Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 29. Awal Masa Kelam Lena


__ADS_3

# Rumah Sakit


Admidjaya mencoba menghubungi Purnomo, namun Purnomo tidak mengaktifkan handphonenya. Karena kasihan pada Lena, terpaksa Admidjaya mendampinginya bersama Seto, Mail dan pelayan rumah tangga Purnomo serta pengawal yang mencegah reporter dan wartawan untuk masuk ke Rumah Sakit. Admidjaya untuk sementara menutup informasi bahwa Lena melahirkan, dia ingin Purnomo tiba untuk memberikan klarifikasi kepada publik. Lena melahirkan secara normal, selama 2 jam mereka menunggu diluar ruangan persalinan.


“Keluarga dari Nyonya Reinhard” ucap Dokter keluar dari ruangan persalinan.


“Ya Dok” ucap Admidjaya bangkit dari duduknya.


“Nyonya Lena melahirkan anak laki laki sehat, keluarga sudah bisa masuk” ucap Dokter.


Admidjaya masuk keruangan persalinan dan melihat Lena sudah sadar sedang memandangi putranya yang baru lahir kedunia.


“Ehem” ucap Admidjaya membuka suara.


“Pak Admidjaya, terima kasih atas bantuan anda” ucap Lena, air matanya mulai menetes.


“Apa kau yakin, kau sama sekali tidak berhubungan intim dengan pria lain saat itu” ucap Admidjaya masih ragu dengan Lena.


“Seperti yang anda tahu saat itu, saya hanya tidur dan bangun tubuh saya sudah berada dikamar dengan pria asing” ucap Lena.


“Lalu bagaiman dengan anak ini” ucap Admidjaya melirik putra Lena yang baru lahir.


“Aku sangat yakin, ini anakku dengan suamiku” ucap Lena memastikan bahwa anaknya itu adalah anak Purnomo.


“Kalau begitu, kau akan mendapatkan penderitaan seumur hidupmu dari suamimu. Kau tahu Purnomo itu tidak bisa dibohongi sedikit pun, jika dia sudah sakit hati, dia akan membuat orang yang berhianat menderita sampai mati” ucap Admidjaya.


“Aku tau Pak Admidjaya. Aku minta tolong pada Pak Admidjaya untuk tetap menjaga ini menjadi rahasia antara aku, suamiku dan Pak Admidjaya, kelak anakku ini besar tidak akan tersebar ketelinganya sedikitpun” ucap Lena memohon untuk tetap menjaga rahasia.


“Yah, aku bisa pegang rahasia ini. Aku hanya bisa membantumu sampai disini, kau tahu suamimu sangat membenciku karena aku merebut Milen darinya. Nanti aku dan istriku Milen akan mengunjungimu. Aku pamit dulu, sepertinya suamimu sudah tiba di Rumah Sakit ini” ucap Admidjaya keluar dari ruangan.


Seperti dugaan Admidjaya, Purnomo sudah tiba di Rumah Sakit sedang dikerumuni oleh Wartawan.


“Ternyata Manajernya berhasil mangabarinya bahwa istrinya Lena sudah melahirkan seorang putra” batin Admidjaya meninggalkan Rumah Sakit dari pintu belakang.


“Pak Reinhard bagaimana keadaan istri anda?” tanya reporter, “kami dengar istri anda sudah melahirkan” ucap reporter yang satu. “Apa jenis kelamin anak anda Pak Reinhard” ucap reporter yang lain.


“Tolong berikan jalan pada Tuan Besar” ucap Mail menghalangi Reporter.


“Tolong kalian minggir, nanti Pak Purnomo akan memberikan klarifikasi saat jumpa pers” ucap sekretaris Purnomo.


Purnomo hanya diam, tangannya sudah dibalut dengan perban. Dia melangkah menuju ruang persalinan. Tiba di ruang persalinan dia langsung memandangi anak yang sudah dilahirkan oleh Lena.


“Aku harus jadi ayahmu, aku sangat ragu bahwa kau anakku. Bagaimanapun aku sudah menjadi ayahmu yang baik selama 9 bulan ini, aku akan menjadi ayahmu yang buruk seumur hidupku, jadilah pionku untuk merebut Reinhard Group dari orang-orang yang akan menjatuhkanku” batin Purnomo.

__ADS_1


Purnomo menggendong bayi yang baru dilahirkan oleh Lena.


“Suamiku kau mau membawa anak kita kemana” ucap Lena masih berbaring.


“Kau diam saja, tidak usah banyak bicara” ucap Purnomo keluar dari ruangan persalinan. Pelayan membantu Lena untuk menenangkan dirinya.


Purnomo sudah tiba dihadapan pers untuk klarifikasi putranya yang baru saja lahir.


“Lihat itu, Pak Reinhard sudah keluar membawa bayinya” ucap salah satu wartawan. Membuat mereka berburu mendekat pada Purnomo. Bayi itu sama sekali tidak menangis dipelukan Purnomo.


“Bayi yang penurut. Dengan kehadiranmu hari ini, mari kita guncangkan musuh-musuh kita” batin Purnomo melihat bayi dipelukannya masih tidur lelap.


“Tolong beri ruang pada Pak Purnomo dan bayinya” ucap Mail pada seluruh Wartawan dan Reporter yang sudah mengambil gambar mereka.


“Cekrek ... cekrek ....” Kamera sudah berada dimana-mana.


“Aku akan memberikan klarifikasi untuk semua media” ucap Purnomo membuka suara dan memeluk bayi kecilnya.


