Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 140


__ADS_3

Kembali di waktu Dakota sibuk berbincang dengan Beni dan Irma. Fano juga sibuk merencanakan rencananya. Karena Fano yakin rencana istrinya akan mudah tercium oleh Mr. Pich, Fano pun mempersiapkan rencananya agar bisa masuk dalam perangkap yang Mr. Pich buat.


“Presdir, sepertinya dugaan Presdir benar, Mr. Pich sudah curiga dengan rencana Nyonya Muda. Lalu bagaimana dengan Sena” bisik Naon saat Sena mulai mabuk karena minuman Sena ternyata dicampur dengan obat perangsang sekaligus obat tidur.


“Biarkan Sena dijemput oleh Kela. Berikan ruang pada Mr. Pich untuk mengetahui rencana istriku, jangan lupa selipkan kamera pengawas pada pakaian Yoki” bisik Fano pada Naon.


“Baik Presdir” ucap Naon.


“Dia tidak mau mendekatiku, apa dia sengaja menjauhiku. Selama ini, saat acara Mancanegara dia biasa saja padaku juga pada Haris. Apa karena selama ini dia berbagi peran dengan Pak Sugiono. Aku masih belum bisa menebak suaranya kalau aku tidak berbincang dengannya saat ini” batin Fano.


“Dari penampilannya benar yang Septa katakan dia sudah tua, bahkan tangannya terlihat mirip dengan tangan papa” batin Fano lagi. Tidak lama ponsel Fano pun bergetar pertanda pesan baru masuk melalui emailnya. Fano pun langsung membuka layar ponselnya untuk melihat informasi penting itu. Ternyata Fano menerima pesan baru dari Septa.


{Presdir Fano, aku baru saja mendapat perintah baru bahwa aku akan menangkap pelayan istrimu. Malam ini itu misi untukku, segera lakukan rencanamu, aku tidak tahu nanti dimana lokasi kami membawa pelayan itu, yang jelas aku sudah mengirimkan pesan ini untukmu, sisanya aku serahkan padamu. Aku tidak bisa menjamin pelayan itu hidup lebih lama dari 24 jam bila Mr. Pich tidak mendapatkan tujuannya. Sepertinya tujuan Mr. Pich kali ini untuk mendapatkan istrimu} isi pesan baru dari email Septa.


Setelah membaca pesan itu, Fano pun langsung beranjak mendekati Kela. Kebetulan Kela saat itu sedang diperintahkan oleh Beni untuk membawakan minuman yang sudah Beni masukkan obat perangsang. Fano pun pura-pura menyenggol tubuh Kela.


“Presdir Fano” ucap Kela.


“Aku lihat kau sudah mengabdi pada istriku, kau tidak setengah-setengahkan untuk membantu istriku” ucap Fano.


“Saya siap membantu Nyonya Dakota, juga bagaimanapun saat ini anak saya sudah aman dibantu oleh Nyonya Dakota” ucap Kela.


“Nanti akan ada yang menyerang kalian, kau bergerak saja seperti biasa, kalau bisa melawan pada mereka supaya tidak muncul kecurigaan dari mereka. Aku sudah menempelkan kamera pengawas pada bajumu” ucap Fano. Kela pun menunduk pada Fano sembari membawa minuman itu menuju meja Dakota dan Beni.


“Bagus, Mr. Pich melihat aku berbincang dengan Kela” batin Fano.


Fano pun kembali menemui tamu undangan yang ada di mejanya untuk berbincang-bincang. Selama Fano berbincang-bincang dengan tamu undangan, mata Fano tertuju pada keberadaan Dakota dan Mr. Pich.


###


Sembari mengelus-elus punggung istrinya, Fano juga mengabari team penyidiknya untuk melacak keberadaan Yoki dan Kela saat ini. Walau kamera pengawas sudah ditempelkan pada pakaian mereka sampai saat ini Fano belum menerima kabar dari team penyidiknya mengenai lokasi keberadaan Yoki dan Kela.


