
Beberapa menit kemudian Dakota sudah selesai membersihkan dari bagian pinggang Fano hingga rambut Fano. Dakota merasa bahwa tindakannya untuk memandikan suaminya itu sudah cukup bagian itu saja yang perlu dia bersihkan, selebihnya dia ingin suaminya itu yang melanjutkan.
“Kenapa berhenti” ucap Fano setelah dia merasa bahwa tangan istrinya sudah berhenti menyentuhnya.
“Aku sudah melaksanakan tugasku, bisakah kau melanjutkan sisanya” ucap Dakota.
“Begitu ya” ucap Fano langsung berdiri dari bak kecil itu.
“Ahh ... kalau kau mau berdiri, beritahu terlebih dahulu” ucap Dakota membalikkan badannya membelakangi Fano, telapak tangannya sudah menutup kedua matanya.
Fano mengabaikan istrinya dan membiarkan Dakota berdiri disudut ruangan kamar mandi, Fano kembali melanjutkan membersihkan tubuhnya. Dakota hanya bisa menunggu suaminya itu, hanya suara air bercucuran yang bisa dia dengar.
“Kenapa dia sangat lama” batin Dakota.
Tidak berapa lama kemudian, Fano sudah selesai mandi dan memakai handuk. Dia masih tersenyum kecil melihat tingkah istrinya masih berdiri disudut kamar mandi. Dia langsung membuka pintu kamar mandi dan beranjak mendekat pada istrinya.
“Sayangku, kau sudah boleh buka matamu” goda Fano pada Dakota.
“Se ... rius, kau tidak bercandakan” ucap Dakota ragu-ragu, dia takut suaminya itu akan mengerjainya nanti.
“Iya” ucap Fano. Mendengar perkataan suaminya tidak bercanda, perlahan-lahan Dakota langsung membuka matanya, dia melihat suaminya sudah berdiri dihadapannya.
“Huh ....” desah Dakota, dia merasa lega melihat suaminya sudah memakai handuk.
“Aku sudah selesai mandi. Apa kau mau dimandikan” goda Fano sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
“Tidak, aku sudah mandi” ucap Dakota mendorong tubuh Fano, dengan langkah cepat dia langsung lari keluar dari kamar mandi menuju kasur.
“Haha ....” Fano kembali tertawa melihat tingkah istrinya itu.
Dakota sudah memakai selimutnya, dia berharap bisa segera tidur karena matanya juga sudah mengantuk. Di balik selimutnya dia mendengar langkah kaki Fano menuju lemari hingga langkah kaki suaminya itu keluar dari kamar mereka.
“Dia mau kemana, apa dia tidak tidur” batin Dakota.
Walau sedikit mengantuk, karena sudah tidur seharian mata Dakota sesekali masih terbangun, dia melihat jam yang tergantung di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 23.30 wib. Dia melihat sekitar kamar dan tidak menemukan keberadaan suaminya.
“Kenapa dia belum tidur, apa dia sangat sibuk” ucap Dakota mencemaskan suaminya, dia berbicara sendiri dikamar itu. Tidak berapa lama dia mendengar pintu kamarnya dibuka, dia langsung berbaring memakai selimutnya menutup seluruh tubuhnya. Dia sudah mendengar langkah kaki Fano masuk kekamar dan semakin mendekat padanya.
__ADS_1
“Kenapa dia tidur menutupi wajahnya dengan selimut tebal” batin Fano, dia merasa bahwa istrinya itu sudah tidur.
“Apa dia tidak pengap menutupi wajah dengan selimut saat tidur” gerutu Fano, dia berbicara sendiri padahal Dakota masih mendengarkan.
“Srek ....” Fano menarik pelan selimut yang dipakai oleh istrinya. Dia merapikan selimut yang di pakai oleh istrinya. Dia juga menyisihkan rambut istrinya dan memperhatikan tubuh istrinya itu. Fano tidak sadar bahwa istrinya itu belum tidur, hanya pura-pura menutup mata. Dakota sangat gugup merasakan sentuhan lembut yang dilakukan oleh suaminya.
“Umah ... selamat malam sayangku” ucap Fano mencium kening istrinya dengan lembut.
“Kenapa perasaanku begini, apa dia selama ini selalu mencium keningku sebelum tidur” batin Dakota.
Fano langsung mematikan lampu kamar mereka diapun beranjak naik kekasur dan membaringkan tubuhnya disamping istirnya, dia sudah berbaring menghadap tubuh istrinya, dia kembali menatap tubuh istrinya.
