
# Renihard Group.
Fano sudah merasa bersalah pada istrinya. Bahkan Dakota tidak meliriknya sedari dirinya dipergok bersama Sena. Sekembalinya dari indoBoutik, Fano langsung menuju Reinhard Group. Saat ini Fano sedang rapat bersama Kepala Bidang dan jajarannya. Namun Fano tidak fokus melaksanakan rapat karena kepikiran pada istrinya.
“Aku yakin istriku pasti marah padaku, dia bahkan tidak melirikku” batin Fano.
Rapat masih berlangsung, bahkan Kepala Bidang Bagian Promosi sudah selesai presentasi.
“Kenapa Presdir belum memberikan pendapat.”
“Kasihan Kepala Bidang Promosi dia sudah berdiri lama.”
“Apa Presdir tidak setuju dengan proyek kali ini.”
Bisik semua orang yang hadir dalam rapat.
“Presdir ... presdir ....” bisik Naon ditelinga Fano, Fano tetap saja melamun.
Semua orang dalam rapat sudah cemas, Fano belum juga menggubris. Bahkan Kepala Bidang Bagian Promosi sudah tegang. Sejenak Fano tersadar dia kembali pada dirinya sendiri.
“Selanjutnya” ucap Fano.
Semua orang bengong mendengar ucapan Fano dan saling menatap.
“Selanjutnya untuk bagian Pemasaran” ucap Naon untuk melanjutkan rapat. Kembali lagi Fano mulai tidak fokus ditengah-tengah rapat, Fano mulai memainkan handphonenya.
Kembali semua orang tercengang melihat Presdir mereka bukan seperti biasanya. Dalam sejarah belum pernah Fano main handphone saat rapat berlangsung.
“Apa yang harus kulakukan, aku sudah menanyakan dia sudah makan atau belum” batin Fano. Ternyata Fano sudah mengirimkan pesan melalui chat whatsapp, Fano bertanya ; “Sayang jadi kau makan?” kirim Fano.
Tidak berapa lama kemudian Fano mendapat balasan dari istrinya ; “Sudah” balas Dakota.
“Hmm ... hanya itu yang dia kirim” batin Fano.
Fano kembali mengirim balasan pada Dakota ; “Makan apa?” tanya Fano.
Tidak lama balasan berikutnya datang dari Dakota ; “Barusan makan kau” kirim Dakota pakai emot sarung tinju dan wajah marah berapi-api. Fano langsung meletakkan handphonenya diatas meja. Fano sangat terkejut menerima kiriman dari istrinya, dia tidak mau lagi mengrim chat pada Dakota. Mood Fano sudah jelek karena belum bisa meredakan amarah dari istrinya.
Saat Kepala Bidang Pemasaran selesai mengemukakan presentasinya. Semua orang menunggu Presdir mereka untuk memberikan pendapat. Namun tidak lama kesadaran Fano sudah kembali. Fano memperhatikan sejenak proposal dari Bagian Pemasaran.
“Apa ini?” teriak Fano melemparkan proposal dari Bagian Pemasaran. Semua orang kembali terkejut dengan tingkah Presdir mereka.
“Presdir ....” ucap semua orang yang ada dalam rapat.
“Maaf Presdir, ini hasil proposal suvey pemasaran” ucap Kepala Bidang Pemasaran dengan gugup. Fano langsung melotot pada bagian Kepala Bidang Pemasaran.
“Maaf Presdir, akan kami ulang proposal ini” ucapnya minta maaf.
“Kalian ulangi lagi, selanjutnya!” tegas Fano kembali merapiakan posisi duduknya. Rapat menjadi tegang dan mencekam.
“Aku harus minta maaf secara langsung padanya nanti” batin Fano
# IndoBoutik.
Dakota sedang sibuk melakukan pekerjaannya mendesain gaun untuk hak paten dari IndoBoutik yang akan di pamerkan pada publik sebagai pameran pertamanya sebagai desainer untuk IndoBoutik. Ternyata Alfata yang sudah sibuk memainkan handphone Dakota. Sambil membalas chat whatsapp dari Fano, Alfata main game juga.
__ADS_1
“Hie ... hie ....” tawa Alfata di samping Dakota.
“Fata, kenapa kau tertawa sendiri, ada yang lucu” ucap Dakota memperhatikan anaknya.