“Hari ini tanggal 11 November 1983 istriku Lena Laskara melahirkan anak kami, jenis kelaminya laki-laki. Kelak anak kami ini akan menjadi Presdir masa depan dari Reinhard Group. Mohon semua media menyebarkan informasi ini ke seluruh Indonesia” ucap Purnomo memberikan senyumnya pada kamera yang sudah siap sedia merekam dan mengambil fotonya.


“Wah, ternyata bayinya laki-laki” ucap wartawan. “Pak Purnomo sepertinya sangat bahagia” ucap wartawan yang satu. “Waw, pemimpin masa depan Reinhard Group” ucap yang lain. “Berita ini akan menjadi berita utama dan pencarian pertama jangan sampai ketinggalan satu katapun” desas desus para wartawan.


“Pak Purnomo, apakah sudah diberi nama untuk putra anda?” tanya reporter.


“Bagimana keadaan ibu Lena Laskara?” tanya Reporter lagi.


“Keadaannya baik, sepertinya bayi kami harus istrihat. Saya sudahi sampai disini” ucap Purnomo meninggalkan Pers.


“Pak Reinhard, tunggu dulu” ucap Reporter yang lain, namun sudah dihalangi oleh pengawal.


Purnomo kembali membawa bayinya keruang persalinan. Ternyata di ruang persalinan sudah tiba tamu tak diundang, yaitu Milen Admidjaya. Milen memang tetap bersahabat baik dengan keluarga Purnomo walau Purnomo terlihat memusuhi, namun Milen tetap menunjukkan persahabatan, bahkan dia sangat akrab dengan Lena yang jauh lebih muda darinya. Milen dikabari oleh suaminya bahwa Lena sudah melahirkan anak pertamanya. Karena Admidjaya merasa kasihan pada Lena, dia meminta Milen langsung berkunjung ke Rumah Sakit.


“Sayang, kau baru melahirkan. Jangan terlalu banyak gerak” ucap Purnomo pada Lena. Purnomo baru saja masuk keruangan itu. Namun dia mengabaikan Milen.


“Selamat ya Purnomo, kau sudah memiliki seorang putra” ucap Milen tulus.


“Iya, itu berkat istriku juga yang sangat setia mencintaiku dan memberikan putra padaku” senyum Purnomo meletakkan bayinya di keranjang bayi.


“Lena, bolehkah aku menggendong bayimu” ucap Milen pada Lena. Belum Lena jawab sudah dipotong oleh Purnomo.


"Silahkan Milen" ucap Purnomo mempersilahkan Milen.


Milen menggendong bayi kecil itu kepelukannya, namun bayi kecil itu terbangun.

__ADS_1


“Oekk...” tangis bayi kecil itu.


“Sepertinya anakku ini tidak menyukaimu Milen” ucap Purnomo meraih bayi kecil itu dari pelukan Milen. Purnomo langsung menggendong bayi kecil itu.


“Wah, dia langsung terdiam, memang anak kalian sudah telepati, dia terlihat nyaman dipelukanmu Purnomo” ucap Milen melihat bayi itu tertidur lelap.


“Tentu saja Milen, bagaimanapun darah lebih kental dari air” ucap Purnomo menyerahkan bayinya pada Lena.


“Sayang sepertinya bayi kita ini belum kau berikan asi” ucap Purnomo menyerahkan bayinya pada Lena.


“Iya Suamiku” Lena meraih bayi kecilnya.


“Jalan* ingatlah untuk tetap terlihat romantis dihadapan orang lain, publik dan tamu. Hukumanmu masih panjang sayang, tunggu kau keluar dari Rumah Sakit ini” bisik Purnomo pelan ditelinga Lena.


“Oya sayang aku harus keluar dulu, aku tinggal istri dan anakku padamu ya Milen” ucap Purnomo keluar dari ruang persalinan.


“Benar kata Pak Admidjaya, dia akan membenciku seumur hidupnya” batin Lena.


Sejak Cleofano lahir menjadi awal dari penderitaan yang dialami oleh Lena. Suaminya itu menjadi penjahat kelamin diranjang, ketika Lena melakukan kesalahan sedikit saja, maka Lena akan menerima amarah suaminya itu, menerima cambukan, permainan tali pinggang. Lena merasakan hal itu sebagai kebiasaan. Dia hanya ingin anaknya tetap hidup memiliki keluarga yang utuh.


# Sementara itu di kediaman Sutan


“Prang ....” barang-barang mewah milik Sutan sudah pecah oleh tangannya sendiri.


“Bagaimana bisa dia memberitakan pada media bahwa anaknya itu Presdir masa depan. Apa dia semudah itu mengakui anak itu” batin Sutan.


“Tut ... tut ....” suara panggilan keluar dari handphone Sutan.


“Halo Tuan” jawab dari seberang.


“Apa yang sudah kalian lakukan? Aku sudah membayar kalian? Kenapa dia tidak membunuh anak itu?” teriak Sutan.


“Tuan kami sudah melaksankan sesuai dengan perintah” ucap dari seberang.


“Dasar sampah tidak berguna” teriak Sutan memustuskan panggilan.


BERSAMBUNG..........


Hai Reader Wanita Presdir. Terima kasih sudah mampir.😊


Mohon like dan komentarnya. Untuk membangkitkan semangat penulis. Semoga Terhibur.🙏🌹


Jangan lupa Vote juga😊

__ADS_1


See You🙋🙋🙋


__ADS_2