Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 53. Acara Mancanegara


__ADS_3

Sejak awal para penari muncul dipanggung, Haris sudah mengambil posisi untuk duduk semeja dengan Fano dan tamu dari India. Tamu dari India memang dari awal lebih dekat dengan Fano dibandingkan tamu-tamu lainnya.


Sesuai dengan janji Haris pada Dakota akan mengamankan suaminya, diapun mendekat pada Fano, dia sudah memperhatikan Fano sedari awal para penari muncul, dia yakin Fano sudah curiga bahwa salah satu penari itu merupakan istri Fano.


“Aura dia sangat dingin” batin Haris.


“Mr. Kley, mari bersulang” ucap Haris mengambil alih pandangan Fano yang masih tertuju pada penari.


“Ya” ucap Fano mengangkat minumannya dan para tamu yang semeja dengan mereka ikut chers.


“Apa anda baik-baik saja Mr. Kley?” tanya tamu dari India.


“Saya baik-baik saja tuan Rapijay” ucap Fano menghabiskan minumannya.


“Para penari ini sangat berbakat, mereka tampil dengan sempurna. Kenapa anda terlihat tidak senang” tanya tamu dari India itu. Dia juga memperhatikan sikap Fano yang tidak senang sejak para penari mulai menari. Namun Fano hanya terdiam, bagi orang luar tidak ada alasan untuknya saat ini marah karena para penari itu.


“Tuan Rapijay tidak perlu khawatir, saya baik-baik saja” ucap Fano menutupi kekesalannya.


“Mr. Gipi sebagai penanggung jawab, bisa memiliki penari hebat seperti mereka. Ini sangat luar biasa” ucap Pak Rapijay.


“Anda terlalu memuji tuan Rapijay, mereka memang sudah latihan untuk menyambut acara ini” sahut Haris mengalihkan pembicaraan.


“Mr. Gipi terlalu merendah” seringai dari Pak Rapijay.


“Haha” tawa Haris lepas.


Sementara itu para penari masih menari, tarian kombinasi itu diawali dengan lagu Prem Ratan Dhan Payo dan disusul lagu berikutnya. Selang waktu durasi hampir 10 menit, para penari memberikan penampilan yang menghibur tamu undangan. Semua tamu memberikan tepuk tangan yang meriah pada mereka saat musik berakhir.


“Hadirin yang berbahagia, berikan tepuk tangan kepada mereka” ucap Mc. Semua penari kompak menunduk memberi hormat pada tamu undangan.


“Prok...prok...” tepuk tangan meriah dati tamu undangan.


“Mari hidupkan lampunya kembali” ucap Mc. Lampu kembali hidup, namun lampu tersebut tidak terang, suasana disana masih remang-remang.


“Hadirin yang berbahagia mari kita mulai kesepakatan bisnis. Para penari silahkan bergabung dengan tamu undangan” ucap Mc.


Mendengar ucapan Mc, semua tamu undangan sudah berpencar kembali berbincang-bincang. Sesekali pandangan Haris tertuju pada Fano, Dakota dan Yohana serta tamu undangan lainnya. Dia ekstra mengawasi semua orang yang ada diruangan itu.


Para penari itu turun dari panggung dan bergabung dengan tamu undangan yang hadir. Walau mereka ngosngosan mengatur pernapasan mereka. Perintah bergabung dengan tamu dari Mc itulah waktunya bagi mereka untuk istirahat dan minum.


“Deren, target operasi sudah menatapmu. Dia dikelilingi oleh wanita cantik, hati-hati saat bertemu dengannya” bisik Yohana pada Dakota. Sejak mereka turun dari panggung mereka memilih untuk istirahat sebentar dan meminum air mineral mereka.


“Pasti Yona, jangan lupa bantu aku nanti” bisik Dakota.


Selesai Dakota dan penari lainnya minum. Mereka melangkah mendekat pada tamu. Mata tamu sudah pada penari itu. Dakota sudah mendekati tergetnya pria bertopeng menutupi semua wajahnya, dia sudah mendekat ke meja pria itu.

