Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 75


__ADS_3

Setelah kepergok oleh Naon dan Siti, perasaan Dakota tidak enak sore itu. Dengan secepat mungkin Dakota beranjak dari sofa untuk memakai pakaiannya kembali setelah dia dan Fano selesai bercinta.


“Sayang, kau tidak jadi olah raga” tanya Fano pada istrinya sambil memakai pakaiannya. Sementara Dakota tetap memakai pakaiannya dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.


“Sayang, biar aku bantu kamu olah raga” goda Fano memperhatikan wajah Dakota, sedari selesai mereka berdua bercinta tadi, Dakota tidak berani menatap wajah Fano.


“Tidak, aku baru saja selesai olah raga denganmu” ucap Dakota langsung berlari keluar dari ruangan fitnes.


“Haha ....” Fano masih bisa tertawa kecil melihat tingkah malu istrinya lari secepat mungkin keluar dari ruangan fitnes.


Tidak berapa lama Dakota langsung mandi karena hari juga sudah mau gelap, setelah Dakota mandi, Fano sudah masuk kekamar dan melihat istrinya sudah selesai mandi, sedang merapikan diri di meja rias kamar mereka.


“Tumben dia berdandan, apa dia masih mau melayaniku nanti malam” gumam Fano. Fano sudah senyum-senyum sendiri. Fano langsung masuk kekamar mandi.


Setelah selesai Fano mandi, dia sudah melihat istrinya berbaring di atas kasur mereka. Fano langsung memakai pakaian santainya.


“Sayang” ucap Fano mendekati tubuh istrinya.


“Hemm” ucap Dakota singkat, dia tidak berani mentap Fano.


“Kau tidak keluar” tanya Fano.


“Nanti aku keluar” ucap Dakota memalingkan tubuhnya.


“Baiklah, aku tunggu makan malam nanti” ucap Fano, dia langsung beranjak keluar dari kamar.


“Bagaimana aku bisa keluar, apa dia tidak tahu malu” batin Dakota.


# Ruang baca Fano.


Fano langsung masuk keruang baca, dia sudah mendapati Naon dan Siti di ruangan itu, mereka berdua berdiri dengan tubuh gemetar.


“Presdir ....” ucap Naon dan Siti bersamaan, ucapan mereka terdengar gugup.


Fano langsung duduk dikursinya.


“Kenapa kalian masih disini?” tanya Fano pada mereka berdua.


“Maksud Presdir apa?” tanya Naon kebingungan menatap Siti, Siti juga ikut kebingungan.


“Apa kalian sudah lupa dengan kejadian tadi” tegas Fano kembali.


“Tidak Presdir, kami sangat ingat" ucap Naon kembali.


“Duk ....” Siti kembali menendang kaki Naon.


“Astaga, manajer Naon bodoh” batin Siti.


“Kenapa kau menendangku” bisik Naon di samping Siti. Siti malah melotot padanya.


“Maaf Presdir, kami salah” ucap Siti pada Fano.


“Kalau kalian tahu salah, kenapa masih berdiri disini, apa kalian lupa” tegas Fano kembali.


“Tidak Presdir, kami ingat, kami akan lari keliling kediaman ini sebanyak 100 kali” ucap Naon, kesadaran Naon sudah kembali.


“Jadi, apa aku harus menyeret kalian berdua untuk keluar dari sini” tanya Fano.


“Tidak Presdir” ucap Naon dan Siti serentak mereka langsung lari terbirit- birit keluar dari ruang baca Fano.

__ADS_1


Fano kembali fokus dengan dokumennya, sambil memantau Naon dan Siti dari komputer yang ada di ruangan baca itu.


Naon dan Siti langsung melaksankan perintah hukuman dari Fano. Kalau kesalahan biasa mereka akan menerima hukuman lari mengelilingi kediaman Reinhard sebanyak 100 kali. Kalau kesalahan fatal, mereka berdua tidak bisa tidur sampai pagi.


“Huhh ... huh ....” nafas Naon ngos-ngosan.


“Manajer Naon kau sangat lama, ini masih putaran ke 73” ucap Siti.


