Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 30. Hubungan


__ADS_3

Kehadiran Fano dalam keluarga Purnomo dimata publik memandang bahwa keluarga itu sungguh beruntung sudah dianugrahi seorang anak lelaki. Namun beda dengan Purnomo yang hidup dengan keraguan mengingat bukti bahwa Lena tidur dengan beberapa pria. Karena keraguan inilah yang membuat hubungan Purnomo dengan istri dan anaknya itu tidak baik, bisa dibilang hubungan mereka buruk. Bahkan rupa dan bentuk dari fisik Fano tidak sedikitpun meniru rupa Purnomo. Rupa Fano hanya sedikit sama dengan bentuk wajah mamanya ibu Lena.


“Papa” ucap Fano berlari di kantor untuk menghampiri Purnomo, saat ini Fano baru pulang dari sekolah. Fano selalu mengambil kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang papanya itu di kantor. Karena Purnomo akan sangat memperlakukan Fano dengan penuh kasih sayang dihadapan publik dan dihadapan karyawan.


“Bukankah itu Reinhard muda” ucap karyawan “dia sudah masuk kelas satu SD, padahal baru kemarin dia dilahirkan” ucap yang satu, “Dia sangat imut dan akrab dengan Presdir ya” ucap karyawan yang lain saat melihat Fano sudah berada di Kantor.


“Wah, jagoan kau sudah pulang dari sekolah” ucap Purnomo menangkap tubuh Fano. Purnomo baru saja selesai rapat diruang rapat. Karyawan masih ada diruangan itu.


“Papa, aku sudah bisa menulis” ucap Fano bangga menunjukkan buku tugasnya pada Purnomo. Fano sudah duduk dipangkuan Purnomo.


“Hebat jagoan, tingkatkan lagi ya” ucap Purnomo mengucek rambut putranya.


“Papa, bolehkah aku disini lebih lama” pinta Fano untuk berada lebih lama dikantor.


“Kau harus pulang, aku masih sibuk”ucap Purnomo mengangkat Fano menyerahkannya pada Mail. Karyawan sudah pergi dari ruangan tinggal Purnomo dan Mail.


“Tapi pa, papa tidak pernah berada dirumah” ucap Fano merindukan papanya, Fano mulai merengek dipangkuan Mail.


“Diamlah, jangan jadi anak manja” tegas Purnomo. Ucapan dan sikap Purnomo langsung berubah seketika, karena sudah tidak ada orang luar diruangan.


“Baiklah” ucap Fano mengerti bahwa papanya itu sudah selesai berakting.


“Mail, bawa dia pulang. Dia harus belajar, kalau pelajaran yang dipelajarinya sudah selesai, tambah lagi, sampai dia mengantuk” perintah Purnomo pada Mail.


“Baik Presdir, kami pamit Presdir” ucap Mail membawa Fano pulang kerumah.


Karena sikap Purnomo yang begitu cuek pada Fano. Fano selalu menunjukkan bahwa dia anak yang bisa diandalkan. Semua jenis olah raga dia kuasai dan tentunya bidang pelajaran juga dia seimbangkan. Purnomo akan membanggakan Fano dihadapan pebisnis lain saat menghadiri pertemuan, disaat pertemuan-pertemuan itulah Fano dianggap sebagai anak oleh Papanya itu. Namun berbeda dengan yang dirasakan oleh Fano sendiri. Setiap menerima rapor semester di Sekolah Dasar, Fano selalu mendapatkan juara satu dikelasnya di SD bergengsi di Jakarta.


“Heh, mana papamu yang selalu membanggakanmu” ucap Henri sahabat Fano sejak duduk di kelas 1 SD.


“Dia tidak akan datang, dia selalu sibuk” ucap Fano.


“Kasihan sekali kau, semua orang tua selalu datang saat anaknya menerima rapor, apalagi kau sang juara” ucap Henri menyindir sahabatnya.


“Mamaku sudah ada, itu juga sudah cukup” ucap Fano.


