Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 38. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Keluar dari lift Fano langsung berjalan menuju ruangannya yang sudah sebulan lebih ditinggalinya.


“Yunas” ucap Fano di depan pintu ruangannya.


“Iya Presdir” ucap Yunas menghentikan langkahnya menuju ruangannya.


“Suruh Dakota Kaif untuk menghadap keruangan saya pukul 11.00 wib” ucap Fano.


“Baik Presdir” ucap Yunas melangkah menuju ruangannya.


“Tapi Presdir, pukul 11.00 kita masih rapat Presdir” ucap Naon membukakan pintu untuk Fano.


“Rapatnya akan di percepat Naon, tidak sampai 2 jam” ucap Fano.


“Baiklah Presdir” ucap Naon.


Yunas langsung melaksanakan perintah Fano.


“Ada apa kamu keruangan saya sekretaris Yunas” ucap Susi pada Yunas yang baru saja selesai berbincang dengan Dakota di Ruangan Desain Interior. Susi memanggil nama pada Yunas, karena Susi lebih tua sedikit dan lebih dulu bergabung dengan Reinhard Group.


“Saya baru saja menghampiri Dakota Kaif bu Susi” ucap Yunas.


“Untuk apa kamu menghampirinya?” tanya Susi penasaran.


“Saya diperintahkan Presdir Fano untuk menyuruh Dakota menghadap keruangan Presdir pukul 11.00 wib nanti. Saya harap bu Susi memberikan ijin pada Dakota nanti” ucap Yunas menjelaskan.


“Itu sudah perintah Presdir saya bisa apa” sinis Susi memberikan tatapan tajam pada Dakota yang sudah duduk dikursinya. Dakota hanya diam duduk tenang tidak merespon keberadaan bu Susi.


“Baiklah bu Susi, saya sudah menyampaikan perintah Presdir, saya undur diri dulu” ucap Yunas meninggalkan Ruangan Desain Interior.


Sepeninggalan Yunas dari Ruangan Desain Interior.


“Saya heran lihat kamu, Presdir Fano baru dari luar kota, udah nyuruh kamu keruangannya” ucap Susi menghampiri meja Dakota.


“Saya juga tidak tahu ada keperluan apa Presdir memanggil saya bu” ucap Dakota. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan atasannya ini.


“Saya ragu sama kamu, jangan-jangan kamu udah merayu Presdir Fano ya” sinis Susi.


“Ah, aku saja tidak ingin masuk keruangannya, bagaimana bisa aku merayunya, bahkan aku sangat marah padanya” batin Dakota.


“Bu Susi saya tidak tahu dari mana bu Susi mendapatkan gosip seperti itu tentang saya, kemungkinan Presdir memanggil saya untuk menanyakan proposal saya bu” ucap Dakota.

__ADS_1


“Baguslah kalau kamu bilang begitu, bagaimanapun Presdir Fano itu sudah ada yang punya, mau kamu rayupun dia, kamu tidak akan bisa mendapatkan Presdir Fano” ucap Susi. Susi langsung masuk keruangannya.


“Apa mungkin yang dimaksud bu Susi itu temannya yang kemarin itu ya” batin Dakota.


# Ruangan Presdir


Ternyata benar yang diucapkan Fano pada Naon, rapat yang dilaksanakan tidak sampai 2 jam. Rapat sudah selesai pukul 10.15 wib. Selesai rapat Fano langsung menuju ruangannya. Dia sangat terkejut dengan tamu tak diundang yang hadir diruangannya.


“Untunglah aku bertemu denganmu, aku pikir aku sudah berkarat duduk lama disini” ucap Henri sudah duduk di Sofa tamu.


“Kau senggang ya? jam segini sudah datang kekantorku” ucap Fano. Naon langsung melepas jas Presdirnya. Kemudian Fano langsung duduk dikursinya.


“Apa kabar Naon?” ucap Henri melihat Naon melewatinya.


“Saya baik Dokter Henri” ucap Naon duduk dikursinya. Naon sudah sibuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk dan membiarkan Presdirnya mengurus tamu yang tak diundang itu, kebetulan tamu tak diundang itu adalah sahabat Presdirnya.


“Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kau kesini?” tanya Fano lagi sambil merapikan mejanya.


“Aku tidak senggang, sebagai Dokter Pribadimu aku wajar dong datang kesini, kebetulan jadwalku padat akhir-akhir ini di Rumah Sakit, aku cuti hanya hari ini saja” ucap Henri menjelaskan.


“Aku yakin kau tidak mengkhawatirkan aku, kalau ada hal penting langsung katakan saja” ucap Fano terlihat tidak senang diganggu oleh sahabatnya itu.


“Aku minta maaf, kemarin aku memberitahukan padanya kalau kau akan ke Kota X untuk acara reuni dan urusan bisnis, dia mendesakku dan mengotot ingin mengetahui keberadaanmu. Bagaimana bisa aku menolak permintaan wanita yang aku cintai” jelas Henri memberikan alasan pada Fano.


