
Setelah Sena berteriak pada Fano, Senapun langsung merapikan sendiri belanjaannya. Fano berencana beranjak meninggalkan Sena namun karena semua pengunjung IndoBoutik sudah menatap sinis pada Fano, hal itu membuat Fano merasa tidak enak.
“Anak muda, apa kau tidak diajari sopan santun.”
“Kasihan sekali kau dek.”
“Perlakukanlah wanita dengan baik, walau kau pria berduit.”
“Kayaknya mereka saling kenal."
Semua ibu-ibu sudah bergosip. Mendengar gosip dari ibu-ibu itu, Senapun langsung tersenyum bahagia merasa sudah bisa mengerjai Fano.
“Presdir Fano, hari sudah siang, sebagai rasa bersalahmu karena menabrakku bolehlah kau mentraktirku makan” ucap Sena.
“Kau sudah punya banyak pria kaya, untuk apa mengembatku juga” sinis Fano pada Sena.
“Ayolah Presdir Fano, apa kau mau semua ibu-ibu itu akan menyerangmu bila aku berteriak lebih keras lagi, bahkan aku bisa mengatakan kau baru saja menyentuh bokongku tadi” bisik Sena mengancam Fano.
“Setelah aku mentraktirmu makan, kau jangan pernah lagi muncul dihadapanku” tegas Fano.
“Wah, trikku ini manjur juga” batin Sena.
“Ikuti dulu permainan wanita ini” batin Fano.
Sementara itu, dilain tempat, karena Alfata sudah selesai belajar bersama guru privatnya, Alfata mengambek pada kakeknya Pak Purnomo. Alfata ingin bertemu dengan ayah dan bundanya. Alfata ingin kebebasan setelah penat belajar, dia juga selama ini selalu bersama dengan Dakota. Terpaksa Pak Purnomo mengabulkan keinginan Alfata. Pak Purnomo sudah membawa Alfata berkunjung ke Reinhard Group.
“Bukannya itu Tuan Besar.”
“Siapa anak kecil itu.”
“Kenapa mirip dengan Presdri Fano.”
“Apa mungkin itu cucunya.”
“Anak Tuan Besar hanya Presdir Fano bagaimana bisa punya cucu, Presdir Fano saja belum menikah.”
Bisik semua karyawan saat Pak Purnomo membawa Alfata menuju Ruangan Presdir.
“Tuan Besar” ucap Yunas. Hanya Yunas yang ada di ruangan itu sedang duduk dikursinya.
__ADS_1
“Humm ....” ucap Pak Purnomo. Pak Purnomo memilih duduk di kursi Fano untuk menunggui Fano. Karena Pak Purnomo terlalu gengsi untuk menanyai dimana saat ini Fano berada dia memilih menunggu saja mengingat dia belum akrap dengan Fano. Apa lagi hubungannya dengan Fano belum sepenuhnya membaik. Alfata sudah masuk kedalam memperhatikan ruangan ayahnya.
“Wah, ternyata anak Presdir sudah besar, bahkan mirip lagi dengan Presdir” batin Yunas memandangi Alfata.
Yunas sudah tahu bahwa Fano sudah menikah dengan Dakota saat Dakota diculik oleh perintah Kamila dan Susi. Karena Yunas curiga kenapa Susi ikut di penjara walau Susi sudah setia bekerja di perusahaan Reinhard, dia menyelidiki sendiri hubungan Fano dan Dakota dan tidak ingin penyelidikannya salah, Yunas langsung menanyai hubungan Presdirnya dengan Dakota pada Naon. Naonpun menceritakan yang sebenarnya pada Yunas bahwa Dakota adalah istri dari Fano. Namun belum semua karyawan dari Reinhard Group tahu bahwa Fano sudah menikah.
Setelah Alfata melihat sekitar dan belum menemukan keberadaan ayahnya. Alfata langsung berlari menuju meja Yunas.
“Kakak cantik” ucap Alfata langsung mensosor tubuh Yunas. Yunas sudah keheranan dengan tingkah Alfata secara tiba-tiba menghampiri tubuhnya.
“Adik kecil” ucap Yunas melepas pelukan Alfata.
“Kakak cantik, aku bukan anak kecil ....” ucap Alfata main mata pada Yunas bahkan Alfata kembali memeluk erat tubuh Yunas. Yunas sudah merasa tidak nyaman dengan tingkah Alfata. Apa lagi diruangan itu ada Bos Besar pemilik Reinhard Group.
“Fata, kau membuat kak Yunas sesak nafas” ucap Pak Purnomo dari kursinya.
“Hie ... hie ....” tawa Alfata melepas pelukannya dari Yunas. Yunas langsung merasa lega sudah lepas dari pelukan Alfata.
“Namanya Fata, apa mungkin gabungan dari nama Presdir Fano dan Dakota” batin Yunas.
“Kakak cantik, kau tahu dimana ayahku saat ini?” tanya Alfata pada Yunas.
