Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 25. Papa Mertua


__ADS_3

Mendengar penjelasan Dokter keluarga membuat Dakota merasa bahwa kejadian yang dialami oleh ibu Lena kali ini bukanlah hal yang pertama kali melainkan berulang kali. Dakota selalu bertanya-tanya siapa yang tega melakukan hal tersebut. Mendengar petunjuk dari pelayan kemarin dia berpikir hal ini ada kaitannya dengan papa mertuanya.


Dakota terjaga sepanjang malam itu di kamar ibu Lena. Benar yang dikatakan oleh Dokter bahwa ibu Lena sudah sadar dipagi itu.


“Ma, mama sudah bangun” ucap Dakota meregangkan otot-otot tubuhnya.


“Sayang” ucap ibu Lena pelan. Tidak lama air mata ibu Lena keluar.


“Mama, jangan menangis. Dokter sudah mengobati mama, mama akan cepat sembuh” ucap Dakota melap air mata ibu Lena dengan jarinya.


“Tolong rahasiakan kejadian ini dari suamimu ya” pinta ibu Lena.


“Ma, kenapa bisa begitu. Suamiku juga anak mama, dia harus tahu keadaan mama” ucap Dakota khawatir.


“Tidak sayang, mama bolehkan minta tolong, kali ini mama tidak ingin Fano menderita karena mama” ucap ibu Lena.


“Apa maksud mama?” ucap Dakota terkejut mendengar suaminya sudah menderita karena mama mertuanya.


“Fano sudah banyak berkorban untuk keluarga, mama tidak ingin dia mendengar kabar bahwa mama sakit. Bagaimanapun masalah perusahaan itu lebih penting, dia juga harus fokus pada perusahaan. Biar masalah ini mama saja yang tangani” ucap ibu Lena.


“Tapi ma, apa aku boleh tahu, ada apa sebenarnya yang terjadi” tanya Dakota ingin tahu siapa dibalik ini semua.


“Mama belum bisa cerita saat ini sayang, bolehkan ini menjadi rahasia mama saja” ucap ibu Lena.


“Baiklah ma, mama harus cepat pulih ya” ucap Dakota.


“Iya sayang, makasih ya sayang, udah jagain mama semalaman. Kamu tidak usah repot-repot pelayan juga ada” ucap ibu Lena mengkhawatirkan menantunya.


“Ini sudah kewajibanku ma, mama juga ibu dari suamiku. Tidak ada kata sungkan. Kita adalah keluarga” ucap Dakota memegangi tangan ibu Lena.


“Apa kamu tidak berangkat ke kantor” ucap ibu Lena.


“Ah, iya ma. Tapi apa mama tidak ditemani disini” ucap Dakota mengkhawatirkan ibu Lena.


“Tidak apa-apa sayang, mama udah ada pelayan” ucap ibu Lena memastikan.


“Baiklah ma, nanti aku akan pulang lebih awal. Aku siap-siap dulu ya ma” ucap Dakota menuju kamarnya. Ibu Lena hanya mengangguk.


#Perusahaan Reinhard Group.


Hari ini Dakota harus melakukan riset kelapangan untuk proyek kerja sama dengan Reliance Industries dari India. Dia meminta ijin pada atasannya bu Susi selaku desainer utama perusahaan. Dakota memandangi bu Susi yang juga sibuk dengan kerjaannya. Dakota sudah menunggu di dalam ruangan bu Susi. Ternyata bu Susi sedang mengangkat telvon namun telvon tersebut tidak berhubungan dengan pekerjaan dan suara mereka sangat jelas terdengar oleh Dakota.


“Haha, tentu saja cin. Kita akan bertemu di Jakarta cin” ucap bu Susi.


“Iya cin, sebulan lagi aku ingin ke Kota X terlebih dahulu cin, baru ke Jakarta” ucap anonim dari seberang.


“Gak apa apa cin, yang penting kamu kembali ke Indonesia, kamu bisa dekati Presdir Fano lagi, kali ini jangan dilepas” ucap bu Susi.


“Apa maksudnya dekati suamiku, kali ini jangan dilepas, apa sebelumnya wanita itu dekat dengan Fano? Siapa wanita yang ditelvon bu Susi? Apa wanita itu orang yang bekerja di perusahaan juga” batin Dakota bertubi-tubi pertanyaan timbul dalam pikirannya, tidak sengaja mendengar pembicaraan atasannya.

