Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 101


__ADS_3

Saat Fano memberikan perintah pada Naon, hal itu membuat pembicaraan serius yang disampaikan oleh Dokter Mia berhenti sejenak. Tidak berapa lama kemudian Dokter Mia kembali menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada Fano dan Pak Admidjaya.


“Saat ini kondisi pasien belum sepenuhnya stabil, karena dia sudah mengingat semuanya membuat memori pasien sudah menumpuk, karena ingatan yang hilang itu. Saran saya pada kalian untuk tidak perlu mengajaknya dulu berkomunikasi, biarkan pasien sendiri mencerna semua kepingan-kepingan ingatan itu.” Ucap Dokter Mia.


“Dokter yakin dia baik-baik saja?” tanya Fano kembali.


“Untuk kondisi kesehatan pasien saat ini baik-baik saja. Ah, aku lupa mengatakan padamu Fano” ucap Dokter Mia melirik Fano.


“Kenapa Dok?” tanya Fano penasaran.


“Karena pasien baru-baru ini mengalami pendarahan karena ulahmu, aku sarankan agar kau segera minta maaf padanya. Dalam ingatan yang muncul saat aku tanya mengenai dirimu, dia mengepalkan tangannya menunjukkan bahwa dia sangat membencimu saat mengingat tindakan brutalmu padanya” ucap Dokter Mia.


Mendengar penjelasan Dokter Mia, Fano langsung menunduk malu, dia tidak tahu apa respon dari Pak Admidjaya saat mendengar ucapan Dokter Mia tadi, Fano hanya bisa terdiam sudah kecewa pada dirinya, tidak bisa melindungi orang yang sangat dia cintai. Keheninganpun mulai mencekam di ruangan itu, apa lagi Fano semakin merasa bersalah sudah memperlakukan Dakota secara brutal dalam keadaan tidak sadar. Untuk mencairkan suasana, Pak Admidjaya berinisiatif kembali membuka suara.


“Lalu bagaimana denganku, apa dalam ingatannya aku ini pria yang jahat?” tanya Pak Admidjaya. Mendengar ucapan Pak Admidjaya, kembali Fano semakin malu, dia seolah-olah tersindir oleh ucapan Pak Admidjaya itu.


“Apa Pak Admidjaya marah padaku, aku sudah menerima hukuman saat di Rumah Sakit kemarin, jangan bilang dia belum memaafkan aku” batin Fano.


“Dalam ingatan pasien, saat aku tanyakan mengenai Pak Admidjaya, ingatan terakhir menunjukkan pasien juga sangat benci pada anda. Pasien merasa sudah dibohongi selama ini saat dia mengetahui Haris sebagai saudara kandungnya dan Mr. Ela merupakan Elcid Admidjaya anak anda sendiri. Pasien selama ini sudah susah payah mencari tahu keberadaan ayahnya, ternyata Pak Admidjaya tidak memberitahukan kebenaran itu padanya. Ingatan terakhir menunjukkan pasien sangat benci pada anda, rasa benci pasien sama besarnya terhadap Fano dan Pak Admidjaya saja. Hal itulah mengapa aku menyuruh kalian keluar dari kamar, karena saat aku masuk membangunkan pasien, aku bisa melihat pasien sama sekali merasa tidak tenang karena kehadiran kalian berdua” ucap Dokter Mia memandangi Fano dan Pak Admidjaya. Mendengar ucapan Dokter Mia, kali ini Pak Admidjaya ikut menunduk merasa bersalah pada cucunya Dakota.


“Aku punya alasan, kenapa aku tidak memberitahukannya dari awal, karena dia hilang ingatan, ternyata dia sangat benci padaku” batin Pak Admidjaya.


“Aku sudah menyampaikan apa yang perlu aku sampaikan. Berusahalah kembali mencuri hati dari pasien sebelum rasa bencinya itu semakin besar, alangkah baiknya kalian berdua segera mencari cara untuk meminta maaf padanya. Aku pergi dulu, kalau ada hal mendadak, tolong jangan paksa aku harus sampai secepat mungkin, aku juga manusia, sudah tua, tidak seperti dulu lagi” ucap Dokter Mia. Dokter Mia langsung beranjak keluar dari kediaman Pak Admidjaya. Dokter Mia bahkan sudah mengeluskan dada, akhirnya dia bisa bersantai sejenak dari tugasnya.


