Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 149


__ADS_3

Kepala Beni masih terasa sakit karena efek obat perangsang yang dia konsumsi. Ternyata botol minuman yang diisi oleh Kela dosis obat perangsangnya lebih banyak pada botol yang Beni minum. Bahkan saat matahari sudah terbit, tubuh Beni baru setengah sadar. Namun tidak lama kemudian kesadaran Beni sudah kembali dan betapa terkejutnya Beni mendapati dirinya berada disebuah ruangan sempit, tidak layak disebut sebagai penginapan.


“Aduh ... aku ada dimana?” tanya Beni bicara sendiri sambil memperhatikan sekitar. Ketika arah pandangan Beni mengarah pada jendela ruangan itu.


“Laut ... sebenarnya aku ada dimana?” ucap Beni langsung bergegas dari tempat tidur.


“Sial, ternyata aku di kapal, bukannya harusnya aku tidur semalam dengan Dakota, lalu siapa yang membawaku kemari, apa mungkin Irma dan Sena” batin Beni. Beni pun langsung cepat-cepat merapikan diri.


“Dor ... dor ....” Sudah terdengar ditelinga Beni suara tembakan dari luar ruangan.


“Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa ada suara tembakan” batin Beni lagi sembari keluar dari ruangan itu. Beni pun langsung lari mencari sumber suara tembakan barusan.


“Gawat, aku benar-benar berada di kapal, dimana Sena dan Irma, tunggu dulu ... bukannya itu Dakota” batin Beni. Beni hendak berlari mengejar Dakota.


“Dakota ....” ucapan Beni tidak terdengar oleh Dakota karena Beni baru saja melihat mayat Kamila.


“Wanita ini, bukannya dia wanita simpanan Mr. Pich, apa mungkin Mr. Pich sudah menjalankan rencananya untuk menyekap keluarga Reinhard. Gawat, kalau begitu kapal ini bisa jadi tidak akan aman, aku harus mengejar Dakota” batin Beni. Saat Beni ingin beranjak pergi untuk mengejar Dakota. Beni tidak tega melihat mayat Kamila masih tergeletak di lantai.


“Sial, baru kali ini aku menyentuh mayat” ucap Beni langsung menyeret mayat Kamila kedalam peti barang. Aku harus mengeluarkan mayat wanita ini” ucap Beni. Beni pun langsung menyeret mayat Kami hingga mendekati pinggiran kapal.


“Cras ....” mayat Kamila beserta barang yang ada di Peti ikut terjauth kelaut.


“Huh ... kami sudah berada di laut lepas, walau begitu ini masih kawasan laut Indonesia” ucap Beni sambil melap keringatnya. Beni langsung berlari untuk mencari keberadaan Dakota. Saat Beni sampai di atap kapal, Beni sudah melihat Dakota sedang menangis karena cekikan Mr. Pich.


“Dakota” ucap Beni pelan ketika melihat Fano sudah keluar dari persembunyiannya.


“Tidak, aku tidak boleh menemui mereka” batin Beni. Beni hanya bisa memantau dari kejauhan. Namun mata Beni sudah terbelalak melihat keberadaan Sena dan Mia sudah tergeletak.


“Tidak mungkin mereka sudah meninggal” batin Beni.


“Jadi Mr. Pich adalah pamannya Presdir Fano, bahkan Pak Purnomo datang kemari, kalau begitu selama ini Mr. Pich menyimpan dendam pada Pak Purnomo, tapi kenapa Sena dan teman-temannya ikut terlibat” batin Beni lagi sambil menyaksikan kedatangan Pak Purnomo dan pihak kepolisian dari persembunyiannya.


Saat semua orang sudah heboh dan ricuh ketika mendengar kapal Peti Kemas akan meledak , saat itu juga Beni menghampiri tubuh Sena dan Mia yang sudah tergeletak.


“Sena ... bangun ....” ucap Beni sambil memukul pipi Sena. Namun tidak ada respon dari Sena. Beni pun mengguncang tubuh Mia, hal yang sama juga Beni dapatkan, tidak ada respon dari Mia. Ketika Beni mendekatkan telinga nya pada dada Sena.


“Sial, Sena belum meninggal” ucap Beni. Saat Beni mencek pernafasan dan denyut nadi Mia.


“Mia sudah meninggal” pekik Beni dalam hati. Semua orang sudah lalu lalang untuk turun dari atap kapal.