“Makasih kakak cantik” ucap Alfata mengecup pipi Yunas. Kembali Alfata main mata pada Yunas.
“Astaga, ini benaran anak Presdir atau bukan” batin Yunas menghapus pipinya bekas ciuman Alfata tadi.
“Kakak cantik, apa kau sudah menikah?” tanya Alfata kembali pada Yunas. Yunas langsung menggeleng pertanda dia belum menikah alias lajang tua.
“Bagus kakak cantik, kau harus tunggu aku sampai aku besar nanti. Kakak cantik akan jadi wanitaku” ucap Alfata kembali mencium pipi Yunas.
“Astaga ....” batin Yunas kembali melap pipinya.
“Jangan dilap, nanti rasa cintaku hilang dariku” ucap Alfata menahan tangan Yunas. Suasana jadi canggung karena ulah Alfata pada Yunas.
“Fata ... kalau kau sudah besar, kak Yunas sudah jadi nenek-nenek. Kita kemari untuk bertemu dengan ayahmu, jangan ganggu kak Yunas, kak Yunas masih sibuk” ucap Pak Purnomo mencegah cucunya untuk tidak bertindak genit.
“Begitu ya kek, lalu dimana saat ini ayah. Kakek tidak mau menghubunginya” ketus Alfata beranjak ke sofa. Tidak lama kemudian Naon sudah tiba diruangan itu.
“Tuan Besar” ucap Naon menghadap pada Pak Purnomo.
__ADS_1
“Diamana Fano?” tanya Pak Purnomo langsung pada inti tujuannya datang ke kantor.
“Tadi Presdir singgah di Admidjaya Group, namun kemungkinan saat ini Presdir menemui Nyonya Muda di IndoBoutik” ucap Naon memperhatikan jam tangannya.
“Kakek, kita kesana saja, sekalian bertemu dengan Bunda” ajak Alfata pada kakeknya.
“Baiklah” ucap Pak Purnomo beranjak dari kursi Fano. Alfata kembali berlari menghampiri kursi Yunas.
“Muach ....” Alfata mendaratkan ciuman pada pipi Yunas. Yunas kembali terheran sambil melap pipinya.
“Kau masih kecil sudah genit” ucap Pak Purnomo meraih tubuh Alfata kepelukannya.
“Hie ... hie ... kakak cantik, jangan lupa, kau tidak boleh menikah, tunggu saja aku.” Senyum licik Alfata dari pelukan Pak Purnomo sambil main mata pada Yunas. Naon sudah geleng kepala melihat tingkah Reinhard kecil.
“Aku rasa anak Presdir ini akan jadi pria playboy yang suka dengan berondong tua” batin Yunas.
Akhirnya Alfata kembali mengajak kakeknya ke IndoBoutik. Pak Purnomo mengikut saja mengantar cucunya untuk bertemu dengan Fano dan Dakota.
Semenara itu, di indoBoutik, ditempat yang sama dengan suaminya Fano, sampai siang Dakota mendampingi para investor untuk berkeliling di IndoBoutik. Karena acara launching membuat IndoBoutik dipadati oleh keramaian, para investor tersebut memilih kembali keruang rapat untuk mendampingi Dakota bertemu dengan staf pemasaran. Setelah melihat hasil rapat dan presentasi dari staf pemasaran, Dakota dan para investor mulai istirahat sejenak. Bahkan investor tersebut sudah pergi pamit pada Dakota. Pak Admidjayapun mengantar para investor tersebut. Namun ada satu investor yang masih tinggal di dalam ruang rapat bersama dengan Dakota.
Merasa tugasnya sudah selesai, Dakota berencana mengabari suaminya menanyakan apakah Fano sudah makan atau belum. Belum sempat Dakota mengetik pesan.
“Nona Dakota, apa anda masih lajang?” tanya pria itu.
“Eh, Tuan Beni, kamu belum pulang” ucap Dakota merasa bersalah sudah mengabaikan Beni sabagai investor sekaligus tamunya.
“Aku belum pulang, kau belum jawab pertanyaanku” ucap Beni. Karena Dakota tadi tidak fokus, Dakota asal jawab saja.
“Oh, kamu mau makan siang bareng begitu” ucap Dakota menebak karena memang waktunya sudah makan siang.
“Humm ... wanita ini tidak fokus ternyata, padahal sedari tadi aku sudah memandanginya, apa mungkin dia sudah punya kekasih, setampan ini aku bisa diabaikan olehnya” batin Beni merasa kecewa pada dirinya, dia sudah yakin bisa memikat hati Dakota. Ternyata persepsinya salah besar.
“Tuan Beni, ini sudah jam makan siang, lebih baik kita makan dulu” ajak Dakota. Merekapun beranjak keluar dari ruang rapat menuju restoran yang ada di IndoBoutik.
BERSAMBUNG.............
Hai kakak Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, dukung selalu kisah Fano dan Dakota🙏
Like dan komentar, Vote juga boleh😊
__ADS_1
See You🙋🙋🙋