
Tangan Irma sudah berlumuran darah, bahkan tubuhnya mulai gemetar. Tubuh Irma langsung tergeletak tidak sadarkan diri. Darah dari tangan Dakota terus keluar, namun hal itu sama sekali tidak Dakota rasakan lagi.
“Apa aku sungguh membunuh Irma ....” pekik Dakota sembari tangannya yang satu mencoba mencek denyut nadi melalui tangan Irma.
"Denyut nadinya masih ada" batin Dakota.
“Krak ....” Siti pun langsung merobek gaunnya.
“Nyonya, anda tidak perlu mengkhawatirkan wanita ini, yang paling utama itu keselamatan anda” ucap Siti sembari membungkus tangan Dakota dengan cepat.
“Prang ... prang ....” Dinding kaca Aula di bagian timur hancur karena serangan dari luar. Bahkan masyarakat yang ada disekitar Hotel Admidjaya sudah berkerumun melihat pihak kepolisian sudah berkumpul di sekitar Hotel.
“Sepertinya telah terjadi serangan besar-besaran oleh penjahat profesional ....”
“Bukannya area itu adalah area Aula Hotel ....”
“Aku dengar di Aula Hotel sedang ada acara bisnis internasional, tamunya semua dari luar Indonesia.”
“Bisa jadi penjahatnya pembunuh internasional, bahkan pasukan khusus kepolisian sudah mengamankan sekitar Hotel dan menyelamatkan penghuni hotel."
Ucap semua orang yang ada disekitar hotel.
“Tolong kalian menjauh dari Hotel ini, sedang ada keadaan darurat ....” teriak salah satu anggota kepolisan memakai toa pada masyarakat yang lewat. Tidak lama kemudian, dinding kaca aula hotel dari arah keberadaan Pak Sutan sudah dibidik oleh penembak jitu.
“Prang ... prang ....” Pecahan dinding kali ini lebih berbahaya, karena hampir semua kepingan kaca dinding mengarah pada orang yang ada didalam Aula.
“Tolong ....” teriak para tamu undangan sembari menjauh dari pecahan kaca.
“Siti ... menunduk ....” teriak Dakota menarik tubuh Siti.
Sebagian orang yang ada didekat dinding sudah terluka karena pecahan dari dinding tersebut. Begitu juga dengan Pak Sutan. Tubuh Pak Sutan ikut terluka, bahkan bawahan Pak Sutan sudah tergeletak semua.
“Aku tidak mau mati ....”
“Kenapa team penyelamat belum tiba ....”
“Sepertinya gedung ini akan hancur ....”
Teriak para tamu undangan sambil menahan sakit disekujur tubuh mereka. Walau tubuh Pak Sutan sudah terluka, Pak Sutan masih mampu berdiri.
“Sial ... kalian pikir aku sudah kalah, aku masih memiliki 100 orang anak buah” ucap Pak Sutan sembari melap darah yang ada di pipinya.
“Apa yang kalian lakukan, segera habisi mereka ....” teriak Pak Sutan dari balik jam tangannya.
“Siapa yang menghabisi siapa ....” ucap Septa sembari membawa senjata apinya.
“Cih ....” Pak Sutan langsung meludah melihat kedatangan Septa.
“Anak tidak tahu diuntung, kau hanya sendiri, lihat kebelakangmu” ucap Pak Sutan sembari meraih senjata apinya. Septa pun berbalik badan dan melihat para pembunuh bayaran yang sudah Pak Sutan panggil dari ponsel jam tangannya sudah datang melalui pintu masuk Aula. Pakaian mereka serba hitam, usia mereka juga masih muda.
“Aku tidak sia-sia selama ini menghabiskan uangku untuk mendidik mereka, haha ....” ucap Pak Sutan sembari meraih permen karet yang ada didalam sakunya. Permen itu pun langsung Pak Sutan lahap.
“Lumayan banyak juga” ucap Septa ikut memakan permen karet miliknya.
“Untungnya aku sudah kenal dengan mereka sebelumnya, ketika Pak Purnomo mengabari rencananya, aku pun langsung bertindak” batin Septa.
“Bos ... apa anda baik-baik saja” ucap salah satu pembunuh bayaran itu pada Septa. Sontak Pak Sutan sangat terkejut melihat respon bawahannya.
“Siapa yang kalian sebut Bos, akulah Bos kalian ... Bunuh dia ....” teriak Pak Sutan.
“Aku lupa mengatakan padamu Mr. Pich, sekarang mereka adalah bawahan Pak Purnomo” ucap Septa. Pak Sutan pun langsung mengarahkan senjata apinya pada Septa.
“Dor ....” tembakan Pak Sutan meleset, Septa bisa mengelak serangan barusan.
“Aduh ... nyawaku ini bukan mainan, nyawaku masih ada ... aku masih hidup” ucap Septa sembari memukul wajahnya.
__ADS_1
“Tangkap dia ....” perintah Septa pada pembunuh bayaran itu. Mereka pun ramai-ramai mendekati Pak Sutan.
