
INGATAN PAK ADMIDJAYA.
Tahun 1993 merupakan tahun pernikahan Elcid Admidjaya dengan Melda Sugiono. Tahun itu juga menjadi tahun terberat bagi Endangsi. Selama ini Elcid dan Melda sudah di jodohkan karena urusan bisnis dengan keluarga Sugiono. Endangsi yang mencintai Elcid harus mengikhlaskan kekasihnya itu menikahi Melda Sugiono. Memang hubungan Endangsi dengan Pak Admidjaya tidaklah baik, pasalnya Endangsi hanya seorang karyawan biasa dari perusahaan keluarga Sugiono. Hal yang membuat Pak Admidjaya tidak menyukai Endangsi karena dia seorang penari yang sudah banyak melayani tamu, Pak Admidjaya merasa bahwa status bukanlah masalah namun wanita penari pada masa itu sama saja dengan wanita malam.
Hingga 3 bulan pernikahan Elcid dan Melda. Ternyata setelah memeriksa ke Dokter kandungan, dapat dipastikan bahwa Melda tidak bisa memiliki anak karena tubuhnya yang tidak subur. Hal itu hanya dia sendiri yang tahu, dia menyembunyikan hal itu dari suaminya juga keluarga Admidjaya.
Karena menginginkan menjadi nyonya dari Admidjaya, Melda tetap mengatakan pada keluarga bahwa tubuhnya sangat subur, bahkan dia membohongi pada media bahwa dia sudah hamil selma 3 bulan. Selama pemeriksaan kehamilan Melda Sugiono tidak pernah meminta Elcid atau ibu Milen untuk menemaninya. Hingga hamil ke 9 bulan sebelum melahirkan, saat itu Pak Admidjaya heran dengan menantunya itu saat Elcid dan Melda mengunjungi kediaman Pak Admidjaya.
Pak Admidjaya melihat keadaan menantunya itu seperti bukan orang hamil, tubuhnya bahkan tidak terlihat berat padahal sudah hamil besar seperti istrinya dulu mengandung.
Karena merasa ada yang aneh dengan menantunya itu, Pak Admidjaya mengikuti jadwal pemeriksaan kehamilan Melda ke Rumah Sakit tempat dia biasa cek up. Namun begitu terkejutnya Pak Admidjaya melihat kedatangan Endangsi ke Rumah Sakit dengan tubuhnya sudah hamil besar juga berjalan memasuki Rumah Sakit ditemani oleh Melda. Pak Admidjaya langsung menyelidiki Dokter kandungan yang memeriksa kehamilan Melda Sugiono dan Endangsi. Saat itu tubuh Dokter kandungan itu sudah babak belur menghadap padanya.
“Maafkan saya tuan, saya tahu saya salah, keluarga saya diancam oleh nyonya Melda, benar nyonya Melda tidak hamil, selama ini hasil cek kehamilan dan usg itu semua milik nona Endangsi anak dari tuan Elcid” ucap Dokter.
“Berani sekali kau membohongi keluargaku” ucap Pak Admidjaya, dia sangat terkejut dengan menantunya itu sudah bertindak sejauh itu.
“Maaf tuan, keluarga saya menjadi taruhannya” ucap Dokter itu.
“Apa rencana Melda selanjutnya?” tanya Pak Admidjaya.
“Rencana Melda selanjutnya, kemungkinan jadwal nona Endangsi melahirkan sama dengan jadwal nyonya Melda. Walau sebenarnya hasil usg menunjukkan bahwa nona Endangsi hamil anak kembar, nyonya Melda menjanjikan pada nona Endangsi bahwa anak yang lahir satu untuk dia rawat satu lagi untuk nona Endangsi. Namun saat hari melahirkan itu tiba nanti, nyonya Melda memerintahkan saya untuk membunuh nona Endangsi, dalam pemberitaan nanti berita nona Endangsi meninggal saat melahirkan” ucap Dokter itu.
__ADS_1
“Kurang ajar sekali dia, bahkan bermain nyawa dengan ibu dari cucuku” ucap Pak Admidjaya.
“Maaf tuan saya salah” ucap Dokter itu.
“Ubah hasil pemeriksaan, katakan pada Melda bahwa anak yang dikandung oleh Endangsi tidak kembar, bekerja samalah denganku” perintah Pak Admidjaya.
“Baik tuan Admidjaya” ucap Dokter.
Setelah itu, jadwal untuk melahirkanpun tiba, Melda sudah berada di Rumah Sakit bersama dengan Elcid juga ibu Milen, karena semua Dokter juga perawat di Rumah Sakit itu sudah dibayar oleh Melda, mereka tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang melahirkan itu adalah Endangsi.