“Aih, aku saja yang juara 10 besar, papaku selalu bangga padaku, walau dia sibuk dia akan menyisihkan waktunya untuk datang memberikan ucapan selamat” ucap Henri menunggu orang tuanya datang.


“Papamukan Dokter keluarga kami, wajar dia ada waktu” ucap Fano.


“Iyalah Tuan Muda Fano, papamu memang sangat sibuk” ucap Henri kesal. Tidak berapa lama kemudian Henri sudah berlari melihat papanya sudah tiba di sekolah.


“Papa” ucap Henri memeluk papanya.


Fano yang melihat momen Henri dan papanya yang datang membuat Fano semakin sedih. Purnomo tidak pernah sekalipun menghadiri kemenangan yang diraih oleh Fano, seharusnya Purnomo yang memberikan kata sambutan setiap penerimaan rapor. Bahkan saat olimpiade matematika antar sekolah. Fano menjadi perwakilan untuk olimpiade matematika dari sekolahnya dan dia menjadi juara satu.Tapi saat dia mengatakan kepada Purnomo bahwa dia juara satu Purnomo tidak menggubris dan tidak ada kata ucapan selamat diucapkannya pada Fano.

__ADS_1


Hal itu membuat Fano kesal dan ingin rasanya membrontak. Hingga saat pertandingan renang yang diadakan oleh perusahaan Purnomo sebagai sponsor terbesar. Fano ikut tanding sebagai perwakilan atlet dari sekolah SMPnya dan Henri juga ikut sebagai atlet perwakilan dari sekolahnya. Walau mereka sahabat, namun sejak bangku SMP mereka sudah berpisah.


“Henri” ucap Fano saat pemanasan.


“Kenapa Tuan Muda Fano” balas Henri.


“Berusahalah untuk menang nanti, jangan sampai sekolah lain mendahuluimu” ucap Fano.


“Apa maksudmu, jelas-jelas aku selalu juara dua kalau ada kau” ucap Henri.


“Makanya nanti kau berusaha, aku akan berikan kesempatan padamu” ucap Fano mengingatkan.


“Hah, kau yang benar saja, papamu akan hadir di pertandingan final ini, jangan sampai papamu kecewa padamu” ucap Henri mengingatkan sahabatnya.


“Aku sudah mengatakannya padamu, jangan sampai sekolah lain menang darimu” ucap Fano sudah memasuki area pertandingan.


“Ada apa dengannya, kenapa dia terlihat bodoh” batin Henri.


Pluit langsung berbunyi pertanda semua atlet renang sudah ambil posisi. Dua kali pluit dibunyikan semua perenang sudah memulai pertandingan. Ternyata benar Fano mengalah pada Henri, dia memberikan kesempatan pada Henri untuk memenangkan pertandingan renang itu.


# Sementara itu di area pertandingan renang.


“Presdir Purnomo, bukankah itu adalah putra yang anda banggakan” ucap klaen dari Jerman.


“Iya Tuan Jems” ucap Purnomo. Dia sudah kesal melihat performance dari Fano yang gagal memenangkan pertandingan.


“Maaf Tuan Jems, anda sudah kecewa karena putra saya. Mari kita menikmati hiburan yang sudah disediakan” ucap Purnomo mengajak klaennya itu meninggalkan area pertandingan.


Saat selesai pertandingan, Fano meihat kearea pertandingan dan tidak menemukan keberadaan papanya. Dia berharap menemukan keberadaan papanya, dan ingin memastikan bahwa papanya itu bereaksi atau tidak dengan ulahnya tadi. Dia pulang dengan membawa piala juara dua, baginya mau juara satu atau juara dua sama saja hal itu tidak berarti.


“Selamat datang Tuan Muda” ucap pelayan menyambut Fano pulang kerumah dengan pakaian santai.


“Ya” ucap Fano merebahkan tubuhnya di Sofa ruang tamu.


“Haduh, Tuan Besar sedang marah sama Nyonya Besar. Jangan sampai Tuan Muda tau” batin pelayan.


“Tuan Muda, apa Tuan Muda tidak langsung ke ruang belajar saja” pinta pelayan ragu-ragu.