“Ini sudah pukul 01.40 wib, mereka sudah menyekap Yoki dan Kela selama 1 jam” batin Fano. Saat Fano memperhatikan istrinya, Fano merasa ada yang aneh dengan istrinya.


“Bukannya dia sudah tidur” batin Fano. Sejenak Fano menggeser tubuhnya untuk memperhatikan Dakota.


“Dia masih menangis” batin Fano. Wajah Dakota masih basah sambil memejamkan mata berbaring di samping Alfata. Dengan lembut perlahan-lahan Fano melap wajah istrinya.


“Sayang, nanti kepalamu bisa sakit, kenapa kau belum tidur” bisik Fano sambil mengecup bibir istrinya.


“Hei, lihat aku, tadi kau sudah janji untuk tidur ... aku ada disini, tidak akan ada yang menyakitimu” bisik Fano lagi. Fano masih memegangi wajah Dakota. Dakota pun meraih tangan suaminya.


“Kau tidak akan pergi keluar malam ini” ucap Dakota.


“Aku ada disini untuk kalian” ucap Fano.

__ADS_1


“Aku takut, saat aku tidur lelap nanti ... saat aku bangun, aku tidak menemukanmu, aku tidak mau kehilangan suamiku saat aku bangun nanti, apa lagi anak kita sedang sakit” ucap Dakota. Mata Dakota kembali berkaca-kaca.


“Sayangku ini, aku ada disini, kau bisa tidur” bisik Fano lagi sambil memeluk tubuh Dakota. Dakota pun balas menenggelamkan wajahnya pada dada suaminya.


“Sayang ini sudah mau pukul dua pagi, kita tidur ya” ajak Fano.


“Aku tidak bisa tidur, aku masih khawatir dengan Yoki dan Kela, apa lagi saat ini anak Kela masih kecil baru berusia 3 tahun, anaknya tidak tahu kalau saat ini ibunya sedang disekap” ucap Dakota.


“Aku mengerti perasaanmu saat ini, aku tanggung jawab dengan ucapanku, Yoki dan Kela akan selamat” ucap Fano.


“Semoga saja mereka baik-baik saja” ucap Dakota.


“Tidurlah” ucap Fano langsung mencium bibir istrinya. Tidak lama kemudian, Fano sudah membuka atasan baju tidur milik Dakota.


“Apa yang kau lakukan” ucap Dakota saat tangan suaminya sudah meraba-raba kedua gunung kembarnya.


“Supaya kau bisa tidur, aku akan mengkelonimu” ucap Fano sembari melaksanakan aksinya untuk mengekeloni istrinya. Dakota pasrah saja sudah dikeloni oleh suaminya. Benar saja, tidak lama kemudian Dakota sudah bisa tidur. Setelah memastikan istrinya tidur nyenyak, Fano pun merapikan kembali pakaian istrinya.


“Aku berencana membawamu berbulan madu, tapi sampai saat ini kita belum juga bisa bebas menghadapi dunia ini, bersabarlah sayang” ucap Fano lagi. Belum sempat Fano untuk memejmakan matanya, tubuh anaknya sudah bergerak. Suara tangisan Alfata mulai terdengar di telinga Fano.


“Bunda ....” rengek Alfata. Fano pun langsung bergegas menghampiri tubuh Alfata.


“Fata, ayah ada disini nak” ucap Fano.


“Ayah, panas” rengek Alfata lagi. Fano pun langsung menggendong anaknya.


“Aku lupa, hari sudah larut begini, mereka sudah pada tidur” ucap Fano.


Fano tidak ingin membangunkan orang tuanya. Sambil menggendorng tubuh Alfata dengan gendongan otomatis seperti tas bayi, Fano pun membawa anaknya kedapur untuk membuatkan susu pada Alfata. Tidak lama kemudian Naon sudah tiba di dapur sedang memperhatikan Fano.


“Wah, Presdir memang hot dady, anaknya sakit dia ikut begadang juga” batin Naon.


“Presdir biar saya saja” ucap Naon.


“Lebih baik kau tidur, ini sudah pagi, besok belum tau kau masih ada waktu untuk tidur atau tidak” ucap Fano tetap membuat susu untuk Alfata.


