Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 80


__ADS_3

# Reinhard Group


“Dakota” ucap Sita memeluk tubuh Dakota. Kebetulan waktu istirahat siang sebentar lagi, Sita langsung menghampiri kursi Dakota.


“Iya Sita” ucap Dakota menghentikan pekerjaannya.


“Kamu baik-baik saja kan, aku sangat khawatir padamu saat itu” ucap Sita mempererat pelukannya.


“Aku baik-baik saja Sita” ucap Dakota.


“Untung saja Presdir sangat peduli padamu, bahkan saat kamu diculik, Presdir langsung marah besar pada manajer Naon, aku bisa melihat Presdir sangat peduli padamu, dia memperlakukanmu seperti bukan orang lain, ternyata aku sudah tau” bisik Sita pelan pada Dakota sambil melihat sekitar.


“Gawat, apa Sita tahu aku istrinya Fano” batin Dakota.


“Kamu tahu apa Sita?” tanya Dakota pelan. Dia sangat terkejut mendengar ucapan Sita.


“Aku tahu, ternyata Presdir sangat menyukaimu, namun sepertinya Presdir bertepuk sebelah tangan padamu. Aku harap kamu jangan menolak Presdir Dakota, aku lihat dia benar-benar tulus padamu saat itu. Aku akan mendukungmu dengan Presdir” bisik Sita kembali melepas pelukannya.


“Fiuhhh..” Dakota menghela nafasnya, dia bersyukur ternyata Sita tidak mengetahui pernikahannya dengan Fano.


“Kenapa kamu menghela nafas, kamu pantas dicintai, walau kita karyawan biasa tidak boleh berhenti bermimpi apa lagi jadi istri seorang Presdir” ucap Sita menghayal.


“Manajer Naon” ucap Sita pelan. Dia sudah menghayal bisa pelukan dengan Naon. Ternyata diam-diam Sita menaruh hati pada Naon. Dakota heran melihat Sita menyebut nama Naon.


“Apa dia menyukai manajer Naon, setahuku Siti juga menyukai manajer Naon, selama ini aku melihat, walau Siti terlihat benci pada manajer Naon, namun Siti selalu curi-curi pandang pada manajer Naon” gumam Dakota.


“Apa kamu menyukai manajer Naon” bisik Dakota pada Sita. Sita langsung membuka matanya, dia sudah berhenti berhayal mendengar pertanyaan Dakota. Tiba-tiba saja Sita terkejut melihat Naon sudah masuk keruangan mereka.


“Pas sekali Dakota, kamu baru menanyakan dia, orangnya sudah ada disini” ucap Sita mengarahkan telunjuknya kearah kedatangan Naon, ternyata Fano juga masuk keruangan itu.


“Presdir ... dia ikut masuk keruangan ini” ucap Sita kembali mencolek pundak Dakota, mata Sita semakin berbinar-binar. Dakota melihat Fano sudah masuk keruangan Siera. Dakota lega, suaminya itu tidak datang menemuinya.


“Sebenarnya Sita ini suka sama manajer Naon atau sama suamiku” gumam Dakota memandangi Sita. Tidak berapa lama Naon sudah menghampiri meja Dakota.


“Nona Dakota boleh ikut dengan saya, ada hal penting yang harus kita urus” ucap Naon formal pada Dakota. Sita malah menyenggol lengan Dakota.


“Sebaiknya kau langsung ikut saja, mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan manajer Naon” bisik Sita.


“Sita, saya bawa dulu nona Dakota” ucap Naon.


“Silahkan manajer Naon” ucap Sita senyum-senyum sendiri. Dakota dan Naon langsung keluar dari ruangan itu.


“Kenapa manajer Naon membawaku keluar, ini juga sudah jam istirahat” gumam Dakota.


“Nyonya muda, Presdir meminta nyonya muda untuk menunggunya di ruangan Presdir” ucap Naon memencet tombol lift. Dakota dan Naon langsung naik lift menuju lantai 20.


Setibanya di ruangan Fano, Dakota melihat sekitar ruangan tidak menemukan Yunas, memang ruangan Yunas berbeda dengan ruangan Fano, sesekali Yunas terkadang berada diruangan itu dengan Naon.


“Manajer Naon, untuk apa saya disini sendirian” ucap Dakota heran, ruangan itu juga luas.


“Maaf nyonya, Presdir sebentar lagi akan tiba diruangan ini, saya juga tidak tahu, Presdir hanya memerintahkan saya membawa nyonya kesini” ucap Naon.


Tidak berapa lama Fano sudah masuk keruangan itu, dia melangkah menuju kursinya mengabaikan Dakota, seolah-olah Fano tidak mengenal Dakota persis seperti tindakan seorang Presdir terhadap karyawan.