“Kalau kau mencintainya, kenapa tidak kau kejar dia dan langsung saja sekalian nikahi dia” ucap Fano masih kesal.


“Hal itu jugalah yang akan kulakukan, aku yakin dia akan hadir di kantormu untuk menemui Susi. Aku juga yakin kau akan mengusirnya nanti, jadi saat kau usir dia, aku ada sebagai tempat pelariannnya. Haha..” ucap Henri, sampai saat ini cintanya masih bertepuk satu tangan pada Kamila.


“Aku tidak peduli pada urusan cintamu, aku tidak ingin dia membuat kekacauan nanti di kantor ini” ucap Fano.


“Kau yang salah kenapa kau belum juga menikah sampai sekarang” ucap Henri tidak mengetahui kebenaran bahwa Fano sudah menikah. Tidak berapa lama kemudian sudah ada suara ketukan pintu dari luar ruangan.


“Tok ... tok ...." Ketukan pintu dari luar.


"Presdir saya boleh masuk” ucap dari luar.


“Masuk” ucap Fano membuat pembicaraannya dengan Henri terhenti.


Untuk yang kedua kalinya Dakota masuk keruangan itu, kali ini dia sudah mengenali siapa Presdir di Perusahaannya. Henri terkejut melihat penampilan Dakota yang culun terlihat lucu.


“Sebenarnya wanita ini matanya tidak minus, kenapa dia memakai kaca mata anti radiasi. Padahal bentuk tubuhnya bagus, hmm ....” batin Henri paham dengan penampilan Dakota.

__ADS_1


“Ada apa Presdir memanggil saya” ucap Dakota masih gugup menghadapi Fano, bahkan jaraknya sangat jauh dari meja Fano.


“Bagaimana bisa aku menyampaikan tujuanku memanggilmu, jarakmu saja begitu jauh” ucap Fano suaranya sudah mulai meninggi.


“Haha ....” Henri hanya tertawa melihat tingkah laku Dakota. Dakota jadi diam melihat pria tampan itu baru saja menertawakannya.


“Nona, kau tidak perlu takut padanya. Dia memang dingin, galak dan tidak ada romantisnya, jangan takut ada aku disini” ucap Henri sudah menaruh tangannya diatas lengan Dakota. Lagi-lagi Dakota hanya diam, bingung bagaimana dia mau merespon pria yang belum dikenalnya sama sekali.


“Apa yang kau lakukan, lepaskan tanganmu darinya” ucap Fano terlihat marah.


“Ya, ya baiklah Presdir Fano” ucap Henri mendorong tubuh Dakota mendekat ke meja Fano. Dakota hanya mengikut saja, tubuhnya sudah berdiri tepat dihadapan Fano.


“Bisakah kau diam saja di Sofa, ini urusanku dengan karyawanku” ucap Fano meminta Henri untuk tidak ikut campur.


“Aku hanya heran melihat karyawanmu ini, dia tidak terlihat seperti dirinya, kenapa penampilannya begini dan kau terima dia bekerja disini. Sudah jelas matanya tidak minus, dia juga cantik tapi dia memperburuk penampilannya. Bukannya di kantor ini penampilan itu yang utama juga” ucap Henri memandangi tubuh Dakota.


“Kenapa kau harus mengomentari penampilan karyawanku” ucap Fano. Namun Henri mengabaikan ucapan Fano.


“Nona siapa namamu?” tanya Henri mendekat pada Dakota.


“Ah, saya Dakota” ucap Dakota.


“Dakota ya, bahkan namamu lucu, bhahaa ....” tawa Henri membuat Fano, Naon juga Dakota heran dengan Henri. Fano langsung melotot pada Henri, membuatnya kembali serius dan menghilangkan tawanya.


“Namamu Dakota, apa kau ada saudara kembar, bukan saudara kembar perempuan, tetapi lelaki? Kalau ada biasanya nama saudara kembarmu itu Dakocan” ucap Henri menebak.


“Saya tidak memiliki saudara kembar” ucap Dakota. Setahu Dakota dia tidak memiliki saudara dan dia hanya anak semata wayang ibunya ibu Endangsi.


“Sudah cukup kau introgasi dia, kau bisa kembali ke Sofa” tegas Fano pada Henri.


Henri melihat ekspresi Fano menunjukkan keseriusan membuatnya melaksanakan perintah Fano. Fano sudah menatap wajah Dakota, dia terlihat tidak nyaman diruangan itu.


“Kenapa dia terlihat gugup, apa aku begitu menyeramkan” batin Fano memandangi istrinya.


BERSAMBUNG...........


Hai Reader, Terima kasih sudah mampir. Tinggalkan jempolnya ya, dan beri saran/komentar buat penulis. Jangan lupa favorite+vote ya. 🙏🌹


Penulis ini banyak permintaan ya, hehe.


See You🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2