
Fano berjaga semalaman untuk menemani istrinya itu, walau dia ngantuk sesekali matanya dia paksa terbuka untuk memeriksa apakah istrinya tiba-tiba akan terbangun, bahkan dia sudah menyiapkan bubur dan sup. Hingga subuh tiba ternyata istrinya itu belum bangun juga. Bahkan saat ini Fano sudah rapi untuk berangkat ke kantor.
“Halo” jawab Henri dari balik handphone Fano.
“Katamu istriku hanya demam ringan, tapi dia belum bangun juga” ucap Fano.
“Sepagi ini kau menghubungiku hanya menanyakan itu” ucap Henri baru bangun dari tidurnya, matanya masih mengantuk.
“Lalu untuk apa aku menghubungimu” ucap Fano kesal.
“Kau bodoh atau bagaimana sih, aku kan sudah bilang istrimu itu butuh istirahat yang cukup, infusnya belum habis, aku sudah menyuntikan obat penenang padanya agar dia bisa istirahat. Saat infusnya sudah habis kemungkinan siang nanti dia baru bangun” ucap Henri menjelaskan.
“Harusnya kau bilang semalam, aku sudah siaga berjaga untuknya” ucap Fano terlalu mengkhawatirkan istrinya.
“Haih ... kau sangat kekanakan, dia itu istrimu wajar saja kau berjaga” ucap Henri.
“Okelah, aku tutup dulu” ucap Fano mengakhiri panggilannya.
# Reinhard Group.
Fano sudah sibuk mengerjakan tugasnya dikantor, dia juga sudah menunggu kedatangan tamu dari Reliance Industries. Memang belum dijadwalkan pasti tamu dari Reliance Industries akan ke Reinhard Group dulu atau ke Admidjaya Group. Intinya mereka bersiap saja menyambut tamu penting yang akan berkunjung ke perusahaan mereka.
“Presdir” ucap Naon menghadap pada Fano.
“Kenapa Naon, apa mereka akan tiba kesini, hari juga sudah mau siang” ucap Fano memperhatikan jam tangannya sudah pukul 11.10 wib.
“Tamu dari Reliance Industries India dipastikan besok akan berkunjung kesini Presdir, tadi pihak manajernya mengabari” ucap Naon menjelaskan.
“Apa mereka ke Admidjaya Group dulu” tanya Fano sudah pasti dengan ucapannya.
“Benar Presdir” ucap Naon.
“Hmm, beritahu pada Susi bahwa mereka akan tiba besok” ucap Fano sudah merapikan dirinya.
“Baik Presdir” ucap Naon, dia hendak bergegas keluar dari ruangan itu namun dicegah oleh Fano.
“Tunggu dulu Naon” cegah Fano.
“Iya Presdir” jawab Naon berbalik badan menoleh pada Fano.
“Setelah dari ruangan Susi, kita langsung kembali kerumah” ucap Fano.
“Tapi Presdir, jadwal Presdir masih ada setelah makan siang harus kelapangan” ucap Naon mengingatkan jadwal Fano.
“Kita hanya sebentar kembali kerumah, agak sorean nanti masih bisa kelapangan” ucap Fano.
“Baik Presdir” ucap Naon keluar dari ruangan Presdir.
Tidak berapa lama kemudian Naon melaksanakan perintah Fano untuk memberitahukan pada Susi bahwa tamu dari india menunda kedatangan mereka ke kantor. Naon heran melihat Kamila sudah berada diruangan Susi.
__ADS_1
“Ada apa manajer Naon” tanya Susi pada Naon sudah masuk keruangannya.
“Susi, untuk tamu dari Reliance Industries India ditunda berkunjung hari ini kekantor, dipastikan besok mereka bisa hadir kesini” ucap Naon menjelaskan tujuannya datang menemui Susi.
“Hah, baiklah manajer Naon” ucap Susi menghela nafas, dia sangat kecewa dengan informasi yang disampaikan oleh Naon.
“Kalau begitu saya pamit Susi” ucap Naon, dia hendak bergegas keluar dari ruangan Susi, namun dicegah oleh Kamila yang sudah sedari tadi duduk di bangku tunggu ruangan Susi.
“Manajer setia Fano” ucap Kamila menghentikan langkah Naon.
“Iya nona Kamila” ucap Naon.
“Kenapa wanita culun itu tidak masuk kantor hari ini” ucap Kamila.
“Maksud nona Kamila, nona Dakota” ucap Naon.
“Wah, ternyata manajer pribadi Fano ini juga menutupi pernikahan Fano, hmm ....” batin Kamila.
“Iya Dakota, siapa lagi. Dia sebagai bawahan Susi tidak izin pada Susi untuk tidak masuk hari ini, bahkan Susi harus kewalahan karena informasi mendadak karena dia tidak masuk, Susi ikut menguasai bahannya, ternyata ditunda. Bagaimana menurut anda manajer Naon” ucap Kamila.
“Maaf nona Kamila, itu adalah perintah Presdir, Susi sebagai atasan nona Dakota berhak untuk menggantikan tugas beliau, karena beliau berhalangan hadir” ucap Naon.
“Jadi apa gunanya Susi sebagai atasan Dakota, kalau dia tidak bisa izin langsung pada Susi” ucap Kamila kembali memancing emosi Susi.
“Nona Kamila, saya rasa anda sudah terlalu ikut campur untuk urusan kantor, saya undur diri dulu” ucap Naon langsung keluar dari ruangan itu.
“Sial, dia menganggap aku orang luar, kita lihat saja nanti” batin Kamila.
“Kamu bisa lihat cin, wanita culun itu sudah merayu Fano juga Naon. Bahkan wanita culun itu tidak izin sama sekali padamu” cengir Kamila.
