Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 146


__ADS_3

“Djhudjhu ... djhudjhu ....” suara helikopter mulai mendekat ke atas kapal.


“Kalian lama sekali datang!” teriak Pak Sutan.


“Maaf Bos” ucap bawahan Pak Sutan sembari menurunkan tangga tali dari helikopter.


“Tunggu ... kau mau kemana? Cepat lepaskan ayah dulu ....” teriak Pak Purnomo pada Pak Sutan.


“Lepaskan aku, siapa suruh kau tidak mau menadatangani dokumen itu” ucap Pak Sutan sambil menepiskan tangan Pak Purnomo.


“Pak Sutan, kau sudah keterlaluan” teriak Mail sambil mengarahkan senjata apinya pada Pak Sutan.


“Silahkan bunuh aku, aku siap saja, tapi kalian harus ingat ... bom waktu yang aku pasang bukan hanya ada pada pak tua itu, tapi juga ada di dalam kapal ini, kalian bunuh aku, maka dalam waktu 30 menit kapal ini akan meledak beserta bom waktu yang ada pada pak tua itu, karena semua Bom waktu itu sumbernya ada pada jam tanganku, hanya aku yang tahu paswordnya” ucap Pak Sutan.


“Apa ....” teriak Pak Purnomo.


“Bagaimana ini, kapal ini akan meledak.”


“Bos, kenapa kapal ini harus meledak.”


“Mana ini ditengah laut, tidak ada yang bisa kita lakukan, saat ini kita mencebur saja kedalam laut. Tapi aku tidak pandai berenang.”


Semua orang yang ada didalam kapal sudah gelisah mendengar ucapan Pak Sutan.


“Hany, ayo kita berangkat” ucap Pak Sutan pada Irma dan satu wanita sebagai bawahan Pak Sutan. Mereka langsung menaiki tangga tali dari helikopter itu.


“Tuan besar, kita bunuh saja dia” teriak Mail pada Pak Purnomo.


“Jangan ... tidak ada gunanya membunuh dia, kalau dia mati, maka kapal ini akan meledak, sumbernya ada pada jam tangannya dan hanya dia yang memiliki pasword, lebih baik segera suruh team bayangan untuk membawa kapal kecil kemari!” perintah Pak Purnomo. Pak Sutan dan Irma pun sudah sampai didalam helikopter.


“Purnomo, nikmati sisa hidup kalian, haha ...” tawa Pak Sutan dari helikopter.


“Djhudjhu ... djhudjhu ....” Helikopter itu pun berangkat menjauh dari kapal raksasa Peti kemas.


“Nit ... nit ....” bunyi bom waktu dari tubuh Pak Reinhard. Fano dan Dakota langsung melihat bom waktu itu sudah berjalan.


“Kalian harus segera keluar dari sini ... kita hanya memiliki waktu selama 45 menit” teriak Fano pada semua orang.


“Nak, kalian pergi saja” ucap Pak Reinhard.


“Tidak kakek, aku akan melepaskan bom waktu ini, cepat bantu aku” ucap Fano pada team bayangannya.

__ADS_1


Selang waktu selama 20 menit kemudian, rakitan bom waktu itu belum semuanya lepas dari tubuh Pak Reinhard. Sesuai dengan perintah Pak Purnomo kapal kecil sudah tiba untuk menyelamatkan orang-orang yang tersisa, begitu juga dengan Siti ikut datang membawa kapal kecil untuk Dakota.


Naon sudah sibuk memapah tubuh Yoki dan Kela. Sementara yang lain sudah berlari menuju kapal kecil itu. Pak Purnomo pun menghampiri Pak Reinhard, karena sebenarnya dari awal Pak Purnomo tidak akrab dengan Pak Reinhard. Hubungan Pak Purnomo saat ini dengan Pak Reinhard sama saja hubungannya dengan Fano. Bahkan Pak Reinhard jauh lebih akrab dengan Fano sebagai cucunya.


“Ayah, kau harus bertahan” ucap Pak Purnomo sembari menggenggam jari jemari Pak Reinhard. Air mata Pak Purnomo mulai menetes melihat ayahnya yang sudah berumur itu.


“Aku minta maaf, aku tidak segera melenyapkan anak kesayanganmu itu” tangis Pak Purnomo sambil memeluk Pak Reinhard.


“Tidak ada gunanya kalian membantuku, aku sudah tua, lebih baik kalian segera pergi” ucap Pak Reinhard sambil mendorong tubuh Pak Purnomo.


“Sayang kau pergilah dari sini” ucap Fano masih melaksankan tugasnya.


“Tidak ... kita harus keluar dari sini sama-sama” ucap Dakota menolak perintah suaminya.


“Siti, apa yang kau tunggu, kita hanya punya waktu yang tersisa selama 20 menit untuk menjauh dari kapal ini” ucap Fano pada Siti dan Naon.


“Presdir juga harus ikut dengan kami” ucap Naon masih tetap ikut mendampingi mereka.


“Nyonya Muda, tolong ikut dengan saya” ucap Siti memaksa tubuh Dakota.


“Huhu ... suamiku ... kita harus keluar dari sini” ucap Dakota sembari menarik tangan Fano. Fano pun terpaksa melepaskan tangan Dakota.


“Suamiku ... kau harus selamat ...” teriak Dakota saat Siti dan Naon mengangkat paksa tubuh Dakota untuk naik ke kapal kecil. Semua orang sudah berlari menuju kapal kecil.


“Apa yang papa tunggu, cepat lari ....” teriak Fano pada Pak Purnomo.


