Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 103


__ADS_3

# Kediaman Reinhard.


Hari sudah semakin larut, karena Fano masih menunggui Naon untuk melaporkan hasil penyelidikan dari Pertamina, Fano tetap tinggal di rumahnya, sekaligus mengurus pekerjaannya yang harus dia selesaikan.


“Kenapa kau sangat lama baru tiba?” tanya Fano sambil melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 00.30 wib.


“Maaf Presdir, saya baru menyelesaikan penyelidikan bersama dengan tim penyidik” ucap Naon.


“Bagaimana hasil penyelidikanmu?” tanya Fano kembali.


“Sebagian CCTV di Pertamina sudah rusak Presdir, yang berfungsi itu dibagian masuk dan keluar saja Presdir. Tidak ada orang yang terlihat dari rekaman CCTV. Namun untuk mobil yang ada di depan kita saat antrian pengisian BBM tadi sudah kami temukan nomor plat mobilnya. Setelah bekerja sama dengan tim penyidik, hasil menunjukkan mobil itu merupakan salah satu milik dari Pak Sugiono, memang mobil beliau banyak, namun di pastikan mobil yang keluar dari Pertamina sebelum mobil kita, dipastikan itu mobil milik Pak Sugiono. Karena saya ingat, sewaktu antri pengisisan BBM tadi, orang yang ada dalam mobil itu sempat keluar dari mobil singgah di Mini Market Pertamina. Akhirnya saya cek kembali CCTV untuk Mini Market, ternyata benar, Pak Sugiono singgah sebentar membeli rokok di Mini Market” ucap Naon menjelaskan panjang lebar hasil penyelidikannya.


“Sudah bisa kau pastikan wajah Pak Sugiono yang terekam dari CCTV?” ucap Fano untuk memastikan.


“Benar Presdir, walau menunggu lama tadi kami sudah mendapatkan hasilnya, benar wajah Pak Sugiono yang terekam pada pukul 11.12 wib. Ini hasil rekamannya” ucap Naon memberikan handphonenya. Fano langsung melihat hasil rekaman CCTV, benar saja wajah Pak Sugiono tertangkap kamera sedang membeli rokok.


“Tolong kau urus untuk kasus pembunuhan ibu Milen, suruh tim penyidik kembali mengangkat kasus ini” ucap Fano.


“Tapi Presdir, untuk kasus ini harus seizin dari Pak Admidjaya” ucap Naon ragu.


“Apa yang perlu kau ragukan, aku akan menyampaikan hal ini pada Pak Admidjaya. Walau kita belum bisa menemukan bukti yang falid bahwa Pak Sugiono dibalik pembunuhan ini, masih ada istriku yang mengenali wajah pembunuh itu. Kita mengangkat kasus ini kembali supaya semua bukti bisa terkumpul, saat istriku sudah melahirkan nanti, kita bisa menanyainya mengenai wajah pembunuh itu padanya” ucap Fano.


“Baik Presdir, akan saya urus masalah ini” ucap Naon.


“Kalau benar wajah pembunuh tadi siang yang ditemui oleh istriku itu adalah Pak Sugiono. Kenapa Pak Sugiono tega membunuh ibu Milen. Apa mungkin dari certia Pak Admidjaya, bahwa Pak Sugiono sudah tahu ibu Melda tidak melahirkan Haris, lalu dia membantu putrinya untuk menjadikan ibu Melda sebagai nyonya dari keluarga Admidjaya” gumam Fano.


“Tadi juga pesan email inisal MP bersumber dari Pak Sugiono juga. Setahuku dia bukan musuh dari perusahaan kami, dia hanya berkaitan dengan istriku saja. Lalu kenapa dia memakai inisial MP. Papa bilang MP itu Mr. Pich. Selama ini aku berkomunikasi dengan Mr. Pich, aku tidak menemukan suara dari Mr. Pich sama dengan suara Pak Sugiono, atau Pak Sugiono ini bawahan dari Mr. Pich” gumam Fano kembali.


###


Walau Dakota sudah hamil, dia sebenarnya sangat ingin beraktifitas kembali bekerja di kantor, namun karena hamil dia harus mengundurkan diri dari Reinhard Group dengan alasan pengunduran dirinya yaitu melanjutkan studinya di luar negeri, padahal karena dia sedang hamil saja, karena pernikahannya yang tersembunyi dari publik dia tidak bisa lagi kembali bekerja.


Waktu terus berjalan, sesuai dengan ucapan Fano pada Pak Purnomo, dia tidak rela membuat istrinya itu menjadi umpan, apa lagi Dakota sedang hamil. Selama 5 bulan ini penjagaan ketat pada Dakota terus di perketat. Karena Dakota belum sepenuhnya memaafkan Fano dan Pak Admidjaya, Dakota memilih tetap tinggal di kediaman kakeknya Pak Admidjaya. Selama ini cara yang digunakan Fano untuk bisa mendekati Dakota adalah Haris. Mungkin karena hubungan darah dengan Haris, Dakota lebih akrab dengan Haris, bahkan saat Dakota ingin berjalan santai di pagi hari, Haris selalu meluangkan waktunya untuk menemani Dakota.


