
Selesai weekend Dakota kembali dengan kesibukannya di kantor. Dia harus menyelesaikan proposal kerja sama, karena dia adalah penangung jawab untuk kerja sama kali ini, dia mendesain rancangannya sebagus mungkin, karena rancangannya akan dia buat dalam bentuk format gambar dan video yang menarik juga tentunya.
Tangannya yang sudah sibuk bergerak didepan layar komputer dengan konsentrasi penuh, bahkan saat ada karyawan lain yang mengajaknya mengobrol santai dia hanya menjawab “hmm”, setelah itu dia lanjutkan lagi konsentrasinya. Namun dia lupa bahwa Susi sudah menyuruhnya dari tadi pagi untuk menghadap keruangannya.
“Dakota” ucap Susi dari dalam ruangannya. Suara Susi memang masih satu oktaf, walau terdengar tidak keras biasanya karyawan yang dipanggil dari ruangannya itu akan mendengar. Beda dengan Dakota yang tetap lanjut mengerjakan tugasnya dan menghiraukan panggilan dari atasannya.
“Dakota ....” teriak Susi dari ruangannya. Suaranya sudah terdengar keras membuat semua orang yang berada di ruangan Desain Interior menoleh pada Dakota. Semua karyawan yang ada diruangan itu sudah beranggapan bahwa Dakota akan dimarahi oleh Susi.
“Eh, copot-copot” ucap Dakota mendengar suara keras Susi. Dakota yang terkejut langsung tersadar sudah dipandangi oleh sesama teman sekantor diruangan itu.
“Aduh, ternyata yang memanggilku tadi itu bu Susi” batin Dakota masuk keruangan Susi.
Langkah kaki Dakota berhenti di kursi tunggu ruangan Susi. Ternyata Susi sedang menerima telvon dari orang luar dan suara handphonenya tidak di silent membuat pembicaraan Susi dengan orang yang ditelvon terdengar oleh Dakota.
“Aduh cin, hebat banget kamu dari luar negeri langsung ke Kota X dan malah bertemu dengan Presdir Fano” ucap Susi.
“Ah, aku baru ingat kota X, iya ini pembicaraan bu Susi dengan teman wanita yang ditelvonnya kemarin. Apa yang dia katakan bertemu dengan suamiku? Sebenarnya siapa dia ya?” batin Dakota tetap menguping pembicaraan Susi.
“Iya cin, aku sudah yakin akan bertemu dengannya di Kota X ini, Kota X ini juga merupakan tempat terindah yang tidak akan kami lupakan” ucap suara dari seberang.
“Kamu kayak nebak aja ya cin bisa langsung bertemu dengan Presdir disana. Tapi bukannya Presdir Fano kesana karena urusan perusahaan ya cin” ucap Susi.
“Setahuku dia kesini karena perintah Paman papanya Fano” ucap suara dari seberang.
“Wah, bahkan calon papa mertuamu juga ada disana cin, jangan sampai dilepas lagi Presdir Fano cin” sahut Susi.
“Iya cin itu pasti. Oya cin, aku akan kembali ke Jakarta dengan Fano cin, kemungkinan seminggu lagilah” ucap suara dari seberang. Susi terus melanjutkan telvonnya dan tidak menyadari Dakota yang sudah duduk dengan perasaannya yang sudah geram mendengar calon papa mertua yang disebutkan oleh Susi tadi.
“Siapa dia? Siapa dia? Bu Susi bilang calon papa mertua? Tadi dia bilang Fano kesana karena papa mertua yang memanggilnya, jadi bukan karena urusan perusahaan. Lalu kenapa perempuan itu ke Kota X juga. Apa hubungan perempuan itu dengan suamiku. Ah, aku lupa kalau kami menikah tidak ada publik yang tahu. Apa aku hanya diam saja mendengar hal ini, tapi hatiku kenapa rasanya sakit ya. Mereka disana bahkan seminggu dan pulang bareng?” batin Dakota penuh dengan tanya dan prasangka.
“Kamu sudah disini rupanya?” ucap Susi dengan suara yang keras, membuat Dakota terkejut dengan lamunannya.
“Eh, iya bu Susi, maaf bu Susi, tadi ibu memanggil saya?” ucap Dakota menghadap pada Susi.
“Aku sudah memanggilmu, tapi kamu tidak mendengarku. Memang bekerja itu butuh konsentrasi penuh, tapi perhatikan juga atasanmu saat memanggil” ketus Susi.
“Maaf bu Susi, saya terlalu berkonsentrasi, hal ini tidak akan terulang lagi” ucap Dakota.
“Saya ingin membicarakan mengenai proyek kerja sama. Apa sudah kamu persiapkan untuk format gambar dan videonya?” tanya Susi.
“Sudah bu Susi, rencana sore ini akan saya tunjukkan pada bu Susi” ucap Dakota.
