Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 63. Penculikan


__ADS_3

Dakota membawa pria itu menuju lift. Pria itu hanya diam saja tidak mengajaknya berbicara. Hingga lift itu berhenti dilantai dasar. Dakota membawa pria itu ke arah pintu luar menuju basement, dia lebih dulu melangkah didepan pria itu.


“Pak, pintu itu langsung menuju basement” ucap Dakota menunjuk ke arah pintu pakai tangannya. Pria itu tidak merespon dan memperhatikan sekitar. Tidak berapa lama kemudian saat Dakota ingin menoleh membalikan tubuhnya.


“Hmhh ... hmh ....” tangan pria itu sudah menutup mulut Dakota dengan sapu tangan. Dakota hanya bisa meronta-ronta. Dia mencoba mengerahkan kekuatannya, namun pria itu sudah mengangkat tubuhnya. Dia dibawa keluar menuju basement.


“Apa yang dilakukan pria ini, kenapa aku pusing” batin Dakota.


Mata Dakota mulai samar-samar, dia merasa pusing saat pria itu memasukkannya kedalam mobil. Tidak berapa lama matanya sudah tidak bisa diajak lagi. Dia sudah dibawa oleh mobil hardtop hitam.


Sementara itu, selesai tamu undangan makan siang, mereka sebentar lagi akan beranjak kembali ke penginapan mereka, Fano melihat istrinya tidak ikut mendampingi, apa lagi Pak Rapijay masih menanyakan kenapa Dakota tidak ikut bergabung saat makan siang tadi dengan mereka. Fano bisa melihat bahwa sedari tadi Pak Rapijay itu mengharapkan istrinya berada bersama mereka.


“Apa hubungan tuan Rapijay dengan istriku” batin Fano.


“Presdir Fano, kemana Dakota Kaif pergi” tanya Pak Rapijay, dia duduk disamping Fano.


“Maaf tuan Rapijay, Dakota mungkin saat ini sudah berada diruangannya, ini sudah masuk jam kerja” ucap Fano melihat jam tangannya.


“Saya sangat salut dengannya, saya ingin dia mengantarkan saya untuk kembali kepenginapan” ucap Pak Rapijay.


“Itu pasti tuan Rapijay, saya akan minta manajer saya untuk memanggilnya” ucap Fano.


Fano mengedipkan matanya pada Naon. Melihat Presdirnya mengedipkan mata itu artinya Naon harus menghadap pada Fano. Naon mendekat pada Presdirnya itu, Fano sudah berbisik pada Naon, bisikannya itu memerintahkan Naon untuk mendatangkan istrinya segera mungkin.


Mendengar perintah Presdirnya, Naon langsung segera beranjak keruangan Desain Interior dan dia tidak menemukan Dakota dikursinya. Dia mencoba mencari kesekitar ruangan itu, dia tidak juga menemukan Dakota, saat dia masuk keruangan Susi, Susi sedang sibuk dengan team lain.


“Ini masih jam kerja, biasanya nyonya muda tidak akan meninggalkan kursinya” batin Naon.


Naon kembali memeriksa meja Dakota, tidak ada sama sekali tas atau barang pribadi Dakota tinggal di meja.


“Kalau nyonya muda keluar sebentar seharusnya ada perlengkapannya di meja. Apa aku hubungi saja” batin Naon lagi.


“Tuut ... tuut ....” suara panggilan Naon tersambung.

__ADS_1


“Halo manajer Naon, ini saya Sita” jawab Sita dari balik handphone Naon. Sita mengangkat handphone Dakota yang bergetar di dalam tas yang masih dipegangnya, dia melihat nama kontak panggilan masuk handphone Dakota bertuliskan Manajer Naon.


“Sita ... kenapa handphone nona Dakota ada padamu. Nona Dakota ada dimana?” tanya Naon.


“Manajer Naon, saya bingung harus menjelaskan apa” ucap Sita gagap.


“Kenapa? jelaskan saja” ucap Naon penasaran.


“Manajer Naon, Dakota, dia ... dia ... dibawa oleh pria misterius naik mobil hardtop hitam, kayaknya mereka penculik manajer Naon, hiks..hiks..” tangis Sita menjelaskan dari balik handphone Naon.


“Kamu segera menuju kesini” ucap Naon memutus panggilan.


“Gawat, kenapa bisa ada penculik” batin Naon. Naon segera mencek semua cctv.


Sementara itu, Fano sangat kesal pada Naon karena belum juga mendatangkan istrinya, dia mengantarkan rombongan Reliance Industries masuk kemobil mereka di lobi utama perusahaan. Dia bisa melihat raut wajah Pak Rapijay sangat kecewa karena Dakota tidak bisa mengantarkannya kembali kepenginapannya. Fano masih berdiri di lobi melambaikan tangannya hingga mobil tamunya itu menghilang dari kantor itu.


Fano sudah melihat Naon lari ngosngosan menemuinya.


