Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 151


__ADS_3

Siti sudah melihat cara berjalan Dakota mulai tidak stabil saat menggendong Alfata, bahkan kaki Dakota tidak sengaja menendang kursi, namun Dakota tidak merasakan rasa sakit pada kakinya.


“Nyonya ....” ucap Siti sambil membantu membukakan pintu untuk Dakota.


Dakota melonggarkan pelukannya dari Alfata ketika mereka sudah sampai di dalam kamar. Dakota langsung meletakkan tubuh Alfata di atas kasur. Alfata sadar melihat sikap Dakota terlihat tidak semangat. Kelopak mata Dakota sudah bengkak, Dakota tidak peduli lagi dengan penampilannya yang sudah lusuh bahkan tubuhnya juga sudah bau keringat karena belum mandi.


Pandangan mata Dakota mulai kosong, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika pandangan Dakota tertuju pada foto pernikahannya yang terpampang di dinding kamar, kembali Dakota mengingat momen pernikahannya dengan Fano karena perjodohan. Dakota masih ingat dengan raut wajah terpaks Dakota mengembangkan senyumnya pada kamera. Dakota pun melihat sofa yang ada di dalam kamar, untuk yang pertama kali sebagai suami istri, Dakota masih ingat saat itu Fano mau tidur di sofa terpisah ranjang dengannya. Dakota melihat kearah kamar mandi, kembali Dakota mengingat untuk yang pertama kalinya suaminya Fano dengan brutal menciumnya saat Dakota keluar dari kamar mandi dengan handuk. Air mata Dakota kembali mengalir mengingat masa-masa itu.


“Aku yakin kau masih hidup, aku tidak mau kau pergi secepat ini. Ini ... tidak adil, aku tidak mengijinkanmu pergi, suamiku ... tolong dengarkan aku ....” batin Dakota. Tubuh Dakota sudah meringkuk sambil memeluk betisnya. Alfata pun mendekat pada Dakota.


“Bunda ... kemana ayah pergi?” tanya Alfata pada Dakota. Mata Alfata juga masih sembab karena melihat Dakota tadi menangis membuat Alfata juga ikut menangis.


“Tuhan ... apa yang harus aku sampaikan pada ankku ini ... aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini, apa aku harus berbohong padanya” batin Dakota.


“Bunda ... aku ingin bertemu dengan ayah, aku tidak melihat ayah seharian ini, apa ayah tidak sayang padaku, bahkan saat ini bunda menangis, ayah tidak ada disini bersama kita” ucap Alfata sambil memeluk tubuh Dakota. Dakota balas memeluk anaknya.


“Anakku Alfata, dengarkan bunda baik-baik nak. Ayahmu sangat menyayangi kita, ayahmu pasti kembali, sabarlah menunggu, ayahmu sedang sibuk saat ini. Ini sudah larut malam, bunda akan bacakan dongeng untukmu” ucap Dakota sambil membaringkan tubuh anaknya.


“Baiklah bunda, jika ayah kembali aku akan tanya kenapa dia buat bunda menangis. Bunda ... jangan menangis lagi, aku tidak mau melihat bunda menangis” ucap Alfata sambil melap kelopak mata Dakota dengan tangannya.


“Kalau ayahmu sudah kembali kau bisa melakukan apa pun yang kau mau padanya, sekarang Fata harus tidur ya, bunda akan bacakan dongeng untukmu” ucap Dakota sambil menarik selimut untuk Alfata.


“Aku tidak mau dongeng, aku mau bunda menyanyi saja, tapi jangan lagu India” ucap Alfata sambil memejamkan matanya.


“Baiklah bunda akan menyannyi untukmu, tapi anak bunda harus tidur” ucap Dakota sambil mencium kening anaknya. Dakota pun langsung menyanyi.


“We let the waters rise (kami membiarkan air naik)”


“We drifted to survive (kami melayang tuk bertahan hidup)”


“I needed you to stay (aku membutuhkanmu tuk tinggal)”


“But I let you drift away (namun aku membiarkanmu pergi)”


“My love where are you (kau dimana kekasihku)”

__ADS_1


“My love where are you (kau dimana kekasihku)”


Dakota berhenti sejenak menghayati lirik lagu yang baru saja dia nyanyikan sambil tangannya mengelus punggung Alfata. Alfata langsung memiringkan posisi tidurnya. Dakota tidak sadar kalau air mata Alfata malah keluar mendengar lagu yang baru saja Dakota nyanyikan. Air mata Dakota kembali keluar, Dakota pun melanjutkan nyanyinya.


