Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 152


__ADS_3

# Kediaman Reinhard


Para pemburu informasi mengenai kematian Fano masih berkeliaran di sekitar kediaman Reinhard. Pak Purnomo juga ikut memantau di ruang informasi di kediamannya. Ada banyak hasil rekaman CCTV yang sudah terpasang di kediaman Reinhard. Ada beberapa orang karyawan yang sudah Pak Purnomo tugaskan untuk memeriksa setiap gerak-gerak orang yang berada di dalam kediaman mau pun di lingkungan kediaman. Begitu juga dengan Mail, walau Mail sudah berumur, namun untuk mengawasi orang-orang yang mencurigakan, pandangan Mail belum rabun, bahkan mata elangnya masih bisa digunakan. Ketika Mail menemukan orang yang mencurigakan, Mail langsung menunjukkan salah satu hasil rekaman kamera pengawas pada Pak Purnomo.


“Tuan, sepertinya ucapan Tuan Haris benar” ucap Mail sambil berbisik pada Pak Purnomo.


“Bereskan mereka, jangan sampai jejak mereka diketahui oleh Sutan” ucap Pak Purnomo.


“Baik Tuan, tapi bagaimana dengan Nyonya Besar dan Nyonya Muda?” tanya Mail.


“Bagaimana dengan Alfata?” tanya Pak Purnomo balik bertanya.


“Alfata sudah tidur Tuan, tapi Nyonya Besar dan Nyonya Muda masih ....” Mail tidak melanjutkan ucapannya karena dia yakin Pak Purnomo sudah tahu maksudnya.


“Suruh Dokter Mia datang kemari” ucap Pak Purnomo sambil meraih ponselnya yang ada di meja.


“Baik Tuan” ucap Mail langsung undur diri.


Setelah Mail keluar dari ruangan itu, Pak Purnomo pun beranjak menuju ruang pribadi Fano. Ruang pribadi itu biasanya Fano gunakan sebagai ruang baca. Pak Purnomo sangat yakin di dalam ruangan anaknya itu akan sangat aman untuk menyimpan rahasia. Bahkan ruangan itu memiliki dinding kedap suara dan di ruangan itulah semua informasi mengenai perusahaan dan rahasia lainnya.


“Setelah dia aku angkat menjadi Presdir di Perusahaan, dia meminta padaku untuk menyediakan ruangan ini sebagai ruangannya, bahkan aku tidak bisa masuk kesini. Tapi malam ini ... untuk yang pertama kalinya aku masuk kesini, bahkan semua hasil rekaman pengawas rumahku ini ternyata tersambung juga di ruangan ini” batin Pak Purnomo saat memasuki ruang baca milik Fano.


Langkah kaki Pak Purnomo berhenti melihat piala milik Fano, mulai dari piala juara secara akademik hingga penghargaan dari luar negeri. Tidak hanya itu saja, di ruangan itu ada juga foto Fano sejak kecil bersama dengan Pak Purnomo dan ibu Lena juga dengan Pak Reinhard. Sayangnya di ruangan itu hanya ada satu foto Pak Purnomo dengan Fano, selebihnya tidak ada. Foto itu di ambil ketika untuk yang pertama kali Fano bisa berjalan dan Fano diliput oleh media, saat itulah Pak Purnomo dan Ibu Lena berfoto dengan Fano.


“Aku sudah setua ini, hanya foto ini yang ada bersama denganmu, padahal aku ini ayahmu, aku bahkan tidak hadir di hari pernikahanmu, anak bodoh, kau tidak boleh pergi secepat ini ....” ucap Pak Purnomo sambil memperhatikan foto itu. Air mata Pak Purnomo langsung menetes mengingat perilakunya dulu pada Fano.


“Papa minta maaf ... selama ini tidak bisa jadi ayah yang baik untukmu, semua itu papa lakukan karena saat itu papa sangat egois, papa marah pada diri papa sendiri, papa malah melibatkan kemarahan papa karena pamanmu Sutan. Maaf ... saat kau lahir ... papa pernah meragukanmu sebagai anak kandungku, jika saja kau bisa mendengar ucapan papa saat ini, sebenarnya papa tidak pernah minta maaf pada orang lain, ini pertama kalinya papa minta maaf. Saat papa kehilangan kepercayaan dari pemegang saham sewaktu Perusahaan bangkrut, papa sangat putus asa saat itu, karena serangan dari Mr. Pich. Untungnya saat itu hasil tes DNA kecocokanmu dengan papa keluar dan hasilnya menunjukkan kau memang anak kandungku. Saat itu perasaan emosi papa tidak bisa papa atur, terlalu jauh Mr. Pich merencanakan semua ini pada keluarga kita dan saat itu papa yakin kau anak yang tangguh karena sifatmu sebenarnya sangat mirip dengan papa dan papa yakin kau akan menjadi penerus papa. Papa minta maaf sudah melibatkanmu selama ini untuk masalah perusahaan karena papa tidak bisa mengandalkan orang lain, papa hanya bisa mengandalkanmu, maaf papa sudah merebut masa mudamu. Papa juga minta maaf karena sudah melibatkan Alfata, sebenarnya papa berharap Alfata tidak terlibat dengan semua ini. Jika saja kau dengar ucapan papa saat ini, papa sangat menyayangimu, maaf jika papa sangat keras mendidikmu, karena sejak papa lahir, papa sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua papa, maaf jika papa memperlakukanmu sama seperti yang papa alami” ucap Pak Purnomo sambil mengelus foto Fano. Pak Purnomo langsung melap air matanya, kemudian meletakkan kembali foto itu di meja Fano.