“Aku tidak bisa meninggalkan ayahku disini, aku tidak ingin kehilangan nyawanya” ucap Pak Purnomo. Kebetulan Pak Purnomo tidak paham dengan rakitan bom waktu.


“Tuan, tolong segera keluar dari sini” ucap Mail pada Pak Purnomo.


“Apa hanya kau yang punya ayah, aku juga punya papa, apa kau mau aku kehilangan papaku, apa kau mau membiarkan Alfata kehilangan kakeknya. Paman Mail ... tolong bawa dia! Waktu terus berjalan” perintah Fano sambil melaksanakan tugasnya.


“Maafkan saya Tuan Besar” ucap Mail dan pengawal yang lain untuk menyeret Pak Purnomo.


“Fano cucuku, aku sudah siap untuk mati, pergilah menyusul dengan mereka” ucap Pak Reinhard. Air mata Pak Reinhard mulai keluar dari kelopak matanya yang sudah keriput dimakan oleh waktu.


“Kakek, tolong tutup matamu, aku tidak akan membiarkan kakek mati disini, kakek harus mati dengan tenang bukan karena Paman Sutan. Aku sangat menyayangimu, kaulah alasanku selama ini bertahan di keluarga Reinhard, kau sudah memberikan aku rasa percaya diri menyandang marga Reinhard, mana mungkin aku membiarkanmu disini, dari kecil kau sudah menyayangiku, awalnya aku sudah menyerah saat aku mengetahui papa tidak menyayangiku” ucap Fano sembari melap air mata Pak Reinhard.


“Hiks ... kau sangat mirip dengan Alfata sewaktu kecil” ucap Pak Reinhard sembari mengingat kenangannya dulu bersama Fano sewaktu Fano berkunjung ke Jerman setiap liburan sekolah. Bahkan saat kuliah pun Fano memilih di Jerman agar Fano bisa bersama dengan kakeknya.


“Nit ... nit ....” Bunyi dari bom waktu yang menempel pada tubuh Pak Reinhard.

__ADS_1


“Waktu terus berjalan, hanya tersisa 10 menit lagi, bom ini belum juga lepas” ucap Pak Reinhard mulai cemas.


Semua kapal kecil sudah mulai menjauh dari Kapal Peti Kemas. Sementara itu, Dakota dengan terpaksa masuk kedalam kapal disusul dengan Pak Purnomo ikut masuk kedalam kapal yang berbeda dengan Mail. Mata Dakota masih tertuju pada kapal Peti Kemas itu.


“Hiks ... suamiku” ucap Dakota sembari melap matanya yang masih basah.


“Nyonya kita harus berangkat” ucap Siti mulai menghidupkan mesin kapal.


“Siti, tolong jaga Nyonya Muda” ucap Naon keluar dari kapal.


“Tapi ... Manajer Naon” ucap Siti untuk mencegah Naon.


“Aku akan bersama dengan Presdir, segera bawa kapal ini, waktu hanya tersisa 7 menit lagi” teriak Naon pada Siti sembari berlari memasuki kapal Peti Kemas itu kembali.


“Baiklah, jaga dirimu” ucap Siti. Mata Siti mulai berkaca-kaca melihat Naon masuk kembali.


“Nyonya Muda, maafkan saya, kita harus segera pergi menjauh dari Kapal Peti Kemas ini” ucap Siti langsung mengarahkan arah kapalnya. Setelah mesin kapal hidup, kapal itu langsung berlayar menjauh dari kapal raksasa Peti Kemas.


“Tuhan ... tolong selamatkan nyawa suamiku, aku tidak bisa hidup tanpa dia ... aku memang egois terlalu banyak meminta pada-Mu ... tapi ini tidak adil bagiku, sudah banyak cobaan hidup yang kami lalui bersama, aku sudah berpisah selama 5 tahun dengannya, aku tidak mau lagi berpisah untuk selamanya, tolong ....” Doa Dakota dalam hati sembari menatap kapal Peti Kemas.


Waktu terus berjalan, arah pandangan mata Dakota tidak luput dari kapal Peti Kemas. Dakota masih menunggu ada kapal kecil yang datang mengikuti mereka dari belakang dan berharap suaminya menyusul mereka. Namun saat Dakota melihat jam tangannya. Hati Dakota terasa sesak, jam sudah menunjukkan hitungan detik kapal Peti Kemas akan meledak sesuai dengan waktu bom tadi mulai aktif. Air mata Dakota mulai menetes, dengan terpaksa Dakota mengarahkan pandangannya kembali pada kapal Peti Kemas, benar saja, hitungan 5 detik saat Dakota memandang kapal itu dari kejauhan, kapal itu pun meledak.


“Duar ....” Ledakan kapal Peti Kemas itu masih terdengar dari jarak Dakota saat ini berada.


“Tidak ... suamiku ... kembalikan suamiku ....” Tangis Dakota pecah, bahkan tubuh Dakota langsung tersungkur melihat kobaran api dari kapal Peti Kemas itu.


“Nyonya ...” tangis Siti sambil memeluk tubuh Dakota.


“Suamiku ... suamiku, jangan pergi, hiks ....” tubuh Dakota langsung tidak sadarkan diri dipelukan Siti.


“Nyonya ....” teriak Siti sambil memeluk erat tubuh Dakota.


BERSAMBUNG..................


To Reader Wanita Presdir: Terimakasih untuk dukungan kalian terhadap novel ini. Untuk kalian yang sudah memberikan vote, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Jangan lupa tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian. Saya minta maaf kalau saya sangat lama up.🤗


Menunggu up selanjutnya, mampir ke karya author yang ini ya☺️



See You 👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2