“Aku sangat benci pada wanita itu cin, dia sangat munafik. Bagaimana bisa Presdir Fano mengabariku subuh tadi bahwa wanita culun itu tidak akan masuk kekantor, apa mereka sudah sangat dekat. Bahakan dia tidak meminta izin dariku” kesal Susi mengeram.
“Cin, kalau kamu butuh bantuanku, aku pasti akan membantumu, apa lagi menghancurkan wanita culun itu. Itu hal mudah dilakukan” ucap Kamila.
“Kita lihat saja besok cin, kalau wanita culun itu berani muncul untuk menggantikan proyek ini, aku baru bertindak” ucap Susi masih kesal.
“Baiklah, ini sudah jam istirahat cin, kita sudah boleh pergi” ucap Kamila mengajak Susi keluar.
# Kediaman Reinhard
Fano kembali kerumah untuk istirahat sebentar dan juga untuk memastikan keadaan istrinya.
“Kenapa kamu kembali sayang?” tanya ibu Lena diruang tamu kedua dekat kamar Fano, dia sudah membawa semangkuk sup hangat.
“Apa dia sudah bangun” tanya Fano mengabaikan pertanyaan mamanya.
“Dakota baru saja bangun, mama berencana mau kasih dia minum ini, karena kamu sudah kembali kamu saja yang suapi dia” ucap ibu Lena menyerahkan sup pada Fano, ibu Lena memahami situasi dia langsung pergi setelah menyerahkan sup pada Fano. Fano menerima sup itu kemudian dia beranjak masuk kedalam kamarnya.
“Sayang, kamu sudah bangun” ucap Fano meletakkan sup hangat di atas meja samping kasur mereka. Siti yang berada didalam kamar mengerti, dia langsung keluar ketika Fano tiba dikamar itu.
__ADS_1
“Kenapa kamu pulang” ucap Dakota masih berbaring diatas kasur. Ternyata Dakota sudah sadar, dia juga sudah merasa baikan. Fano mengabaikan perkataan istrinya, dia meletakkan punggung tangannya di dahi Dakota. Setelah itu Fano mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkan tubuh Dakota diatas kasur.
“Baguslah, demammu sudah turun” ucap Fano masih mengkhawatirkan istrinya.
“Apa yang kau lakukan, aku bisa sendiri” ucap Dakota, dia heran melihat tingkah Fano.
“Kau harus minum sup ini” ucap Fano sudah menyendok sup dari mangkuk.
“Perutku rasanya mau pecah, dari tadi makan dan minum” batin Dakota mendengar perintah Fano.
“Aku bisa meminumnya, barusan aku juga sudah makan bubur dan minum air hangat. Aku tidak sakit parah, jangan berlebihan” ucap Dakota menepis sendok berisi sup yang di pegang Fano.
“Sudah berusaha bersikap romantis begini seperti di sinetron-sinetron, sabar ... sabar ... dia sedang sakit. Orang sakit banyak tingkahnya” batin Fano.
“Makan bubur saja tidak cukup, minumlah ini untuk memulihkan tubuhmu, kau sudah kelelahan akhir-akhir ini” ucap Fano menyendok kembali sup hangat itu dan menyodorkannya dekat dengan mulut Dakota.
“Aku bisa meminumnya sendiri, nanti akan aku minum” ucap Dakota mengabaikan sendok yang disodorkan oleh Fano.
“Kayaknya kau tidak bisa dimanjain ya” ucap Fano, dia sudah meminum sup itu memenuhi mulutnya, tidak lama kemudian.
“Embh ....” mulut Fano sudah menyentuh bibir Dakota. Kedua tangan Fano memegang wajah Dakota. Sup yang ada dalam mulutnya dia paksa masuk kedalam mulut istrinya, Fano memaksa bibir istrinya itu untuk menerima sup itu. Setelah sup itu diteguk oleh Dakota, tidak lama kemudian Fano menikmati bibir istrinya itu, dia meluma* bibir istrinya itu semakin dalam, namun hanya sebentar saja.
“Ukhuk ... kau mau membuatku keselek” ucap Dakota saat suaminya sudah melepaskan ciuman mereka.
“Aku hanya ingin memastikan kau sudah meminum sup ini, ini juga saran dari Henri” ucap Fano.
“Kau tidak bisa ya memperlakukan wanita dengan baik, aku kan sudah bilang, aku baru saja makan bubur, bubur yang aku makan itu juga sangat banyak tadi dan minum air hangat, aku kan juga bilang padamu tadi, nanti akan aku minum sup itu, aku kan tidak menolak untuk tidak meminumnya” ucap Dakota kesal, dia kembali membaringkan tubuhnya dan membelakangi Fano dengan punggungnya.
“Aku akan tetap menunggumu disini untuk menghabiskan sup ini” ucap Fano masih duduk disamping istrinya.
“Aku sudah mengantuk” ucap Dakota mengabaikan Fano.
“Kenapa sikap wanita ini mudah sekali berubah, kemarin aku sudah minta maaf padanya, kesalahan apa lagi yang kuperbuat. Seharusnya aku yang marah padanya karena acara kemarin, apa mungkin karena dia sakit” batin Fano.
Fano memeriksa kembali keadaan istrinya itu, ternyata istrinya sudah terlelap kembali.
“Mungkin efek obat penenang yang di berikan oleh Henri, dia sudah tidur dengan lelap” ucap Fano pelan. Fano memberikan kecupan dikening istrinya itu, kemudian dia kembali ke kantor setelah makan siang dirumahnya.
BERSAMBUNG........
Hai Reader😊
See you.😄
.
.
.
__ADS_1
.
Eh, jangan lupa like dan komentar ya.😊