“Kirimkan ke emailku kalau sudah kamu buat, bagaimanapun kamu adalah bawahanku, kalau sampai kamu tidak bisa mendapatkan kontrak dengan pihak Reliance Industries aku yakin kamu akan ditendang keluar dari perusahaan ini. Aku harus memeriksa hasil kerja kerasmu terlebih dahulu takutnya nanti aku ikut juga kena tendang dari perusahaan ini kalau kamu gagal” tegas Susi.
__ADS_1
“Maaf bu Susi sudah membuat bu Susi susah, saya akan megusahakan yang terbaik” ucap Dakota.
“Jangan hanya bicara saja, tapi buktikan dengan tindakan” ucap Susi.
Tidak berapa lama kemudian handaphone Susi berbunyi, ternyata teman Susi tadi mengirim pesan baru di chat whatsapp. Susi langsung membuka chat tersebut kebetulan handphonenya diatas meja, isi chat dari whatsapp itu berupa foto yang dikirim oleh teman wanita Susi. Dakota yang duduk dihadapan Susi ikut melihat foto yang dikirim oleh teman Susi tadi. Ternyata foto itu adalah suami Dakota sedang berpelukan mesra dengan perempuan teman Susi yang belum dikenal oleh Dakota. Susi langsung tersenyum dan membalas chatnya.
“Ehem, jadi sudah saya katakan padamu bahwa saya sudah memperhatikanmu, kalau nanti Presdir bertanya tentang proyek ini saya juga bisa bertanggung jawab pada Presdir, segeralah kirim ke email saya” ucap Susi.
“Baik bu Susi, akan saya kirim” ucap Dakota. Ekspresi Dakota langsung berubah ketika melihat foto tadi, ingin rasanya dia menanyakan pada atasannya itu siapa wanita yang ada di foto itu.
“Kamu kenapa?” tanya Susi melihat raut wajah Dakota sudah suram.
“Tidak apa-apa bu, apa bu Susi masih ada perintah lain, kalau tidak ada saya undur diri bu” ucap Dakota.
“Tidak, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu” ucap Susi.
“Baik bu, saya undur diri” ucap Dakota keluar dari ruangan Susi.
“Ah, aku baru tahu kalau suamiku itu sepenuhnya tidak mencintaiku, bagaimana bisa aku berharap padanya untuk mencintaiku. Dia selalu sibuk, pastinya ada banyak wanita disampingnya. Bahkan aku begitu marah dan kesal begini. Apakah aku pantas marah atau aku diam saja melihat suamiku dipeluk wanita lain. Aih kenapa hatiku sakit sekali” batin Dakota.
Keluar dari ruangan Susi membuat Dakota jadi tidak fokus melanjutkan pekerjaannya. Apapun yang dilakukannya menjdi salah dan tidak ada yang beres dikerjakannya.
“Aku kenapa sih? Sadarlah Dakota bodoh, kau harus bisa melewati ini, kau bahkan tidak layak dan cocok menjadi wanitanya. Fokuslah dan lakukan pekerjaanmu, ingat tujuanmu untuk apa” batin Dakota memaksa tubuhnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dakota kembali dari Kantor dengan wajah yang suram. Dia masih memikirkan kejadian di kantor siang tadi. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada suaminya Fano. Bahkan Fano belum mengabarinya seperti biasa. Hal itu membuat hati dan pikiran Dakota tidak menentu, pikirannya jadi kacau. Bagaimanapun saat ini dia sudah menjadi istri dari Fano. Seorang istri akan wajar marah atau kesal melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.
“Sayang kamu sudah pulang” ucap ibu Lena melihat menantunya sudah tiba dirumah.
“Eh, iya ma” ucap Dakota menghampiri ibu Lena diruang tamu.
“Adik ipar, siapa wanita culun ini” ucap wanita tua itu, terlihat seumuran dengan ibu Lena.
“Kakak ipar, perkenalkan ini menantuku Dakota, dia istrinya Fano. Dakota, kenalkan ini istri dari kakak lelaki saya. Dia datang dari luar negeri, akan menginap semalam disini, panggil saja bibi” ucap ibu Lena berterus terang menjelaskan untuk mereka saling berkenalan. Ibu Lena tidak menutupi identitas Dakota sebagai menantunya dari keluarganya.
Wanita tua itu memandangi Dakota dari atas sampai bawah.
“Apa maksud kakak ipar, Fanokan belum menikah. Jangan bercanda adik ipar” ucap wanita itu.
“Salam bibi, saya Dakota” ucap Dakota mengulurkan tangannya. Dakota hanya menurut saja, tidak terlalu peduli dengan perkataan wanita tua itu.
“Aku tidak kenal denganmu, tidak usah berbasa-basi denganku” ucap wanita itu menghempaskan uluran tangan Dakota. Perasaan Dakota yang sudah tidak baik ditambah perlakuan bibi Fano yang tidak dikenalnya ini membuatnya mulai emosi.