Ternyata anak yang dilahirkan oleh Endangsi benar-benar kembar, pertama lahir adalah Haris, selang 9 menit kemudian lahir keluar lagi Dakota. Karena Dokter sudah bekerja sama dengan Pak Admidjaya, Haris di serahkan pada Melda, sedang tubuh Endangsi yang baru melahirkan langsung diamankan keruangan lain. Namun dalam pemberitaan tetap dilaksanakan bahwa Endangsi dudah meninggal karena melahirkan, bahkan anak yang dilahirkan ikut meninggal.
Seminggu setelah Endangsi melahirkan, dia sudah berada di rumah kontrakan, bahkan ada pembantu yang melayaninya. Karena dia melahirkan normal, dia masih belum sepenuhnya pulih untuk bergerak bebas. Begitu terkejutnya Endangsi melihat keberadaan Pak Admidjaya sudah tiba di rumah kontrakan itu.
“Kau tidak perlu bergerak” ucap Pak Admidjaya duduk di kursi ruang tamu. Pak Admidjaya langsung menyuruh pembantu yang ada di rumah itu keluar. Hanya Seto yang berada dalam rumah itu bersama mereka.
“Apa Pak Admidjaya sudah mengetahui segalanya. Aku minta maaf untuk semua ini, aku sudah janji pada tuan untuk menjauhi putra anda, namun untuk anak ini, ini bukan salah Elcid, akulah yang patut di salahkan, saat itu aku dijebak oleh seseorang untuk tidur dengan Elcid, bukan hanya sekali aku tidur dengannya sudah lebih dari itu, namun seingatku, saat itu aku dalam keadaan tidak sadar, aku tidak ada niat untuk mengandung anaknya, bahkan Elcid tidak tahu hal ini bahwa aku sudah hamil. Saat aku tahu aku hamil, aku langsung kabur ke India. Tidak lama aku disana karena aku langsung di telvon oleh Melda. Aku baru sadar ternyata Melda yang sudah menjebak aku, dia menginginkan anak yang ada dalam kandunganku. Melda mengancam aku dan akan menghancurkan hidup juga karirku, aku tidak ada pilihan lain, aku hanya bisa mengikut saja” ucap Endangsi panjang lebar, matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya ini bukan salahmu, rawatlah bayi itu dengan baik, namun kau tidak boleh keluar kemanapun, bekerjapun kau tidak boleh, karena pemberitaan kematianmu sudah tersebar” ucap Pak Admidjaya.
“Aku tidak tahu ternyata ini rencana dari Melda, jadi Pak Admidjaya yang sudah menyelamatkan aku” tanya Endangsi.
__ADS_1
“Aku tidak pernah peduli denganmu, namun kau sudah melahirkan cucuku, aku terpaksa menyelamatkanmu, aku tidak ingin cucuku terpisah dari ibu kandungnya, bagaimanapun kasih sayang dari ibu kandung itu lebih baik dari pada ibu tiri” ucap Pak Admidjaya.
Waktupun terus berjalan, 6 tahun kemudian Haris hidup di tengah-tengah rumah tangga Elcid dan Melda, karena kediaman Elcid dan orang tuanya terpisah, ibu Milen memilih lebih sering menginap di rumah putranya untuk menjaga Haris.
“Nak, kau tidak bisa lihat, istrimu itu bahkan tidak pernah memberikan Asi pada Haris, dia juga tidak bisa menjaga Haris dengan baik, apa kamu tidak kasihan dengan Haris, sebenarnya Haris ini dilahirkan olehnya atau bukan, Haris bahkan tidak akrab dengan ibu kandungnya, kau harus periksa kembali istrimu itu” ucap ibu Milen, Haris sedang belajar bersama dengan Tasya di kediaman itu.
Tidak berapa lama Melda sudah tiba dikediaman itu, dia habis shoping dengan teman-temannya, karena ibu mertuanya terlihat serius berbicara denga suaminya, dia memilih menguping pembicaraan anak dan ibu itu.
“Ma, kenapa membahas ini terus, sudah jelas mama ada di Rumah Sakit saat itu, kenapa mama meragukan Melda, bahkan kemarin mama sudah melihat hasil tes DNA, Haris itu anak kandungku” ucap Elcid.
“Apa kau sudah cek tes dengan Melda kecocokan mereka” tanya ibu Milen.
“Mama sangat ngeyel, aku akan cek tes DNA Haris dan Melda” ucap Elcid.
“Nak, bukannya mama tidak percaya, mama melihat sikap Melda terhadap Haris terlihat sebagai ibu tiri, mama tidak tega melihat hal itu” ucap ibu Milen meninggalkan Elcid.
“Sial, lambat laun kedua orang ini akan sadar juga kalau aku bukanlah ibu kandung Haris, aku harus susun rencana, kalau harus menghilangkan nyawa ibu mertua itu juga tidak masalah, toh aku sudah menghilangkan nyawa Endangsi” batin Melda.
BERSAMBUNG..............
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar ya, Oya Sesekali Vote ya, hihi😊
See You 🙋🙋🙋