“Presdir ... Presdir gawat” ucap Naon menahan nafasnya.


“Nyonya ... nyonya muda diculik Presdir” ucap Naon.


“Apa katamu” ucap Fano sadar dengan ucapan Naon.


“Iya Presdir, nyonya muda sudah 30 menit yang lalu dibawa oleh pria yang berpura-pura sebagai pengawal” ucap Naon, dia baru saja mencek cctv.


“Apa? 30 menit, kenapa baru sekarang kau kasih tau, hah.. dari tadi kau ngapain” teriak Fano suaranya sudah meninggi membuat semua karyawan yang ada di lobi menjauh melihat Presdir mereka sudah marah besar pada Naon.


“Maaf presdir” ucap Naon serba salah.


“Cepat temukan dia, cek semua orang yang berhubungan dengannya hari ini” tegas Fano.


“Sita bisa sebagai petunjuk Presdir” ucap Naon gugup.

__ADS_1


“Temukan lokasinya segera” teriak Fano lagi. Naon langsung bergerak meninggalkan Fano.


“Siapa yang sudah menculiknya, kenapa pengawasan di kantor ini bisa dilewatinya” batin Fano.


Sita sudah menghadap pada Fano, dia menceritakan kronologi detik-detik Dakota menghilang dari perusahaan, air mata Sita masih keluar, dia sangat terkejut melihat Dakota dibawa oleh pria asing. Fano langsung melacak jenis mobil hardtop hitam yang dijelaskan oleh Sita.


“Sial, mereka masuk dari basement dan keluarnya juga dari sana. Plat mobilnya juga ditutup, apa mereka pembunuh bayaran” batin Fano.


Naon memeriksa semua karyawan yang berhubungan dengan Dakota hari ini, dia bisa membaca psikologis mereka. Dia memperhatikan jawaban dari Susi memiliki getaran yang berbeda dari karyawan lain. Mimik wajah dari Susi terlihat berbohong serta ketakutan. Naon masih menebak, dia tetap melacak siapa saja yang berhubungan dengan Dakota. Dia melihat rekaman cctv saat Dakota keluar dari toilet wanita dengan wajah yang pucat dan keringat dingin, langkah kaki Dakota juga terlihat gemetar. Karena penasaran apa yang terjadi dengan nyonya mudanya itu saat berada di toilet, dia kembali mencek cctv melihat siapa saja yang berada di toilet wanita itu. Dia melihat Susi lebih dulu keluar dari toilet memegangi handphonenya, setelah itu tidak berapa lama Dakota baru keluar.


“Apa penculikan ini berhubungan dengan Susi, mengingat Susi sangat benci pada nyonya muda” batin Naon.


Tidak berapa lama Fano memeriksa cctv saat pria itu berbicara dan memperhatikan jas yang dipakai oleh penculik itu masih baru, mereknya belum dilepas. Fano memperbesar merek jas tersebut, dia menemukan lokasi pembelian dari jas itu dari perumahan X. Fano juga memeriksa jenis hardtop hitam yang masuk dalam pasaran di sekitar kota Jakarta, tidak lama dia menemukan nama pemilik dari hardtop sesuai dengan ciri-ciri yang diceritakan oleh Sita. Mereka langsung berangkat bersama dengan pengawal saat Fano menemukan titik lokasi mobil hardtop itu berada.


# Kronologi detik-detik Dakota menghilang


Awalnya Sita ragu dengan pria itu karena mengaku bahwa pria itu pengawal dari tamu India, seingatnya pengawal untuk tamu dari India semuanya tidak memakai kaca mata hitam, mereka juga diberi peralatan khusus. Belum lagi saat dia melihat pria itu membiarkan Dakota melangkah lebih dulu, pria itu berjalan dibelakang Dakota dan melihat sekitar saat memasuki lift, pria itu terlihat celingak-celinguk. Sita langsung mengejar mereka, namun lift sudah tertutup. Dia langsung masuk lift lain menuju lantai dasar.


“Pria itu terlihat mencurigakan” gumam Sita.


Lift yang dipakainya juga banyak karyawan yang masuk keluar membuat waktunya lama dari lantai 15 kelantai dasar. Selang hitungan menit Sita keluar dari lift menuju basement, dia melihat tubuh Dakota sudah pingsan masuk kedalam mobil hardtop hitam. Dua pria berpakaian serba hitam seperti pengawal langsung melajukan mobil itu.


Sita masih mengejar, namun mereka lolos dari parkir online menuju jalan raya.


“Apa yang harus kulakukan, Dakota sudah diculik, siapa yang harus menolongnya” ucap Sita, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak berapa lama handphone Dakota yang ada dalam tas yang masih ditenteng oleh Sita bergetar, dia langsung mengangkat handphone itu.


BERSAMBUNG.......


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir😘


Jadiin Favorite +Vote ya😄


Jangan lupa tinggalin like dan komentar kalian😊

__ADS_1


See you😍


__ADS_2