
“Tiriring ... tiriring ....” alarm handphone Dakota berbunyi diatas meja. Deringan alarm yang keras itu membuat Fano bangun dan mematikan bunyi alarm tersebut. Fano melihat sekitar kasurnya sudah tidak ada tubuh istrinya. Dia berpikir bahwa istrinya sudah bangun, dia mencoba untuk kembali menutup matanya, namun dia sadar alarm baru berbunyi pertanda seharusya istrinya baru bangun. Fano kembali bangun melihat sekitar kamar dan sangat terkejutnya dia bahwa istrinya itu masih tertidur di Sofa.
“Kenapa dia tidur di Sofa” gumam Fano.
Fano melangkah ke Sofa. Fano mengangkat tubuh Dakota untuk dipindahkan ke kasur, namun langkah kakinya berhenti.
“Apa yang kau lakukan” ucap Dakota sadar tubuhnya sudah dipelukan suaminya.
“Kenapa kau tidur di Sofa” ucap Fano masih menggendong tubuh Dakota.
“Turunkan aku, ini sudah subuh” ucap Dakota berontak seperti anak kecil.
“Ah, iya aku turunkan, kenapa kau merengek seperti anak kecil sih” ucap Fano melemparkan tubuh istrinya di atas kasur, membuat tubuh istrinya terhempas.
“Aih, kenapa kau harus mencampakkan tubuhku sih, kau kan bisa turunkan aku pelan-pelan” ucap Dakota memperbaiki posisi tubuhnya diatas kasur.
“Ada apa denganmu, kenapa kau tidur di Sofa?” tanya Fano sudah menindih tubuh Dakota diatas kasur. Mata Fano sudah memandangi wajah cantik Dakota, membuat pandangan mata mereka bertemu, jarak wajah mereka sangat dekat, bahkan suara desahan nafas dari Dakota bisa dirasakan oleh Fano. Fano menikmati momen itu, dia memang sudah sangat merindukan wajah itu.
“Apa yang perlu aku sampaikan padamu, bukannya sudah jelas isi dari perjanjian, kenapa kau masih tidur di kasur” ucap Dakota. Dakota tidak sanggup beradu pandang dengan suaminya, apa lagi dia masih marah karena ulah suaminya akhir-akhir ini. Dakota langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping.
“Lihat aku” ucap Fano mengarahkan wajah Dakota untuk kembali mereka saling beradu pandang. Fano tetap menatap wajah istrinya itu. Fano sudah menekan tubuh Dakota membuat tubuh istrinya itu tidak bergerak, dan tangan istrinya itu sudah digenggam.
“Apa yang kau lakukan” ucap Dakota. Dakota sangat terkejut melihat tingkah suaminya itu, begitu mendadak, tubuhnya sudah terkunci.
“Embh ....” bibir Fano sudah mendarat ke bibir Dakota. Perlahan ciuman Fano itu lembut dan tidak memaksa secara sepihak seperti yang dilakukan sebelumnya. Kali ini ciuman Fano sangat lembut membuat Dakota ikut terbuai merespon bibir Fano, lidah Fano yang menjulur kedalam mulut Dakota mulai menari-nari membuat air liurnya sudah masuk, Dakota hanya menerima serangan lembut suaminya itu. Ciuman dalam itu semakin intens, bahkan genggaman tangan Fano semakin erat.
“Hah ... hah ....” Dakota mendesah saat Fano menghentikan ciuman mereka. Fano kembali memandangi wajah Dakota.
“Aku harus bangun, bisakah kau lepaskan aku” pinta Dakota.
“Aku akan tetap membiarkanmu dikasur ini, kenapa kau tidur di Sofa?” tanya Fano masih menindih tubuh istriya.
“Bukankah sudah aku katakan, kita masih terikat perjanjian pernikahan” ucap Dakota mendorong tubuh Fano.
__ADS_1
Fano heran mendengar jawaban istrinya itu, sebelumnya hubungan mereka sudah baik sebelum dia berangkat keluar kota. Tingkah laku istrinya ini membuat Fano bertanya-tanya.
“Apa kau ada masalah? Kenapa sikapmu seperti ini, sikap menjauhi” ucap Fano melepas tubuh Dakota.
“Aku sudah mengatakannya, aku harus memasak” ucap Dakota. Merasa sudah lepas dari suaminya, Dakota langsung berjalan terburu-buru keluar dari kamar, dia sangat takut jika dia berada di dalam kamar, dia takut akan di mangsa oleh harimau buas di pagi hari.
“Kenapa dengannya, apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini, bahkan sikapnya kembali seperti semula” batin Fano.
Fano kembali memejamkan matanya karena waktu masih subuh, masih ada waktu yang tersisa untuk melanjutkan tidur. Namun dia tidak bisa tidur, pikirannya terbayang dengan tingkah istrinya, seharusnya dia menemukan istri yang sudah penurut dan bersikap bersahabat seperti saat dia pergi keluar kota. Akhirnya Fano beranjak keluar kamar untuk mencari tahu apa yang sudah dialami oleh istrinya itu di rumah akhir-akhir ini, hingga tubuh istrinya itu terlihat kurusan.
