Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 108


__ADS_3

Pak Purnomo dan Pak Amidjaya langsung mengurus urusan mereka sampai tuntas dengan Pak Sugiono juga ibu Melda. Mereka sudah menuju ke Hotel milik Pak Purnomo yang ada di Kota X. Kebetulan pengawal Pak Purnomo sudah menyeret dan mengintrogasi Pak Sugiono dan ibu Melda.


Setibanya Pak Purnomo dan Pak Admidjaya di Hotel. Pengawalnya sudah melapor pada mereka berdua.


“Tuan Besar, kami sudah melakukan sesuai perintah anda, namun mereka tetap tidak mau mengakui siapa Mr.Pich yang asli” jelas pengawal yang bertugas menangani Pak Sugiono dan ibu Melda.


“Pisahkan mereka di ruangan yang berbeda, kami akan mengintrogasi mereka kembali” perintah Pak Purnomo menatap Pak Admidjaya. Pak Admidjaya langsung mengangguk.


“Baik Tuan” sahut pengawal itu.


Beberapa menit kemudian, Pak Purnomo dan Pak Admidjaya langsung beranjak memasuki kamar Hotel. Kamar Hotel itu sengaja dikosongkan dan juga kedap suara sebagai kamar pribadi Pak Purnomo dan kamar pribadi Fano saat mereka berkunjung ke Kota X. Pak Admidjaya langsung mengintrogasi ibu Melda, sementara Pak Purnomo langsung mengintrogasi Pak Sugiono di dalam kamar pribadi milik Fano. Pak Admidjaya sudah mendapati tubuh ibu Melda terkapar di lantai dengan tubuhnya yang terikat.


“Papa mertua ... tolong lepaskan saya” ucap ibu Melda memohon saat Pak Admidjaya menghampiri ibu Melda.


“Aku tidak ingin berbasa basi lagi denganmu, kau sudah kenal denganku. Jawab saja pertanyaanku siapa Mr.Pich yang sebenarnya?” tanya Pak Admidjaya. Mendengar Pak Admidjaya serius, ibu Melda tidak bisa lagi berharap banyak pada Pak Admidjaya.


“Kenapa kalian menanyaiku tentang dia, aku tidak tahu sama sekali mengenai dia” ucap ibu Melda, bahkan ibu Melda sudah menangis mengeluarkan air mata buaya.


“Aku sudah menghargaimu selama ini. Bukannya aku tidak mau melenyapkan dirimu, itu hal mudah bagiku. Sudah lama aku membiarkan dirimu bergerak menghancurkan keluargaku. Aku sudah tahu semua kebusukanmu, rencanamu melenyapkan Endangsi saat dia setelah melahirkan Haris. Aku juga yakin kau dibalik pembunuhan istriku dan kehilangan anakku Elcid” ucap Pak Admidjaya mengingat kembali kejahatan menantunya itu. Begitu terkejutnya ibu Melda mendengar penuturan dari Pak Admidjaya, selama ini dia merasa yakin Pak Admidjaya tidak akan curiga bahwa Haris bukan anak kandungnya, namun persepsinya salah.


“Jadi anda sudah tahu semuanya, kenapa tidak biarkan saja aku langsung masuk penjara” ucap ibu Melda.


“Kau ... aku sedang menahan emosiku, aku tidak bisa memukul perempuan, jelaskan saja siapa Mr.Pich yang sebenarnya” tegas Pak Admidjaya bertanya.


“Haha ... ternyata hidupku sudah hancur, untuk apa aku memberitahukan padamu orang yang tidak aku kenal” ucap ibu Melda.


“Apa kau tahu, orang yang kau mintai tolong untuk membunuh istriku adalah ayahmu” ucap Pak Admidjaya memancing ibu Melda untuk mengungkap Mr. Pich yang asli.


“Apa kau bilang ... itu tidak mungkin ... ayahku bukan Mr. Pich. Aku sudah dua kali bertemu dengannya, dia selalu memakai topeng, bahkan saat dia menyentuh tubuhku, aku bisa membedakan tubuh ayahku dengan tubuh Mr. Pich yang asli. Ayahku bukan Mr. Pich yang asli, dia tidak mungkin menyentuh putrinya sendiri” ucap ibu Melda jujur.


“Ck ... ck ... kau bahkan tidur dengannya. Kau lebih rendah lagi dari wanita malam, dia masih dibayar dan tidak melenyapkan orang” ucap Pak Admidjaya semakin kesal melihat menantunya itu.

__ADS_1


“Aku tidak tahu kalau ayahku adalah bawahan dari Mr. Pich. Aku melakukan semuanya, itu karena istri dan anakmu selalu mengusikku, mereka ragu bahwa aku yang melahirkan Haris. Bahkan setelah mereka mengetahui Haris bukan anak kandungku, mereka sudah terlihat menjauhiku. Aku terpaksa melenyapkan orang-orang yang berani menghalangi langkahku” ucap ibu Melda.


“Tiada lagi maaf untukmu. Untuk kematian istriku dan kehilangan anakku. Katakan saja siapa Mr.Pich itu” teriak Pak Admidjaya


“Aku sudah jujur padamu. Saat itu Mr. Pich memakai nomor sekali pakai saja, memang nomornya awalnya aktif, namun saat pertemuan kami kedua, setelah aku meminta dia untuk membantuku melenyapkan mama mertua dan Elcid, setelah kabar kematian dari ibu Milen, nomornya tidak aktif lagi, aku pergi menemuinya kembali ke Hotel tempat kami bertemu. Semua pelayan Hotel tidak mengenal identitas aslinya. Selama ini aku juga berusaha untuk mencarinya” ucap ibu Melda.


