
Sembari memeluk Fano, Dakota masih terus meraba wajah Fano dengan kedua tangan. Tidak ada sedikit pun celah Dakota beri untuk Fano bergerak. Bahkan Fano sudah merasakan sensasi panas dari tubuhnya karena dipeluk, bukan hanya di peluk, ternyata Dakota juga meluma* leher Fano. Hal itu membuat wajah Fano semakin memerah.
“Saat ini dia sedang sakit, bisa-bisanya menggodaku begini, mana juniorku ini sudah bangkit lagi” batin Fano.
“Ehem ....” Fano mendehem agar Dakota menghentikan aksinya. Namun Dakota tetap melucuti tubuh suaminya.
“Sayang ... tidak boleh seperti ini, kau harus kembali tidur” bisik Fano di telinga istrinya.
“Aku tidak mau” ucap Dakota menolak tetap memberikan bekas di leher Fano. Tangan Dakota sudah beraksi mengelus tubuh Fano, hal itu membuat tubuh Fano menggeliat.
“Kau tidak mengerti yang kurasakan saat ini” ucap Fano menahan dirinya.
“Aku sangat merindukanmu, lagian aku hanya memberi bekas” ucap Dakota lagi sembari menciumi dada bidang milik Fano. Kancing baju Fano sudah lepas semua. Walau Dakota masih sakit, namun tenaga Dakota masih ada untuk membuka pakaian suaminya.
“Sayang ... bukan itu masalahnya ....” ucapan Fano terpotong karena Dakota sudah mendaratkan ciuman dibibir Fano. Sekujur tubuh Fano sudah terangsang ketika Dakota memainkan ciuman itu, bahkan Dakota mencoba memainkan trik yang Fano biasa lakukan padanya. Fano pun menyahuti lidah istrinya di dalam mulutnya.
“Kenapa dia sangat berinisiatif begini, kalau saja dia tidak sakit. Aduh ... tubuhku sudah tegang semua, tidak mungkin aku onani di dalam kamar mandi, itu sangat menyiksa” batin Fano.
Tidak lama kemudian, ciuman itu pun berhenti, Dakota langsung menatap pada Fano. Dakota melihat Fano terlihat tidak senang.
“Kau tidak suka aku mengkelonimu” ucap Dakota sambil melap bibirnya.
“Kau masih sakit, lebih baik kita tidur, hari juga sudah semakin larut” ajak Fano sambil meraih tubuh Dakota kepelukannya. Dakota tidak menggubris, malah pasrah saja menenggelamkan wajahnya.
“Apa dia suamiku, kenapa responnya begini, aku sangat merindukan dia. Biasanya dia langsung beraksi bila sedikit saja aku menyentuhnya. Tidak mungkin dia berubah, atau dia sedang menahan diri. Tapi aku sangat rindu dengan dirinya yang mesum, kenapa dia malah menolak tindakanku barusan, apa jangan-jangan dia sudah tidak bernafsu lagi karena hanyut di laut kemarin. Tidak ... tidak ... aku tidak boleh membiarkan hal itu, aku harus mengembalikan suamiku yang dulu” batin Dakota.
“Kapan dia tidur, juniorku sudah mengeras begini, haduh ....” batin Fano sembari melirik wajah Dakota. Dakota masih saja belum tidur, saat Fano melihat bibir Dakota, ternyata bibir Dakota semakin bengkak karena ciuman tadi membuat bibir Dakota terlihat seksi. Kembali lagi Dakota mengelus dada Fano, sembari menari-narikan lidahnya pada dada bidang milik Fano.
Fano langsung menangkap tangan istrinya. Wajah Fano sudah ikut menegang menatap wajah istrinya. Mimik wajah Fano sudah memelas mengisyaratkan agar Dakota menghentikan aksinya. Menangkap respon suaminya begitu, membuat Dakota menarik tangannya.
“Kau tidak suka ya, lebih baik sedari awal katakan saja, aku akan berhenti” ucap Dakota mulai merapikan kancing baju milik Fano.
“Ini sangat memalukan, aku sudah berinisiatif begini, sepertinya aku adalah istri terburuk di dunia ini, bisa-bisanya aku berinisiatif lebih dulu” batin Dakota.
“Sayang ....” Fano tidak melanjutkan ucapannya karena setelah Dakota selesai memasang kancing baju Fano yang paling atas, Dakota sudah berbalik badan sembari memasang selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Apa dia marah, tapi ini lebih baik, dia masih sakit” batin Fano.
“Tidurlah, aku tidak akan pergi” ucap Fano sembari beranjak dari tempat tidur. Fano pun keluar dari dalam kamar ibu Lena.
__ADS_1
“Dia bilang tidak akan pergi, tapi dia keluar dari kamar ini, sungguh dia tidak mengerti apa yang aku mau” batin Dakota sangat kesal dengan sikap Fano barusan.
“Astaga, hampir saja keluar didalam” batin Fano sembari wajahnya memerah. Fano pun pergi menuju ruang dapur. Naon yang masih saja mengurusi masalah hari ini, heran melihat Fano masih beranjak kedapur.
“Kenapa Presdir minum air mineral dari kulkas yang ada di dapur, bukannya air mieral juga ada didalam kamar Nyonya Besar” batin Naon. Naon pun beranjak untuk menemui Fano keruang dapur. Naon sudah melihat tingkah Fano sangat aneh.
“Presdir, apa anda baik-baik saja” ucap Naon mengkhawatirkan Fano. Wajah Fano sudah terlihat pucat.
“Aku baik-baik saja” ucap Fano sembari meletakkan botol air mineralnya di atas meja.
“Tapi wajah Presdir terlihat tidak baik, kondisi Presdir seperti menahan diri, apa saya salah dengan ucapan saya” ucap Naon sambil melihat kondisi pakaian Fano sudah acak-acakan, namun ketika Fano perhatikan dengan seksama.
