Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 163


__ADS_3

Rapat pemegang saham Reinhard Group langsung dihadiri oleh Fano sendiri. Ada banyak pertanyaan di benak oang-orang yang bekerja pada perusahaan Reinhard Group, karena kehadiran Fano begitu tiba-tiba, membuat mereka seperti melihat hantu karena sebelumnya Fano sudah menghilang sejak kapal Peti Kemas meledak.


Pemberitaan di media pun langsung cepat beredar bahwa Presdir dari Reinhard Group masih hidup. Media masih meliput keluarga Reinhard karena hari ini Pak Sutan Reinhard diadili hukuman mati di Pengadilan Negeri. Puluhan aparat kepolisian dilibatkan melakukan penjagaan ketat karena keluarga Reinhard tidak ingin sedikit pun ada yang mengacaukan hasil putusan hakim.


Vonis hukuman mati sudah ditetapkan ketika hakim mengetok palu, hakim pun meminta terdakwa Pak Sutan untuk mengakui kesalahannya pada keluarga besar Reinhard. Pak Sutan tidak sedikit pun berbicara pada Pak Purnomo mau pun pada Fano, dia bahkan tidak menatap hanya berjalan melewati. Namun ketika Pak Sutan melihat keberadaan Pak Reinhard, langkah kaki Pak Sutan berhenti ketika melihat Pak Reinhard dan Yohana berdekatan. Kebetulan perut Yohana sudah buncit didampingi oleh Haris. Tangan Pak Sutan yang masih diborgol tidak bisa dengan leluasa bergerak, Pak Sutan pun mendekati Yohana.


“Kakek ....” ucap Yohana sembari melihat Pak Sutan mendekati perutnya.


“Jangan menangis, sekalipun aku mati, aku masih memiliki penerus. Anak yang kau kandung masih darah dagingku, aku pastikan anakmu akan melanjutkan balas dendamku ini” bisik Pak Sutan di telinga Yohana. Hal itu membuat tubuh Yohana langsung merinding karena ucapan Pak Reinhard barusan. Pak Sutan langsung pergi mendekati Pak Reinhard.


“Suamiku ....” ucap Yohana langsung memeluk tubuh Haris.


“Sayang, jangan dengarkan ucapannya, anak kita tidak akan menirunya” ucap Haris balas memeluk istrinya.


“Dia sudah tidak ada kesempatan untuk hidup, masih bisa memberikan titah buruk untuk anakku, aku sangat takut” ucap Yohana sembari melap air matanya.


“Pak Tua, kau masih hidup rupanya” ucap Pak Sutan sambil mencengir pada Pak Reinhard.


“Setelah apa yang kau perbuat pada ayah, bukannya kau harus minta maaf untuk yang terakhir kalinya” ucap Pak Purnomo sembari meraih tangan Pak Reinhard untuk menjauhi Pak Sutan.


“Purnomo, biarkan ayah bicara pada Sutan” ucap Pak Reinhard.


“Tapi ayah ....” ucap Pak Purnomo terpaksa membiarkan Pak Reinhard untuk berbicara pada Pak Sutan.


“Sutan, ayah sungguh minta maaf padamu, kau hanya punya waktu sampai besok. Sungguh ayah sudah salah menikahi perempuan lain selain ibumu. Ayah tahu kau sangat sayang pada keluarga Reinhard, sewaktu kau kecil ayah sudah tahu sebenarnya kau anak yang baik, ayah yang memberikan namamu, ayah yang pertama kali menggendongmu sewaktu kau lahir kedunia ini. Untuk mengembalikan rasa bersalah itu, ayah bahkan tidak pernah memperlakukan Purnomo dengan baik, ayah selalu melebihkan kasih sayang ayah padamu, selama ini ayah tidak pernah adil pada adikmu. Hal itu ternyata tidak cukup bagimu” ucap Pak Reinhard. Air mata Pak Reinhard pun mengalir mengingat masa kecil Pak Sutan dulu bersamanya.


“Aku tidak pernah memaafkanmu” ucap Pak Sutan langsung menghadap pada aparat kepolisian.


“Kakek, kenapa kau menangis” ucap Fano langsung memeluk kakeknya. Tangis Pak Reinhard pun pecah melihat putra pertamanya itu kembali di bawa oleh aparat kepolisian.


“Fano, aku yang pertama kali melihatnya lahir kedunia ini, aku malah harus menyaksikan kepergiannya besok, sepertinya kakek harus menghukum diri kakek” ucap Pak Reinhard.