“Kalian, berani kalian melangkah, nyawa kalian akan melayang ....” ucap Pak Sutan sembari langkah kakinya mundur kebelakang. Pak Sutan pun menoleh kesekitar dan mendapati tubuh seorang wanita sudah tergelatak di lantai.
“Tubuh wanita itu tidak asing, bukannya itu Dakota” batin Pak Sutan. Pak Sutan langsung berlari meraih tubuh wanita itu sembari menodongkan senjata api miliknya pada wanita itu. Tubuh wanita itu memang mirip dengan tubuh Dakota. Saat Pak Sutan membuka mask eyes pada wajah wanita itu, benar saja wajah wanita itu mirip dengan Dakota.
“Jangan mendekat, atau nyawa wanita ini akan menjadi taruhannya” ucap Pak Sutan mengancam.
“Nyonya Dakota ....” ucap Septa sembari mengucek matanya untuk memperhatikan wanita itu.
“Nyonya ... sepertinya wanita itu memang benar menantu Tuan Purnomo” ucap para pembunuh bayaran itu.
“Haha ... kalian memang tidak bisa melawanku, aku akan bunuh wanita ini, cepat suruh Purnomo datang kemari ....” teriak Pak Sutan semakin menahan leher wanita yang ada di pelukannya.
“Djhudjhu ... djhudjhu ....” suara helikopter mulai mendekati area Aula. Bahkan pencahayaan dari Aula sangat silau. Pria tampan dengan jas hitamnya sudah memasuki Aula, pria itu bahkan tidak menutupi wajahnya. Semua orang yang ada di Aula pun melihat dan mendapai kedatangan Fano dan Pak Rapijay diikuti oleh Naon dari belakang sembari membawa Yohana yang sedang hamil.
“Bos ....” ucap Septa pada Fano. Pak Sutan sangat terkejut melihat situasi saat ini, apa lagi melihat kedatangan Fano.
“Apa yang kalian lakukan, Bos kalian yang sebenarnya adalah dia” ucap Septa pada mereka.
“Bos ....” Para pembunuh bayaran itu pun ikut memanggil Fano dengan sebutan Bos.
“Hehe ... Presdir Fano maaf, mereka mengira saya anak Tuan Purnomo sebelumnya” ucap Septa sembari menggaruk kepalanya.
“Fano ... bukannya kau sudah mati ....” Pekik Pak Sutan sembari mempererat pelukannya pada wanita itu.
“Apa kau kecewa karena aku masih hidup” ucap Fano sembari meraih senjata api milik Septa.
“Bos, wanita itu istrimu, apa kau akan menyerang istrimu sendiri” ucap Septa mencegah Fano untuk tidak menyerang wanita itu.
“Kau terima nanti hukumanmu, beraninya kau mengkibuli mereka dengan menyamar sebagai aku” ucap Fano pada Septa.
“Aku sangat kenal dengan istriku, sepatu mereka memang sama, warnanya silver, namun untuk kuku jari kaki istriku tidak berwarna merah, istriku tidak suka warna merah, kuku kakinya selalu berwarna hijau” batin Fano sembari memperhatikan bentuk tubuh wanita yang ada dalam pelukan Pak Purnomo.
“Aduh, aku hanya memanfaatkan situasi” ucap Septa sembari main mata pada Naon. Pak Rapijay yang ikut bersama mereka langsung memeriksa keadaan disekitar dan membantu para tamu undangan untuk segera diselamatkan masuk kedalam helikopter.
“Paman, lepaskan wanita itu” ucap Fano pada Pak Sutan.
“Kakek, tolong lepaskan sahabtku” ucap Yohana.
“Kakek ....” ucap Pak Sutan sembari memperhatikan wajah Yohana dengan seksama.
“Tasya ....” ucap Pak Sutan sudah mengenali wajah Yohana ada kemiripan dengan anaknya Boya Reinhard.
“Benar paman ... kau masih memiliki keturunan, bahkan sebentar lagi Tasya akan melahirkan cicit untukmu” ucap Fano.
“Diam kau, aku tidak akan menyerah walau kau membawa cucuku” ucap Pak Sutan.
“Dor ....” Sasaran senjata api yang ada di tangan Fano langsung mengenai kaki Pak Sutan.
"Bos, bagaimana dengan istrimu" ucap Septa mengkhwatirkan wanita itu.
“Kakek ....” teriak Tasya melihat darah sudah keluar dari kaki Pak Sutan.
“Argh ....” pekik Pak Sutan sembari menahan rasa sakit dikakinya. Dengan waktu yang singkat, para pembunuh bayaran itu langsung menahan tubuh Pak Sutan. Bahkan senjata api milik Pak Sutan sudah terlempar kelantai.
“Duak ....” kaki Pak Sutan yang satunya sudah di lumpuhkan oleh mereka.
“Tolong, jangan bunuh kakekku, saat ini aku sedang hamil, entah mengapa aku merasa mual, sepertinya bayi dalam perutku ikut merintih” ucap Yohana.
