
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 wib. Dakota baru bangun dari tidurnya. Ternyata dia tidak bisa melawan ngantuk karena sudah tidur terlalu larut.
“Ah, kepalaku sangat sakit. Ini sudah pukul 05.00 wib, padahal aku sudah atur alarm seperti biasa, kenapa tidak bunyi ya, harusnya aku ikut bangun mengantarkannya kebandara” batin Dakota.
Kali ini Dakota bangun sedikit kesiangan dari sebelumnya. Walau begitu dia tetap melakukan kewajibannya membantu pelayan untuk memasak. Seperti biasa sebelum Dakota memasak dia menggulung rambutnya sampai sembunyi semua, dia tidak ingin terlihat sehelai pun terjatuh nanti saat memasak.
Namun saat dirumah, dia tidak memakai kaca mata culunnya, karena memang pada dasarnya matanya tidak minus. Saat dia melangkah menuju ruang dapur, dia melihat pria tua namun rambutnya sama sekali belum memutih sedang duduk di ruang tamu.
“Apa mungkin pria tua itu papa mertua, tapi papa mertua saat ini sudah berusia 63 tahun, seharusnya rambutnya sudah memutih, kakek saat ini sudah 65 tahun rambutnya sudah memutih semua hanay selisih 3 tahun” batin Dakota.
“Selamat pagi Nyonya Muda” ucap Siti menyambut Dakota didapur.
“Pagi juga Siti, oya apa kamu melihat mama mertua?” tanya Dakota. Dakota mencari ibu Lena, tidak ada di dapur seperti biasa ibu Lena seharusnya membantu juga.
“Oh, Nyonya Besar sedang membuat teh kesukaan Tuan Besar, mungkin sudah bergabung di Ruang Tamu Nyonya” ucap Siti.
“Apa, apa katamu tadi, Tuan Besar” ucap Dakota terkejut.
“Jadi pria itu benaran papa mertua, kenapa penampilannya masih terlihat muda dari usianya” batin Dakota.
“Iya Nyonya, Tuan Besar baru saja tiba dari luar kota” ucap Siti.
“Hmm, jadi pria tua tadi itu papa mertua, apa aku sapa dulu atau bagaimana ya. Ah, nanti saja, aku masak saja dulu” batin Dakota.
Selesai memasak Dakota langsung siap-siap merapikan dirinya untuk berangkat bekerja. Seperti biasa dia akan berangkat bekerja dengan penampilan culunnya.
Dakota menghampiri meja makan, namun ibu Lena tidak seperti biasa. Biasanya ibu Lena akan peduli padanya, atau terlebih dahulu menyapanya. Dia melihat situasi dimeja makan auranya sangat dingin.
“Selamat pagi papa dan mama” ucap Dakota menghampiri meja makan lalu mengambil posisi untuk duduk.
“Jadi ini papanya Fano, kenapa mereka tidak terlihat mirip ya, biasanya seorang ayah dan anak akan terlihat mirip walau sedikit, apa mungkin sifat mereka yang mirip” batin Dakota.
Tidak ada balasan ucapan dari Dakota tadi, membuatnya diam dan menyelesaikan sarapannya. Sementara itu Pak Purnomo sudah memandangi menantunya itu manyantap sarapannya.
“Menarik sekali anak ini, kenapa dia mirip sekali dengan Milen, apa mungkin dia ada hubungannya dengan Milen, tapi Milen hidup sebatangkara dari Panti asuhan, bagaimana bisa dia begitu mirip, bahkan Milen hanya sekali melahirkan, hanya Elcid Admidjaya. Jika anak Elcid, anak Elcid hanya Haris. Lalu kenapa bisa dia diterima oleh Lena. Lena sangat mengharapkan menantu dari keluarga yang baik-baik. Hmm... sepertinya istriku ini menyembunyikan sesuatu dariku, aku harus main-main dulu dengannya”batin Pak Purnomo.
__ADS_1
“Aku sudah menyelesaikan sarapanku, apa aku langsung berangkat saja, kenapa tidak ada yang membuka suara” batin Dakota lagi.
“Ehem, pa ini Dakota istri dari Fano” ucap ibu Lena membuka suara.
“Salam kenal papa mertua, aku Dakota Kaif” ucap Dakota berdiri dari duduknya.