“Biasanya dia melepas branya saat tidur” gerutu Fano kembali. Mendengar perkataan suaminya, perasaan Dakota semakin tidak nyaman, dia tidak menyangka bahwa suaminya itu memperhatikannya selama ini. Bahkan sampai hal tidak memakai bra saat tidurpun di perhatikan oleh fano. Ingin rasanya Dakota bergerak membalikkan tubuhnya, dia yakin suaminya sudah menatapi tubuhnya sedari tadi. Namun karena sudah terlanjur pura-pura tidur, dia mencoba tetap menutup matanya.
Tidak berapa lama Fano langsung memeluk tubuh istrinya itu, karena sudah mengantuk juga. Dakota hanya pasrah saja melihat tingkah suaminya itu, dia juga kembali ikut tertidur.
# Ruang Makan
Alarm baker yang diletakan oleh Siti di kamar Fano berdering dengan nada yang keras membuat pasangan suami istri itu terbangun sekali mendengar alarm baker itu berbunyi, beda dengan nada alarm handphone Dakota, biasanya nadanya tidak terlalu keras dan juga tidak pelan dan hanya dia yang mendengarnya tidak akan membangunkan Fano. Hampir saja Fano melemparkan alarm baker itu karena kesal. Namun Dakota langsung mencegah suaminya itu, dia mengatakan akan mengatur volume alarm itu. Karena alarm itu sudah membuat Fano bangun, dia tidak bisa tidur lagi dia langsung merapikan dirinya dan menghampiri meja makan memperhatikan istrinya sedang beres-beres.
“Sayangku ini sangat imut, dia juga pandai memasak” batin Fano memandangi istrinya.
“Sesekali aku harus bangun pagi ma, istriku sedang beres-beres minimal dia melihat wajah tampanku ini sebagai penyemangat. Aku tidak ingin dia bilang aku suami yang tidak perhatian” ucap Fano menggoda istrinya, dia sengaja berbicara begitu biar Dakota mendengar perkataannya. Kebetulan Dakota juga sudah selesai memasak dan merapikan meja makan.
“Hmm, Dakota sayang apa semalam suamimu ini kau kasih jatah, kenapa tingkahnya aneh begini” ucap ibu Lena terlalu blak blakan pada anak dan menantunya. Wajah Dakota sangat gugup mendengar perkataan mama mertuanya. Sementara Fano sudah senyum-senyum sendiri melihat istrinya sudah salah tingkah karena ucapan mamanya.
“Ma, aku harus siap-siap dulu merapikan diri” ucap Dakota ingin segera beranjak kekamar, dia yakin suaminya itu akan bersikap aneh lagi.
“Sayangku, apa kamu akan kekantor hari ini” ucap Fano mencegah Dakota.
“Ya, aku harus kekantor, kemarin aku tidak izin pada bu Susi. Dia pastinya sudah menggantikan aku untuk proyek kerja sama itu” ucap Dakota. Dia mulai sedih mengingat proyek kerja sama itu sudah dia kerjakan sampai harus begadang, namun dia tidak bisa melakukannya dengan maksimal karena demam kemarin.
“Untuk proyek itu, kemarin pihak Reliance Industries menunda untuk datang ke perusahaan, hari ini mereka akan berkunjung. Yang aku khawatirkan itu kau, apa kau tidak butuh istirahat satu hari lagi dirumah” ucap Fano menjelaskan.
“Apa? jadi kemarin mereka tidak jadi berkunjung dan hari ini mereka baru bisa datang” ucap Dakota terkejut sekaligus senang.
“Iya hari ini mereka dipastikan akan datang” jawab Fano kembali.
__ADS_1
“Syukurlah aku masih bisa menangani proyek itu. Kamu tidak perlu khawatir aku sudah baikan. Aku akan siap-siap merapikan diri” ucap Dakota beranjak meninggalkan meja makan. Dia sangat senang mendengar kabar yang disampaikan oleh suaminya itu. Fano lupa bahwa istrinya itu adalah orang yang gigih, kalau saja Henri tidak menyuntikkan obat penenang pada istrinya itu kemarin, Fano yakin kemarin istrinya itu pasti masuk kantor.
Sepeninggalan Dakota, ibu Lena mengajak putranya untuk berbicara serius, karena hanya di pagi harilah sebelum berangkat ke kantor kesempatan ibu Lena mengajak anaknya berbincang serius seperti biasa dia lakukan karena anaknya itu sangat sibuk.
“Fano, Dakota baru saja demam kemarin, kenapa kamu tidak melarangnya masuk kekantor hari ini” ucap ibu Lena mengkhawatirkan menantunya.
