakek menelvon, tapi karena aku melihat kakek terlihat kurusan aku khawatir padanya, pembicaraan kami malah sampai pada keinginan terakhir kakek ingin bertemu dengan ayah” ucap Dakota. Dakota kembali menenggelamkan wajahnya.


“Aku sangat paham dengan situasi Pak Admidjaya, ayah mana yang tidak akan sedih jika mengalami hal itu, tidak tau dimana keberadaan putranya selama puluhan tahun, aku saja yang berpisah dengan kalian selama 5 tahun, aku selalu bersedih, apa lagi beliau, pastinya tidak bisa tidur nyenyak selalu kepikiran” ucap Fano.


Fano kembali menenangkan istrinya, sambil mengelus dengan lembut punggung Dakota. Karena sudah letih berdiri, Fano membawa istrinya ketempat duduk di kursi santai yang ada di Taman. Setelah Dakota merasa baikan, Dakota langsung melepas tubuhnya dari pelukan suaminya.


“Sayang” ucap Fano untuk menatap wajah istrinya. Dakota langsung menatap wajah Fano.


“Hari ini hari ulang tahunmu, kau sudah dewasa, jangan suka ngambek lagi ya, juga mulai besok kau tidak boleh berdandan terlalu cantik, kau kembali saja jadi istriku yang culun seperti dulu” pinta Fano pada Dakota.


“Kenapa begitu, sudah jelas aku bekerja sebagai atasan dan aku juga bekerja di dunia fashion, kalau penampilanku buruk itu tidak mungkin” ucap Dakota.


“Maksudku kurangi saja riasanmu, kau tidak perlu cantik dihadapan orang lain, cukup dihadapanku saja, bisa-bisa setiap pria yang melihatmu langsung tertarik padamu, kau harus ingat, kau itu wanitaku” ucap Fano dengan wajahnya sudah malu-malu.

__ADS_1


“Suamiku ini masih saja cemburu, aku sudah punya anak dan suami, aku tidak peduli dengan lirikan pria-pria itu” ucap Dakota.


“Bukan begitu, intinya kau tidak boleh terlihat cantik saat pergi keluar baik itu ditempat kerja, bahkan Beni sudah jatuh cinta padamu, padahal itu hari pertama kalian bertemu” ucap Fano memalingkan wajahnya.


Dakota sangat paham dengan perasaan cemburu Fano pada dirinya. Dakota langung mengarahkan wajah Fano untuk menatapnya.


“Aku ini wanitamu, tidak akan berubah, dalam hatiku ini hanya ada Cleofano Reinhard tidak ada pria lain, paling pria kedua itu Alfata” ucap Dakota langsung mencium bibir suaminya. Ciuman itu hanya singkat.


“Baiklah, kau harus ingat aku ini lelakimu” ucap Fano. Dakota balas mengangguk.


“Oya, untuk acara pameran nanti, kita akan bertemu dengan Sena dan Beni, bisa juga bertemu dengan Irma. Aku yakin mereka akan melakukan rencana mereka di waktu pameran nanti. Apa kau sudah siap, aku juga sudah menyusun rencana untuk menghadapi mereka” ucap Fano.


“Aku sudah siap, aku ingin lihat wajah munafik mereka. Selama ini mereka adalah bawahan Mr. Pich, kenapa mereka selalu mengganggu kehidupan kita. Saat pameran nanti, anak kita tidak boleh keluar dari rumah, dia harus bersama dengan papa dan mama mertua” ucap Dakota. Dakota sudah menyandarkan kepalanya pada lengan Fano.


“Mereka harus menerima hukuman karena sudah mengganggu kenyamanan keluargaku, kita harus melakukan peran kita nanti, suapaya mereka tidak curiga” ucap Fano.


“Asalkan kau tidak tertarik saja pada mereka, aku tidak akan cemburu, palingan aku pura-pura cemburu sesuai dengan peranku” ucap Dakota.


“Bagus, sebagai wanitaku, istriku ini memang bisa diandalkan, bahkan istriku sangat handal menggunakan senjata api” ucap Fano menarik hidung Dakota.


“Aduh, sakit ....” ringis Dakota balas menarik hidung suaminya. Namun tidak sengaja tubuh Dakota malah jatuh menindih tubuh Fano.


“Sayang, kenapa tubumu semakin berisi” ucap Fano. Pipi Fano sudah merona memandangi kedua gunung kembar milik Dakota.


“Jangan mesum” ucap Dakota. Dakota ingin menarik tubuhnya dari Fano. Namun Fano malah menarik tubuh istrinya. Bahkan jarak wajah mereka semakin dekat, hingga bibir mereka bertemu.


“Embh .... ” Fano sudah meluma* bibir istrinya.


“Kenapa posisi ini terlihat aku sebagai wanita yang memangsa dia, bahkan aku sudah menindihnya” batin Dakota.


“Ayah ... bunda ... kalian sedang apa” ucap Alfata menghampiri orang tuanya.


“Fata!" teriak Fano dan Dakota bersamaan.


“Ups ... mataku ternodai lagi, aku datang diwaktu yang salah, kalian lanjutkan saja” tawa Alfata sambil berlari meninggalkan Taman.


“Anakku ini kebiasaan mengganggu, selalu saja datang di waktu yang tepat, membuat canggung saja” batin Fano.


BERSAMBUNG.............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir,🙏


Jangan lupa like dan komentar ya, di Vote juga boleh🙏

__ADS_1


See You🙋🙋🙋


__ADS_2