“Bagaimana bisa saya tidur, Presdir juga belum istirahat” ucap Naon.


“Tidurlah, jangan buat aku mengulangi perintahku. Saat aku mendapatkan lokasi keberadaan Yoki dan Sena, nanti aku akan membangunkanmu” ucap Fano.


“Baik Presdir” ucap Naon undur diri.


“Presdir sudah banyak berubah, dulu dia tidak pernah begitu perhatian pada kami. Seharusnya Presdir bisa membangunkan pelayan untuk membuatkan susu pada Fata” batin Naon.


“Ayah” rengek Alfata dipelukan Fano. Fano pun memberikan susu buatannya untuk Alfata.

__ADS_1


“Nak minumlah, ayah yakin kau juga haus” ucap Fano. Sambil memejamkan mata, Alfata masih mendengar perintah Fano untuk meminum susu itu. Alfata pun menghabiskan susu buatan Fano.


“Kenapa kau sangat mirip denganku” ucap Fano sambil mengecup kening anaknya.


“Astaga, benjolan anakku semakin banyak saja” ucap Fano lagi sambil melap mulut Alfata bekas sisa susu tadi. Tubuh Alfata sudah mulai nyaman dan tidur kembali. Fano pun kembali membawa Alfata kekamar mereka. Alfata sudah Fano baringkan di samping istrinya. Setelah memastikan anak dan istrinya tidur nyenyak, barulah Fano melakukan tugasnya.


Tidak lama Fano kembali menerima informasi penting dari team penyidiknya melalui email.


“Mereka sudah menemukan keberadaan Yoki dan Sena” batin Fano. Fano pun langsung mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian kembali Fano merapikan selimut istrinya.


“Aku tahu kau akan menyusul nanti, jangan marah ya, kita hadapi semua ini bersama” bisik Fano sambil mengecup bibir istrinya. Fano juga mencium kening anaknya. Fano pun langsung meraih jaketnya lalu keluar dari kamar.


Keluar dari kamar, Fano menuju kamar mamanya ibu Lena. Karena Fano sangat paham dengan kode kamar ibu Lena adalah ulang tahun Pak Purnomo. Fano pun bisa masuk kedalam kamar itu. Fano sudah mendapati Pak Purnomo dan ibu Lena sedang tidur dengan nyenyak. Sebenarnya Fano tidak tega membangunkan mamanya, tapi karena dia harus pergi, Fano pun terpaksa membangunkan ibu Lena.


“Ma” bisik Fano di telinga ibu Lena.


“Hem” ucap ibu Lena sambil mengucek matanya.


“Mama tidur dikamarku saja, Fata sedang sakit” bisik Fano lagi agar Pak Purnomo tidak bangun. Padahal Pak Purnomo sudah sadar sejak pintu kamar itu Fano buka.


“Fata sakit, kenapa baru bilang sekarang” ucap ibu Lena langsung beranjak dari kasur.


“Fata sakit apa” ucap Pak Purnomo masih memejamkan matanya.


“Fata terkena campak” ucap Fano.


“Mama akan tidur dikamarmu” ucap ibu Lena langsung beranjak keluar dari kamar.


“Kau akan pergi” ucap Pak Purnomo saat Fano ingin beranjak keluar dari kamar itu.


“Iya, aku sudah menemukan lokasi mereka” ucap Fano.


“Bisa jadi ini jebakan Mr. Pich, aku sudah susun rencanaku dengan Mail” ucap Pak Purnomo.


“Akan kukabari nanti kalau memang ini sebagai jebakan, tapi kalau tidak bisa jadi istriku akan datang kelokasi karena permintaan Mr. Pich” ucap Fano.


“Mau bagaimana lagi, istrimu orang yang dia inginkan” ucap Pak Purnomo.


“Aku tidak ingin kau ikut terlibat dengan hal ini, kalian cukup menjaga Alfata di sini” ucap Fano.


Bersambung.........


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya🙏


Di Vote juga boleh😊

__ADS_1


See You🙋🙋🙋


__ADS_2