Sementara itu selesai Dakota mandi, dia kembali ke ruang dapur untuk mengambil handphonenya yang tertinggal, dia mau mengabari teman kantor yang seruangan dengannya. Tidak sengaja dia melihat mama mertuanya berbicara serius dengan Fano dan mendengar mama mertuanya berbicara tentang dia, dia menghentikan langkahnya dan menguping pembicaraan mama mertuanya itu dengan suaminya.
“Ma, kebetulan dia penangung jawab dari proyek perusahaan, aku tidak ingin mencegah usahanya selama dua bulan terakhir ini, apa lagi dia sudah menyusun dan mengerjakannya dengan serius. Dia sebagai karyawan diperusahaan hak dan kewajibannya sama dengan karyawan lain. Apa lagi status kami menikah belum diketahui oleh publik, ini juga permintaan dari mama” ucap Fano.
“Fano sayang, mama tau kamu orang yang profesional dalam bekerja dan melakukan semua karyawan sesuai dengan job desk mereka. Setidaknya larang saja istrimu bekerja, istrimu itu seharusnya sudah mengandung anakmu dan istirahat saja dirumah” ucap ibu Lena mengingat pernikahan Fano sudah berjalan 2 bulan, dia sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dari Fano.
“Ma, semuanya butuh proses, mama juga tau bukan, kami menikah karena dijodohkan, dia juga masih muda” ucap Fano membela istrinya.
“Nak, mama tidak bisa bersabar, kamu sudah berumur mau sampai kapan kalian belum juga punya anak, tujuan mama selama ini menjodohkanmu itu karena mama sudah capek setiap perkumpulan istri dari pengusaha, mama selalu mendapat cibiran belum juga memiliki cucu, kamu juga tau, papamu menikahi mama sudah berumur” ucap ibu Lena menjelaskan persaannya saat mendapatkan cibiran dari teman-teman perkumpulannya. Fano hanya diam, tidak berkomentar.
“Fano, mama sudah tua nak, setidaknya berikan alasan mama bertahan hidup bisa melihat cucu mama bermain dirumah ini, mama selalu kesepian, hanya bisa berbelanja dan menemui kerabat. Harusnya saat ini mama sudah bermain dengan cucu mama. Mama tidak mungkin memohon pada menantu mama, kamu anak mama, sepantasnya kamu harus tau mama sangat memohon padamu berikan mama cucu sesegera mungkin ” ucap ibu Lena memohon pada anaknya.
“Mama, istriku itu baru saja selesai wisuda, dia juga masih muda, kalau untuk menghentikannya dari kantor aku tidak bisa ma, aku hanya ingin dia berhenti dari kantor karena kemauannya bukan karena kemauanku, bagaimanapun aku tidak suka mengekang kebebasan istriku. Kalau untuk memiliki anak, aku juga sangat ingin segera memberikannya pada mama, semuanya butuh waktu ma” jelas Fano memberikan pendapatnya tidak akan mengekang apa pun yang dilakukan oleh Dakota.
“Kalau kamu tidak bisa melarangnya untuk berhenti bekerja, usahakanlah supaya dia segera mengandung anakmu” tegas ibu Lena meninggalkan ruang makan. Fano jadi serba salah menghadapi keinginan mamanya itu. Dia juga tidak bisa memaksa istrinya apa lagi istrinya itu belum juga mencintainya.
“Aku juga ingin sekali melihat anakku bermain dirumah ini sepulang kerja” batin Fano.
Dakota yang menguping pembicaraan ibu dan anak itu sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa mama mertuanya itu menginginkan agar dia segera mengandung anak Fano. Ternyata mama mertuanya itu tidak ingin menyinggungnya dan menekan anaknya sendiri. Dia bisa menilai bahwa mama mertuanya itu bertindak sewajarnya tidak memaksa menantunya, hanya memohon pada Fano. Dia juga bisa melihat keinginan Fano untuk segera punya anak sangat besar. Apa lagi bila dia ingat-ingat kembali selama dia menjadi istri sah dari Fano, sedari awal suaminya itu sangat ingin Dakota melayaninya.
“Wajar saja mama mertua menginginkan seorang cucu beliau juga sudah tua. Ternyata suamiku ini sudah sangat sabar menghadapiku, dia juga tidak mengekang kebebasanku. Padahal aku sudah sah jadi istrinya, seharusnya aku sudah sewajarnya untuk melakukan tugasku sebagai istrinya, tapi aku masih saja belum siap” batin Dakota, dia merasa bersalah pada Fano.
BERSAMBUNG.............
Hai Reader, jangan lupa Jadiin Favorite dan Vote ya,😘
See You,😙
.
.
__ADS_1
.
Eh, jangan lupa like dan komentarnya.😍