Setelah melepaskan kesedihanya di ruang baca Fano. Pak Purnomo pun memeriksa layar ponselnya. Pak Purnomo langsung menghubungi kontak atas nama Pak Admidjaya.


“Halo” ucap Pak Admidjaya dari seberang.


“Ini aku” ucap Pak Purnomo.

__ADS_1


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Pak Admidjaya mencemaskan Pak Purnomo. Pak Purnomo tida menjawab pertanyaan Pak Admidjaya barusan.


“Aku salah bertanya padamu, tentu saja kau tidak baik. Aku sudah menyuruh orangku untuk melacak keberadaan Pak Rapijay beserta orang-orang yang ada di sekitar Vila pribadinya” ucap Pak Admidjaya pada intinya tujuan Pak Purnomo menghubunginya.


“Apa hasil dari penyelidikan mereka?” tanya Pak Purnomo penasaran.


“Vila itu saat ini sangat ketat diawasi, mereka tidak bisa melacak keberadaan Pak Rapijay, namun saat ini dari informasi pelayan Vila, saat ini ada 4 orang tamu besar di dalam Vila dan dari informasi terakhir, orangku sudah memfoto Dokter Pribadi milik Pak Rapijay, data pribadinya sudah didapatkan, karena Dokter Pribadinya saat ini masih berada di Vila itu. Kemungkinan Dokter itu datang karena dibutuhkan saat ini” ucap Pak Admidjaya.


“Apa kau yakin Pak Rapijay memang menyelamatkan ayahku dan anakku?” tanya Pak Purnomo.


“Kita akan dapatkan informasi itu dari Dokter Pribadi milik Pak Rapijay, sangat sulit mendapat informasi dari orang-orang milik Pak Rapijay, besok kita akan dapatkan hasilnya” ucap Pak Admidjaya.


Mereka masih terus melanjutkan pembicaraan serius itu.


Sementara itu, ditempat lain. Fano masih menunggui Dokter pribadi milik Pak Rapijay memeriksa Pak Reinhard. Setelah menunggu selama 2 jam pemeriksaan, Dokter dari ruangan pemeriksaan Pak Reinhard sudah keluar. Semua orang langsung berdiri karena penasaran dengan kondisi Pak Reinhard.


“Bagaimana keadaannya Dok?” ucap Fano langsung bertanya.


“Pasien sudah mengalami syok berat hari ini, untungnya pasien langsung ditangani dengan cepat. Pasien harus istirahat selama 2 minggu ini. Bukan hanya itu saja, tubuh beliau sudah tua, saya masih belum bisa membuat kesimpulan saat ini” ucap Dokter itu sambil menepuk pundak Fano.


“Saya harus memeriksanya ke lab terlebih dahulu, karena saat ini saya tidak membawa peralatan yang cukup” ucap Dokter itu.


“Baiklah, terima kasih Dokter” ucap Fano.


“Ini sudah tugas saya, Tuan Rapijay saya harus melaksanakan tugas saya untuk pemeriksaan lebih lanjut” ucap Dokter itu untuk pamit undur diri. Pak Rapijay pun mengangguk pada Dokter itu. Fano pun langsung masuk kedalam ruangan. Pak Reinhard sudah tidur dengan lelap bahkan satu botol infus pada tubuh Pak Reinhard sudah habis. Fano pun duduk sambil memperhatikan kakeknya masih tidur. Perasaan Fano sangat sedih bila mengingat Bom yang masih menggantung di tubuh Pak Reinhard.


“Kakek harus sembuh, jawaban apa yang aku sampaikan nanti pada Alfata jika kau pergi meninggalkanku” ucap Fano sambil meraih tangan Pak Reinhard. Tidak lama kemudian, Naon pun masuk kedalam.