Setelah kepergian Dokter Mia. Fano dan Pak Admidjaya sudah bingung, dalam hati mereka sudah bergelut, bagaimana mereka bisa mendapatkan maaf dari Dakota. Pak Admidjaya langsung pergi keluar dari kediaman karena ada urusan yang harus dia hadiri hari itu, sementara Fano tetap tinggal di kediaman untuk mengawasi istrinya, walau dia belum berani masuk kedalam kamar Dakota. Sesekali Fano bertanya pada Siti saat Siti keluar dari kamar. Fano menanyakan apakah istrinya itu sudah bangun, sudah mau di ajak bicara. Banyak pertanyaan yang sudah dia lontarkan pada Siti. Namun Siti menjawab pada Fano bahwa Dakota hanya terdiam, tidak ada mengeluarkan suara. Hingga malam sudah tiba, Fano belum juga menemui Dakota. Saat Siti kembali keluar dari kamar Dakota, Siti sudah melihat Fano terlihat kebingungan di ruang tamu walau Fano sudah selesai mandi. Siti langsung menghampiri Fano.


“Presdir, nyonya muda sudah mau berbicara” ucap Siti pada Fano.

__ADS_1


“Serius, apa yang dia bicarakan?” tanya Fano.


“Karena nyonya muda sudah istirahat, dia mulai lapar. Saya langsung bertanya pada nyonya muda mau saya bawakan makanan atau saya papah keruang makan. Nyonya hanya menjawab bahwa dia makan malam dari dalam kamarnya saja” ucap Siti.


“Segera bawakan makan malamnya, aku akan menyuapi dia makan” perintah Fano.


“Baik Presdir” ucap Siti meninggalkan Fano.


Tidak berapa lama kemudian Fano memberanikan diri masuk kedalam kamar membawa makanan komplit yang sudah dibawa oleh Siti untuk Dakota. Fano sudah mendapati tubuh Dakota sedang merias diri di depan cermin. Namun sorot mata Dakota kosong, tidak memperdulikan kehadiran Fano di kamar itu. Fano meletakkan makanan komplit yang dia bawa ke atas meja, dia sudah duduk di kasur memandangi tubuh Dakota.


“Aku sangat benci padanya, kenapa dia harus masuk kesini membawa makan malamku. Padahal aku sangat lapar, tapi melihat dia ada disini membuat perasaanku tidak nyaman” batin Dakota.


Dakota tetap mengabaikan keberadaan Fano. Dakota langsung beranjak menuju meja menambil makan komplit yang sudah diletakkan oleh Fano tadi, kebetulan memang Dakota sangat lapar, karena dia sudah sadar bahwa dia sedang hamil, dia tidak ingin menyiksa diri, dia memilih memakan makanan itu.


Fano yang duduk di kasur masih terdiam, dia hanya memperhatikan pergerakan dari Dakota. Fano belum berani membuka suara pada Dakota, dia membiarkan Dakota melahap makanan komplit itu. Hingga Dakota selesai makan, Dakota tetap mengabaikan keberadaan Fano, bahkan Dakota tidak sedikitpun menatap wajah Fano saat Dakota beranjak kekasur, dia sudah berbaring di samping Fano, berbalik badan membelakangi tubuh Fano. Siti yang menyadari Dakota sudah selesai makan, dia kembali masuk kedalam kamar itu untuk membereskan tempat makan komplit tadi.


“Siti, tolong kau tanyakan padanya, apa dia sudah kenyang” ucap Fano pada Siti. Siti jadi ikut kebingungan di dalam kamar itu, namun Fano sudah main mata pada Siti. Siti langsung beranjak mendekat pada Dakota. Tangan Fano sudah dia gerakkan pada Siti, Siti langsung menangkap maksud dari Fano, bahwa Siti tidak perlu berbisik pada Dakota.


“Nyonya muda, apa nyonya muda sudah kenyang” tanya Siti pada Dakota.