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Can we, can we surrender? (bisakah kita menyerah?)”


“Can we, can we surrender? (bisakah kita menyerah?)”


“I surrender (aku menyerah)”


Tangis ibu Lena kembali pecah di balik pintu kamar anak dan menantunya. Ternyata tadi Dakota sama sekali tidak menutup pintu kamar, karena pikiran Dakota tidak fokus. Ibu Lena harusnya masuk, namun saat mendengar pembicaraan Dakota dan Alfata, membuat ibu Lena tidak berani masuk.


“Anakku Fano, kemana kamu pergi nak, lihatlah istri dan anakmu, kembalilah pulang nak” pekik ibu Lena dalam hati. Begitu juga dengan Siti ikut mengawasi di balik pintu, ketika mendengar Dakota menyanyikan lagu surrender, tubuh Siti ikut merinding karena makna dari lagu yang Dakota nyanyikan sangat pas dengan situasi saat ini. Siti hanya bisa mengawasi dari luar, membiarkan ibu Lena menangis dibalik pintu.


“No one will win this time (tidak akan ada yang menang kali ini)”


“I juss want to back (aku hanya ingin kau kembali)”


“I’m running to your side (aku berjalan kesisimu)”


“Flying my white flag, my wahite flag (mengibarkan bendera putih (menyerah)”


“My love where are you (kau dimana kekasihku)”


“My love where are you (kau dimana kekasihku)”


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”

__ADS_1


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Whenever yuo’re ready? (kapanpun kamu siap)”


“Can we, can we surrender? (bisakah kita menyerah?)”


“Can we, can we surrender? (bisakah kita menyerah?)”


“I surrender (aku menyerah)”


“I surrender (aku menyerah)”


Tidak lama kemudian Dakota selesai menyanyi, air mata Dakota masih mengalir, bahkan tangan Dakota sudah berhenti mengelus punggung anaknya. Dakota sudah menahan agar anaknya tidak mendengar suaranya, namun Dakota tidak sadar kalau Alfata pura-pura memejamkan matanya. Air mata Alfata masih mengalir mendengar suara tangisan Dakota barusan sambil menyenyikan lagu menyerah.


Ibu Lena tidak tahan lagi menangis dibalik pintu kamar. Akhirnya ibu Lena masuk kedalam kamar.


“Anakku ....” Tangis ibu Lena langsung meraih tubuh Dakota.


“Mama ... mama ....” Tangis Dakota balas memeluk ibu Lena.


“Mama ada disini nak, mama ada disini, menangislah nak” ucap ibu Lena.


“Suamiku tidak pergi kan ma ... bisa tidak mama menyuruhnya segera kembali, aku tidak mau berpisah dengan suamiku, huhu ....” ucap Dakota.


“Suamimu pasti kembali, mama yakin dia belum pergi, karena Fano ada di hati mama” ucap ibu Lena sambil mengelus punggung Dakota.


“Mama ... kenapa harus begini ... kenapa ma ... ini rasanya tidak adil ma, kenapa ma ... hanghaaa ... huumhh ....” ucap Dakota sambil menahan tangisnya agar tidak didengar oleh Alfata.


“Percaya pada mama sayang, anak mama pasti kembali, selama mayatnya belum ditemukan, kita masih punya harapan” ucap ibu Lena.


“Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa meyakinkan semua orang bahwa anakku masih hidup, aku sendiri sudah menyerah, jika sampai besok Fano tidak ditemukan juga, aku mungkin akan pergi menyusulnya” batin ibu Lena.


BERSAMBUNG ...............

__ADS_1


To Reader Wanita Presdir: Terimah kasih untuk dukungan kalian terhadap novel ini. Untuk kalian yang sudah memberikan vote, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Jangan lupa tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian. Saya minta maaf kalau saya sangat lama up.🙏


__ADS_2