
INGATAN PAK ADMIDJAYA DAN FANO
# Resort di Kota X
Keesokan harinya, karena hari juga hari Sabtu hari bersamaan dengan ulang tahun ibu Milen. Keluarga Pak Admidjaya memilih merayakan ulang tahun ibu Milen yang ke 48 tahun di Resort milik Pak Admidjaya yang ada di Kota X. Kehadiran Dakota dalam acara ulang tahun itu sebagai teman dari Haris dan Tasya, bahkan penampilan dari Dakota dirubah sedikit agar terlihat tidak mirip dengan Haris.
Fano yang datang ke acara itu membawa rangkaian bunga mawar merah sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu Milen, kebetulan penampilan Fano saat itu berbeda dari biasanya, karena dia kabur dari pantauan Mail dan Naon dia memakai jaket hitam serta topi ke acara itu.
“Bruk ....” tubuh kecil Dakota sudah berlari tidak sengaja menabrak kaki Fano.
“Aduh ....” ucap Dakota.
“Hei, adik kecil, kau tidak apa-apa” ucap Fano mengangkat tubuh Dakota. Tidak berapa lama, Tasya sudah datang menghampiri Fano.
“Paman ... kau datang kesini” ucap Tasya memeluk Fano. Fano langsung berjongkok memegangi bunga mawarnya.
“Paman, dia ini temanku” ucap Tasya menunjuk Dakota.
“Om ini jahat” ucap Dakota memegangi pantatnya.
“Ommm? Hei aku bukan om om” ucap Fano heran mendengar ucapan Dakota, Fano langsung melepas pelukannya pada Tasya.
"Paman mau bertemu dengan nenek Milen, nenek Milen ada di kamarnya” ucap Tasya meraih tangan Dakota. Fano mengikut saja di ajak oleh Tasya menuju kamar ibu Milen.
“Om, kenapa pakai topi diruangan” tanya Dakota memperhatikan penampilan Fano.
“Adik kecil, setampan ini aku kau panggil om om” kesal Fano mendengar dirinya di panggil om om oleh Dakota.
__ADS_1
Tasya dan Dakota berlari meninggalkan Fano.
“Kalian jangan lari, bisa-bisa nanti terjatuh” tegur Fano mengejar kedua anak kecil itu. Benar saja yang diucapkan oleh Fano, Mereka terpleset kelantai bahkan lutut Dakota sudah berdarah.
“Haanghhh ....” tangis Dakota memegangi lututnya. Sementara Tasya, dia tidak apa-apa, karena tubuhnya menindih tubuh Dakota.
“Adik kecil, kau sangat ceroboh, sudah kubilang jangan lari-lari” ucap Fano menggendong tubuh Dakota menuju kamar ibu Milen.
“Om sakit ....” ucap Dakota dipelukan Fano.
“Berapa kali aku bilang, aku bukan ommu” ucap Fano. Akhrinya mereka sampai di depan kamar ibu Milen.
“Fano, kenapa dengannya” ucap ibu Milen melihat kedatangan Fano menggendong tubuh Dakota.
“Dia berlari dengan Tasya, kakinya terpleset dilantai membuat lututnya terluka” ucap Fano membersihkan luka Dakota. Dakota hanya memperhatikan tingkah Fano begitu cekatan mengobati luka kakinya.
Tidak berapa lama, karena Dakota yang sudah lelah bermain juga kakinya yang terluka dia jadi mengantuk dan tertidur di kamar ibu Milen. Fano langsung menyerahkan bunga mawar merah yang di pegangnya sedari tadi pada ibu Milen, ibu Milen menerima bunga itu dan meletakkan bunga itu di dekat tubuh Dakota. Fano pamit pada ibu Milen untuk menemui Pak Admidjaya yang sibuk meladeni tamu. Saat Fano dan Tasya keluar dari kamar ibu Milen, saat itu juga dua orang pria asing masuk ke kamar ibu Milen, mereka langsung menyekap tubuh ibu Milen.
“Bos, anak kecil itu sudah bangun, apa kita bunuh juga dia” ucap pria yang lebih muda.
"Dia masih kecil, dia tidak tahu apa-apa, kita tunggu Elcid datang kekamar ini” sahut mereka.
Beberapa menit kemudian, Elcid datang ke pintu kamar, namun pintu kamar terkunci dari dalam, karena merasa ada yang aneh Elcid memaksa menendang pintu, namun pintu sudah dibuka kembali oleh kedua pria itu.