__ADS_1


“Haha, itu pasti cinta. Aku tutup ya cin, aku juga udah sibuk nih” ucap dari seberang.


“Oke cin, see you” pembicaraan mereka selesai.


“Kamu kenapa bengong” tanya bu Susi pada Dakota yang duduk dikursi tunggu ruangan bu Susi.Walau mereka di Ruangan Desain Interior, namun masih ada ruangan khusus untuk desain utama.


“Maaf bu Susi, saya ingin menyampaikan bahwa saya akan kelapangan hari ini” ucap Dakota menjelaskan maksudnya masuk ruangan bu Susi.


“Hmm, lalu” ucap bu Susi.


“Saya hanya ingin meminta ijin dari ibu” ucap Dakota.


“Ya, semoga saja lancar untuk proyek ini, bagaimanapun ini proyek pertamamu” ucap bu Susi.


“Baik bu, saya pamit” ucap Dakota meninggalkan kantor.


Tidak lama Dakota sudah ditunggui oleh pelayan Siti. Sesuai perintah dari Presdir Fano. Sitilah yang harus terus bersama dengan Dakota 24 jam, memastikan bahwa Dakota tidur dikamar baru Siti boleh istirahat. Bahkan Dakota heran, untuk pekerjaannyapun Siti harus ikut mengantarkannya.


“Siti” ucap Dakota dikursi samping setir.


“Iya Nyonya Muda” ucap Siti melajukan mobil mewah milik Presdirnya.


“Kamu sangat setia pada Presdir Fano” ucap Dakota.


“Ya, Nyonya Muda. Hidup dan mati saya sudah ada di tangan Presdir Fano. Beliau yang menyelamatkan hidup saya 11 tahun lalu” ucap Siti.


“Iya Nyonya, saya mengenal keluarga Reinhard sudah 11 tahun, semuanya sudah saya tau” ucap Siti.


“Bisakah kamu menjawab dengan jujur untuk apa yang terjadi dengan ibu Lena” ucap Dakota.


“Maksud Nyonya, Nyonya Besar” tanya Siti.


“Iya, siapa lagi” ucap Dakota.


“Nyonya, maaf saya tidak bisa menjelaskan” ucap Siti.


“Apa kamu melihatku sebagai orang luar yang menjadi pajangan saja, aku sudah menjadi bagian dari keluarga Reinhard. Aku merasa seperti orang bodoh tidak mengetahui keadaan mama mertuaku” ucap Dakota kesal, semua seolah merahasiakan yang terjadi darinya.


“Maaf Nyonya kita bisa berhenti sebentar, saya akan ceritakan, tapi tidak detail” ucap Siti masih menyetir.


“Ya, kita cari tempat nongkrongan dipinggir jalan saja” ucap Dakota melihat sekitar saat mobil mereka masih melaju.


# Warung Bakso dipinggir jalan.


“Siti, kita sudah duduk disini, aku tidak punya waktu yang banyak, aku harus kelapangan untuk riset. Bisakah kamu mulai menjelaskan” ucap Dakota mendesak Siti untuk menjelaskan.


“Mohon maaf Nyonya Muda, bukannya saya ingin merahasiakan dari Nyonya, saya juga kurang tau detailnya” ucap Siti membuka suaranya.


“Baiklah, tidak masalah, yang kamu ketatahui saja” ucap Dakota.

__ADS_1


“Begini Nyonya Muda, sejak saya hadir dikeluarga Reinhard. Hubungan Nyonya Besar dan Tuan Besar sudah tidak baik, mereka hidup dirumah saja dengan kamar yang terpisah. Nyonya Besar yang Nyonya lihat hanya akting saja Nyonya. Nyonya Besar menyembunyikan dari publik bahwa semuanya baik-baik saja. Nyonya Besar selalu terlihat mesra dengan Tuan Besar diluar jika menghadapi tamu dan publik, namun...” ucap Siti sedih mengingat apa yang terjadi pada Nyonya Besarnya.