“Kapal ini akan segera meledak, Mia aku tidak bisa memakamkanmu karena aku harus menyelamatkan nyawa Sena, akan kutaruh tubuhmu didalam peti barang, setidaknya tubuhmu tidak hancur jika kapal ini meledak nanti, kau bisa dimakamkan dengan layak” ucap Beni sambil menyeret tubuh Mia kedalam peti barang. Peti barang itu langsung Beni lemparkan kelaut lepas. Setelah itu Beni langsung buru-buru membawa tubuh Sena.


Diwaktu yang sama saat semua orang sudah pergi menjauh dari kapal. Saat Beni menggendong tubuh Sena, ternyata Naon dan Beni berpapasan, namun Beni tidak fokus pada sekitar karena buru-buru.


“Beni juga berada di kapal ini, tapi kenapa dia membawa mayat Sena? Apa mungkin Sena masih bernyawa. Aku terlalu banyak berpikir, saat ini aku harus menemui Presdir” batin Naon sambil berlari untuk naik keatap kapal.


“Waktu hanya tersisa 9 menit lagi” batin Naon sambil melihat jam tangannya. Sesampainya Naon di atap kapal. Orang yang tersisa di atap kapal hanya empat orang beserta Naon.

__ADS_1


“Kenapa Septa bisa disini” batin Naon melihat Septa ikut membantu Fano untuk melepaskan rakitan Bom waktu yang bertengger pada tubuh Pak Reinhard.


“Nit ... nit ....” Bom waktu pada tubuh Pak Reinard terus berjalan.


“Presdir” ucap Naon pada Fano.


“Naon bodoh, kenapa kau kembali” batin Fano.


“Fano pergilah dari sini, waktuku sudah mau habis” ucap Pak Reinhard.


“Presdir, benar yang tuan Reinhard ucapkan, kita lebih baik pergi dari sini” ucap Naon.


Fano tidak menggubris orang disekitarnya.


“Sedikit lagi, sial waktunya terus berjalan, sisa waktu hanya 7 menit lagi, jika kita melompat pun, kita tidak akan bisa berenang untuk menjauh dari kapal ini ” pekik Septa sambil menatap pada Fano.


“Kalian berlarilah ....” teriak Fano pada Septa dan Naon.


“Tapi Presdir” ucap Naon menahan tubuh Septa untuk tetap berada disamping Fano. Tidak lama kemudian usaha Fano tidak sia-sia.


“Kita pasti selamat” ucap Fano langsung melepas Bom waktu itu.


“Tuhan ... Kau masih sayang pada kami orang berdosa ini” pekik Septa sambil meraih bom waktu itu dari tangan Fano. Fano langsung mengangkat tubuh Pak Reinhard.


“Presdir, tidak ada lagi kapal untuk kita” ucap Naon pada Fano. Septa langsung mengarahkan bom waktu itu kedalam kapal. Dengan hati-hati Septa meletakkan bom waktu itu, namun anehnya bom waktu itu terus berbunyi.


“Kita tidak ada waktu lagi, sepertinya setelah bom waktu itu terlepas, waktunya semakin berkurang dengan cepat. Kapal ini juga sangat luas ...” teriak Septa sambil berlari mengejar Fano dan Naon.


“Fano, kakek sudah tua, lebih baik kakek disini saja” ucap Pak Reinhard melihat cucunya sudah terengah-engah menggendongnya.


“Tidak kakek, aku tidak akan pernah melepaskan kakek” ucap Fano.


“Djhudjhu ... djhudjhu ....” suara hlikopter semakin dekat keatap kapal. Fano pun melihat helikopter itu dan mendapati Pak Rapijay berada di dalam helikopter.


“Tuan Rapijay ....” teriak Naon. Mereka terus berlari untuk mengejar helikopter itu karena helikopter itu datang dari arah yang berlawanan dengan mereka.


“Fano, cepat naik ....” teriak Pak Rapijay langusng menyambut Fano membawa kakeknya masuk kedalam helikopter. Angin semakin kencang, setelah Fano masuk kedalam, karena waktu terus berjalan untuk menjauh dari kapal itu, Naon dan Septa belum sempat naik.


“Kita tidak ada waktu lagi, lemparkan saja tali tangga pada kami ....” teriak Septa.


“Pegang yang kuat!” teriak Fano sambil melemparkan tali tangga dari dalam helikopter.