“Mama” ucap Elcid meihat ibu Milen sudah tidak bernyawa, kedua pria itu langsung menghajar Elcid, Elcid masih sempat melakukan perlawanan, namun mulut Elcid sudah di bius. Dakota langsung teriak-teriak melihat ayahnya sudah di sekap.
“Ayahhhhh ... jangan bawa ayahku ....” teriak Dakota. Melihat tubuh Elcid yang sudah pingsan langsung dibawa keluar dari kamar.
__ADS_1
“Ayaahhhh ... kembalikan ayahku ....” teriak Dakota menggigit kaki pria yang lebih tua. Pria itu langsung memukul tubuh Dakota hingga pingsan.
“Ternyata dia memiliki seorang putri” ucap pria itu keluar dari kamar.
Pak Admidjaya yang sudah resah menghadapi tamu-tamu belum juga melihat kedatangan istri dan putranya, setahunya Elcid memanggil ibu Milen dari kamar, namun mereka belum juga muncul padahal acara tiup lilin untuk ibu Milen akan segera dimulai. Pak Admidjaya langsung menuju kamar istrinya ditemani Fano yang sibuk memegangi Haris dan Tasya. Begitu syoknya Pak Admidjaya mendapati istrinya sudah tidak bernyawa berlumuran darah di atas kasur, sedang Dakota pingsan dilantai.
Semua orang dalam acara itu langsung beranjak kelokasi, bahkan Polisi sudah mencek semua orang yang hadir dalam acara, namun Polisi tidak menemukan kedua pria asing itu. Duka mendalam dirasakan oleh Pak Admidjaya, dia harus merelakan wanita yang sudah setia mencintainya selama 29 tahun pernikahan mereka.
Sementara itu, saat Fano mengurusi masalah pembunuhan di Resort, dia malah dapat kabar buruk dari Naon.
“Halo, tuan muda, nyonya besar berada di Rumah Sakit, saat ini anda harus ke Rumah Sakit” ucap Naon dari seberang.
Fano melihat berita kabar hari ini dimedia sosial, Lena Laskara istri dari Pemimpin Reinhard Group masuk Rumah Sakit karena keracunan makanan. Fano langsung bergegas ke Rumah Sakit yang ada di Jakarta. Dia membawa Tasya bersamanya. Fano tidak habis pikir ternyata ancaman mamanya itu untuk bunuh diri menjadi nyata.
Saat Dakota sadar dari pingsan, dia sudah teriak-teriak mencari nenek dan ayahnya, dia meneriaki kedua pria asing yang membunuh nenek dan ayahnya, dia bahkan tidak bisa tidur. Kalau sudah tidur, saat bangun akan mencari keberadaan nenek dan ayahnya kembali. Begitu depresinya Pak Admidjaya kehilangan istri dan anaknya, bahkan tubuh Elcid yang dibawa kabur oleh kedua orang itu belum juga ada kabarnya hingga saat ini. Belum lagi melihat keadaan cucunya Dakota yang semakin hari semakin kurus karena tidak bisa tidur, tidak mau makan, sangat membenci bunga mawar berwarna merah. Akhirnya ingatan buruk Dakota di Sugesti oleh Dokter profesional. Namun ingatan Dakota membuat semua ingatannya hilang, dia hanya mengingat ibunya Endangsi.
“Aku hanya memiliki Haris dan Dakota. Haris akan tetap tinggal di rumahnya bersama Melda, bawalah Dakota ke Malang, hiduplah sebagai orang biasa disana, aku akan mengunjungi kalian” perintah Pak Admidjaya pada Endangsi.
“Tapi, Haris sudah dekat denganku, aku tidak bisa pisah dengan mereka” ucap Endangsi memohon.
“Aku tidak bisa berbuat lebih jauh, sudah baik aku serahkan Dakota padamu, karena dia hanya mengingat dirimu, Haris akan segera jadi penerusku. Berita kematianmu juga sudah tersebar, bagaimana bisa aku memunculkanmu lagi, yang ada nyawamu dan juga nyawa cucuku ikut terancam” tegas Pak Admidjaya.
“Maafkan saya, sudah lancang, saya akan membawa Dakota” ucap Endangsi.
“Jangan lupa, Dakota akan kembali padaku saat usianya sudah dewasa” ucap Pak Admidjaya.
BERSAMBUNG..................
__ADS_1
Hai Reader, Jangan lupa like dan komentar, dan Vote ya😊
See You🙋🙋🙋