“Kakek, cukup ... kakek tidak perlu menyalahkan diri sendiri, semua sudah berlalu, kakek harus terus hidup, masih panjang perjalanan kita” ucap Fano sembari melap air mata Pak Reinhard.


Keesokan harinya, tidak ada satu pun pihak keluarga yang ikut untuk menyaksikan hukuman mati untuk Pak Sutan. Setelah di eksekusi, pihak keluarga baru bisa bertemu degan Pak Sutan, walau hanya tinggal mayat saja. Mayat Pak Sutan sudah berada di dalam peti mati. Keluarga besar Reinhard langsung menguburkan mayat Pak Sutan hari itu juga karena semua keluarga sudah berkumpul semua.


“Ayah, sudah cukup kau menangis” ucap Pak Purnomo sembari mengajak Pak Reinhard untuk beranjak dari kuburan Pak Sutan. Semua pihak keluarga ikut memberikan bunga berkabung di atas kuburan Pak Reinhard begitu juga dengan Dakota. Dakota memberikan bunga mawar berwarna putih.


“Ada begitu banyak derita yang sudah aku alami selama ini. Setiap derita itu ternyata berhubungan denganmu, sungguh aku tidak tahu di kehidupan sebelumnya pernah bebuat apa padamu. Kau dengan mudah menghilangkan nyawa orang tanpa pandang buluh. Jika ada kehidupan selanjutnya semoga aku tidak bertemu denganmu” batin Dakota sembari meletakkan bunga itu.


“Paman, semua kesalahanmu sudah aku maafkan. Terima kasih sudah pernah menganggapku sebagai keponakanmu walau kau tidak tulus padaku, tapi aku selalu menganggapmu sebagai Pamanku. Aku akan menjaga Tasya untukmu” batin Fano sembari menatap wajah istrinya.


Setelah semuanya memberikan bunga berkabung. Mereka pun beranjak kembali kekediaman. Tidak lama kemudian petir pun menggelegar sangat kuat, bahkan gerimis mulai turun. Padahal sedari pagi tadi hari masih cerah, namun setelah kembali dari pemakaman, hujan turun sangat deras.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Fano dan Dakota turun dari mobil, ternyata semua orang sudah berkumpul di ruang tamu sembari berbincang-bincang.


“Nyonya Muda” ucap Siti ketika Dakota memasuki ruang tamu.


“Siti ... kau sudah sembuh” ucap Dakota sembari memeluk Siti.


“Sudah Nyonya, anda juga sudah sehat” ucap Siti melepas pelukannya.


“Syukurlah, kau baik-baik saja” ucap Dakota memperhatikan rambut Siti tidak seperti biasanya.


“Bukannya rambutmu panjang?” tanya Dakota saat memperhatikan penampilan Siti.


“Manajer Naon bilang rambut saya terlalu panjang, saya potong sedikit Nyonya” ucap Siti sambil melirik pada Naon.


“Tapi rambut ini terlalu pendek, Manajer Naon kenapa kau suruh dia memotong rambutnya?” tanya Dakota pada Naon.


“Nyonya, rambutnya akan kembali panjang lagi, saya hanya memberikan saran, lagian rambutnya pendek masih terlihat cantik, kalau panjang akan membuatnya semakin cantik” ucap Naon sembari menatap pada Siti.


“Sayang, kau tidak tahu kalau Naon menyukai wanita berambut pendek. Walau Hinata adalah wanita yang dia cintai di dunia maya, tapi untuk menjadi istrinya didunia nyata, dia sangat menyukai wanita berambut pendek” ucap Fano menghampiri Dakota sambil membawa handuk kecil. Fano pun melap rambut Dakota dengan handuk kecil karena sebelumya Fano dan Dakota paling terakhir kembali dari pemakaman karena mengurus hal yang harus diurus, membuat rambut mereka sempat diterpa oleh air hujan.


“Presdir hanya membual, Siti jangan dengarkan ucapan Presdir barusan” ucap Naon sembari menarik lengan Siti.


“Naon, kenapa kau jadi pengecut begitu, tinggal kau bilang saja padanya, apa susahnya sih” gerutu Fano masih mengeringkan rambut istrinya.


“Ucapan Presdir memang benar” ucap Naon langsung berjongkok. Tadinya semua orang sedang berbincang, namun karena Naon sedang jongkok, akhirnya perhatian semua orang tertuju pada Naon. Naon pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari jasnya.


“Siti, maukah kau menikah denganku, jadilah ibu dari anak kita nanti” ucap Naon sembari menggenggam jari-jemari Siti.