“Bibi, justru karena bibi belum kenal denganku, untuk itu aku berkenalan dengan bibi. Setahuku seharian ini aku belum kekamar mandi bibi, apa tanganku ini begitu bau ya” ucap Dakota mencium tangannya.
__ADS_1
“Kenapa dengan menantuku ini, dia terlihat bukan seperti dirinya” batin ibu Lena.
“Kau hanya wanita culun yang menumpang dikeluarga ini, bagaimana mungkin menjadi menantu dan menjabat tanganku yang bersih ini” sinis wanita itu.
“Aku tau tangan bibi sangat bersih, sebagai tamu harusnya bibi menghargai mama mertuaku sebagai Nyonya dirumah ini, bukannya mama mertuaku yang sudah memperkenalkanku tadi pada bibi, berarti sudah sudah jelas bukan” ucap Dakota tidak ingin terlihat lemah mengadapi wanita tua itu.
“Apa katamu, aku bukan orang luar dirumah ini ya” sinis wanita itu.
“Sayang kamu sudah terlihat capek, pergilah kekamarmu dan istirahat” ucap ibu Lena mengalihkan pembicaraan”. Dakota hanya mengangguk dan langsung beranjak kekamarnya tidak memperdulikan wanita itu.
“Adik ipar apa kau sudah dipelet oleh wanita culun itu? ini tidak mungkinkan. Tidak ada surat kabar yang mengatakan bahwa Fano sudah menikah. Bagaimana dengan Kamila, dia sudah berusaha kembali ke Indonesia untuk mengejar Fano” ucap wanita itu.
“Kakak ipar, aku sudah mengatakan padamu bahwa Dakota adalah menantuku, jangan ungkit lagi mengenai Kamila. Bukannya putrimu itu yang mengatakan padaku kalau dia tidak menyukai Fano. Kenapa sekarang dia kembali” ucap ibu Lena.
“Lalu bagaimana dengan Fano? Apa dia menyukai wanita culun itu?” tanya wanita tua itu.
“Aku yakin putraku akan menyukai Dakota” ucap ibu Lena.
“Dari perkataan adik ipar, aku yakin Fano tidak menyukai wanita culun itu. Lagian kalau Fano menyukainya kenapa dia tidak memberitahukannya pada publik” ucap wanita itu.
“Adik ipar, akulah yang menyuruh Fano untuk menutup pernikahan mereka dari publik. Aku hanya ingin kehidupan rumah tangga putraku baik-baik saja” ucap ibu Lena memberikan alasan tidak mengekspos pernikahan putranya sesuai dengan permintaan Pak Admidjaya.
“Sial, adik ipar ini bahkan sudah menyukai menantu culunnya itu. Kamila kamu harus berusaha” batin wanita tua itu.
“Adik ipar bukannya kau menyukai Kamila sebagai menantumu, kalau Kamila kembali dan Fano menyukainya, aku harap adik ipar tidak menentang hubungan Fano dan Kamila” ucap wanita itu berharap dukungan dari ibu Lena.
“Kakak ipar, kau salah menilaiku. Aku bukan wanita yang egois mementingkan keinginanku saja, dulu aku menyukai Kamila, tapi sekarang aku mendukung perempuan yang disukai oleh putraku. Aku sudah mengatakan padamu Dakota sudah jadi menantuku. Lagian aku hanya mendengar dari Kamila bahwa dia tidak menyukai Fano, aku belum mendengar dari mulut Fano bahwa 5 tahun lalu dia dicampakkan oleh Kamila. Bahkan aku tidak mendengar sekalipun Fano menyukai Kamila. Apa sudah kau tanya pada putrimu kalau Fano juga menyukainya” ucap ibu Lena menjelaskan.
“Hah, aku yakin 5 tahun lalu Fanolah yang menyukai Kamila, namun karena Kamila mengatakan tidak menyukai Fano, hal itulah yang membuat Fano tidak mau menikah sampai sekarang bukan” ucap wanita itu.
“Kakak ipar, aku sudah mengenal putraku, kalau dia benar-benar mencintai Kamila, Fano sudah menikahinya 5 tahun lalu. Bukannya putrimu yang langsung pergi menyusulmu keluar negeri” ucap ibu Lena. Namun wanita itu kehabisan kata-kata tidak tahu apa yang harus disampaikannya.
“Apa mungkin Fano yang menolak Kamila, lalu kenapa Kamila mengatakan bahwa dia yang menolak Fano, apa mungkin dia berbohong” batin wanita itu.
“Sudahlah, kenapa kita harus berdebat. Kakak ipar juga sudah jauh-jauh datang kesini. Sebaiknya kita istirahat saja” ucap ibu Lena mengajak kakak iparnya itu untuk istirahat.
BERSAMBUNG............
Terima kasih Reader Wanita Presdir sudah mampir.😊
Mohon like dan komentarnya ya.🙏🌹
Jangan lupa Vote juga😊
__ADS_1
See You🙋🙋🙋