“Hmm, aku tidak menyangka Fano bisa menikahimu, dari sekian banyak wanita yang sudah mendekatinya semuanya ditolak. Padahal penampilanmu bahkan dinilai dari segi standar penampilanmulah yang paling buruk. Memang selera anak tidak berguna itu jauh dari seleraku yang tinggi. Apa mungkin kau sudah hamil lebih dulu?” ucap Pak Purnomo memandang sinis pada menantunya.
“Pa, ini tidak seperti yang papa pikirkan” ucap ibu Lena.
“Mohon maaf papa mertua kalau penampilanku begitu buruk dimata anda, tapi aku bukan seperti yang papa mertua pikirkan, bagaimanapun ini pertemuan pertama kita, semoga papa mertua nyaman dengan kehadiranku” ucap Dakota.
“Asal usulmu saja tidak jelas, bagaimana bisa Fano menikahimu” ucap Pak Purnomo.
“Pa, bukannya papa tidak ingin mengusik kehidupan pribadi Fano” ucap ibu Lena memotong ucapan suaminya, dia tidak ingin melihat Dakota semakin tertekan dengan lontaran ucapan sinis dari suaminya.
“Mohon maaf papa mertua, sepertinya aku harus berangkat kerja. Papa dan mama mertua silahkan lanjutkan sarapannya. Aku undur diri dulu” ucap
Dakota meninggalkan ruang makan.
“Ah, sakit pa” ucap ibu Lena memegangi pergelangan tangannya.
“Ya Tuhan, sudah setua ini aku, masih juga harus mendapatkan perlakuan kasar dari suamiku ini” batin ibu Lena.
“Tak” pintu kamar terbuka oleh tendangan Pak Purnomo.
“Kau sudah keenakan ditinggal selama ini olehku ya” ucap Pak Purnomo menarik tali pinggangnya.
“Pa, aku minta maaf”
“Slas ... slas ....”pukulan tali pinggang bertubi-tubi mengenai punggung ibu Lena.
“Ah ....” ucap ibu Lena menahan sakit.
“Ini bukan yang pertama kali, aku harus bisa bertahan menghadapi suamiku ini, demi anakku” batin ibu Lena.
__ADS_1
“Katakan, siapa dia? Menantu yang sudah kau bawa kerumah ini” tanya Pak Purnomo masih memainkan ikat pinggangnya.
“Pa, sudah kubilang, dia anak temanku. Ibunya sudah sakit-sakitan, aku hanya kasihan padanya, setidaknya dia bisa mendapatkan perlindungan dari keluarga ini” ucap ibu Lena mangarang cerita.
“Plak ....” tamparan keras dari Pak Purnomo.
“Ah ... hiks ....” air mata ibu Lena sudah mengalir.
“Bukannya kau sudah terbiasa, kenapa harus menangis, tidak terima” ucap Pak Purnomo. Ibu Lena hanya terdiam, tidak pernah sekalipun melawan.
“Kau jangan berbohong padaku, jika aku mengetahui identitas asli wanita itu, aku akan menghabisimu” ucap Pak Purnomo.
“Slas ... tidak usah kau buka bajumu, kau sudah lupa dengan tugasmu” perintah Pak Purnomo.
Ibu Lena hanya melaksankan perintah suaminya, hal biasa yang selalu dia lakukan kalau suaminya sudah marah. Sementara pelayan tidak ada yang berani masuk untuk melerai tingkah laku Tuan Besarnya itu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan, mereka hanya akan terdiam, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Satu jam kemudian Pak Purnomo sudah keluar dari kamar istrinya menuju kamarnya. Memang sejak sah menjadi pasangan suami istri mereka hidup dikamar yang terpisah.
“Pelayan, tolong bantu wanita itu untuk membersihkan tubuhnya” perintah Pak Purnomo pada pelayan wanita yang sudah berdiri didepan pintu kamar.
“Baik Tuan Besar." Pelayan wanita itu masuk.
“Nyonya Besar” ucap pelayan wanita itu melihat pakaian Nyonya Besarnya sudah sobek dan penuh dengan luka luka ditubuhnya.
“Tolong keluarlah, aku ingin sendri” ucap ibu Lena.
“Tapi Nyonya Besar” ucap pelayan merasa kasihan.
“Kalian keluarlah” tegas ibu Lena sudah terbaring dilantai.
“Baik Nyonya” pelayan wanita tidak berani membantah perintah.
BERSAMBUNG.............
Hai Reader yang setia.😊
__ADS_1
Mohon like dan komentarnya ya. Untuk membangkitkan semangat penulis. Semoga terhibur.🙏🌹