“Sebentar lagi, aku ingin berbaring disini” ucap Fano masih berbaring di Sofa.


Namun tidak berapa lama kemudian, Fano sudah mendengar suara papanya sedang teriak-teriak dari arah kamar mamanya.


“Kau tidak bisa mendidiknya dengan benar, hah ....” teriak Purnomo pada istrinya.


“Maaf pa, apa yang sudah dia perbuat rupanya. Diakan masih kecil pa” ucap Lena. Ternyata Lena sudah mendapat cambukan tali pinggang dari suaminya.

__ADS_1


“Kau hanya bisa minta maaf, didik anakmu dengan benar” Purnomo sudah melayangkan tali pinggangnya lagi.


Fano yang melihat kejadian itu sangat terkejut, dia tidak mengetahui kalau mamanya akan disiksa oleh papanya. Selama ini belum pernah Fano melihat papanya menyiksa mamanya.


“Apa yang papa lakukan” ucap Fano masuk ke kamar mamanya. Fano sudah memeluk tubuh Lena.


“Berani juga kau masuk kesini, siapa yang mebiarkanmu masuk, hah...” teriak Purnomo.


“Pa, kalau kau marah, maralah padaku, jangan pada Fano” ucap Lena memohon.


“Diam kau, urusan kita belum selesai” ucap Purnomo menarik Fano keluar dari kamar.


“Plak ....” Fano menerima tamparan dari papanya itu untuk yang pertama kali.


“Apa yang sudah kau lakukan hari ini? Bukannya kau lebih hebat berenang dari Henri” ucap Purnomo. Fano tidak merespon dan hanya terdiam memegangi pipinya.


“Brugh ....” tendangan kaki Purnomo sudah mendarat diperut Fano.


“Papa ... tolong jangan pukul Fano, dia masih kecil” ucap Lena melerai suaminya.


“Diam kau” Purnomo menghempaskan tubuh Lena hingga terjatuh.


“Mama” ucap Fano memegangi perutnya yang sangat sakit.


“Kau sudah mulai nakal, kau sengaja mempermalukan aku, hah” teriak Purnomo pada Fano.


“Selama ini aku juara satu tapi papa tidak peduli, sekarang aku juara dua, papa bahkan memarahi mama” Fano menatap wajah Purnomo.


“Plak ....” tamparan keras mendarat lagi dipipi Fano.


“Papa, tolong jangan pukul Fano lagi, dia hanya anak kecil, aku mohon” ucap Lena memeluk kaki suaminya dengan linangan air mata.


“Kalau kau ingin aku peduli padamu, jangan pernah buat aku kecewa, apa lagi membrontak” ucap Purnomo meninggalkan istri dan anaknya.


“Fano kamu masih kecil nak, jangan pernah melawan pada papamu. Kenapa dengan hari ini Fano? biasanya kamu selalu menjadi kebanggaan mama” tangis Lena memeluk anaknya.


Sejak saat itu Fano tidak pernah mengecewakan orang tuanya. Hubungan mereka tetap seperti itu hingga saat ini dan sejak saat itu pula Purnomo secara terang-terangan menyiksa istrinya jika Lena melakukan kesalahan, tidak menyembunyikannya dari Fano seperti sebelumnya. Karena tidak ingin melihat mamanya mengeluarkan air mata, Fano selalu ikut campur dan melerai pertengkaran mama dan papanya dan sebisa mungkin Fano lah yang menggantikan mamanya untuk menerima pukulan dari Purnomo. Ketika Fano bertanya pada mamanya apa alasan papanya harus memukulinya. Lena hanya mengatakan bahwa dialah yang salah. Hal itulah yang membuat Fano sedih dan tidak ingin melawan pada papanya.


BERSAMBUNG.........


Hai Reader Wanita Presdir. Terima kasih sudah mampir.😊


Mohon like dan komentarnya ya. Untuk membangkitkan semangat penulis. Semoga Terhibur.🙏🌹


Jangan lupa Vote juga😊

__ADS_1


See You🙋🙋🙋


__ADS_2