Karena sudah hamil tua, Dakota harus sering bergerak juga, pagi ini Haris seperti biasa ikut menemani Dakota berjalan santai, walau selama ini Fano selalu menemani istrinya, namun Haris tetap ikut, karena emosi Dakota yang tidak menentu, kadang marah pada Fano, padahal Fano tidak berbuat salah, dia tetap saja marah. Karena pagi ini Fano harus berangkat lebih awal ke kantor, hanya Haris yang menemani Dakota.


“Hah ... begini rasanya jadi ibu hamil” ucap Dakota melepaskan nafasnya keudara.


“Pelan-pelan saja, tidak perlu melangkah terburu-buru” ucap Haris memegangi tangan Dakota. Haris ikut menemani Dakota berkeliling di halaman belakang kediaman kakeknya.

__ADS_1


“Apa sebaiknya kita istirahat saja, kau terlihat sudah berkeringat juga, tidak perlu memaksakan diri” ucap Haris kembali.


“Benar yang kau bilang, aku merasa sudah cukup berkeringat, walau sebenarnya aku sangat bosan berada dirumah terus” ucap Dakota melap keringat yang ada di pelipis wajahnya.


“Apa kau ingin keluar?” tanya Haris pada Dakota.


“Semua orang sangat sibuk, kau juga sibuk apa lagi Fano, bagaimana aku bisa keluar” ucap Dakota kesal.


“Aku minta maaf, aku memang sangat sibuk, tapi Yohana bisa menemanimu, aku akan suruh dia segera datang kesini, kalau bersama dengannya pergi orang tidak akan curiga” ucap Haris memberikan saran.


“Kau yakin aku bisa keluar, hari ini weekend, namun suamiku sedang sibuk mengurusi ulang tahun perusahaan, dia sudah berpesan padaku agar aku tetap berdiam diri disini, bahkan kakek juga sibuk. Aku ragu suamiku tidak akan memberikan izin” ucap Dakota.


“Tenang saja, Fano pasti memberikan izin padamu, tergantung sikapmu padanya. Lebih baik kau segera memaafkan dia, sebentar lagi kenponakanku ini akan lahir juga” ucap Haris.


“Entahlah, aku tidak tahu, selama aku hamil, rasanya setiap berada di dekatnya aku merasa benci, namun saat dia jauh walau itu cuma sehari aku merasa rindu padanya. Mungkin ini bawaan aku hamil” ucap Dakota mengelus perutnya.


“Aku heran padamu, kenapa kau bisa mengidam begitu. Kalau kau bilang begitu benci padanya, aku rasa anakmu ini nanti pasti sifatnya mirip sekali dengan Fano. Apa lagi akhir-akhir ini kau sering marah-marah tidak menentu padanya, dia suami yang hebat, sudah bisa bersabar menghadapimu” ucap Haris.


“Itu karena aku sedang hamil saja, kalau tidak dia tidak mungkin jadi pria penurut. Ah ... aku sebal sekali padamu, aku sudah bilang aku tidak mau sifat anakku ini mirip dengannya, dia itu pria pemarah, kau masih mengulangi kata-kata ini” ucap Dakota meninggalkan Haris.


“Kau main tinggal saja, aku akan segera pergi kekantor, tunggu saja Yohana datang” ucap Haris melambaikan tangan pada Dakota, namun Dakota tetap melangkah mengabaikan Haris.


Setelah Dakota merapikan diri, tidak lama kemudian Yohana sudah tiba di kediaman Pak Admidjaya. Mereka kembali berbincang-bincang. Namun Dakota sudah terlihat gelisah tidak menentu.


“Ah, apa yang kupikirkan, aku sedang hamil tua, harusnya aku menikmati hari-hari yang kulalui, Dokter bilang dua minggu lagi aku akan melahirkan. Aku akan segera punya anak, aku sudah tidak sabar menunggu anakku ini datang kedunia ini, apa lagi keadaan ibu sudah membaik, dia akan segera memilki cucu” gumam Dakota.


“Beb, kenapa melamun, apa kau baik-baik saja” tanya Yohana pada Dakota.


“Aku baik-baik saja beb. Hanya saja perasaanku tidak enak, mungkin ini bawaan anakku” ucap Dakota.


“Bisa jadi beb, kau harus terlihat bahagia. Apa kau sudah tahu anakmu ini laki-laki atau perempuan?” tanya Yohana.


“Aku sengaja tidak ingin mengetahui hal ini, kita tunggu saja sampai dia lahir kedunia ini, aku dan suamiku sudah sepakat, mau lahir laki-laki atau perempuan itu sama saja beb, tidak ada bedanya” ucap Dakota.