“Presdir sudah tiba, saya undur diri dulu nyonya” ucap Naon langsung paham dengan situasi.

__ADS_1


“Tunggu dulu Naon” ucap Fano menghentikan langkah Naon.


“Iya Presdir” ucap Naon berbalik badan.


“Tolong, siapkan makan siangku dan istriku keruangan ini” perintah Fano pada Naon. Dia langsung melepaskan jasnya.


“Baik Presdir” ucap Naon langsung keluar dari ruangan itu. Tinggal Fano dan Dakota diruangan itu. Dakota masih berdiri mematung. Sementara Fano sudah menatapnya sedari Naon keluar tadi.


“Suamiku ini mau apa ya” gumam Dakota. Fano masih cuek padanya.


“Presdir, saya mau diapakan diruangan ini, ini sudah jam istirahat. Harusnya itu yang kuucapkan padanya, dia malah cuekin aku” gumam Dakota kembali.


"Kenapa kau berdiri disitu, duduklah dulu” ucap Fano. Namun Fano sudah senyum sendiri melihat istrinya bertindak sebagai karyawan.


“Ah, iya Presdir” ucap Dakota, dia langsung duduk di sofa.


“Kalau saja kau lebih terbuka padaku, aku tidak akan cuek padamu. Kenapa aku harus marah, dia pergi kesana selama 4 hari, 2 hari lebih dulu dariku, tapi itu waktu yang sangat lama” gumam Fano. Dia tidak fokus mengerjakan tugasnya.


Fano masih memeperhatikan istrinya sudah duduk merapikan roknya yang pendek.


“Ruangan ini tidak panas, kenapa kau terlihat gelisah” ucap Fano kembali menghampiri Dakota.


“Presdir, saya kesini sebenarnya mau apa, saya sudah 15 menit disini duduk bengong” ucap Dakota.


“Kita hanya berdua disini, kenapa kau terlihat formal” ucap Fano menarik tangan Dakota.


“Kau mau bawa aku kemana?” ucap Dakota heran dengan tingkah Fano.


Fano sudah menarik tubuh istrinya masuk keruangan pribadinya, ternyata di dalam ruangan itu ada kamar untuk istirahat. Sesampainya didalam kamar itu, Dakota sudah melihat kamar itu sangat rapi, aromanya juga wangi. Fano langsung mrendahkan suhu AC yang ada dalam kamar itu.


“Ini sudah dingin, tidak perlu dikurangi” ucap Dakota ragu-ragu.


“Kau terlihat kepanasan dan gelisah” ucap Fano meletakkan remot AC.


“Waktu istirahat kita tidak lama, bisakah kau jelaskan tujuanmu memanggilku kesini” ucap Dakota.


“Aku membawamu kesini, apa tidak ada yang ingin kau sampaikan” ucap Fano malah bertanya pada Dakota.


“Apa yang harus aku sampaikan padamu, kita masih dikantor bukankah urusan kantorlah yang harus kita bahas” ucap Dakota mengingat isi perjanjian.


“Jadi tidak ada yang ingin kau sampaikan padaku” ucap Fano menatap wajah istrinya.


“Aku tidak mengerti maksudmu, bisa tidak jelaskan saja padaku, biar aku juga bisa menyampaikannya padamu” ucap Dakota.


“Hah ....” Fano malah mendesah, dia langsung memeluk tubuh istrinya.


“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, kenapa kau bertindak aneh, cuek secara tiba-tiba” ucap Dakota heran dengan tingkah Fano.


“Sayang, kau akan berangkat ke Paris, aku bertanya pada Siera tadi, dia mengatakan jadwalmu pergi kesana selama 4 hari, bahkan keberangkatanmu lebih dulu pergi kesana dariku” ucap Fano, dia masih bermanja-manja dipelukan istrinya.


“Oh, masalah itu rupanya, aku lupa memberitahu padamu, aku berencana memberitahu padamu nanti saat dirumah” ucap Dakota.


“Apa kau tidak bisa menyampaikannya padaku secara langsung saja, kaukan punya handphone, tidak harus menunggu nanti malam saat dirumah” ucap Fano kesal.


“Kenapa kau harus kesal, ini hanya masalah kecil” ucap Dakota.

__ADS_1


“Masalah kecil katamu” ucap Fano melepas pelukannya. Kening Fano sudah mengernyit menatap wajah Dakota.


“Oke, aku minta maaf, lain kali aku akan menyampaikan padamu apapun itu segera mungkin” ucap Dakota menenangkan hati suaminya.


“Kau pergi kesana 2 hari lebih dulu dariku, apa kau tidak tahu 2 hari itu waktu yang lama, aku tidak bisa hidup tidak melihatmu sehari saja” ucap Fano.