__ADS_1


“Nona” ucap seorang pria memakai bahasa inggris. Dakota merasa bahwa pria itu tamu dari dari luar negeri.


“Iya tuan” ucap Dakota. Ternyata pria itu semeja dengan pria bertopeng. Dakota memperhatikan pria bertopeng itu masih berbincang dengan tamu lainnya.


“Aku sangat bangga padamu. Boleh saya tau siapa namamu” ucap pria itu.


“Boleh tuan, panggil saja saya Deren” ucap Dakota mengangkat tangannya untuk berjabat. Sejenak Dakota memperhatikan pria itu. Dakota yakin pria itu sudah seumuran dengan ibunya. Walau pria itu masih terlihat gagah dan awet muda.


“Hmm, Deren nama yang indah” ucap pria itu menjabat tangan Dakota.


“Tuan, kalau boleh tau nama anda siapa?” tanya Dakota kembali.


“Nama saya Rapijay” ucap pria itu.


“Nama anda sangat keren tuan Rapijay, salam kenal tuan, saya rasa anda adalah tamu dari India” ucap Dakota memahami nama pria itu sudah tentu nama yang diberikan karena pria tersebut keturunan India. Dakota juga memahami postur tubuh pria itu, tidak salah lagi pria itu memang tamu dari India.


“Ya, tebakanmu benar. Saya yakin nona Deren juga keturunan India” ucap Pak Rapijay.


“Tuan Rapijay bisa saja, saya sudah generasi ketiga tuan. Apa masih terlihat bahwa saya mirip wanita India” tanya Datoka. Sesekali matanya memperhatikan pria bertopeng.


“Kamu sangat mirip dengan penari yang saya kenal dulu saat saya berkunjung ke Indonesia untuk urusan bisnis. Nama penari itu Endangsi Kaif, tarianmu sangat mirip dengannya, dia juga keturunan India” ucap Pak Rapijay.


Mendengar ucapan pria itu membuat Dakota terkejut, pasalnya pria itu menceritakan tentang ibunya.


“Apa ibu dulu pernah bertemu dengan pria ini, kalau iya ... berarti dia juga kenal dengan Mr. Ela” batin Dakota.


“Wanita itu sudah meninggal bersamaan dengan kekasihnya Mr. Ela. Saat itu istri saya sangat ingin bertemu dengannya, aku cari informasi tentangnya hanya kabar duka yang kuterima” ucap Pak Rapijay.


“Apa?” ucap Dakota terkejut, bahkan minuman yang ada dimejanya jadi tumpah.


"Kekasih ... sudah meninggal ...." batin Dakota mencerna perkataan Pak Rapijay.


“Kamu tidak apa-apa” tanya Pak Rapijay mencemaskan Dakota yang duduk disampingnya.


“Ah, saya tidak apa-apa tuan. Pasti anda sangat sedih sudah kehilangan wanita itu” ucap Dakota merapikan kostumnya yang basah.


“Nona Deren, apa boleh saya meminta anda untuk bertemu dengan istri saya. Istri saya juga suka menari, kalau dia melihat anda menari, dia akan sangat senang. Kebetulan, 2 minggu lagi saya dan istri akan berkunjung ke Paris untuk acara bisnis, jika kamu tidak keberatan saya mengundang kalian untuk ikut kesana. Saya akan membiayai semua keperluanmu dan teman-temanmu disana nanti” ucap Pak Rapijay.


“Aku ingin sekali mengetahui kebenaran mengenai ibuku dan juga Mr. Ela, ini kesempatan yang bagus, kalau malam ini aku menanyakan lebih lanjut tentang ibu, hubungan kami belum sedekat itu” batin Dakota.


“Nona Deren, apa permintaan saya diterima” ucap Pak Rapijay kembali membuyarkan lamunan Dakota.


“Tuan Rapijay saya sangat senang dengan undangan anda, bisakah tuan Rapijay meminta izin juga kepada Mr. Gipi selaku penanggung jawab kami” ucap Dakota.