“Iya sih, mau laki-laki atau perempuan yang penting itu dia lahir, dalam keadaan sehat tidak kurang satu apa pun” ucap Yohana mengelus perut Dakota.


“Pasti kau sudah lelah ya, kadang tidak bisa tidur, emosimu mudah berubah-ubah. Apa kau perlu refresing” ajak Yohana.


“Aku tidak bisa keluar beb, nanti suamiku marah” ucap Dakota menolak.

__ADS_1


“Kita pergi bersama Siti, kita hanya pergi ketempat relaksasi untuk ibu hamil, tempatnya juga berada dekat dari sini. Ibu hamil itu perlu refresing sejenak, aku sudah dimintai oleh Haris untuk menghiburmu. Setidaknya aku bisa membawamu ketempat yang nyaman” ucap Yohana. Namun Dakota terlihat ragu. Tidak berapa lama dia mengangguk mengikut saja.


Mobil Fano membawa Dakota dan Yohana pergi keluar dari kediaman Pak Admidjaya menuju tempat SPA untuk ibu hamil. Siti yang selalu mengawasi pergerakan Dakota hanya bisa mengikut saja ketika Yohana mengatakan mereka akan keluar, apa lagi Dakota sudah menurut ikut. Sebenarnya Siti ragu membawa Dakota keluar, apa lagi semua orang sedang sibuk. Namun karena Dakota hamil, permintaan ibu hamil sangat susah untuk ditolak, bahkan Siti belum melaporkan pada Fano bahwa Dakota sudah keluar dari kediaman.


Sesampainya di tempat SPA, Dakota sudah melihat banyak ibu hamil diruangan itu menikmati layanan dari SPA mulai dari mandi air hangat, mendengar dogeng saat melahirkan dan lainnya. Yohana yang mendampingi Dakota ikut tersenyum melihat sahabatnya itu ikut tertawa saat pemandu SPA memberikan layanan stand up komedi. Dakota larut ikut tertawa, namun dia tidak menyadari sedari tadi handphonenya sudah berbunyi.


# Reinhard Group


Seharian penuh Fano berada di perusahaan karena perayaan ulang tahun dari Reinhard Group, ada banyak tamu-tamu besar yang harus dia hadapi, bahkan pemimpin dari cabang perusahaan dari seluruh Indonesia belum sempat dia temui. Walau sibuk berbincang-bincang, perasaan Fano sudah tidak enak, pikirannya selalu tertuju pada istrinya, sesekali dia melihat handphonenya, dia sudah menghubungi handphone Dakota, namun Dakota tidak mengangkat panggilannya. Yang Fano ingat saat dia melarang Dakota untuk tidak kemana-mana walau hari weekend, Dakota terlihat marah dia tinggalkan tadi pagi.


“Apa mungkin dia masih marah padaku” gumam Fano memandangi handphonenya. Karena hari semakin sore, Fano keluar dari gedung pertemun, dia mencari keberadaan Naon. Namun Fano tidak menemukan keberadaan Naon. Fano mencoba menghubungi handphone Naon.


“Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi” suara dari balik handphone Fano.


“Kemana si Naon bodoh ini” gumam Fano kesal. Fano memutuskan untuk kembali bergabung menemui tamu undangan, dia sudah kembali berbincang-bincang. Tidak berapa lama, Naon sudah datang menghampiri Fano, bahkan wajah Naon terlihat pucat.


“Presdir ....” ucap Naon ngos-ngosan. Melihat Naon sudah tiba, Fano pamit pada tamu, dia langsung beranjak keluar dari gedung.


“Kau dari mana saja!” teriak Fano pada Naon.


“Maaf Presdir, kita tidak punya banyak waktu, nyonya muda hilang dari pengawasan kita” ucap Naon mengajak Fano.


“Kenapa kau baru bilang sekarang” teriak Fano tidak percaya.


“Maaf Presdir, kita harus bergerak cepat” ucap Naon.


“Sial, kenapa dia bisa hilang” pekik Fano. Fano sudah terlihat panik mengetahui istrinya sudah hilang dari pengawasan mereka. Dia kembali menghubungi nomor handphone Dakota, namun nomornya tidak aktif lagi. Begitu juga dengan Naon saat dia menghubungi nomor Siti, nomor Siti juga tidak aktif.


“Segera hubungi tim penyidik” perintah Fano.


“Sudah saya hubungi Presdir” ucap Naon.


“Untuk apa kau disini lagi, segera bawa mobil kelobi ....” teriak Fano memarahi Naon. Naon langsung bergerak melaksanakan perintah Fano.


BERSAMBUNG...............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, ayo dukung novel ini, jangan lupa like dan komentar kalian,😊


Oya Vote juga ya😘

__ADS_1


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2