“Bos besar sudah aku kerjai” ucap Alfata sembari menunjukkan chat wahatsapp pada Dakota.
“Kenapa kau balas chat darinya” ucap Dakota merampas handphonenya dari tangan Alfata.
“Bunda tenang saja, aku tidak balas yang aneh-aneh kok” ucap Alfata.
“Fata, seharusnya kau abaikan saja tadi, Bunda masih marah pada ayahmu” ucap Dakota. Setelah Dakota membaca pesan balasan dari Alfata, Dakota kembali menyerahkan handphonenya pada Alfata.
“Sampai kapan Bunda akan marah pada ayah, nanti Bunda bertemu juga dengan ayah dirumah” ucap Alfata memeluk Dakota.
“Bunda tidak tahu nak” ucap Dakota.
“Kau sudah selesai main game” tanya Dakota. Ternyata Alfata sudah mengantuk bahkan matanya sudah terlihat berat.
“Anakku ini keasikan bermain” batin Dakota mengangkat tubuh Alfata. Alfata sudah Dakota baringkan di sofa. Kembali Dakota melanjutkan pekerjaannya. Waktu terus berjalan bahkan matahari sudah tenggelam, karena keasikan menggambar Dakota sampai lupa waktu, bahkan semua orang di dalam kantor sudah kembali pulang.
“Aku sampai lupa dengan anakku” batin Dakota menggendong tubuh Alfata yang masih tertidur.
“Nyonya Muda, biar saya gendong Fata” ucap Siti mengahampiri Dakota. Siti sudah membawa tas Dakota.
“Aku saja” ucap Dakota tetap mengendong anaknya hingga sampai masuk kedalam mobil. Kali ini yang menjadi supir Dakota adalah bodyguard yang sudah disediakan oleh suaminya untuk mengawasi Dakota selama berada diluar.
Tidak lama mobil yang membawa Dakota menuju kediaman Reinhard sudah tiba. Ternyata mobil yang membawa Fano kembali kekediaman Reinhard juga sudah tiba. Fano sudah mengembangkan senyumnya untuk menyambut kepulangan istrinya. Saat Fano menghampiri mobil istrinya, Dakota langsung saja keluar dari mobil sambil menggendong tubuh Alfata mengabaikan keberadaan Fano. Fano sudah berdiri melongo diabaikan oleh istrinya.
“Bunda, aku bisa jalan” ucap Alfata saat sampai di ruang tamu. Dakota langsung menurunkan tubuh Alfata. Dakota tahu Alfata tidak suka diperlakukan dengan manja. Alfata langsung beranjak mendekati Fano. Melihat anaknya sudah sadar menghampiri suaminya, Dakotapun beranjak kekamar mereka.
“Ayah” ucap Alfata sambil mengucek matanya.
“Ayah lepaskan aku” ucap Alfata.
“Ayo kita mandi” ucap Fano membawa Alfata.
Dakota memilih sibuk memasak di dapur bersama pelayan untuk makan malam mereka sekaligus menghindari Fano juga. Selesai makan malam Fano sudah sibuk mengurusi pekerjaannya, belum lagi dia masih menunggui kabar dari team penyidik dan juga kabar dari Naon mengenai pria misterius yang masuk sebagai penyusup untuk mengincar istrinya. Sementara Alfata setelah selesai makan sudah asyik bermain dengan kakek dan neneknya.
“Fata, kau tidur dimana?” tanya Dakota saat Alfata menghampirinya.
“Aku tidur sama kakek” ucap Alfata kembali beranjak untuk bermain dengan Pak Purnomo. Dakota kembali menggelengkan kepala melihat Alfata begitu semangat bermain dengan papa mertuanya. Dakota memilih kembali kekamar setelah penat bekerja.
“Dari tadi aku mengabaikan dia, tapi dia tidak mencoba untuk minta maaf. Aku tidak bisa berlama-lama marahan dengannya” batin Dakota membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dakota menunggui Fano untuk masuk kedalam kamar, namun Fano belum juga masuk padahal malam terus berlanjut.