“Wah, Nyonya sedang sakit, bisa-bisanya adik Presdir menonjol begitu, pantesan Presdir banyak minum air” batin Naon sembari masih menatap kearah junior Fano.
“Naon ....” ucap Fano melihat aksi Naon sudah menunduk masih menatap pada milik Fano.
“Apa dia mengetahui sesuatu” batin Fano sembari melirik arah pandangan mata Naon menatap miliknya.
“Presdir, sepertinya Presdir harus segera pergi kekamar mandi” ucap Naon sambil terkekeh melihat milik Fano.
“Apa yang kau katakan, jangan bilang kau juga sering begini” ucap Fano menyindir Naon. Wajah Naon sudah memerah mengingat dia juga pernah begitu ketika membayangkan tubuh seksi milik Siti.
“Dasar bodoh, jika kau tidak pernah begini, itu artinya kau tidak normal” ucap Fano masih bisa di dengar oleh Naon.
“Lebih baik aku mengabaikan Presdir, bisa-bisa dia mengkorek segalanya nanti” batin Naon.
“Sial ... aku harus segera kekamar mandi” gerutu Fano sembari menatap pada miliknya yang semakin menonjol. Fano pun beranjak menuju kamar ibu Lena. Ketika Fano masuk kedalam kamar, begitu terkejutnya Fano melihat Dakota sedang melucuti tubuhnya sendiri, bahkan pakaian Dakota sudah terbuka.
“Apa dia masih istriku, kenapa dia terlihat menggoda begini” batin Fano.
“Sayang ....” ucap Fano ketika Fano sudah mendekati kasur. Dakota langsung kembali menarik selimut, karena malu sudah ketahuan oleh suaminya.
“Apa kau baik-baik saja” ucap Fano sembari mendekati Dakota.
“Aku sudah terangsang, kau sepertinya tidak suka denganku, aku ... ini sangat memalukan” ucap Dakota sembari memasang kancing bajunya.
“Sejak kapan kau bertindak begini?” tanya Fano penasaran dengan tingkah istrinya barusan.
“Aku melakukannya jika berjauhan denganmu” ucap Dakota malu-malu.
__ADS_1
“Sewaktu di Jerman, apa kau juga begini?” tanya Fano lagi.
“Jangan tanya lagi” ucap Dakota mengambek.
“Sayang, lihat aku” ucap Fano menarik tubuh Dakota semakin dekat padanya.
“Bukannya aku tidak suka, justru setiap sentuhan tubuhmu membuatku sudah terangsang, tapi saat ini kau sedang sakit, apa lagi Dokter Mia baru saja memberikan obat pemulihan untuk tubuhmu” ucap Fano sembari mengecup kening Dakota.
“Bilang saja kau tidak suka padaku” gerutu Dakota sembari menepiskan tangan Fano ketika Fano merapikan rambutnya.
“Hei, siapa bilang aku tidak suka, bahkan tubuhku ini sudah menegang” ucap Fano sembari mendekatkan miliknya pada Dakota. Ketika Fano memeluk tubuh Dakota, Dakota baru merasakan bahwa milik Fano sudah menonjol. Wajah Dakota sudah merona merasakan hembusan nafas suaminya.
“Apa kau tahu, saat ini aku sangat tersiksa” bisik Fano sembari menciumi leher Dakota. Dakota pun langsung berbalik sembari melepas pakaiannya. Mata Fano semakin berbinar-binar melihat kedua gunung kembar milik istrinya, sudah lama Fano tidak melihat milik istrinya itu. Tangan Fano pun beraksi mengelus hingga mulai meremas milik Dakota.
“Aku mencintaimu, kau sudah semakin tua, aku ingin mengandung lagi, kita berikan adik untuk Alfata” bisik Dakota.
“Tua ... aku masih fit begini, kau bilang tua ... maksudmu sebentar lagi aku tidak pantas memiliki bayi” ucap Fano menaikkan alisnya.
“Bukan begitu” ucap Dakota.
“Aku lupa kalau suamiku sangat benci dengan kata tua. Aku masih ingat, dulu saat aku panggil dia dengan sebutan tukedi, dia langsung menurunkan aku di tengah jalan” batin Dakota.
“Akan kubuktikan padamu bahwa aku belum tua, aku masih bertenaga, bahkan jika puluhan tahun yang akan datang” ucap Fano langsung melepas semua pakaiannya secepat mungkin, bahkan pakaiannya sudah dia lemparkan kesembarang arah. Fano pun melucuti tubuh Dakota, membuat Dakota menggeliat menahan nafas karena aksi Fano.
“Waw, suamiku sudah kembali seperti dirinya sendiri, ini baru suamiku” batin Dakota.
Bersambung.............
Hai Reader 🤗
Episode kali ini harap jangan terlalu halu ya buat yang jomblo. Buat yang sudah punya pasangan pasti pernah merasakan hal ini☺️
Jika dari pembaca masih ada dibawah umur, harap untuk tidak membaca ini, author tidak bertanggung jawab untuk resiko selanjutnya.
Tetap dukung novel ini ya, tidak muluk" kok, hanya like dan komentar kalian. Saya minta maaf jika lama up. Saya selalu baca semua komentar kalian, makasih sudah mendukung saya, terkadang saya sedih jika ada yang berkomentar buruk, terkadang saya senyum sendiri jika kalian komen tertawa. Saya menerima semua komentar kalian.
Tolong berikan komentar kalian, karena musim kedua dari novel ini kemungkinan akan saya publish bulan depan. Saya belum bisa berikan cuplikannya, karena musim kedua akan jauh lebih baik dari musim pertama ini.😘
See You 👋👋👋
__ADS_1