“Kau ... kau memang gila, bahkan setelah kau melenyapkan istri dan anakku, kau masih ingin menemuinya” teriak Pak Admidjaya.


“Haha ... kepada siapa lagi aku bersandar, aku wanita yang mandul. Aku hanya ingin keluarga yang utuh, memiliki anak juga suami. Awalnya aku tidak ingin melenyapkan siapapun, aku hanya melenyapkan Endangsi, tapi melihat mereka merendahkan aku saat aku tidak melahirkan Haris, saat itu aku sudah menganggap mereka adalah musuhku. Salahkah aku menginginkan keluarga bahagia, haha ...” tawa ibu Melda.


“Kau memang psikopat. Bereskan dia!” perintah Pak Amidjaya pada pengawal yang juga bersama dengannya di dalam kamar itu.


“Kau tidak mungkin membunuhku, aku tidak mau mati” teriak ibu Melda.


Pak Admidjaya mengabaikan ucapan ibu Melda, dia langsung beranjak keluar menemui Pak Purnomo. Pak Admidjaya sudah mendapatkan jawaban bahwa ibu Melda tadi menjawab dengan jujur. Satu-satunya kunci utama mengetahui Mr. Pich yang asli itu melalui Pak Sugiono. Saat Pak Admidjaya masuk kekamar pribadi Pak Purnomo, dia sudah mendapati tubuh Pak Sugiono babak belur. Bahkan Dokter sugesti sudah berada didalam kamar itu untuk mengetes kejujuran dari Pak Sugiono.


“Bagiamana dengannya? Apa dia menjawab jujur?” tanya Pak Admidjaya pada Pak Purnomo. Pak Purnomo menggelengkan kepala.


“Bahkan jika kau mati?” tanya Pak Admidjaya.


“Itu lebih baik lagi. Haha ...” tawa Pak Sugiono kembali membuat emosi Pak Admidjaya semakin melunjak. Pak Admidjaya sedari tadi mengepalkan tangannya langsung menghampiri tubuh Pak Sugiono.


“Bak ... buk ....”


"Bragh ... brugh ....”


Serangan bertubi-tubi dari kaki Pak Admidjaya mendarat pada tubuh Pak Sugiono. Setelah Pak Sugiono menerima serangan itu dia malah kembali memancing emosi Pak Admidjaya.


“Haha ...” tawa Pak Sugiono, dia tidak merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya.


“Bajing** ini!” pekik Pak Admidjaya kembali melayangkan tinjunya menghancurkan wajah Pak Sugiono yang sudah hancur.

__ADS_1


“Bak ... buk ....” suara tinju dari tangan Pak Admidjaya mengenai wajah Pak Sugiono.


“Sudahlah ... kau hanya mengotori tanganmu” ucap Pak Purnomo mencegah Pak Admidjaya bertindak lebih jauh untuk membunuh Pak Sugiono.


“Dia ini tidak pantas dikasih hidup!” pekik Pak Admidjaya memegangi tubuh Pak Sugiono, wajah Pak Sugiono sudah berlumuran darah.


“Kalau dia mati, tidak ada petunjuk lagi. Cara itu tidak akan mendapatkan jawaban, dia tidak boleh mati. Kita akan lakukan tes kejujuran dengan cara yang lain” ucap Pak Purnomo.


“Aku jamin pada kalian, aku tidak akan menjawab apapun mengenainya” ucap Pak Sugiono.


“Kau masih bisa menyangkal” ucap Pak Admidjaya menghempaskan tubuh Pak Sugiono hingga ambruk kelantai.


“Haha ... aku sangat puas melihat kalian menderita selama ini, kalaupun aku mati, aku lebih dulu bertemu dengan Milen daripada kalian” tawa Pak Sugiono.


“Bajing** ini” teriak Pak Admidjaya.


Namun Pak Purnomo mencegah Pak Admidjaya untuk bertindak lebih lanjut. Pak Purnomo langsung mengajak Pak Admidjaya untuk menenangkan diri.


“Kau tidak tahu, dia sudah membunuh istriku, bahkan anakku belum ditemukan dimana keberadaannya sampai saat ini” ucap Pak Admidjaya. Pak Admidjaya malah menangis mengingat putranya belum juga diketahui dimana keberadaannya.


“Entah anakku itu masih hidup atau sudah mati. Kalau dia sudah mati, setidaknya tunjukkan padaku mayatnya, aku yang akan menguburkannya. Aku orang pertama yang menggendongnya saat dia lahir, aku ingin dia seharusnya orang yang menguburkan aku” ucap Pak Admidjaya. Air mata Pak Admidjaya kembali mengalir. Emosinya dia luapkan dihadapan Pak Purnomo.


“Aku lupa mengatakan padamu, petunjuk anakmu masih hidup atau sudah mati ada ditangannya, dialah yang paling berkuasa. Hahaha ...” tawa Pak Sugiono kembali dibalik kesedihan Pak Admidjaya.


BERSAMBUNG.............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, memberikan like, komentar juga Vote, terima kasih sudah mendukung novel ini🙏


Tetap dukung kembali ya😊


See You 🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2