“Presdir” ucap Naon pada Fano.


“Ada apa?” tanya Fano pada Naon.


“Saya sudah berhasil masuk keserver ruang baca” ucap Naon sambil menyerahkan ponselnya pada Fano. Fano pun langsung meraih ponsel itu dan melihat hasil rekaman dari kediaman Reinhard. Sayangnya, rekaman pengawas pada kamar Fano tidak ada, Fano hanya sempat melihat wajah anak dan istrinya saat dari lobi hingga menuju ruang tamu.

__ADS_1


“Presdir tidak boleh melewatkan hasil rekaman pengawas malam ini, apa lagi Tuan Besar baru saja minta maaf pada Presdir, ternyata Tuan Besar sangat sayang pada Presdir, itu sangat melegakan” batin Naon sambil duduk disamping Fano.


“Dia pasti sangat terpukul saat ini, sayang maaf ... sudah membuatmu menangis lagi” batin Fano sambil mengulangi hasil rekaman saat Dakota meraih anaknya turun dari mobil. Air mata Fano pun keluar ketika melihat Dakota dan Alfata menangis bersamaan di lobi utama kediaman Reinhard.


Setelah itu, Fano mulai melacak keadaan di kediaman Reinhard. Fano pun melihat Pak Purnomo untuk yang pertama kalinya masuk kedalam ruang bacanya. Saat Fano perhatikan tinggkah Pak Purnomo mulai memegang foto keluarga, Pak Purnomo mulai bicara sendiri, Fano pun mengeraskan volume rekaman itu agar suara Pak Purnomo dapat dia dengar. Fano pun fokus mendengarkan semua ucapan Pak Purnomo di ruangan itu.


“Hiks ... aku memang anakmu, aku sudah tahu itu sejak lama ... awalnya aku tidak ingin memaafkanmu .. tapi kau kenapa harus minta maaf saat aku tidak ada” ucap Fano sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Presdir ... kenapa menangis ... anda memang anak Tuan Besar” ucap Naon sambil mengelus pundak Fano.


“Ini semua salah kakek” ucap Pak Reinhard sambil membuka matanya.


“Kakek sudah bangun” ucap Fano langsung melap air matanya.


“Kakeklah yang patut disalahkan, kakek tidak bisa mendidik anak-anak kakek dengan baik, bahkan Alfata sampai terlibat” ucap Pak Reinhard.


“Kakek tidak boleh menyalahkan diri sendri” ucap Fano sambil meraih air putih untuk Pak Rienhard. Pak Reinhard pun langsung meminun air hangat pemberian Fano barusan.


“Maaf kakek tidak sengaja menguping ucapan Purnomo barusan. Sejak kecil, Purnomo dirawat oleh pembantu, ibunya tidak merawatnya dengan baik, aku membawanya kerumah saat dia sudah berusia 15 tahun, saat itu karena nenekmu tidak sanggup lagi membiayai Purnomo dan menuntut haknya, saat itu aku tidak memberikan kasih sayang sebagai seorang ayah padanya, karena kakek juga memiliki istri sah, ibunya Sutan. Purnomo tidak pernah memanggilku ayah karena ibunya adalah wanita malam, dia benci padaku karena dia sejak lahir, dia sudah dicap sebagai anak haram oleh teman-temannya. Jika kau dididik oleh Purnomo dengan keras, itu karena aku tidak memberikan kasih sayangku sepenuhnya padanya, hal yang sama juga dia berikan padamu karena dia tidak ingin kau menjadi anak yang manja, aku minta maaf pada kalian” ucap Pak Reinhard menjelaskan ingatannya tentang Pak Purnomo.


“Kakek, ini semua sudah berlalu, kakek tidak perlu banyak pikiran” ucap Fano.


“Fano, kakek sungguh bersalah di masa lalu” ucap Pak Reinhard. Air mata Pak Reinhard mulai menetes.


“Kakek ... di usiamu saat ini kau tidak boleh menangis ... lihat aku, aku baik-baik saja, tolong jaga kesehatanmu, demi Alfata ... berikan Alfata kasih sayangmu yang tertunda pada papa, Alfata tidak tahu hal ini, setidaknya Alfata memiliki kenangan baik denganmu” ucap Fano sambil melap air mata kakeknya.


“Kau benar, aku masih bisa memberikan kasih sayangku pada Alfata” ucap Pak Reinhard.


BERSAMBUNG .......


Hay 👋


Bertemu kembali, terima kasih sudah mampir ya, jangan lupa like dan komentar ya 🙏

__ADS_1


Oya, biar author semangat, di Vota juga boleh🥺


Maaf ya kalau author jarang up 😩


__ADS_2