“Yohana, Paman sudah banyak melakukan kesalahan, tidak ada maaf untuknya” ucap Fano pada Yohana.
“Paman ... aku tahu itu, aku tidak ingin melihatnya meninggal di hadapanku, aku sudah ingat semua, dia pernah menyayangiku, Paman juga pernah bermain dan bercanda dengan kakek, Paman tidak boleh mengotori tangan Paman, biarkan pihak yang berwajib yang mengekeskusi kesalahan kakek” pinta Yohana pada Fano. Tidak terasa air mata Yohana pun ikut keluar.
“Cucu yang berbakti, kau memang darah dagingku, sekalipun aku mati nanti, bayi yang ada dalam perutmu itu harus membalaskan dendamku pada Purnomo” ucap Pak Sutan sembari menahan sakit pada tubuhnya.
__ADS_1
“Tahan dia, biarkan pihak kepolisian mengadilinya” perintah Fano pada para pembunuh bayaran itu.
“Baik Bos” ucap mereka langsung membawa tubuh Pak Sutan.
“Lepaskan aku ....” teriak Pak Sutan.
“Pak tua, kau sudah tidak bisa berjalan” ucap Septa.
“Bagaimana dengan Dakota?” tanya Yohana pada Fano. Fano pun langsung menghampiri tubuh wanita itu.
“Sayang ....” ucap Fano sembari meraih tubuh wanita itu. Saat Fano perhatikan dengan seksama, wajah wanita itu benar-benar mirip, namun ada yang aneh dengan tubuh wanita itu. Fano pun langsung menarik wajah wanita itu.
“Dia bukan istriku ....” ucap Fano sembari melemparkan topeng wajah milik wanita itu kelantai.
“Mungkin wanita itu adalah suruhan Dakota, lalu dimana Dakota, aku sudah mencek sekitar, namun tidak aku temukan, aku juga sudah mengabari Haris” ucap Pak Rapijay.
“Tidak mungkin Dakota menghilang” ucap Yohana.
“Naon, bawa Yohana kembali” ucap Fano.
“Siapa yang membawanya, tidak mungkin ada musuh lain selain paman” pekik Fano dalam hati.
BERSAMBUNG.............
Cerita Mini.
Author masih tidur dengan mimpi indahnya. Namun tidak lama kemudian, Bernard Bear dan Masha datang menghampiri author.
“Author bangun ....” ucap Masha sembari mengguncang tubuh author.
“Aihihihi” sahut Bernard Bear sambil memasukkan bulu ayam kedalam hidung author.
“Hatshyim ....” Sontak author bangun sambil bersin.
“Sial, lagi-lagi kalian ... pergilah masuk ke ANTV ....” teriak author ikut bergulat dengan Bernard Bear dan Masha.
“Bak ... buk ... bak” Perang dunia ketiga pun dimulai.
Tidak lama kemudian, wajah author sudah benyok-benyok.
“Sial-sial, aku sudah up, kenapa kalian mengganggu tidurku” pekik author sambil melap ilernya.
“Reader masih bangun dan bertanya pada author” ucap Masha.
“Aihihihi” sahut Bernard Bear sembari menari dihadapan author. Reader pun datang ramai-ramai menghampiri author. Tubuh author langsung merinding mendapati reader galak membawa sapu sebagai senjata.
“Sepertinya hanya emak-emak yang membaca novel author, saking asyiknya membaca sambil memegang sapu, sampai lupa mencet tombol like karena tangannya yang satu sambil menyapu rumah” batin author dalam hati.
“Kabur ....” teriak author sadar sudah dikelilingi reader.
“Thor, jangan kabur?” ucap reader. Author terus berlari sejauh mungkin, hingga wajah reader tadi tidak terlihat lagi, author pun berhenti. Namun begitu terkejutnya author masih mendapati Bernard Bear dan Masha masih ada disekitarnya.
“Hosh ... hosh ....” author mengatur nafas.
“Thor, para reader masih bingung dengan hubungan Yohana dan Dakota. Yohana memanggil Fano sebagai Pamannya, Yohana juga menikah dengan Haris sebagai saudara kembar Dakota. Bukannya Yohana harusnya memanggil Dakota sebagai adik ipar, tapi Fano adalah Pamannya, lalu bagaimana nanti anak Yohana memanggil Dakota ketika anaknya lahir” ucap Masha sambil berpikir.
Otak author langsung berputar.
“Bagaimana thor?” tanya Masha lagi. Mata author mulai berkunang-kunang, tidak lama kemudian author pun pingsan memikirkan panggilan anak Yohana nanti untuk Dakota.
“Author ....” ucap Mahsa.
“Jika kalian suka novel ini, jangan lupa like dan komentar ya” ucap Dakota tiba-tiba muncul.
“Vote ... vote ... Aihihihi” sahut Bernard Bear sambil menari.
__ADS_1
See You.👋👋👋