“Aku ingin menyelesaikan permasalahan tadi malam ini dengannya, tidak mungkin aku pergi menemuinya, disini dialah yang salah, Aku sangat marah padanya, beraninya dia menemani Sena makan siang, ah ... dia memilih sibuk dengan urusannya, baiklah ... malam ini kau tidur diluar saja” gerutu Dakota berbicara sendiri di dalam kamar itu. Dakota sudah kesal pada Fano yang tak kunjung masuk kedalam kamar.
Selang waktu 30 menit kemudian, Fano keluar dari ruang baca menuju kamarnya. Saat Fano membuka pintu kamar ternyata pintu kamarnya sudah dikunci dari dalam. Fano sudah memasukkan tanggal lahir istrinya beserta tanggal lahirnya, juga tanggal lahir anaknya, namun pintu itu tidak bisa dibuka. Dakota masih sadar didalam kamar sambil mendengarkan pergerakan suaminya dari luar, Fano sudah sibuk mengotak atik pasword dari pintu kamar mereka.
“Sayang” ucap Fano membuka suara. Fano sudah menyerah menebak pasword dari pintu kamar mereka.
“Sayang, apa kau mau aku tidur diluar” ucap Fano sambil mengetok pintu. Dakota tetap tidak membuka pintu itu.
“Sepertinya aku harus membawa Fata” batin Fano.
Fano langsung beranjak masuk kedalam kamar orang tuanya. Ibu Lena sudah tidur, sedang Alfata belum tidur, Alfata masih asyik bermain ludo dengan Pak Purnomo.
__ADS_1
“Fata” ucap Fano menghampiri anaknya.
“Kenapa kau kemari?” tanya Pak Purnomo.
“Aku mau bawa Alfata sebentar” ucap Fano meraih tubuh Alfata.
“Dia akan tidur denganku” ucap Pak Purnomo menahan cucunya.
“Aku pinjam sebentar saja” ucap Fano mengajak Alfata keluar dari kamar orang tuanya.
“Ayah, turunkan aku” ucap Alfata. Fanopun menurunkan Alfata. Mereka sudah sampai di ruang tamu kedua dekat dengan kamar Fano.
“Untuk apa ayah membawaku kemari?” ucap Alfata bertanya pada Fano.
“Aku butuh bantuanmu” ucap Fano menunjuk kearah pintu kamar mereka.
“Jangan bilang ayah tidak bisa masuk” ucap Alfata menebak.
“Kau benar, Bundamu mengunci pintu kamar” ucap Fano sudah menyerah menebak pasword terbaru dari pintunya.
“Tugasku hanya membuka pintu saja, atau ada yang lain?” tanya Alfata.
“Bukan hanya membuka pintu, tapi membujuk Bundamu” ucap Fano.
“Ayah sedang memanfaatkan aku. Waktuku sangat berharga, ayah mau bayar aku berapa” ucap Alfata.
“Bujuk dulu istriku baru aku bayar” ucap Fano.
“Ah, aku malas” ucap Alfata tidak senang dengan ucapan Fano. Alfata langsung berbalik badan.
“Astaga, kau mau apa?” ucap Fano terpaksa menyerah dengan keinginan anaknya.
“Mulai besok angkat aku jadi Presdir di Perusahaanmu” ucap Alfata bercanda.
“Kau jangan bercanda” ucap Fano menatap tajam pada anaknya. Alfata langsung memandangi tubuh ayahnya dari atas sampai kebawah. Fano sudah heran dengan tingkah Alfata.
“Ayah tidak mau” ucap Alfata.
“Kau masih kecil” tolak Fano.
“Baiklah, bagaimana kalau berikan aku adik” ucap Alfata dengan wajah polosnya.
“Haha ... akan aku usahakan, maka dari itu segeralah bujuk Bundamu” ucap Fano.
“Bukan hanya itu, belikan aku game terbaru” ucap Alfata lagi.
“Akan aku beli, rayulah Bundamu” ucap Fano.
“Ayah harus ingat, berikan aku adik segera tidak pakai lama” tegas Alfata.
“Astaga, kau pikir buat anak itu tidak butuh waktu” batin Fano.
“Rayu dulu Bundamu” ucap Fano mendorong tubuh Alfata untuk beranjak menuju pintu kamar mereka. Alfatapun melaksanakan tugasnya untuk membujuk Dakota.
BERSAMBUNG............
__ADS_1
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah like dan komentar juga Vote🙏
See You🙋🙋🙋