“Siti tunggu aku, kita berhenti sejenak” ucap Naon.


“Kau sangat lemah” ucap Siti mengecilkan langkahnya, agar Naon bisa mengejarnya.


“Huuh.. Siti kita berhenti sejenak, kita kan hanya melakukannya sampai 100 kali, bukan berarti tidak bisa berhenti sebentar untuk istirahat” ucap Naon memegangi tangan Siti.


“Baiklah” ucap Siti mendudukkan pantantnya di atas rumput. Naon ikut mendudukkan pantatnya. Mereka berdua mengatur nafas masing-masing.


“Manajer Naon, kenapa Presdir begitu hebat di atas ranjang, padahal Presdir selalu sibuk, bahkan bisa melakukannya di atas sofa” tanya Siti pada Naon, dia masih mengingat adegan di ruang fitnes tadi.


“Benar Siti aku juga tidak tahu Presdir bisa sehebat itu” ucap Naon polos, mengingat kembali adegan live langsung tadi.


“Apa mungkin selama ini, dibelakang manajer Naon Presdir menonton video porno” ucap Siti pada Naon.


“Serius Siti, pantesan Presdir begitu hebat, aku harus belajar dairnya” ucap Naon polos.


“Bukkk ....” Siti sudah memukul bahu Naon.


“Kau kenapa sering memukulku” ucap Naon mengelus bahunya yang terasa sakit oleh tangan Siti. Tenaga Siti memang kuat.


“Kalau manajer Naon berani minta ajari dari Presdir, itu artinya manajer Naon cari mati” ucap Siti menggelengkan kepalanya.


Selesai mereka berbincang dan istirahat, mereka kembali melanjutkan hukuman mereka hingga putaran ke 100. Mereka tidak menyadari bahwa Fano sudah memantau mereka dari komputer Fano yaitu rekaman cctv kediaman Reinhard.


Selesai melakukan hukuman lari mengelilingi kediaman Reinhard Naon dan Siti kembali beranjak menuju ruang baca Fano, mereka berdua sudah ngos-ngosan dan berkeringat. Naon dan Siti sangat terkejut saat mereka sampai di depan pintu ruang baca Fano mendengar rekaman suara mereka diulang oleh Fano sebagai musik di ruangan itu.


Rekaman itu berisi “Apa mungkin selama ini di belakang manajer Naon Presdir menonton video porno” suara Siti. “Pantesan Presdir begitu hebat, aku harus belajar darinya” suara Naon.


Naon dan Siti langsung syok mendengar rekaman itu. Tubuh mereka sudah lemas, jika ada saja yang menyenggol mereka saat ini, pasti mereka langsung tumbang alias ko.


“Astaga, aku lupa kalau cctv ada di mana-mana, kenapa mulutku ini tidak bisa kujaga” gumam Siti.


“Siti, bisa tidak aku pura-pura pingsan saja” ucap Naon gemetar membuka pintu ruang baca Fano. Siti hanya diam pasrah mengikuti langkah Naon memasuki ruangan baca itu.


Melihat keberadaan Naon dan Siti di ruangan itu. Fano mengulangi rekaman itu dan semakin mengeraskan volume rekaman cctv tadi. Naon dan Siti semakin gemetar, mereka berdua saling menunduk.


“Ya ampun, apa yang akan Presdir lakukan pada kami” batin Siti.


Fano langsung mematikan rekaman cctv itu, dia kembali fokus pada Naon dan Siti.


“Apa kalian berdua kunikahkan saja” ucap Fano membuka suaranya. Naon dan Siti langsung terkejut mendengar ucapan Fano menikahkan mereka berdua.


“Tidak Presdir” ucap Siti secara terang-terangan menolak Naon. Naon langsung menatap pada Siti.


“Siapa juga yang mau menikah dengan wanita kuat sepertimu” bisik Naon pelan pada Siti.


“Kenapa Siti, apa karena Naon tidak hebat diatas ranjang. Perkataanmu memang benar Naon sangat polos juga bodoh” ucap Fano pada Siti. Naon dan Siti tidak tahu harus apa, Fano sedang menyinggung percakapan mereka berdua tadi.