“Jadi benar hubungan papa dan mama mertua tidak baik” batin Dakota


“Lanjutkanlah, aku akan mendengarkan” ucap Dakota tetap penasaran.


“Nyonya Besar sebenarnya sangat menderita. Kemarin yang Nyonya lihat bahwa Nyonya Besar mendapatkan serangan itu, itu semua adalah ulah Tuan Besar” ucap Siti.


“Apa? maksudmu Papa Mertua” ucap Dakota terkejut.


“Iya Tuan Besar” ucap Siti.


“Bagaimana bisa, memangnya kesalahan apa yang dilakukan oleh mama mertua” ucap Dakota tidak percaya.


“Nyonya, kalau untuk kesalahan saya tidak tahu, tapi Nyonya Besar akan menerima serangan berupa hukuman jika Tuan Besar sedang marah, Nyonya Besar sudah terbiasa mengalami hal tersebut. Bahkan pelayan dirumah sudah terbiasa dengan hal itu, semua akan merahasiakannnya itu adalah perintah Nyonya Besar, tidak boleh diketahui oleh orang luar, maaf jika kemarin Nyonya Muda tidak diberitahu” ucap Siti.


“Terbiasa katamu, berati lebih parah dari itu ada” ucap Dakota.


“Iya Nyonya, lebih parah dari itu ada. Kalau Tuan Besar marah dan Presdir Fano tidak ada maka hal besar akan terjadi pada Nyonya Besar. Selama ini kalau Nyonya Besar sedikit saja membuat Tuan Besar marah, Presdir Fanolah yang melerai dan menggantikan hukuman Nyonya Besar. Presdir sudah sering mendapat cambukan. Apa Nyonya Muda belum melihat tubuh Presdir? bekas cambukan dari Tuan Besar masih membekas ditubuh Presdir” ucap Siti.


“Bagaimana bisa begitu, tapi aku belum melihat tubuh suamiku dari dekat, dia juga belum pernah bertelanjang dada dengan jarak yang dekat denganku dan aku kurang memperhatikan” batin Dakota.


“Lanjutkan saja yang kamu ketahui” ucap Dakota.


“Presdir sangat marah kalau melihat Nyonya Besar tidak marah atau melawan, karena itulah Presdir rela menggantikan Nyonya Besar, tidak ingin Nyonya Besar menangis” ucap Siti.


“Kenapa Fano juga tidak melawan?” tanya Dakota.


“Nyonya saya juga tidak tau inti dari permasalahan mereka. Presdir Fano juga tidak tahu yang mengetahui inti permasalahan itu hanya Nyonya Besar dan Tuan Besar saja, selama saya bergabung dikeluarga Reinhard hingga sekarang Presdir Fano tidak pernah mendapatkan perlakuan kasih sayang seorang ayah, hanya Nyonya Besarlah yang bisa menjadi alasan Presdir Fano tetap tidak melawan pada Tuan Besar. Kalau Presdir Fano melawan, Nyonya Besar akan memohon pada Presdir dan bersujud mengatakan tolong dengarkan perintah papamu ini demi kebaikan mama begitulah Nyonya” ucap Siti.


“Apa, jadi kehidupan suamiku ternyata serumit ini, bagaimana bisa mama mertua dan suamiku bertahan mengahadapi hidup dengan tekanan dan tidak ada kasih sayang yang didapatkan oleh suamiku dari seorang ayah. Ternyata suamiku mengalami penderitaan yang panjang, aku pikir dia hidup dengan uang yang banyak pastilah hidupnya enak enakan” batin Dakota.


“Nyonya Muda” ucap Siti melihat Dakota melamun.


“Apa tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan” ucap Dakota sadar dari lamunannya.


“Kalau untuk seputar Nyonya Besar sudah Nyonya, sebaiknya kita bergegas saja Nyonya, bukannya Nyonya juga harus kelapangan” ucap Siti mengingatkan Dakota.


“Ah, iya kita bisa bicarakan tentang Presdir Fano dilain waktu lagi” ucap Dakota. Mereka beranjak dari warung bakso.


BERSAMBUNG........


Hai Reader yang setia.😊


Mohon like dan komentarnya ya. Semoga novel Ini bisa menghibur.🙏


Sesekali Vote juga ya😊


See You 🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2