“Siti, apa lagi, terimalah ....” ucap Dakota sembari mengelus kumis tipis yang ada di wajah Fano. Dakota pun berbalik badan untuk melihat aksi Naon melamar Siti.


“Dasar Naon Bodoh, baru sekarang kau berani” ucap Fano sembari memeluk tubuh Dakota dari belakang.


“Terima ... terima ....” teriak semua orang yang ada diruangan itu. Wajah Siti sudah memerah melihat aksi Naon sangat gentel.


“Aku mau” ucap Siti. Naon pun langsung memakaikan cincin itu dijari manis tangan Siti yang kanan. Kemudian Naon memeluk Siti dihadapan semua orang. Siti balas memeluk Naon dengan erat.


“Tunggu dulu ....” ucap seseorang. Membuat pandangan semua orang tertuju pada sumber suara itu.


“Fata ....”f ucap Fano dan Dakota bersamaan.


“Siti Cantik, kau sudah janji akan menikahiku, jadi wonder women untukku, kenapa kau menikahi Paman Naon” ucap Alfata sembari menarik gaun yang Siti pakai. Stiti balas tersenyum mendengar ucapan Alfata barusan.


“Fata, kau masih bocah” ucap ibu Lena langsung mengangkat tubuh Fata. Semua orang tertawa melihat tingkah Alfata barusan.

__ADS_1


“Nenek, aku sudah besar, bukan bocah lagi” ucap Alfata mengoceh.


“Fata, Naon sedang melamar kekasihnya, jangan ganggu mereka” ucap ibu Lena sembari mencubit pipi Alfata.


“Lihat saja nanti kalau aku sudah besar, aku akan menjadikan semua wanita cantik menjadi istriku” ucap Alfata lagi.


“Alfata, istri cukup satu, tidak boleh banyak” ucap Yohana sembari ikut mencubit pipi Alfata.


“Stop, tante Yohana kau sangat kejam, pipiku sakit tau” ucap Alfata balas mencubit pipi Yohana.


“Lihatlah anakmu masih kecil tapi sudah berani ingin menjadikan semua wanita cantik sebagai istrinya” bisik Dakota di telinga suaminya.


“Dia tidak mewarisi sifatku, aku hanya butuh satu wanita saja sebagai wanitaku” balas Fano sembari mencium leher istrinya.


“Sayang, masih banyak orang disini” bisik Dakota mendorong wajah Fano dari lehernya.


“Bagaimana kalau kita pindah kekamar, kita juga harus segera mandi” bisik Fano lagi.


“Itu bukan ide yang bagus, kita masih ada tamu ....” ucapan Dakota terpotong ketika Fano mengendong tubuh Dakota.


“Fano, kau mau kemana?” tanya Pak Purnomo ketika melihat Fano menggendong Dakota.


“Apa yang kau lakukan, turunkan aku!” perintah Dakota sembari mencubit lengan Fano.


"Ini sangat memalukan" batin Dakota.


“Papa, sisanya sudah aku urus. Tolong jangan ganggu aku dan istriku, anggap saja kami masih pengantin baru” ucap Fano membawa Dakota beranjak dari ruang tamu. Semua orang sudah geleng kepala melihat tingkah Fano.


“Dasar anak ini, masih banyak tamu disini” gerutu Pak Purnomo kembali duduk di Sofa.


“Kakek, apa kakek kesal melihat ayah mengendong bunda. Kakek juga bisa balas ayah dengan mengendong nenek” ucap Alfata pada Pak Purnomo.


“Haha, Fata ... kau sangat polos” ucap Haris sembari menutup mulut Alfata. Semua orang jadi canggung mendengar ucapan Alfata barusan.


“Dia main pergi saja, padahal dia mau merayakan resepsi pernikahannya, mumpung semua orang disini, seharusnya kita menetapkan tanggalnya” oceh Pak Purnomo sembari meminum air mineral yang ada didepannya.


“Kenapa kau begitu tidak sabaran, mereka pasti akan mengadakan resepsi, lagian keluarga kita masih berkabung” ucap ibu Lena.


“Apa aku begitu cerewet, aku hanya ingin memberikan restuku untuk mereka” ucap Pak Purnomo sembari melonggarkan dasinya.


“Sepertinya kakek butuh pelukan, jangan marah-marah lagi kek, nanti kakek cepat tua” ucap Alfata langsung memeluk Pak Purnomo sembari mencium pipi Pak Purnomo. Semua orang malah tertawa mendengar ucapan Alfata barusan.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2