“Siti, tolong katakan padanya, aku tidak tahu dia siapa, suruh dia keluar dari sini” perintah Dakota pada Siti. Siti sudah terpojok diantara Fano sebagai atasannya dan Dakota sebagai nyonya mudanya.


“Siti, katakan padanya aku ini suaminya, aku tidak akan keluar dari sini sampai kapanpun” perintah Fano pada Siti.


“Astaga, apa yang harus aku perbuat, kenapa aku berada dalam lingkaran pertengkaran pasangan ini” gumam Siti kebingungan.


“Siti, apa kau mengabaikan permintaanku, suruh dia keluar, aku tidak membutuhkan suami seperti dia, dia pria yang egois mudah emosi, tidak memahami istrinya, suka berbuat seenaknya, tidak peduli saat aku sedang sakit bahkan hampir membunuh anakku, aku sangat benci padanya, tolong katakan padanya aku tidak butuh suami seperti dia” ucap Dakota.

__ADS_1


Mendengar Dakota mulai mengeluarkan unek-uneknya. Fano langsung menyuruh Siti untuk segera keluar dari kamar. Siti mengangguk memahami situasi, dia keluar membawa tempat makan komplit tadi.


Fano beranjak kesamping kasur untuk menghadap pada Dakota. Melihat keberadaan Fano yang tiba-tiba sudah berjongkok menghadap padanya, kembali Dakota membalikkan tubuhnya.


“Sayang” ucap Fano.


“Tolong dengarkan penjelasanku, aku tahu saat ini kau sangat benci padaku. Benar yang kau katakan, aku memang pria yang egois, aku sudah mencelakai dirimu, aku tidak bisa mengontrol diriku, aku ... aku ... aku saat ini tidak bisa memberikan alasan apapun padamu, bahkan aku sudah hampir mencelakai anak kita. Tolong maafkan aku” ucap Fano tulus. Dakota tetap diam, dia tidak merespon ucapan Fano.


“Sayang, aku ini suamimu, terimalah kekurangan dan kelebihanku ini. Kau sendiri yang mengucapkan itu, bahwa pasangan itu harus saling menerima kekuarangan dan kelebihan masing-masing. Jika aku mudah emosi, maka kaulah yang harus merendamkan emosiku, jika aku salah, ingatkan aku bahwa aku salah, jika aku menyakitimu, hukumlah aku, tapi tolong jangan hukum dirimu, demi dirimu juga anak kita” ucap Fano kembali.


Namun Dakota sudah menangis mendengar ucapan Fano. Bahkan suara tangisan Dakota sudah terdengar di telinga Fano.


“Sayang, tolong jangan menangis, aku salah sayang, aku minta maaf ...” ucap Fano.


“Semua orang dengan mudahnya meminta maaf atas apa yang sudah mereka perbuat, seandainya saat itu anakku keguguran apa kau pantas dimaafkan. Tolong renungilah kesalahanmu, aku mohon keluarlah dari kamar ini, biarkan aku menenangkan diriku sendiri, ada banyak hal yang tidak bisa aku cerna sampai sekarang. Saat ini tiada maaf bagimu” ucap Dakota melap wajahnya yang sudah basah.


“Baiklah, jika aku keluar membuatmu merasa baikan aku akan keluar” ucap Fano, dia sudah kembali berdiri.


“Aku boleh menciummu, aku ingin pamit pada anakku” ucap Fano pada Dakota. Dakota tidak merespon, dia hanya terdiam. Fano beranjak mendekati tubuh Dakota, dia sudah mencium perut Dakota kemudian dia mendaratkan ciuman selamat malam di kening istrinya itu. Dakota pasrah saja, walau Fano menatap wajahnya, Dakota tidak merespon tatapan Fano. Dengan langkah berat Fano langsung keluar dari kamar itu.


BERSAMBUNG.............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir,🙏


Penulis yakin, setelah baca Episode ini Reader pasti like dan komentar, bahkan memberkan Vote juga😊😊😊


Ahhhh ... sepertinya Penulis hanya bermimpi😤

__ADS_1


Semoga mimpi penulis jadi kenyataan😭😭😭


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2