“Tidak, kapal ini akan meledak ....” teriak Naon. Naon dan Septa langsung melompat untuk meraih tali tangga yang sudah semakin menjauh dari kapal.


“Duar ....” Kapal Peti Kemas itu pun meledak. Bahkan kobaran api dari kapal hampir saja menyambar kulit Naon dan Septa.


“Naon, aku belum mati, kita masih hidup ....” teriak Septa sambil memeluk tali tangganya.

__ADS_1


“Benar, aku masih bisa bertemu dengan Siti” ucap Naon.


“Djhudjhu ... djhudjhu ....” Helikopter itu pun semakin menjauh dari area ledakan kapal.


“Tuan Rapijay, terimakasih untuk hari ini” ucap Fano sambil memeluk Pak Reinhard.


“Kau tidak perlu berterima kasih padaku, aku datang kemari karena aku tidak bisa menghubungi istrimu sejak tadi pagi, aku langsung melacak keberadaan Dakota dan team penyidik yang kusuruh untuk mengincar keberadaan Mr. Pich, ternyata Mr. Pich berada di kapal Peti Kemas dan lokasinya sama dengan lokasi keberadaan ponsel istrimu saat ini” ucap pak Rapijay sambil melepaskan kaca mata hitamnya.


“Tapi kenapa Tuan Rapijay datang dari arah yang berlawanan” ucap Fano semakin heran dengan situasi saat ini.


“Kapal itu akan meledak, akan terlihat oleh orang lain yang memantau dari kejauhan kedatangan kami, hal ini untuk mengkelabui Mr. Pich” ucap Pak Rapijay.


“Benar juga yang anda katakan” ucap Fano sambil berpikir.


“Lalu apa rencanamu, apa kita akan kembali kerumahmu?” tanya Pak Rapijay.


“Tidak ... untuk sementara waktu biarkan media mengabarkan berita diriku sudah meninggal supaya pamanku mengetahui hal ini. Walau istriku harus menangis untuk sementara waktu” ucap Fano.


“Sebaiknya kita mengabari istrimu, takutnya istrimu akan syok” ucap Pak Reinhard.


“Tidak Tuan Reinhard, yang dikatakan cucumu benar, kita harus menghabisi Mr. Pich, sebelum itu kita harus membawa Tuan Reinhard berobat terlebih dahulu. Aku akan telvon Dokter pribadiku yang ada di Jakarta” ucap Pak Rapijay.


“Presdir ....” teriak Naon pada Fano ketika Naon sudah mendekati helikopter. Fano langsung menarik tubuh Naon dan Septa untuk masuk kedalam.


“Huh ... huh ....” Bersamaan Naon dan Septa mengatur nafas mereka. Mereka pun langsung meraih air mineral yang sudah disediakan oleh Pak Rapijay.


“Presdir, kenapa kita tidak kembali menemui Nyonya Muda” ucap Naon pada Fano.


“Kita akan kembali setelah informasi kematianku tersebar” ucap Fano.


“Uhuk ... uhuk ....” air yang Septa minum langsung muncrat kewajah Naon.


“Lalu bagaimana dengan Nyonya Muda dan Alfata jika mengetahui hal ini” ucap Naon.


“Benar, orang yang Presdir cintai akan nangis darah jika tahu suaminya sudah meninggal” ucap Septa menimbuhi ucapan Naon barusan.


“Menurutku ini ide yang bagus, kita hanya perlu mengubah rencana awal kita untuk menangkap Mr. Pich, jika kabar Fano sudah meninggal tersebar, aku yakin Mr. Pich akan hadir dalam acara Mancanegara nanti untuk bertemu dengan Dakota, saat acara itu tiba, kita akan buat kejutan untuk Mr. Pich” ucap Pak Rapijay.


“Tapi Presdir, bukan hanya Nyonya Muda, Tuan Besar dan Nyonya Besar juga akan bersedih” batin Naon.


BERSAMBUNG..........


Setiap hari pembaca novel ini ada ribuan, namun yang menlike sangat sedikit😭


Author sadar kalau author jarang up, author tau kalau kalian terlalu asyik membaca hingga lupa pencet tombol like nya😩


Mohon dukung novel ini dengan like dan komentar kalian agar author semangat 🙏

__ADS_1


Kalian juga bisa mampir kekarya author yang ini.🤗



__ADS_2