“Bukan begitu Presdir” ucap Siti pelan.


“Apa itu yang kuajarkan selama ini padamu, atau kau sudah pernah menonton video porno, bisa-bisanya kau seorang perempuan menebak kata-kata itu” ucap Fano kembali. Wajah Siti langsung malu mendengar ucapan Fano.

__ADS_1


“Maaf Presdir saya salah” ucap Siti. Naon hanya menunduk.


“Dari mana kau mendapatkan ajaran itu” tanya Fano.


“Maaf Presdir, pelayan wanita disini semuanya sudah menikah, jadi mereka sering bercerita ke sesama pelayan wanita” ucap Siti jujur.


“Berarti kau sudah kebelet kawin, bahkan bisa bergosip dengan pelayan yang sudah menikah, apa kunikahkan saja kalian” ucap Fano.


“Maaf Presdir, kami salah, kami tidak akan mengatai Presdir lagi” ucap Naon meminta maaf.


“Kalian ulangi lagi hukuman kalian, sempat kalian tidak fokus melakukannya, lebih berat dari ini kalian terima nanti” tegas Fano.


“Maaf presdir kami salah” ucap Naon dan Siti bersamaan.


“Keluar ....” tegas Fano.


“Baik Presdir” ucap Naon dan Siti serentak, mereka berdua kembali lari dari ruangan itu.


Malam sudah tiba, Naon dan Siti masih melakukan hukuman mereka. Sementara Fano sudah menunggui Dakota di meja makan untuk makan malam, bahkan ibu Lena sudah duduk dikursinya.


“Fano, apa istrimu masih sakit, kenapa dia tidak keluar dari kamarnya” tanya ibu Lena, sedari tadi dia belum melihat batang hidung menantunya.


“Dia sudah sehat ma, aku akan menjemputnya ucap Fano pada ibu Lena.


Fano beranjak menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, dia melihat istrinya masih terbaring di atas kasur.


“Sayang, kenapa kau masih berbaring disini” ucap Fano mengelus pipi Dakota.


“Aku tidak mau keluar” ucap Dakota menyembunyikan wajahnya dengan selimut, dia masih malu-malu mengingat kejadian sore tadi.


“Sayang, mama sudah menunggu untuk makan malam” ucap Fano mengambil syal untuk dipakaikan pada Dakota. Fano langsung menarik selimut Dakota.


“Aku sudah bilang, tidak mau keluar” ucap Dakota manja. Fano mengabaikan penolakan Dakota. Dia duduk di samping istrinya dan menarik tubuh Dakota.


“Ini semua karenamu, kita sudah dipergoki oleh Siti dan manajer Naon” ucap Dakota memukul lengan Fano. Fano sudah memakaikan syal menutupi leher Dakota.


“Kau sudah memakai syal, ayolah kita keluar, aku juga sudah lapar” pinta Fano pada istrinya.


“Suamiku, bisakah aku tidak keluar, aku sangat malu, apa kau tidak malu” ucap Dakota memeluk tubuh Fano, berharap dia makan malam dari dalam kamarnya saja.


Terpaksa Fano mengangkat tubuh istrinya dipelukannya.


“Apa yang kau lakukan, aku tidak mau keluar” ucap Dakota meronta-ronta.


“Tidak baik membuat orang tua menunggu, hanya karena kesalahan tidak di sengaja” ucap Fano tetap menggendong tubuh Dakota menuju ruang makan. Dakota memeluk erat tubuh Fano, berharap tidak menemukan batang hidung Naon dan Siti. Dia menyembunyikan wajahnya dan memejamkan matanya di dada bidang Fano.


“Bisa-bisanya suamiku ini mengatakan kesalahan tidak disengaja” batin Dakota.


BERSAMBUNG.........


Hai Reader Wanita Presdir, semoga kita semua sehat selalu ya🙏


Ayo dukung novel ini, Jangan lupa like dan komentar ya😊


Jadiin Favorite untuk up lanjutan,


Sesekali Vote ya😄


See You 🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2