“Selamat pagi Presdir” ucap Naon menyambut Fano di depan kamar.
“Naon, suruh Siti menghadap” perintah Fano pada Naon.
“Baik Presdir” ucap Naon undur diri melaksanakan perintah.
Tidak berapa lama Siti sudah tiba mengahadap pada Fano di ruang baca.
“Apa yang dilakukan istriku selama aku tidak ada” tanya Fano.
“Selama Presdir pergi, Nyonya Muda bekerja seperti biasa, pulang kerumah seperti biasa juga Presdir” ucap Siti.
“Apa itu jawaban yang ingin aku dengar” ucap Fano kecewa pada Siti.
“Maaf Presdir, sebenarnya perasaan Nyonya Muda akhir-akhir ini tidak baik, saat saya menjemput Nyonya Muda satu minggu yang lalu dari kantor, Nyonya muda terlihat muram dan tidak terlihat seperti bisanya. Saat saya selidiki dari cctv, dari Ruangan Desain Interior, Nyonya Muda saat itu menghadap dengan bu Susi, keluar dari ruangan Susi, wajah Nyonya Muda hanya murung dan tidak mau diajak bicara Presdir” ucap Siti.
“Apa yang sudah dilakukan Susi pada istriku” tanya Fano lebih lanjut.
“Bu Susi hanya menanyakan masalah pekerjaan saja Presdir, namun saat bu Susi menerima pesan chat pribadi dari whatsapp kebetulan handphone bu Susi di atas meja, bu Susi melihat isi chat tersebut, tidak sengaja Nyonya Muda juga ikut melihat isi chat pribadi Bu Susi karena Nyonya Muda duduk dihadapan bu Susi” ucap Siti.
“Lanjutkan saja apa yang kau lihat” ucap Fano penasaran.
“Isi chat tersebut berupa foto yang dikirim oleh teman wanita Bu Susi yaitu Nona Kamila. Foto tersebut adalah foto Presdir dan Nona Kamila berpelukan mesra Presdir. Bu Susi tersenyum melihat foto tersebut, sejak melihat foto itu Nyonya Muda terlihat kesal, wajahnya sudah muram keluar dari ruangan Bu Susi” ucap Siti.
__ADS_1
“Sepertinya dia sudah salah paham padaku. Aku juga yang salah sudah membiarkan wanita licik itu kemarin” batin Fano.
“Hmm ... jadi karena itu” ucap Fano mendengar penjelasan Siti.
“Bukan hanya itu Presdir, hari itu sepulang dari kantor dengan wajah yang sudah muram, Nyonya Muda kembali berdebat dengan Bibi Presdir Nyonya Hara” ucap Siti.
“Maksudmu mamanya Kamila?” ucap Fano heran.
“Iya Presdir, Nyonya Hara terlihat memusuhi Nyonya Muda sejak menginjakkan kaki di rumah ini dan kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat pedas dan terlihat menghina Nyonya Muda. Jika saya yang mendengar saya pasti keluar dari rumah ini Presdir. Selama seminggu ini Nyonya Muda tidak betah dirumah, bahkan nafsu makannya berkurang, selesai memasak dia langsung berangkat kekantor karena berdebat setiap pagi dengan Nyonya Hara” ucap Siti menjelaskan.
“Kemana saat ini wanita tua itu, kenapa dia tidak aku temui dirumah” tanya Fano.
“Nyonya Hara hari ini pergi mengunjungi dari pihak keluarganya di Kota A Presdir, sedang Nona Kamila hari ini tiba dirumah Presdir, dia tidur dikamar tamu depan” ucap Siti.
“Wanita itu kenapa kembali kerumah ini” ucap Fano, dia sudah memerintahkan pada Naon untuk mencegah Kamila untuk tidak berkunjung kerumah.
“Mohon maaf presdir, itu salah saya, saya sudah mengatakan bahwa Presdir tidak mengijinkan Nona Kamila untuk tinggal tapi beliau sudah masuk dengan kopernya dan Nyonya Besar langsung menyambut Nona Kamila” ucap Naon menimpali pembicaraan Fano dan Siti.
“Apa dia sudah bertemu dengan istriku?” tanya Fano.
“Sudah Presdir, semalam sebelum Nyonya Muda tidur, Nyonya Muda sudah bertemu dengan Nona Kamila” ucap Siti.
“Kalian harus awasi gerak gerik Kamila, wanita itu tidak mudah diusir dari rumah ini” ucap Fano.
“Baik Presdir” ucap Siti dan Naon bersamaan.
BERSAMBUNG.............
Terima kasih sudah mampir Reader. Jangan lupa like dan komentarnya.🙏🌹
Vote juga boleh😊
See You🙋🙋🙋
__ADS_1