“Baguslah, saya pikir anda akan menolak. Kalau meminta izin dari Mr. Gipi itu hal yang mudah. Anak dari Mr. Ela itu akan memberikan izin nanti” ucap Pak Rapijay. Ucapan Pak Rapijay ini lagi-lagi membuat Dakota sangat terkejut.

__ADS_1


Pikiran dan pendengaran Dakota saling bekerja sama menerima dan mencerna kata-kata yang keluar dari Pak Rapijay.


“Seberapa jauh pria ini mengetahui kehidupan Mr. Ela” batin Dakota.


“Kalian membahas apa, saya lihat obrolan kalian sangat asyik, bahkan kostum anda ikut basah nona penari” ucap pria bertopeng memotong pembicaraan Pak Rapijay dan Dakota, tatapan matanya sudah tertuju pada kostum yang dipakai oleh Dakota. Pria itu masih dikelilingi oleh wanita-wanita cantik ditempat duduknya.


“Pria bertopeng ini suaranya terdengar sama dengan suara kakek” batin Dakota.


“Kita hanya berbincang Mr. Pich, tidak sengaja minuman nona Deren ini tertumpah” ucap Pak Rapijay. Apa yang diucapan Pak Admidjya benar, bahwa pria bertopeng yang baru saja disebutkan oleh Pak Rapijay adalah Mr. Pich. Dakota semakin hati-hati dalam bertindak.


“Jadi nama penari cantik ini Deren. Saya Mr. Pich nona Deren, senang berkenalan denganmu” ucap Mr.Pich dia berdiri sejenak dari kursinya untuk berjabat tangan dengan Dakota. Dakota ikut berdiri dari duduknya.


“Saya Deren, senang juga berkenalan dengan Mr. Pich” ucap Dakota membalas jabatan tangan Mr. Pich, mereka kembali duduk.


“Tangan pria ini juga sudah semakin keriput, seperti berjabat tangan dengan kakek. Apa Mr. Pich ini sudah setua kakek” batin Dakota memandangi tangan Mr. Pich.


Dakota bisa merasakan tangan Mr. Pich saat bersalaman tadi.


“Kita satu meja, namun saya belum bersulang dengan kalian” ucap Mr. Pich memberikan gelas minuman yang dihadapannya pada Dakota sudah berisi minuman anggur. Kemudian Mr. Pich menuangkan minuman anggur pada Pak Rapijay dan padanya.


“Mr. Pich terlalu berbaik hati” ucap Pak Rapijay mengangkat gelasnya.


“Tuan Rapijay terlalu sungkan” ucap Mr. Pich juga mengangkat gelasnya. Melihat hal itu Dakota ikut mengangkat gelasnya.


“Chers” ucap mereka yang ada di meja bersamaan beserta wanita-wanita cantik milik Mr. Pich ikut bersulang. Mereka sudah meminum minuman anggur itu. Saat Dakota ingin meminum minumannya.


“Prang ....” gelas minuman itu jatuh kelantai. Tubuh Dakota sengaja di senggol oleh seorang pria secara tiba-tiba saat Dakota mau meminum anggur yang ada digelasnya. Pria itu langsung pergi dan tidak minta maaf. Kebetulan suasana diruangan itu juga remmang-remang, pria itu bergerak sangat cepat.


Bunyi pecahan gelas minuman Dakota tadi membuat mata tamu yang mendengar tertuju pada Dakota, termasuk Fano selalu mengawasi pergerakan penari utama itu, walau dia asyik berbincang dengan tamu undangan, sesekali matanya fokus menatap pergerakan penari utama, apa lagi saat dia melihat kostum penari utama sudah basah karena minumannya yang terjatuh.


“Naon” ucap Fano pelan.


“Iya Presdir” jawab Naon pelan.


“Segera carikan gaun sesuai dengan ukuran istriku” perintah Fano pelan.


“Baik Presdir” ucap Naon pelan keluar dari aula.


“Apa mungkin penari utama tadi nyonya muda” batin Naon.


BERSAMBUNG..............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Jadiin favorit untuk up selanjutnya. Jangan lupa like dan komentarnya.🙏🌹


Vote juga boleh😊

__ADS_1


See You🙋🙋🙋


__ADS_2