“Suamiku kita belum berpisah, aku berangkat 10 hari lagi kesana” ucap Dakota.


“Apa kau tidak paham dengan ucapanku, aku sangat rindu padamu, kemarin kau seharian diluar, aku juga sibuk seharian kemarin, bertemu dengan istriku di malam hari, sudah menemukan istriku tertidur lelap, bahkan aku ingin minta dilayani, karena kau sudah terlihat lelah, aku menahannya memilih untuk tidur. Kalau sampai nanti kau selama 2 hari pergi, aku tidak sanggup” ucap Fano menatap wajah istrinya. Dakota masih terdiam mencerna perkataan suaminya.


“Sayang, aku ingin bermesraan denganmu, kau harus tahu aku selalu menahan diriku” ucap Fano, dia langsung mengangkat tubuh istrinya keatas kasur. Perlahan-lahan dengan gerakan lembut Fano mendudukkan tubuh istrinya di atas kasur.


“Suamiku, sebaiknya kita tunggu sampai dirumah ya” pinta Dakota. Fano malah memasang wajah cemberut menatap wajah Dakota. Dakota melihat wajah Fano seperti anak kecil yang mengambek.


“Apa sifatnya memang seperti ini, bisa-bisanya dia terlihat seperti anak kecil” gumam Dakota. Tidak berapa lama Fano langsung mencium bibir istrinya. Dakota langsung memejamkan matanya. Menikmati ciuman itu. Entah mengapa ciuman kali ini, Fano tidak melakukan pergerakan, dia hanya menyentuh bibir istrinya tidak menari-narikan lidahnya.


“Saat dia menciumku terasa begitu dalam, seolah-olah ciuman ini merupakan ciuman penghayatan” batin Dakota.


Ciuman itu masih berlangsung. Dakota membuka matanya, ternyata sedari tadi Fano menatap wajah Dakota memejamkan mata. Fano langsung melepaskan ciuman itu. Fano mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, dengan lembut hidung mereka bertemu.


“Aku sangat mencintaimu, kau tidak boleh mencintai pria lain selain aku, ingat itu! Kau tidak di izinkan memikirkan pria lain, apa lagi meliriknya” tegas Fano menatap wajah istrinya. Dakota masih bengong.


“Ada apa dengannya, kenapa dia berkata serius. Dari tadi mengatakan pria lain, pria lain itu maksudnya apa” gumam Dakota.


“Sayang, jawab aku, kau tidak boleh mencintai pria lain” ucap Fano kembali.


“Aku hanya mencintaimu, percaya saja padaku” ucap Dakota serius.


“Baiklah, aku pegang ucapanmu. Ayo kita keluar, Naon sudah membawa makan siang kita” ucap Fano melepas dekapan tangannya dari wajah istrinya. Mereka keluar dari kamar itu lalu makan siang bersama.


###


Ternyata tadi pagi Fano sudah mendapatkan laporan dari Naon mengenai keberangkatan acara bisnis di Paris.


“Presdir, untuk acara di Paris pelaksanaannya diundur selama tiga hari dari jadwal sebelumnya, apa Presdir akan tetap menghadiri acara itu” ucap Naon menyampaikan laporannya pada Fano.


“Aku sudah bilang padamu, kita akan berangkat kesana, istriku juga di undang oleh tuan Rapijay, atur saja jadwalku” tegas Fano tetap bersikeras mengikuti acara itu, walau sebelumnya dia sangat jarang mengikuti acara bisnis pelelangan yang akan diadakan di Paris.


“Baiklah Presdir, namun dari informasi yang saya dapat, artis JS juga hadir dalam acara itu” ucap Naon ragu-ragu.


“Maksudmu senior yang disukai istriku” ucap Fano tidak percaya.


“Benar Presdir, dia diundang sebagai bintang tamu mengisi acara nanti” ucap Naon memastikan ucapannya tidak salah.


Setelah mendengar laporan dari Naon, pikiran Fano sudah melayang pada istrinya, dia berharap istrinya segera membicarakan masalah kepergiannya ke Paris, bahkan rasa cemburu di hatinya semakin besar, mengingat laporan Naon mengatakan istrinya itu dan Janter Sucipto saling menyukai saat di bangku SMA dulu.


“Sial, kenapa dia harus ikut acara itu, apa dia sudah tahu bahwa istriku akan ikut kesana” batin Fano.


BERSAMBUNG...........


Hai Reader Wanita Presdir, semoga kita semua sehat selalu ya 🙏


Jangan lupa like dan komentar ya reader😊


Oya, sesekali Vote ya.😘

__ADS_1


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2